METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Spionase


__ADS_3

Setelah mereka berempat menyusun rencana, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah sakit, sebelum akhirnya membawa istri mereka pulang ke rumah masing-masing. Johan pulang bersama Nina, Ryan pulang bersama Rani dan Aghata, Daniel berdua dengan Naja, sementara Arya dan Davina tetap berada di rumah sakit menunggui Lena, dengan pengawalan ketat di sekitar rumah sakit tempat dimana Lena di rawat.


"Biar aku yang mengurusnya, Sayang," dengan tak sabar, Naja langsung mengatakan apa yang berkecamuk dalam benaknya, begitu mereka berada di dalam mobilnya.


"Tugasmu hanya mengurusku," sahut Daniel cuek. Dia sama sekali tidak terlihat akan menanggapi permintaan istrinya, dan justru fokus melajukan mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit.


"Sayang, aku serius," rajuk Naja.


"Siapa bilang aku nggak serius. Aku lebih dari serius," jawab Daniel datar.


"Sayang," Naja kembali merajuk. Kali ini dia menggelayut manja di pundak suaminya.


"Hmmm, kau mau menyogokku?" Daniel menoleh ke arah istrinya.


"Apa?" Naja mengerucutkan bibirnya.


"Urusan seperti ini biar menjadi urusan para lelaki. Tapi jika kau menyogokku, akan aku pertimbangkan," Daniel menyeringai nakal.


"Huh, urusan beginian aku jagonya. Tanpa kusogok pun, tak mungkin kalian tak melibatkanku," cibir Naja, sambil membenarkan posisi duduknya.


"Cih, kamu pikir kami tak mampu melakukannya? Lihat saja nanti!" sergah Daniel.


"Baiklah, kalau kalian benar-benar tak akan melibatkanku. Aku tak akan memberitahu kalian siapa yang telah memasang CCTV itu diam-diam," kini Naja menjulurkan lidahnya ke arah Daniel.


"Jadi kau tahu siapa yang memasangnya diam-diam di rumah Arya? Kenapa kau diam saja? Tak tahukah kau kalau kini semua orang dalam bahaya?" cecar Danil.


"Tentu saja. Sebelum Arya kembali dan membongkar sandiwara pengkhianatannya kan enam bulan kami tinggal di sana. Waktu itu aku sempat memasang CCTV tambahan tanpa seorang pun yang mengetahuinya. Ternyata berguna juga. Dari CCTV itu jelas-jelas terlihat ada orang yang memasang CCTV baru dan mengintai pergerakan Arya dan Lena dari handphone-nya," jelas Naja menggebu-gebu.


"Kenapa baru bilang sekarang? Bukankah biasanya setiap saat kau selalu memantau kondisi rumah dari handphone-mu?" Daniel semakin terheran-heran dengan istrinya yang mulai bertingkah itu.


"Mereka kerja cepat. CCTV itu mereka pasang beberapa jam saja sebelum Lena terjatuh. Mendengar kabar Lena, aku baru melihat rekaman CCTV dari ponselku. Karena saat Lena terjatuh tidak ada yang janggal, jadi kupikir tidak ada rekayasa dibalik kecelakaan itu. Tapi begitu tadi kau meneleponku untuk memeriksa kemungkinan ada CCTV musuh yang terpasang di rumah itu, akhirnya aku putar mundur ke belakang. Masih tidak ada yang janggal, akhirnya kuperiksa CCTV tersembunyi yang kupasang secara asal. Dari situ aku baru tahu," jelas Naja panjang lebar.


"Apa yang kau tahu? Siapa yang melakukannya?" tanya Daniel tidak sabar.

__ADS_1


Naja tak menjawab pertanyaan suaminya. Dia justru mengangkat bahunya, seolah tak mau memberi tahu informasi itu kepadanya.


"Kau mau main-main? Ini urusan nyawa seseorang," seru Daniel gemas.


"Harusnya aku yang tanya kepada suamiku tercinta ini. Apa kau mau main-main, hingga tidak mau menukar informasi Mahalku ini dengan melibatkanku?" Naja tersenyum menang.


"Apa?" teriak Daniel, tak habis pikir dengan penawaran istrinya.


"Izinkan aku terlibat dalam masalah ini, maka akan kuberi tahu informasi itu," Naja memelankan suaranya, dan memohon penuh harap. Jiwa spionase-nya sungguh sudah meronta-ronta ingin menunjukkan aksinya seperti sebelum-sebelumnya.


"Kau sudah mulai berani memberi penawaran kepadaku, heh?" Daniel mengangkat alisnya.


"Bukankah kau yang mengajariku?" Naja tersenyum licik.


***


Di mobil yang lain, pasangan pengantin yang terhitung baru sehari menikah itu pun melaju dengan pelan. Sepanjang perjalanan, tak ada satu hal pun yang mereka bicarakan. Bukan karena marah atau mereka tak ingin saling menyapa. Tapi karena mereka belum begitu mengenal sebelumnya, hingga mereka belum menemukan satu topik pun untuk dibahas oleh keduanya.


Sesekali, Johan hanya melempar senyum sambil mengusap ujung kepala Nina dengan pelan, kemudian kembali fokus menyetir.


"Kita sudah sampai," itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Johan, begitu mereka sampai ke rumah mereka.


Johan pun turun, kemudian mengambil gerakan memutar untuk membukakan pintu buat istrinya.


"Apakah kau mau kugendong, Sayang?" tanya Johan sambil membuka kedua tangannya, begitu pintu mobil berhasil dia buka.


"Aku sendiri saja, Sayang," jawab Nina dengan muka yang sudah merah merona.


"Kenapa?" Johan mengerutkan dahinya.


"Aku malu," jawab Nina sambil setengah berlari meninggalkan Johan dan masuk ke rumahnya.


Johan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum geli melihat tingkah lucu istrinya.

__ADS_1


"Ternyata kau lebih menggemaskan saat malu-malu begitu, Sayang. Aku jadi ingin memakanmu lagi seperti semalam," gumam Johan dalam hati.


Johan pun segera masuk ke dalam kamar, menyusul Nina yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam. Dengan pelan, Johan membuka pintu dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang.


Tak ada siapapun di sana. Sesaat, dia terlihat mengerucutkan bibirnya menyadari tak ada Nina di sudut manapun. Namun, senyumnya akhirnya mengembang begitu mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.


Menyadari keberadaan istrinya, ada senyum licik yang sekilas tersungging dari bibirnya. Dan ternyata takdir berpihak padanya. Dia mencoba membuka pintu, ternyata tidak di kunci. Tanpa berpikir panjang pun Johan segera masuk dengan tubuh polosnya dan langsung menerkam Nina dan memeluknya dari belakang.


"Aahhgg," Nina berteriak saking kagetnya.


"Sssttt, kenapa kau berteriak? Kau mau ibu dan pamanmu berpikir macam-macam tentang aku?" Johan membekap mulut Nina.


Nina berusaha mengatur nafas. Setelah tenang, Johan pun melepaskan tangannya dari mulut Nina.


"Kau mengagetkanku. Kau mau apa?" Nina berusaha menjauhkan tubuhnya dari Johan, bahkan kini tangannya dia gunakan untuk menutupi bagian atas tubuhnya.


"Mandi," jawab Johan singkat.


"Kenapa kau tak menunggu sampai aku menyelesaikan mandiku?" Nina menggerutu.


"Karena aku ingin mandi bersamamu," jawab Johan dengan santainya, kemudian menarik tubuh Nina dalam pelukannya.


Dan yang selanjutnya terjadi, terjadilah. Bahkan sampai tak terhitung mereka melakukannya berapa kali.


***


Johan melirik Nina yang kini tertidur lelap disampingnya. Rupanya dia begitu kelelahan setelah melayani Johan dalam perhelatan yang panjang. Johan melirik jam yang bertengger manis pada dinding kamarnya, jarum tepat berada di angka dua belas, menunjukkan bahwa tengah malam telah tiba, saatnya dia melancarkan aksinya.


Dia mencium istri yang baru dinikahinya itu dengan mesra, kemudian beranjak dan menuju lemari untuk mengganti pakaian tidur dengan pakaian formalnya. Tak lama setelah itu dia melangkah dengan pelan, agar Nina tidak terbangun dari tidurnya.


Diraihnya gagang pintu dengan hati-hati, dan ...,


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Like, vote dan rate 5 dulu dong.


__ADS_2