
"Apa yang kau lakukan?" Naja berteriak emosi. Hasrat membunuhnya tiba-tiba menyeruak, melihat nona yang mati-matian ingin dia lindungi terluka. Naja yang sekarang berada di belakang Rani pun mencoba memposisikan diri di depan nonanya kembali, bersiap menyelesaikan perhelatan yang sempat tertunda. Tapi Rani terus menghalanginya.
"Hentikan Naja!" cegah Rani. Tangannya mencengkeram kuat tangan Naja, tak membiarkan supir cantiknya itu kembali berkelahi dengan pria yang tiba-tiba mengusiknya.
"Tapi, Nona," Naja masih memaksa maju, mencoba melepaskan diri dari cengkraman sang nona.
"Aku bilang hentikan, Naja!"
Teriakan terakhir Rani membuat suasana menjadi senyap. Rani meraba bagian wajahnya dan mengusap darah yang mengalir begitu saja dengan tangan kanannya sambil meringis menahan perih. Matanya menatap Felix penuh amarah, kemudian membuang muka ke segala arah.
"Pergilah sebelum suamiku datang! Dan jangan ganggu aku lagi, atau...,"
"Atau kau akan melihat Ryan Dewangga menghancurkanmu tanpa sisa," tiba-tiba Ryan muncul dari arah pintu dan menyela sebelum Rani menyelesaikan kalimatnya.
Ryan yang tidak tahu bahwa Rani terluka, masih bisa berjalan menghampiri mereka dengan wajah dinginnya. Namun begitu semakin dekat, akhirnya dia menyadari bahwa ada darah di sudut hidung wanitanya. Dia mengarahkan satu jarinya mengusap darah di wajah cantik istrinya itu, dan begitu darah segar menempel di jarinya, Ryan segera membalikkan badannya.
Seketika wajah Ryan memerah menahan marah. Matanya menatap tajam ke arah Naja kemudian berpindah ke arah Felix menuntut penjelasan. Rani yang melihat tatapan suaminya sampai bergidik ngeri, mengingat ini adalah kali pertama dia melihat suaminya semarah itu.
"Mas, ayo kita pulang. Jangan ladeni orang ini. Ayo kita tinggalkan tempat ini!" pinta Rani, takut jika perhelatan akan terjadi lagi untuk yang kedua kalinya. Kini tangan Rani menggenggam erat tangan Ryan, berusaha menenangkan suaminya yang sudah pasang tampang mengerikan.
"Naja, bawa nonamu pulang!" perintah Ryan. Kali ini dia sama sekali tidak menghiraukan rengekan istrinya.
"Rani maunya pulang sama Mas Ryan," Rani kembali merengek. Kendati dalam hatinya dia sangat tidak menyukai pertemuannya dengan Felix, namun tetap saja Rani merasa takut jika suaminya akan nekat mencelakai pria itu.
Pemandangan menjadi semakin ngeri ketika Felix dan Ryan saling menatap tajam.
"Mas," Rani mencoba mengalihkan perhatian suaminya. Bahkan kini dia melingkarkan tangannya di lengan suaminya dengan mesra.
__ADS_1
"Naja! Tunggu apa lagi? Apa kau tidak mendengar perintahku? Bawa nonamu pulang!" Ryan sama sekali tak menghiraukan Rani yang terus merajuk. Nada bicaranya sudah seperti orang yang sangat menahan amarah yang menyeruak dan menyesakkan dadanya.
"Mari kita pulang, Nona," ajak Naja, tapi Rani tidak bergeming.
"Nona!" panggil Naja sekali lagi.
Rani tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia benar-benar tahu kalau semua tidak sedang baik-baik saja.
"Rani hanya mau pulang jika Mas Ryan pulang," rengek Rani manja. Biasanya Ryan akan langsung luluh jika istrinya sudah manja seperti itu.
Dan ternyata benar. Seketika mimik muka Ryan berubah. Dia membiarkan Felix berdiri mematung, menunggu Ryan menyelesaikan urusannya. Di samping Felix berdiri pak Rudi yang seolah sedang bersiaga kalau-kalau Felix akan kabur dari tempat itu.
Sementara dari arah pintu, terlihat Arya datang bersama anak buahnya dan membisikkan sesuatu kepada pengelola Cafe, sebelum akhirnya beberapa tamu yang sedang berkunjung berhamburan keluar meninggalkan Cafe itu.
"Sayang, kamu pulang duluan ya. Minta Bik Tum atau Nina untuk mengobati lukamu. Mas hanya ingin berbicara dengan pria itu sebentar. Perempuan tidak baik ikut pembicaraan laki-laki," tutur Ryan lembut. Dibelainya istri kesayangannya itu dengan sayang, kemudian di kecupnya seluruh area wajah istrinya.
"Mas hanya sebentar, Mas janji. Pulanglah dulu, Mas akan segera menyusulmu," pinta Ryan hangat. Dia mengusap ujung kepala istrinya dengan lembut, kemudian menatap Naja dengan lekat.
Naja yang bisa menangkap bahasa tubuh Ryan mengangguk, dan memapah nonanya keluar. Rani pasrah. Dia tahu permintaan Ryan sudah tidak bisa ditawar lagi. Dengan berat, dia mengikuti kemana langkah Naja membimbingnya. Sesampainya di depan pintu, Rani masih menoleh ke belakang, mencoba menelisik sekali lagi dan mendalami tatapan mata Ryan. Ryan yang masih menatapnya hanya mengangguk, mencoba meyakinkan.
Rani pun membalas tatapan suaminya dengan pandangan penuh harap, seperti hendak memohon agar tak ada hal bodoh yang dia lakukan di tempat itu. Seolah bisa menangkap permohonan istrinya, Ryan mengangguk dan melemparkan senyum termanisnya hingga Rani melangkah keluar dan menghilang dari pandangannya.
***
Rani segera mengambil posisi duduk di kursi penumpang senyaman mungkin, begitu Naja membukakan pintu untuknya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Naja langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota X yang masih terlihat ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.
Mereka memilih menghabiskan waktu perjalanan dalam diam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, mencoba berpikir tentang apa yang hendak dilakukan Ryan dan anak buahnya terhadap seorang Felix yang telah lancang mengganggu dirinya.
__ADS_1
"Ahh," Rani mendesah. Kini butiran-butiran kecemasan menelusup begitu saja dalam relung hatinya. Berbagai pikiran buruk dengan lihai segera memenuhi benaknya.
"Kau tahu yang akan suamiku lakukan kepadanya, Naja?" tiba-tiba Rani memecah keheningan di antara mereka berdua. Hatinya mulai mengajak menerka-nerka apa yang akan terjadi.
"Tenanglah, Nona. Biarkan Tuan menyelesaikan urusannya secara dewasa," seperti biasa, Naja tidak pernah memberi jawaban sesuai dengan yang Rani harapkan.
Rani hanya bersungut kesal mendengar jawaban itu. Sambil mengerucutkan bibirnya, dia mengalihkan pandangan ke luar jendela. Bayangan saat Felix baku hantam dengan Naja, juga saat Ryan datang dan memandang Felix dengan ekspresi wajah menakutkan terus hadir dalam benaknya bagai slide yang tak mau berhenti berputar.
"Sudah pasti Tuan akan membuat pria itu menyesal seumur hidupnya, Nona," gumam Naja dalam hati.
"Apakah Mas Ryan akan melukainya?" tak tahan, Rani kembali bertanya.
"Saya tidak tahu, Nona,"
"Apakah Mas Ryan akan menghancurkan pekerjaannya?"
"Saya tidak tahu, Nona,"
"Kenapa kamu menjawab seolah kamu tidak tahu apa-apa?" seru Rani geram. Dia benar-benar yakin bahwa Naja bukanlah seorang supir biasa. Melihat dia berkelahi dengan lihainya, juga mendengar saat dia mengemukakan Argumennya, cukup memberikan Rani gambaran bahwa papa mertuanya memilih Naja bukan karena tanpa alasan.
"Saya memang tidak tahu, Nona," Naja masih saja mengelak dari pertanyaan nonanya, meskipun dalam hatinya Naja sangat yakin bahwa malam ini pasti menjadi malam terpanjang buat Felix untuk meratapi nasibnya dan bersiap hidup dalam penyesalan yang panjang.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Jangan lupa like, vote, comment dan rate 5 ya. Terima kasih.
__ADS_1