
Rani membenarkan posisi duduknya begitu ada aba-aba bahwa pesawat akan segera take off. Ryan yang terlihat kecewa karena Rani menjauhinya pun tidak ada pilihan lain dan memilih untuk hanya sekedar menggenggam tangan istrinya.
Ketika Pesawat sudah mulai berjalan perlahan, segera saja muncul melalui layar di depan tempat duduk mereka, video demo tentang protokol keselamatan penumpang pada saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mulai dari cara memasang sabuk pengaman, mematikan telepon genggam, sampai mengenakan pelampung keselamatan dan masker oksigen. Setelah video demo selesai, hanya dalam waktu beberapa detik pesawat sudah terbang meninggalkan landasan.
Selama perjalanan, Rani terus memikirkan perkataan laki-laki kepada gadis yang kini duduk di belakangnya itu. Walaupun saat di pesawat tidak ada satu percakapan pun di antara mereka, namun perkataannya di ruang tunggu tadi benar-benar bukan hal yang biasa.
Rani terlihat berpikir keras, sehingga keningnya terlihat mengerut. Telunjuk tangan kirinya dijentik-jentikkan berkali-kali di depan bibirnya tanda dia memikirkan sesuatu.
"Ada apa sih, Sayang?" tanya Ryan yang melihat perubahan ekspresi wajah istrinya secara tiba-tiba.
"Nanti Rani ceritain," jawab Rani singkat.
"Oke." Ucap Ryan sambil memejamkan matanya. Dia tidak berusaha bertanya lebih lanjut karena matanya sudah mengantuk, tidak bisa diajak kompromi.
Rani yang melihat suaminya terlelap pun segera membuka tas nya dan mengambil sesuatu dengan menggunakan tangan kirinya karena Ryan tidak melepaskan genggaman pada tangan kanannya.
Tak berapa lama, Rani mengeluarkan bedak dari dalam tas itu dan hendak membukanya. Namun karena tak berhasil membukanya hanya dengan satu tangan, maka Rani meletakkan kembali bedak itu dan secara perlahan berusaha melepas genggaman tangan suaminya.
"Kenapa?" tiba-tiba Ryan kaget saat Rani melepas genggamannya.
"Rani pegel, Mas," jawab Rani sekenanya.
"Ohh," ucap Ryan singkat sambil memejamkan matanya kembali.
Melihat suaminya sudah kembali terlelap, Rani segera membuka bedak itu dan mengambil posisi bercermin dengan memposisikan cermin itu di dekat jendela sehingga posisi tubuhnya agak condong ke kiri. Hal ini Rani lakukan demi bisa melihat gadis yang kini duduk di belakangnya.
Ternyata idenya benar-benar membuahkan hasil. Melalui cermin itu Rani bisa melihat dengan jelas muka gadis itu.
Dia adalah gadis cantik alami tanpa polesan make up sedikitpun. Kulitnya putih bersih, namun matanya sayu dan terlihat sembab seperti habis menangis. Dia terus menatap ke luar jendela pesawat dengan nanar, memandangi gumpalan-gumpalan kapas putih yang berarak mengiringi perjalanan pesawat itu hingga sampai pada tujuannya nanti. Beberapa kali saat ada turbulensi, dia pun memejamkan matanya menahan takut akibat guncangan yang terjadi ketika pesawat melewati awan secara langsung.
__ADS_1
Entah apa yang Rani pikirkan, yang jelas dalam hati kecilnya dia berpikir bahwa dia harus tau sesuatu.
Setelah berpikir sejenak, dia berbisik lirih tepat di telinga suaminya.
"Mas, Rani ke toilet sebentar ya," bisik Rani.
"Iya, Sayang," jawab Ryan sambil memberi Rani jalan.
"Maaf telah membuat tidur Mas Ryan terganggu," ucap Rani kemudian.
"Mas tidak terganggu, Sayang," jawab Ryan sambil tersenyum hangat.
Rani pun segera berjalan ke depan dan menghilang dibalik gorden yang sengaja di tutup oleh pramugari sesaat setelah pesawat lepas landas beberapa saat yang lalu.
Di balik gorden, Rani tidak masuk ke dalam toilet. Dia justru terlihat berbicara dengan sangat serius bersama beberapa pramugari yang ada disana. Setelah cukup lama, dia terlihat menyepakati sesuatu, sebelum akhirnya keluar dan duduk kembali di samping suaminya.
"Sudah?" tanya Ryan sambil memberi jalan agar Rani bisa melewatinya dan duduk di kursi semula.
Setelah duduk, Rani terlihat mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Setelah melihat gadis itu melalui cermin, Rani terlihat mengarahkan tulisan itu ke belakang, kemudian membuat ketukan-ketukan kecil di kaca jendela pesawat untuk menarik perhatian sang gadis. Dan sepertinya berhasil. Gadis itu membaca tulisan dari arah kursi yang ada di depannya, kemudian mengangguk.
Rani yang melihat anggukan gadis itu melalui cermin di tangannya pun akhirnya mengakhiri aksinya dan sedikit bernapas lega.
"Sayang, kamu itu kenapa sih dari tadi aneh?" tanya Ryan tiba-tiba.
"Nggak papa, Mas. Bener deh," jawab Rani meyakinkan, dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya secara bersamaan.
Setelah beberapa menit, terlihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya menuju toilet yang kemudian diikuti oleh laki-laki yang sedari tadi bersamanya dari belakang.
Ryan yang memperhatikan tingkah Rani aneh mulai mengernyitkan dahinya terlihat memikirkan sesuatu. Hingga setelah gadis dan laki-laki itu tenggelam di balik gorden, Ryan segera merampas kertas yang ditulis Rani tadi kemudian membacanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Ryan bertanya setengah berbisik.
"Jika dalam bahaya, gadis itu perlu kita selamatkan," jawab Rani setengah berbisik juga.
"Jangan ambil resiko, Sayang. Ini bisa membahayakanmu," ucap Rani kemudian.
"Rani sudah pikirkan cara teraman," jawab Rani menenangkan, sambil menggenggam erat tangan suaminya.
Setelah beberapa menit, gadis itu muncul dari balik gorden, diikuti laki-laki tadi dan kemudian duduk kembali.
Penerbangan yang penuh misteri bagi Rani itu pun akhirnya berakhir. Ditelinganya kini terdengar bahwa seluruh penumpang harus mengenakan sabuk pengaman dan menormalkan sandaran kursi karena pesawat akan segera landing.
Setelah pesawat mendarat dengan cantik di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, para penumpang kelas bisnis di persilakan untuk turun terlebih dahulu.
Rani dan Ryan yang waktu itu duduk di kursi barisan nomor dua pun tidak harus mengantri lama untuk turun. Dia segera berjalan menuju tangga yang diikuti Ryan di belakangnya, disusul gadis itu dan laki-laki yang bersamanya.
Sesampai di anak tangga terakhir, terlihat sudah berjejer puluhan petugas keamanan Bandara dengan senjata lengkap yang menunggu mereka turun. Tanpa aba-aba, polisi itu mendekati dan segera menangkap laki-laki tadi tanpa perlawanan.
Setelah laki-laki itu di borgol dan gadis itu aman, beberapa polisi menuju arah Ryan dan Rani meminta mereka ikut untuk memberikan keterangan.
Meskipun agak kaget dan tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, namun Ryan mengangguk dan terus menggenggam tangan Rani kemudian berjalan mengikuti petugas keamanan Bandara, menuju sebuah ruang khusus keamanan.
"Sepertinya ini akan panjang, Sayang. Kamu bersiaplah tidak bisa pulang tepat waktu," ucap Ryan yang segera di balas anggukan istrinya dengan senyum bahagia.
Walaupun Rani belum sepenuhnya mengerti apa yang telah dilakukan laki-laki itu terhadap sang gadis, namun dia sedikit berbangga bahwa kepekaan dirinya ternyata masih teruji. Rani pun dengan tersenyum melihat suaminya yang dengan setia menemani setiap urusan yang mungkin belum terbiasa baginya.
BERSAMBUNG
Hai Readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima Kasih.