
Lanjut flashback
Daniel tak mau mendengarkan apapun penjelasan yang Prabu sampaikan. Bahkan ketika Titania berusaha menenangkannya, Daniel benar-benar menutup mata hatinya, dan mengikuti kemana hatinya berkata. Daniel terus saja menganggap, bahwa Prabu adalah orang yang paling bertanggungjawab atas penderitaan di masa lalunya.
Setelah melalui perdebatan yang panjang tapi tak juga mendapatkan titik terang, tiba-tiba Daniel berdiri dan menarik pelatuk senjata api yang berada di balik celananya ke arah Prabu Dewangga.
Dan satu. Dua. Tiga. Daniel benar-benar menarik pelatuk senjatanya. Didetik yang sama...,
“Jangaaan!!!” Aghata yang baru sampai ke tempat itu dan Titania yang berada di sebelah Daniel berteriak secara bersamaan.
Ya, satu tembakan benar-benar dilayangkan, dan Aghata tak mau kehilangan kesempatan. Secepat kilat dia berlari ke arah Prabu dan memeluknya dari depan hingga peluru dari senjata Daniel tepat mengenai punggung Aghata.
Sementara di sisi yang lain, Titania yang melihat Daniel benar-benar menarik pelatuknya dan mendengar suara tembakan itu benar-benar keluar dari senjata yang dilihatnya, tiba-tiba merasa sesak dengan nyeri di bagian dada hingga akhirnya ambruk dan pingsan seketika.
Prabu dan Daniel sama-sama membelalakkan mata ketika melihat dua wanita di hadapannya jatuh tersungkur ke lantai. Titania terlihat memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak hingga pingsan seketika, sementara Aghata jatuh begitu saja setelah menghalangi Prabu dari peluru yang dilepaskan oleh anaknya.
“Titania! Aghata!” seru Prabu
“Mommy!” teriak Daniel, sambil membuang senjata itu begitu saja.
Kini mereka menghambur ke arah dua wanita itu dengan perasaan cemas yang luar biasa. Daniel terus mengisakkan tangisnya melihat darah mengucur deras dari arah punggung ibunya, sementara Prabu, Ryan dan Arya yang datang bersama Aghata segera menghampiri Titania dengan segala rasa cemas yang terlihat dari raut wajah mereka.
Tiga hari kemudian, setelah mengalami masa kritisnya, akhirnya kondisi Aghata berangsur-angsur membaik dan sudah hampir pulih dari operasinya. Tapi berbeda dengan Aghata, kondisi Titania tak mengalami perkembangan yang cukup berarti.
__ADS_1
Aghata yang waktu itu ditunggui Daniel pun merengek minta menjenguk Titania. Daniel tak kuasa menolak permohonan ibunya, dan tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di depan ruang ICU dimana Titania masih terbujur sendu.
Di depan ruang ICU itu, pertengkaran kembali terjadi, bahkan kini bukan hanya antara Daniel dan Prabu, karena melihat sang papa diperlakukan seperti itu, Ryan langsung naik pitam.
Ryan beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Daniel dengan segala kemarahan yang dirasakannya, hingga Ryan mengangkat kerah baju Daniel begitu saja dan tanpa aba-aba satu pukulannya mendarat manis di bagian wajahnya. Daniel yang mendapatkan pukulan secara tiba-tiba hingga bibirnya pecah itupun tersungkur ke lantai, namun segera berdiri dan berbalik menghampiri Ryan hendak membalas pukulannya.
“Daniel, hentikan!” tiba-tiba Aghata berteriak.
“Biarkan dia, Tante. Ryan mau lihat seberapa kuat dirinya,” kini Ryan bersiap untuk benar-benar berkelahi dengan orang yang telah membuatnya hampir kehilangan mamanya.
“Besar juga nyalimu, anak manja,” seru Daniel sambil melayangkan satu pukulannya ke muka Ryan.
“Daniel! Mommy bilang hentikan!” Aghata berseru dengan tangisnya yang semakin menjadi.
Sementara Rani yang melihat suaminya jatuh tersungkur di lantai tak bisa menahan rasa terkejut dan tangisnya. Dia langsung menghampiri suaminya dan membantunya berdiri, kemudian segera menahannya ketika Ryan hendak membalas Daniel lagi dengan pukulannya. Di luar dugaan, Aghata menghampiri Ryan dan menenangkannya dengan meraih tangan Ryan dan mengecupnya.
“Apa yang Mommy lakukan?” kini Daniel mengacak rambutnya dengan kesal.
“Minta maaflah kepada mereka, Daniel. Tak seharusnya kau memendam kebencian sebesar itu. Bukan Tuan Prabu yang meninggalkan Mommy, tapi Mommy-lah yang memutuskan untuk pergi. Dan satu hal yang perlu kau tahu, Nak. Tuan Prabu memang suamiku, tapi dia bukan ayahmu,” tutur Aghata lirih.
Cerita demi cerita pun terangkai dari mulut Aghata, membuat rasa bersalah menyelimuti hati dan jiwanya. Ternyata Daniel sudah mensalahpahami seorang Prabu Dewangga sekian lama. Prabu yang dia anggap sebagai seorang penjahat yang paling bertanggungjawab atas penderitaannya, ternyata adalah malaikat penolong yang telah menyelamatkan ibu dan dirinya.
Daniel menatap pria yang ada di depannya dengan bulir bening yang terus berderai. Seketika, dia berlutut di hadapan Prabu begitu Aghata selesai membuka kisah masa lalu yang membuat semua orang yang berada di tempat itu ikut tergugu.
__ADS_1
“Tolong hukum aku, Tuan. Hukumlah aku yang telah menjadikan mataku buta dalam khilaf dan dendam yang terpendam. Hukumlah aku yang telah membiarkan mulutku menjadi pedang api yang membakar ketulusan yang kau berikan. Hukumlah aku yang telah menjadikan hatiku duri yang dengan sengaja menyakiti. Hukumlah aku! Hukumlah aku!” cicit Daniel sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan kini tangannya meraih tangan Prabu dan memukul-mukulkan tangan itu ke pipinya sendiri berkali-kali.
“Cukup, Nak. Cukup! Meski tak ada darahku yang mengalir dalam tubuhmu, tapi kau adalah putraku dan Ryan adalah kakakmu. Peluklah papamu ini, Nak. Aku tetaplah papamu,” Prabu segera menghentikan tangan Daniel yang menyakiti dirinya sendiri itu kemudian ikut bersimpuh dan memeluknya dengan hangat.
Daniel semakin tersedu mendengar ucapan seorang ayah itu. Kepingan-kepingan penyesalan kini sungguh menyeruak dan membuat dadanya begitu sesak, apalagi mengingat ada seorang ibu yang kini terbaring lemah di ruang ICU karena kebodohan dan kekhilafannya dalam lautan dendam tak bertepi.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Daniel sambil mengeratkan pelukannya.
“Panggil aku Papa, karena sejak kau lahir di dunia, memang akulah papamu,” Prabu menatap wajah Daniel, kemudian memeluknya kembali.
Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Johan mendekati Daniel dan membisiki sesuatu.
"Apa?" seru Daniel tiba-tiba. Dia menatap wajah orang-orang yang ada di rumah sakit itu satu per satu, dan pandangan Daniel berhenti pada satu titik, yaitu Naja.
"Kenapa, Nak?" tanya Aghata lirih.
"Tidak ada apa-apa, Mom. Hanya ada sedikit masalah di kantor," jawab Daniel berbohong, sebelum akhirnya mendekatkan mulutnya ke arah telinga Johan.
"Bawa mereka ke rumahku!" bisik Daniel kepada Johan.
Seperti biasa, Johan pun mengangguk tanda mengerti dan siap melaksanakan perintah tuannya.
Hari itu benar-benar menjadi hari penyesalan untuk seorang Daniel. Tepat dimana dia mengetahui kebenaran cerita akan masa lalunya juga kebaikan Prabu Dewangga dan Titania, di hari itu juga orang-orang yang telah berjasa dalam hidupnya itu pergi menutup mata untuk selama-lamanya. Ya, Titania meninggal dunia, di susul cinta sejatinya. Prabu Dewangga akhirnya juga pergi menyusul istrinya, beberapa saat setelah istrinya dimakamkan dan menghadap kepada Sang Maha Pencipta.
__ADS_1
Dan ternyata, penyesalan Daniel tak berhenti sampai di situ. Ada satu hal lagi yang membuat dia merutuki dirinya, mengingat apa yang telah Johan bisikkan kepadanya. Tepat di saat semua kebenaran terbuka, di saat itu juga anak buah Johan mengabarkan bahwa mereka telah menangkap ibu dan adik Naja, namun dengan kondisi mereka yang terluka. Ya, mereka terpaksa dilukai oleh anak buah Johan karena saat ditangkap sempat melakukan perlawanan.
BERSAMBUNG