
Hari ini matahari begitu cerah, namun pesonanya seolah hilang seiring dengan datangnya mendung yang pekat menghitam dalam benak Aghata, begitu mendengar cerita dari pria yang pernah mengisi lorong-lorong kosong dalam kehidupannya. Hatinya begitu bergemuruh, bagai guntur yang bersahutan meski kini mereka berada dalam suasana sunyi alam pedesaan yang terus berdentang.
"Mom," Daniel mendekati Aghata dan memeluknya. Menurut Daniel, biar bagaimanapun yang paling menderita atas semua perlakuan Arsen adalah mamanya.
Aghata terisak. Dia sadar sepenuhnya, bahwa luka lama itu tidak akan pernah pergi, karena biar bagaimanapun semua itu sudah menjadi bagian dari hidupnya yang selalu melekat dan tak akan pernah bisa hilang dan terhindari.
Bagaimana tidak? Kejadian demi kejadian seolah kebetulan satu per satu hadir dan terkuak. Pertemuan Daniel dengan Prabu Dewangga, akhirnya bisa menguak jati diri Daniel yang sebenarnya. Dan kini, tanpa sengaja mereka harus bertemu dengan Arsen yang ternyata adalah kakak kandung dari ibunda Nina.
Apakah semua kebetulan? Tentu tidak. Semua adalah bagian dari skenario terindah yang telah Allah tasbihkan. Sejauh apapun Agata berjalan bahkan berlari, akan tetapi tujuan tetap akan semakin mendekati. Tahu kenapa? Karena garis tangan kehidupan seseorang telah dituliskan. Begitu juga dengan takdir dan waktu yang telah Allah berikan. Seperti apapun kita menghindarinya, semua akan tetap bertemu pada waktu yang telah ditentukanNya. Tak perlu berlari, berjalan, merangkak bahkan kita berdiam diri pun, semua tetap akan terjadi menurut kehendakNya.
"Mom," kini Ryan beranjak dan ikut merengkuh Aghata. Biar bagaimanapun, kini kebahagiaan Aghata adalah prioritas baginya. Bukan hanya karena itu adalah bagian dari wasiat Titania. Namun, karena selain Davina yang tak lain adalah mama mertuanya, satu-satunya orang tua yang Ryan miliki saat ini selepas kepergian orang tuanya adalah Aghata.
"Mommy akan lebih tenang jika pintu maaf di hati Mommy itu bisa Mommy bukakan. Hanya memaafkannya, Mom. Soal Mommy akan kembali kepadanya atau tidak, Mommy tak perlu memikirkannya sekarang," tutur Ryan lembut.
"Ahh," Aghata mendesah kasar.
"Bagaimana denganmu, Nak? Kau yang paling menderita karena perbuatan kami. Mommy sadar sepenuhnya bahwa yang berdosa atas semua yang terjadi padamu adalah kami berdua, bukan hanya kesalahan ayahmu," Aghata menatap Daniel dengan lekat.
Daniel yang ditanya hanya terdiam, sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengedarkan pandangannya ke arah satu per satu orang yang ada di sana secara begantian. Mereka semua yang dipandang pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum penuh keyakinan.
"Hhmmm, maafkan aku. Semua ini sungguh tidak mudah. Rasanya begitu berat untukku," sekali lagi, Daniel mengusap mukanya dengan kasar. Ini benar-benar hal yang sangat berat yang harus dia putuskan.
__ADS_1
"Niel," Ryan menepuk punggung Daniel, menguatkan sekaligus ingin mentransfer kekuatan.
"Maafkan saja," begitu kira-kira arti dari sorot mata yang Ryan lemparkan.
"Aku belum selesai, Yan. Biar bagaimanapun, dalam tubuh Nina dan Tante Mira ada darah yang sama dengan darah yang mengalir dalam tubuhku. Tante Mira adalah tanteku dan Nina adalah sepupuku. Aku tidak mau Tuhan melaknatku karena menutup mata atas kesulitan dan permasalahan yang kalian hadapi," Daniel menatap Nina dengan tatapan nanar. Dia sungguh menyesal saat mengingat bahwa Nina hampir menjadi salah satu korban dari banyaknya gadis yang dia perjual belikan. Untung saja waktu itu Rani menyelamatkannya. Jika tidak, Daniel benar-benar tidak bisa membayangkan sebesar apa rasa penyesalannya saat semua sudah terjadi dan dia baru mengetahui semuanya.
"Tante Mira bisa kita bawa ke kota untuk mengobati kelumpuhannya. Dan Nina bisa melanjutkan sekolah seperti yang dicita-citakannya," Ryan angkat bicara.
"Tapi Hubby, rasa-rasanya lebih aman jika mereka tetap di sini. Mendengar cerita Om Arsen tadi, jika ternyata majikannya masih hidup sampai saat ini bagaimana? Terus untuk Nina, jika Charles datang untuk membalas dendam, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kan?" oceh Rani, memberi pertimbangan.
Sesaat, semua terdiam. Mereka semua terlihat berpikir, jalan apa yang harus mereka ambil agar semua tetap berjalan wajar dan aman.
"Jo!" Daniel menoleh ke arah Johan yang saat ini masih berdiri dan berjaga di pintu depan.
"Apa kau benar-benar akan menyerahkan jiwa dan ragamu untuk keselamatanku dan seluruh keluargaku seumur hidupmu seperti janji yang kau ucapkan kepadaku dulu?" cicit Daniel begitu Johan mendekat dan sedikit berjongkok di dekat tikar, dimana Daniel dan yang lainnya duduk.
"Tentu saja, Tuan. Apakah Anda meragukan kesetiaan saya?" sahut Johan sambil menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu buktikan janjimu!" lanjut Daniel.
"Apakah selama ini saya pernah mengecewakan Anda, Tuan?" sergah Johan sambil memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam majikan yang ada di hadapannya sekarang.
__ADS_1
"Ini berbeda. Kali ini aku benar-benar akan meminta jiwa dan ragamu," tegas Daniel.
"Silahkan berikan perintah, Tuan. Apapun akan saya lakukan," jawab Johan mantap.
"Jagalah Nina seumur hidupmu. Jaga juga tanteku dan juga pria itu," titah Daniel, sambil memandang satu per satu wajah Nina, beralih pada Mira kemudian ke arah Arsen. Walaupun Daniel masih enggan menyebut Arsen sebagai ayahnya, tetapi semua cukup lega melihat maksud baik Daniel untuk melindunginya.
"Perjelas perintahmu, Niel. Tidak mungkin Johan melindungi Nina seumur hidupnya, mengingat kedepannya Johan juga akan memiliki sebuah keluarga," protes Ryan mendengar apa yang Daniel perintahkan.
"Johan akan menikahi Nina. Itulah kenapa aku meminta jiwa dan raganya seumur hidupnya," Daniel berkata dengan datar.
Semua yang berada di ruang itu pun saling pandang, mencoba mencerna setiap kata yang Daniel ucapkan. Kaget, bingung, juga semua rasa yang tak bisa tergambar dengan kata-kata kini berkecamuk dalam benak mereka. Hanya Johan saja yang bisa langsung menangkap keinginan Daniel begitu saja, mengingat sudah sejak lama dia mengabdikan diri untuk melayani semua kemauan Daniel yang sudah menjadi pekerjaannya.
"Tapi Nina masih belia. Bahkan usianya belum genap delapan belas tahun. Dia baru berusia tujuh belas tahun lebih pun hanya sedikit saja," Rani kembali protes dengan keputusan Daniel yang terdengar sangat memaksa menurutnya.
"Tak masalah jika itu demi kebaikan dan keselamatannya. Bagaimana menurutmu, Nina? Aku adalah kakakmu. Apakah kau bersedia mematuhi keputusanku?" Daniel menatap Nina dengan tatapan penuh harap. Dari sorot matanya, sangat terlihat bahwa dia ingin sekali mendapat jawaban sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya.
Dan kini, semua memandang Nina dengan tatapan penuh makna. Mereka semua menunggu gadis tujuh belas tahun itu membuka mulutnya dan mengatakan jawaban apa yang akan dia berikan atas keputusan Daniel terhadap hal yang begitu berarti dan akan menentukan satu babak baru dalam salah satu fase dalam kehidupannya.
"Sa ... saya anu ... eh itu ... saya ...,"
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Jangan lupa klik like, vote dan rate 5 ya. Terima kasih.