
"Saat ini Papa pasti sedang dimakamkan," lirih Meysie, dengar bulir bening yang kembali mengalir.
Ya, Meysie dan Ega masih berada di dalam pesawat. Meski hari sudah berganti hari, tapi untuk sampai ke Indonesia, mereka memang masih membutuhkan waktu sampai sore datang, hingga total penerbangan sekitar dua puluh dua jam.
"Apa kau ingin mereka menunggumu baru Papa dimakamkan? Kasian jenazah Papa jika terlalu lama menunggu kita, Sayang," Ega mencoba memberi pengertian.
"Apakah Allah sedang menghukum Meysie, Bang? Hingga saat Papa kandung Meysie meninggal saja, Dia tidak membiarkan Meysie melihatnya untuk yang terakhir kalinya?" Meysie tergugu.
Ega hanya mengelus punggung Meysie perlahan, setidaknya hanya itu yang saat ini bisa dia lakukan.
***
Mata Hengky basah. Pandangannya terus tertuju pada gundukan tanah yang kini benar-benar menutup jasad ayahnya itu. Tatapannya nanar, dadanya terasa sesak menahan tangis.
"Aku harus tetap tegar demi Mama. Sekarang akulah satu-satunya tempat Mama bersandar dalam suka dan dukanya," gumam Hengky dalam hati.
Hengky memeluk mamanya, yang kini terus meremas gundukan tanah merah di depannya. Tangis Nyonya Atmaja yang begitu pilu itu pun berhasil memporak-porandakan pertahanannya. Apalagi menghadapi sang mama yang terus berteriak histeris, membuat air mata yang susah payah ditahannya akhirnya lolos begitu saja.
"Papa tidak boleh benar-benar pergi, Nak. Dia tidak boleh meninggalkan Mama sendiri," Nyonya Atmaja bersimpuh di depan makam suaminya dan terus meremas tanah merah itu.
"Pa, Papa. Jangan tinggalin Mama, Pa. Hengky, Mama harus gimana, Nak? Tolong Mama. Buat agar papamu kembali," oceh Nyonya Atmaja dalam tangisnya.
"Biarkan Papa pergi dan tenang di sisiNya, Ma. Ikhlaskan dan terus do'akan Papa," Hengky mencoba menenangkan mamanya, tapi Nyonya Atmaja terus meraung-raung hingga semua orang yang berusaha menenangkannya pun kewalahan menghadapi tingkahnya yang begitu sulit dikendalikan.
"Mama tidak bisa tanpa Papa, Nak. Ayo kita lihat papamu sekali lagi. Mungkin Papa masih hidup," tangis Nyonya Atmaja tumpah.
"Ma," Hengky terus memeluk mamanya sambil tergugu.
"Coba kita gali lagi gundukan itu, Nak. Bagaimana kalau Papa bangun nanti? Kasihan Papa," Nyonya Atmaja berusaha mencabut batu nisan bertuliskan nama suaminya dan menggali makam suaminya dengan kedua tangannya.
"Mama, hentikan, Ma. Papa sudah pergi untuk selama-lamanya. Mama jangan seperti ini. Kasihan Papa, Ma," Hengky dibantu beberapa orang yang turut menghadiri pemakaman, berusaha menghentikan hal konyol yang Nyonya Atmaja lakukan.
__ADS_1
Fisha yang tak tega melihat mertuanya yang bahkan sudah pucat dan tidak bertenaga itu pun, akhirnya mendekat dan ikut memeluknya dengan paksa seperti yang dilakukan suaminya.
"Sudah, Ma. Kasihan Papa yang sudah tenang di sana. Pasti dia sedih jika melihat Mama seperti ini," ucap Fisha, berusaha membujuk mertuanya yang masih meronta.
"Papa! Kembalilah, Pa. Jangan tinggalkan Mama. Mama tidak bisa hidup tanpa Papa. Bukankah Papa sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Mama? Kenapa Papa ingkari janji itu, Pa? Kenapa Papa pergi untuk selamanya?" Nyonya Atmaja justru semakin histeris.
"Mama ikut, Pa. Ajak Mama bersama Papa. Jemput Mama, Pa! Jemput Mama!" lanjutnya masih dengan tangis yang menggema.
"Mama tidak boleh seperti ini. Mama harus kuat. Jika Mama seperti ini, siapa yang akan mendo'akan Papa di sana? Mama masih punya Mas Hengky dan juga Fisha. Kami akan selalu menjaga Mama," ucap Fisha kembali, berusaha menenangkan. Rani, Ryan, dan semua orang yang turut hadir dalam pemakaman Tuan Atmaja itu pun ikut larut dalam kesedihan, hingga bulir-bulir bening pun akhirnya ikut mengalir.
"Ayo kita pulang, Ma. Mama butuh istirahat," ajak Fisha.
"Tidak, Mama mau disini temani Papamu. Kasihan dia sendirian, Nak," ceracau Nyonya Atmaja, semakin di luar logika.
Melihat mamanya yang tidak bisa dibujuk, akhirnya Hengky dibantu beberapa saudaranya mengangkat tubuh Nyonya Atmaja secara paksa.
"Papa ...!"
"Papa ...!"
"Papa ...!"
***
sore itu, hujan kembali hadir seolah ikut bersedih dan menambah sendu suasana kediaman keluarga Atmaja.
Seluruh teman dan kerabat pun sudah pulang meninggalkan rumah duka. Hanya tersisa Hengky, Fisha, Nyonya Atmaja dan seluruh pelayan yang bekerja di sana.
Mereka duduk terdiam di kamar masing-masing, memutar kembali kenangan indah bersama Tuan Atmaja, sembari menunggu kedatangan Meysie dan Ega yang sudah landing di salah satu bandara di Indonesia.
"Mas," Fisha mendekati suaminya dan memanggilnya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Menangislah jika memang itu bisa membuat hatimu lega. Fisha siap menjadi bahu yang bisa Mas pakai untuk bersandar," lanjutnya, sambil mengusap kepala Hengky dengan penuh cinta.
Hengky memandang Fisha dengan tatapan penuh makna. Sedetik kemudian, air matanya tumpah begitu saja sambil memeluk erat tubuh istrinya. Hingga sebuah ketukan dari arah pintu, membuyarkan semuanya.
Tok-tok-tok.
"Ya," seru Fisha.
"Non Meysie sudah sampai, Non. Sekarang sedang di kamar Nyonya Besar," sahut seorang pelayan dari arah luar.
Fisha menatap Hengky, kemudian mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi suaminya.
"Tegarkan dirimu, Mas. kita temui Kak Meysie sekarang?" tutur Fisha lembut.
Hengky hanya mengangguk. Dengan tidak bersemangat, dia beranjak dan menggandeng tangan Fisha menuju kamar Nyonya Atmaja.
Sampai di depan kamar mamanya, Hengky menghentikan langkahnya. Dia hanya berdiri mematung di tempatnya, tak kuasa ikut larut dalam sebuah drama yang sedang terjadi antara ibu dan kakak perempuannya.
"Ma," Meysie langsung menghambur ke arah Nyonya Atmaja, yang kini sedang terbaring lemah di tempat tidurnya.
"Meysie! Kau sudah pulang, Nak? Papamu, Mey. Papamu sudah pergi meninggalkan kita semua," Nyonya Atmaja kembali tergugu.
"Iya, Ma. Maafkan Meysie yang tak bisa menemani Mama melalui semuanya. Ini semua salah Meysie, Ma. Ini semua salah Meysie. Jika saja Meysie tidak berbuat nekat untuk menyakiti mereka semua, pasti ini semua tak akan terjadi," oceh Meysie sambil memeluk erat tubuh mamanya.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Nyonya Atmaja. Hanya derai air mata yang terus keluar, sebagai jawaban betapa dia telah kehilangan hidup dan separuh nafasnya.
Meysie dan Nyonya Atmaja pun terus berpelukan erat dan saling menumpahkan kesedihan di antara mereka.
Hengky yang melihat pemandangan itu dari luar kamar, memundurkan tubuhnya dengan gontai beberapa langkah ke belakang. Bahkan air matanya kembali tumpah, tak kuasa menghadapi dua perempuan yang sangat dicintainya itu, harus melalui masa-masa penuh derita yang membuat mereka terus menangis sendu.
BERSAMBUNG
__ADS_1