METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bukan Hanya Soal Pendonor Itu


__ADS_3

Ryan dan Rani memutuskan untuk meninggalkan Daniel dan Naja yang masih mencoba berbicara dari hati ke hati.


Ryan terus menggandeng tangan Rani dan langsung masuk ke dalam kamar mereka, membersihkan diri dan beristirahat sejenak di kasur empuk tempat biasa mereka menghabiskan waktu luangnya.


Sore itu, udara di dalam kamar begitu dingin. Padahal baik Rani maupun Ryan sama-sama tidak menyalakan AC di kamarnya. Dalam dingin seperti itu, biasanya mereka akan merapatkan tubuh mereka, saling menghangatkan, bahkan tak jarang mereka membuat suasana menjadi panas saat keduanya memilih bertarung di atas peraduan mereka dengan berjuta nikmat. Tapi hari itu, tak ada di antara keduanya yang memulai. Ryan dan Rani justru saling terdiam dalam pengembaraan masing-masing.


Ya, mereka sama-sama berada di atas ranjang tapi pikiran mereka entah kemana. Rani masih belum bisa mengalihkan pikirannya dari Tante Safira dan juga Tede, sedangkan Ryan terus kepikiran soal Daniel dan pendonor yang belum juga dia dapatkan.


Sebenarnya Ryan sudah sangat berusaja untuk mendapatkan donor mata itu. Andaikan pendonor itu boleh memberikan korneanya saat masih hidup, bisa jadi dalam hitungan jam Ryan justru sudah mendapatkannya dengan begitu mudah. Tapi mengingat donor mata hanya bisa dilakukan jika pendonor sudah meninggal, Ryan harus masuk dari satu Bank Mata ke Bank Mata lainnya untuk mendapatkannya, dan posisi sampai hari ini masih menunggu ada salah seorang pendonor itu yang meninggal dunia.


"Transplantasi kornea sebaiknya tidak dilakukan pada orang yang mengalami kebutaan total dan sama sekali tidak dapat melihat cahaya, karena angka keberhasilan prosedur ini termasuk rendah," kata dokter mata yang menangani Daniel ketika itu terus terngiang-ngiang di kepala Ryan.


Artinya, ketika Ryan sudah mendapatkan donor itu pun, masih ada kemungkinan transplantasi akan gagal mengingat Daniel sama sekali tidak bisa melihat cahaya apapun yang masuk ke dalam matanya.


"Ahhh," Ryan mendesah kasar. Pikirannya kalut tak karuan.


Rani yang menyadari perubahan sikap dari suaminya sejak mereka pulang tadi pun akhirnya duduk dan menggeser tubuhnya hingga merapat ke tubuh suaminya.


"Hubby," ucap Rani sambil memeluk Ryan dan membenamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.

__ADS_1


Ryan yang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari istrinya pun sedikit terkejut, tapi akhirnya langsung mengimbangi serangan Rani dengan mengeratkan pelukannya dan mengecup kening istrinya bertubi-tubi.


"Hubby kepikiran soal Daniel ya?" tanya Rani sambil mendongak ke atas, demi bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Ryan termasuk orang yang sangat jarang murung, sehingga saat hal itu terjadi, Rani akan langsung tanggap dan melupakan masalahnya sendiri, demi bisa menjadi pendengar setia bagi suaminya untuk mengeluarkan semua unek-unek yang dia simpan dalam hatinya.


"Daniel dan Mommy adalah tanggung jawab Hubby, Sayang. Hubby sudah berjanji untuk menjaga mereka, menjamin keselamatan mereka, dan membuat mereka bahagia. Itu semua adalah wasiat Mama kepada kita berdua, terutama Hubby," ucap Ryan parau. Dia jadi sangat merindukan Mama Titania, dan mengingat semua wasiat yang telah dia amanahkan kepadanya.


“Kuatkan cinta kalian, karena itu yang akan membuat kalian kuat menghadapi apapun yang menerjang. Mama titip Papa, Arya, Mommy Aghata dan Daniel bersama kalian. Mereka adalah keluarga kalian, jaga dan cintai mereka seperti kalian menjaga dan mencintai Mama, Nak. Berjanjilah,” wasiat Mama Titania di saat-saat terakhirnya pun kini berputar-putar di benak Ryan.


"Hubby takut tidak bisa melakukan apa yang Mama wasiatkan itu," tanpa sadar bulir bening dari ujung mata Ryan menetes begitu saja.


"Hubby pasti bisa. Bukankah Mommy Aghata sekarang sudah menikah dengan Daddy? Mommy sudah bahagia. Untuk Daniel, Hubby bisa usaha lebih keras lagi, bagaimana caranya jika ada satu pendonor yang sudah siap di eksekusi, Daniel menjadi prioritas untuk ditangani pertama kali. Manfaatkan semua jaringan yang Hubby punya, By," Rani memberi motivasi. Sejenak, dia sudah melupakan soal pertemuannya dengan Tante Safira tadi.


"Terus?" Rani mengerutkan dahinya.


"Kata dokter, tingkat keberhasilan transplantasi yang dilakukan pada Daniel suatu saat nanti cukup rendah, karena tak ada cahaya sedikit pun yang mampu Daniel tangkap saat ini," jelas Ryan sendu.


"Bagi Allah, semua itu mudah, Hubby. Kita tinggal berikhtiar dan berdo'a. Yang penting kita berusaha secara maksimal dulu, untuk hasilnya itu adalah hak prerogatif Allah sepenuhnya," oceh Rani, menenangkan.


Tiba-tiba secercah cahaya muncul di hati Ryan. Dia hanya perlu berusaha agar pendonor itu segera dia dapatkan dan transplantasi itu bisa segera dilaksanakan. Benar kata Rani, tentang hasil itu adalah urusan Allah. Kewajiban manusia hanya bertawakal, setelah betikhtiar secara maksimal.

__ADS_1


***


Di taman belakang, Daniel dan Naja tidak menyadari bahwa Ryan dan Rani sudah berada tepat di belakangnya dan mendengar semua hal yang telah mereka bicarakan.


"Jangan ragukan cinta dan kesetiaanku. Aku mencintaimu, seutuhnya. Bukan karena ketampanan dan kesempurnaan fisikmu, tapi aku mencintai semua yang ada padamu tanpa kecuali. Baik kelebihan maupun kekurangan, semua sudah menjadi bagian dari deru nafasku yang berdenyut dalam setiap denyar nadi yang menghidupi jiwa dan ragaku," ucap Naja itu mampu mendinginkan kegalauan di hati Daniel yang sudah mendidih karena berbagai prasangka buruk terhadap suratan nasib yang tiba-tiba mengganggu dan menguasai pikiran Daniel di hari itu.


"Terima kasih," Daniel mencoba mencari wajah Naja. Naja yang melihat tangan Daniel meraba-raba di udara pun menangkap tangan itu dan meletakkannya di pipinya.


"Kau tidak sedang meragukan sumpah setiaku kan, Sayang? Cukup satu kali saja aku mengkhianati dan pergi darimu. Setelah aku berjanji setia kepadamu kembali, bisa aku pastikan bahwa aku akan mencintai dan menemanimu hingga Tuhan mengambil nyawaku," yakin Naja lagi.


"Sssttt. Tidak usah menyinggung masalah kematian, Sayang. Aku ingin Tuhan memberi kita kekuatan cinta sehidup semati seperti yang Dia tasbihkan untuk kisah cinta Mama Titania dan Papa Prabu," seulas senyum kini tersungging, membentuk lengkungan sangat manis pada wajah tampan Daniel.


Ya, walau kini matanya tidak bisa melihat, tapi mata hatinya bisa merasakan betapa besar cinta Naja untuk dirinya, bahkan setelah kesempurnaan fisik tak lagi melekat kepadanya.


Hingga tak terasa, langit pun mulai menjingga, membuat warna cerah itu mengubah pesona cakrawala.


Begitu juga dengan hidup kita. Dia seperti langit, yang sebagian hidupnya hanya tentang warna. Kadang memutih seperti kapas yang putih bersih, kadang membiru, kadang menjingga, bahkan kadang menghitam akibat perputaran waktu yang telah Allah gariskan.


Jika langit saja begitu menikmati perubahan warna yang selalu berputar membuat sensasi yang berbeda-beda dalam setiap waktunya, kenapa manusia harus berkeluh kesah dengan takdir yang telah Allah tuliskan untuknya?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2