
Flashback Zara dan Indra
Tak ingin terlihat lemah. Begitulah kira-kira seorang Zara memposisikan dirinya. Sesakit apapun kondisi tubuhnya, bagi Zara, satu keluhan saja yang keluar dari mulutnya adalah hal yang sungguh sangat memalukan untuknya.
Tapi kali ini, Zara tak lagi punya pilihan. Tatapan juga ketegasan yang Indra tunjukkan, membuat hatinya luruh tanpa bisa mengucap kata-kata penolakan.
"Apa ada luka di tubuh Anda, Nona?" tanya dokter itu, seolah menaruh curiga terhadap gejala yang ditunjukkan Zara.
Zara tak menjawab. Dia melirik ke arah Indra sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Boleh kami periksa?" ucap dokter itu, membuat Zara terlihat ragu.
Namun karena sang dokter terus memaksa, akhirnya Zara menatap penuh pinta ke arah Indra. Indra yang waktu itu terus memperhatikan gadisnya saat sang dokter memeriksa kondisinya pun langsung tanggap dan memejamkan matanya, seolah ingin berkata bahwa Indra tak akan melihatnya.
Begitu Indra memejamkan mata, Zara pun memberi sebuah kode pada seorang perawat yang ada di dekatnya, dan membiarkan mereka menyingkap bajunya untuk melihat luka yang berada di tubuh Zara.
Namun begitu dokter itu melihat kondisi zara, ekspresi kaget langsung saja bisa ditangkap oleh mata. Karena ternyata, luka Zara terlihat bengkak di beberapa tempat, dengan warna kemerahan yang terlihat mengerikan.
"Bengkak pada luka memang hal yang sangat wajar. Bila terjadi di tepi luka, bengkak bisa merupakan bagian dari proses penyembuhan. Akan tetapi, bila bengkak kemerahan semakin meluas dan keluar dari batas luka, besar kemungkinan hal tersebut merupakan tanda-tanda infeksi," sambil terus berbicara, dokter itu dengan sigab membersihkan ulang luka-luka di sekujur tubuh Zara dan mengoleskan obat luar di permukaan lukanya.
"Apa itu yang membuat badannya panas dan menggigil, Dok?" Indra yang tahu kalau dokter itu sudah selesai mengobati luka Zara pun membuka mata dan menatap dokter itu dengan deretan pertanyaan yang sudah berjejal di benaknya.
"Itu kecurigaan saya, Tuan. Demam yang dialami Nona Zara karena infeksi yang dialaminya. Apalagi tadi dia bilang, nyeri di lukanya sama sekali tak berkurang, membuat saya yakin bahwa kecurigaan saya benar. Dalam kondisi normal, nyeri biasanya akan berkurang dalam waktu dua hari setelah terjadi luka. Namun, apabila nyeri menetap atau dirasakan semakin berat, bisa jadi luka tersebut mengalami infeksi. Apalagi suhu badan Nona Zara mencapai tiga puluh sembilan lebih, ditambah kondisinya yang menggigil, juga sakit di bagian kepala selain tubuhnya yang lemas juga, membuat gejala infeksi itu semakin nyata. Takut saya, ini adalah pertanda bahwa infeksi yang dia alami sudah mencapai aliran darah, atau secara medis disebut sepsis," jelas dokter itu panjang lebar.
"Lalu bagaimana, Dok?" Indra tak peduli lagi dengan kondisi dirinya. Yang dia khawatirkan saat ini hanyalah Zara.
"Akan lebih maksimal jika Nona Zara di infus sekarang. Ada obat berdosis tinggi yang harus saya berikan melalui jarum infus, karena sayangnya, pada dosis itu tidak terdapat pada obat oral manapun yang bisa saya berikan," sang dokter terlihat seperti sedang meminta persetujuan.
"Saya tidak mau diinfus, Dok. Berikan saja saya obat oral," Zara menolak, seperti dugaan Indra dan semua orang yang berada di sana.
"Tapi akan sangat lama untuk bisa menyembuhkan luka Anda, Nona," kekeh dokter itu.
"Tak masalah buat saya, Dok. Berikan obat oral saja," Zara ikut kekeh dengan sikapnya.
"Ikuti apa kata dokter, Zara," titah Indra dengan begitu tegasnya.
"Siapa yang akan merawatmu jika aku juga harus dipasangkan infus seperti kamu?"
"Aku ...," Indra menggantungkan kalimatnya, membuat dokter dan suster itu menatap Zara dan Indra secara bergantian, merasa bingung dengan sikap keduanya.
"Baiklah, akan saya berikan obat oral dan obat luar yang setiap hari harus dioleskan pada luka Anda, Nona. Anda bisa segera menebusnya di apotik, agar luka Anda segera membaik," tak mau ikut dalam perdebatan yang panjang, akhirnya dokter itu menyerahkan secarik kertas berisi resep dokter, kemudian keluar ruangan setelah berbasa-basi sebentar.
"Tolong berikan resep itu pada anak buah saya yang berada di luar ruangan ini, Suster. Biar mereka yang menebuskan obat itu untuk Zara," pinta Indra dengan sopan.
Suster itupun tak keberatan, dan dengan senang hati melakukan apa yang diminta Indra.
__ADS_1
Dan kini, mereka hanya tinggal berdua saja. Indra menatap Zara yang kini tidur meringkuk di tempatnya, dengan tatapan penuh makna namun sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
Hanya dengan memandangnya, Indra sangat tahu bahwa gadisnya sedang mencoba kuat demi bisa menenangkan hatinya. Meski secara fisik jelas-jelas dia terlihat sakit, tapi akalnya terus berputar hingga mulutnya pun masih bisa memutarbalikkan kenyataan.
"Apa kau tahu, obat apa yang akan segera menyembuhkan sakitku, Zara? Obat dari sakitku adalah, ketika aku melihat kau sembuh dari sakitmu. Jadi beristirahatlah, makan obatmu begitu mereka menebus resep itu, dan rawatlah lukamu. Aku akan sembuh seiring dengan sembuhnya luka di tubuhmu," Indra mengutip perkataan Zara beberapa saat yang lalu.
"Itu kan kata-kataku, Ndra. Kenapa kau begitu tak sekreatif itu hingga tak punya kata lain untuk merayuku?" sahut Zara lirih. Dia menjawab perkataan Indra tanpa membuka matanya, dengan selimut tebal yang dia rapatkan hingga menutupi bagian lehernya.
"Sudah sakit masih saja sombong," oceh Indra tanpa mengalihkan pandangannya.
"Biarin. Dari pada copy paste seperti dirimu," Zara masih saja bersuara. Padahal nyeri pada lukanya sedang terasa sakit luar biasa.
Indra tak lagi menanggapi ocehan Zara. Karena semakin Indra menanggapinya, Zara akan semakin mendebatnya. Padahal dari mimik mukanya saja Indra sudah sangat tahu bahwa gadis itu sedang merasa kesakitan. Hanya karena rasa gengsi dan tak ingin terlihat lemah saja yang membuat dia bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Buka selimutmu itu Zara!" titah Indra tanpa dimengerti oleh Zara.
"Kau tak lihat aku kedinginan?" lama-lama Zara merasa geram.
"Kamu itu demam. Kamu tak dengar dokter itu bilang apa tadi? Suhu tubuhmu lebih dari tiga puluh sembilan derajad, Zara. Itu jauh di atas batas normal. Jadi, sedingin apapun yang kamu rasakan, selimut tebal akan semakin memperparah demammu. Lebih baik kau tak pakai selimut setebal itu hingga demam di tubuhmu hilang. Biarkan panas di tubuhmu menguap, Zara," Indra sedang menghafal ilmu kesehatan yang sudah dia hafal di luar kepala.
"Begitu aku memakan obatku, demamku juga akan hilang, Ndra. Jadi biarkan seperti ini dulu, atau kau akan melihatku membeku," sergah Zara, tak juga mau mendengar nasihat yang dikatakan Indra.
"Dasar keras kepala," Indra menggerutu.
Begitulah cara mereka menunjukkan cinta mereka. Berdebat dalam kata, tapi saling berkorban dalam menunjukkan cinta.
End of flashback
***
Hari ini adalah hari keempat pasca operasi yang dilakukan di beberapa bagian tubuh Indra. Selama itu pula, Zara terus menjaga Indra, walau dirinya pun sebenarnya tidak baik-baik saja. Untung saja demamnya tak berlanjut sehingga Indra tak begitu rewel menyuruhnya dirawat juga. Jika dia terus demam seperti beberapa hari yang lalu, bisa dipastikan mulut besar Indra akan memaksanya dengan cara apapun juga agar Zara mengikuti semua kemauannya.
"Apa kau benar-benar sudah sembuh, Zara?" tanya Indra sambil menyuruh Zara mendekatinya.
Zara yang waktu itu sedang duduk di atas sofa pun menurut saja. Dengan sedikit malas karena tubuhnya yang masih terasa lemas, Zara menghampiri Indra dan duduk di sampingnya.
Begitu Zara duduk, Indra yang waktu itu dalam posisi tidur pun mengangkat tangannya dan menempelkannya ke kening Zara.
"Aku benar-benar sudah sembuh. Apa kau tak percaya kepadaku?" Zara mengambil tangan Indra dari keningnya, kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Baiklah. Sekarang katakan rencanamu," Indra sedikit meremas tangan Zara.
"Menemanimu sampai sembuh," sahut Zara asal
"Hanya menemaniku sampai sembuh?" Indra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Temani aku seumur hidupmu, Zara,"
Kini mereka saling bertemu mata, tapi dengan segera Zara mengalihkan pandangannya.
"Itu memang mauku," akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Zara, walaupun matanya tak berani menatap kedalaman mata pria yang begitu dia cinta.
"Aku tahu itu,"
"Kau terlalu percaya diri,"
"Mana ada? Apa kau tak ingat waktu di pulau kecil itu? Aku tahu waktu itu kau sudah jatuh cinta padaku, Zara. Waktu itu tubuhmu semakin menggigil karena hawa dingin yang semakin merasuk, dan kau membiarkan aku memeluk tubuhmu begitu saja. Kau tak menolak aku. Alam bawah sadarmu menerima setiap perlakuanku, bahkan sadar atau tak sadar tanganmu pun melingkar manis di tubuhku. Kau bahkan membuatku benar-benar sudah tak tahan untuk bisa berbuat lebih padamu, hingga akhirnya kau menerima begitu saja ketika akhirnya aku mengecup keningmu," Indra terus mengoceh, mengingatkan Zara akan hal yang begitu memalukan untuknya.
"Kau yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menyadari waktu itu aku tak bergeming, kau langsung saja menempelkan bibirmu itu ke bibirku, dan membuat tak ada jarak lagi di antara kita," sanggah Zara tak mau kalah.
"Sayangnya, tiba-tiba ada sebuah cahaya sangat terang yang muncul dari arah belakang. Huh, kenapa mereka datang disaat-saat seperti itu sih? Gatot deh" gerutu Indra menyesali semuanya.
"Gatot apaan?" Zara mengerutkan dahinya. Dia terlihat berpikir sangat keras.
"Gatot, gagal total Zara. Dasar telmi," Indra terkekeh melihat kepolosan Zara. Walaupun begitu, dalam hati dia sangat merasa kasihan dengan gadis itu. Di saat usianya masih beliau, harusnya pergaulannya sedang luas-luasnya. Tapi sayang, keadaan membuatnya terpaksa menjadi seorang agen mata-mata.
"Telmi?" Zara kembali mengerutkan dahinya, dan berpikir lebih keras lagi dengan apa yang diucapkan Indra kepadanya.
"Telmi is telat mikirnya, Zara," ejek Indra, dengan tawanya yang membahana.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan sekarang, Zara," Indra menaikkan kedua alisnya.
"Melanjutkan apa?"
"Melanjutkan yang di danau itu. Seandainya saja, mereka tidak datang. Mungkin mahkotamu itu sudah benar-benar menjadi milikku sekarang," sahut Indra menggoda.
"Sempat-sempatnya bercanda di saat kau sedang sakit seperti ini," keluh Zara, sambil meletakkan tangannya pada keningnya.
"Ha-ha-ha. Jangan terlalu serius, Zara. Nanti kau cepat tua," tawa Indra kembali membahana.
"Sayangnya, jumlah mereka sangat besar sehingga kita harus terluka. Bahkan waktu itu, aku sempat berpikir bahwa mungkin itu adalah akhir dari hidupku," Zara tersenyum, mengingat bagaimana waktu itu dia harus melawan beberapa orang di depannya sekaligus. Bahkan, posisinya saat itu harus tangkis kiri, pukul kanan, tendang depan dan belakang, karena yang harus dia hadapi sekaligus beberapa orang.
"Untung saja waktu itu kau langsung menghambur ke dekatku. Walaupun akhirnya kita harus kalah karena kalah jumlah, membuat kita berada di titik terlemah. Luka kita menganga dimana-mana, darah sudah lagi tak jelas mengucur dari bagian tubuh yang mana, bahkan tubuh kita limbung di tengah-tengah kepungan para musuh yang melingkar mengerubungi kita," Zara sangat bersedih jika harus mengingatnya.
"Apa kau tahu, waktu itu kau benar-benar membuatku takut, Zara. Kau diam saja ketika aku memanggil-manggilmu. Bahkan aku sampai menyeret tubuh lemahku mendekatimu, tapi kau tak juga mendengar ucapanku. Emosiku pun memuncak ketika mendengar mereka akan menikmati tubuhmu sebelum membunuhmu. Akhirnya, walau tubuhku sudah penuh dengan luka yang memganga, aku bergegas beranjak dan menyingkirkan dua orang yang mendekatimu itu dengan tanganku. Dan kau ingat? Pukulan membabi-buta pun tak elak kulayangkan pada dua orang yang berusaha menyentuhmu. Sayangnya, kita kalah jumlah, Zara. Hingga pukulan demi pukulan, tendangan, juga serangan lain, akhirnya tertuju padaku dari puluhan orang yang ada di hadapanku waktu itu. Meski aku tetap berusaha menangkisnya dan melindungimu dari jamahan pria-pria tak bermoral itu, tapi tetap saja aku kalah," Indra tersenyum miris, sambil menggenggam tangan gadisnya dengan erat.
"Sudahlah, yang penting itu semua sudah berlalu, dan kini kita bisa bersatu, tanpa seorang pun yang bisa mengganggu," Zara menatap Indra dengan penuh cinta, begitu juga sebaliknya.
BERSAMBUNG
__ADS_1