METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tidak Menerima Penolakan


__ADS_3

"Hengky?" suara Nyonya Atmaja membuat Fisha dan Hengky menoleh seketika.


"Ma," Hengky menghampiri ibunya.


"Kau sudah kembali, Sayang?" Nyonya Atmaja mengerutkan dahinya.


"Mmm itu, Ma. Itu. Hengky belum jadi ke kantor, Ma. Insya Allah besok," sahut Hengky, bingung bagaimana harus menjelaskan kepada ibunya.


"Loh, bukannya kamu sudah berangkat dari tadi, Nak?" Nyonya Atmaja semakin curiga.


"Itu, Ma. Tadi Hengky nemenin Fisha menunggui ibunya yang sedang dioperasi," jawab Hengky asal.


"Fisha?" Nyonya Atmaja mengedarkan pandangannya ke arah Fisha.


"Saya Fisha, Tante," Fisha menghampiri Nyonya Atmaja dan mencium punggung tangannya.


"Apakah Fisha temanmu? Mama belum pernah mendengar kau bercerita tentangnya, Nak. Kamu cantik sekali, Fisha," tanya Nyonya Atmaja sambil memandang Fisha dan Hengky secara bergantian.


"Saya ...," sebelum Fisha menjawab, Hengky langsung menyela.


"Iya, Ma. Fisha teman Hengky," potong Hengky secepat kilat. Fisha pun membiarkan Hengky berkata seperti itu tanpa menyangkalnya.


Nyonya Atmaja tersenyum penuh arti ke arah Fisha. Siapapun dia, Nyonya Atmaja sangat berharap Fisha akan membawa warna baru dalam hidupnya. Keluarga mereka sudah sangat hancur hanya karena sepasang suami istri yang sama-sama putra dan putrinya cintai, kini saatnya mereka merangkak, berusaha bangkit dan menoreh cerita baru dalam keluarganya.


"Kenapa senyum Mama seperti itu? Apa yang Mama pikirkan? Jangan-jangan ...? Huh, dasar Mama," batin Hengky dalam hati.


"Ya sudah, Ma. Hengky pergi dulu. Nanti malam Hengky kembali kalau sudah waktunya Mama istirahat," Hengky mengecup kening ibunya kemudian pergi begitu saja.


Tinggallah Nyonya Atmaja dan Fisha yang berada di sana.


"Maaf, Tante. Apakah ada keluarga Tante yang sakit?" tanya Fisha, setelah mengajak Nyonya Atmaja duduk.


"Kakaknya Hengky, dia koma sudah satu bulan ini, Fisha?" Nyonya Atmaja tersenyum getir.


"Koma? Kenapa sampai koma, Tante?" Fisha bertanya tanpa beban.


Mendengar pertanyaan Fisha, tiba-tiba muka Nyonya Atmaja berubah mendung. Namun, seperti mendapat dorongan yang sangat kuat, Nyonya Atmaja pun menceritakan semuanya kepada Fisha. Tentang bagaimana Hengky dan Meysie yang sama-sama mencintai sepasang suami istri, hingga berakhir dengan aksi nekat Meysie yang ingin menghabisi Rani sampai berujung penembakannya oleh aparat. Nyonya Atmaja bahkan menceritakan bagaimana kondisi mereka sekarang, paska penculikan yang dilakukan oleh Tuan Atmaja.

__ADS_1


"Maaf atas pertanyaan Fisha tadi, Tante. Fisha tidak bermaksud membuat Tante sedih dan harus membuka semuanya ke Fisha," sesal Fisha.


"Tidak apa-apa, Sayang. Entah kenapa, Tante merasa nyaman sekali bercerita ke kamu. Apalagi ini adalah pertama kalinya Hengky dekat dengan seorang wanita, selain Rani," Nyonya Atmaja mengelus punggung Fisha dengan sayang.


"Tapi sebenarnya Fisha ...,"


"Nggak papa, Sayang. Pelan-pelan saja," potong Nyonya Atmaja tanpa mau mendengar penjelasan Fisha.


"Bukan begitu, Tante. Tapi Fisha dan Tuan Hengky ...,"


"Hahaha, kamu panggil Hengky apa, Sayang? Tuan?" Nyonya Atmaja tidak bisa menahan tawanya.


"Kami hanya kebetulan bertemu di rumah sakit ini kemarin, Tante," akhirnya Fisha bisa menyelesaikan kalimatnya tanpa dipotong wanita paruh baya di depannya.


"Terus bagaimana? Apa kalian bertabrakan, barang-barangmu jatuh berhamburan, dan yang selanjutnya terjadi, secara tidak sengaja tangan kalian bertemu saat kalian sama-sama memunguti barang yang berhamburan di lantai itu? Setelah itu kalian berkenalan?" tebak Nyonya Atmaja, membayangkan adegan drama Korea atau sinetron yang sering dilihatnya.


"Tante, bukan seperti itu," Fisha tersenyum geli mendengar tebakan Nyonya Atmaja.


"Lalu bagaimana? Tidak mungkin kan, ceritanya Hengky tiba-tiba jadi malaikat penolongmu saat kau berdebat dengan kasir di rumah sakit?" timpal Nyonya Atmaja masih membayangkan sinetron yang pernah dilihatnya.


Nyonya Atmaja menghentikan candaannya.


"Ya Allah, Sayang. Tante minta maaf. Kamu kok jadi sedih begini?"


Fisha pun akhirnya menceritakan semua kisah hidupnya kepada Nyonya Atmaja, sampai cerita bagaimana pertemuannya dengan Hengky yang begitu baik hingga mau membantunya dan ibunya. Setitik kristal bening pun lolos dari ujung mata Nyonya Atmaja, mendengar kisah pilu gadis itu.


"Kamu memang gadis yang baik, Fisha. Tak heran jika Tante langsung jatuh cinta padamu, sejak awal tadi kita bertemu," Nyonya Atmaja memeluk tubuh Fisha begitu saja.


"Jadilah menantu Tante, Fisha," pinta Nyonya Atmaja tanpa pikir panjang. Dia masih saja memeluk gadis itu seolah tak rela melepasnya lagi.


"Tante, maksud Tante apa?" Fisha begitu kaget mendengar permintaan wanita di depannya itu.


"Menikahlah dengan Hengky, Fisha. Buat anak Tante bahagia. Bangkitkan dia dari keterpurukannya," Nyonya Atmaja mengendurkan pelukannya dan menatap Fisha dengan penuh harap. Rasa bahagianya ketika Hengky memperkenalkan gadis lain selain Rani di hadapannya, membuat dia tak bisa lagi berpikir dengan logika.


"Tante, itu sungguh tidak mungkin," lirih Fisha.


"Apa kamu sudah punya kekasih?" telisik Nyonya Atmaja.

__ADS_1


"Tidak, Tante," Fisha menggelengkan kepalanya.


"Apa ada seseorang yang kamu cintai?" tanya Nyonya Atmaja lagi.


"Tidak, Tante. Bukan itu," sanggah Fisha.


"Lalu?" Nyonya Atmaja mengerutkan dahinya.


"Yang pertama, saya dan Tuan Hengky belum saling mengenal, Tante. Kami baru ketemu dua kali, itupun secara kebetulan saja saat dia menolong Fisha. Yang kedua, Fisha masih kuliah, Tante. Masih ada tugas akhir yang harus Fisha selesaiin. Yang ketiga, Fisha orang miskin, Tante. Mana pantas Fisha mendampingi Tuan Hengky dan masuk di tengah-tengah keluarga Tante," kini Fisha menggenggam tangan Nyonya Atmaja dan menatapnya sendu.


"Hanya itu saja atau masih ada yang lain, Fisha?" Nyonya Atmaja hanya tersenyum santai menanggapi ocehan Fisha.


"Ada satu lagi, Tante," melihat Nyonya Atmaja yang kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh dengan alasannya, Fisha mencoba mencari alasan lagi.


"Begini, Tante. Sebelum ibu saya sakit, saya kan tinggal di lingkungan pesantren, Tante. Di sana semacam ada peraturan tidak tertulis, kami diwajibkan menikah di antara kami, sesuai perjodohan yang diputuskan Ustadz, Tante," Fisha melanjutkan penjelasannya.


"Itu sama sekali tidak masuk akal, Fisha. Itu kan peraturan saat kau berada di sana. Sekarang kan kau bukan bagian dari mereka," Nyonya Atmaja tak mau menyerah.


"Tapi semacam ada sanksi sosial, Tante. Teman-teman Fisha yang ada di sana pasti akan menjauhi Fisha," Fisha terus memutar otak, agar wanita yang ada di hadapannya itu bisa menyerah.


"Di pesantren mana dulu kamu tinggal, Fisha?" tanya Nyonya Atmaja sangat antusias. Fisha yang melihat ekspresinya benar-benar yakin kalau ibunda Hengky itu pasti punya rencana demi melancarkan keinginannya.


"Tante mau apa, Tante?" tanya Fisha penuh selidik.


"Kamu tinggal bilang, iya. Semua masalahmu biar Tante yang mengurusnya. Oke?" ucap Nyonya Atmaja sambil menyeringai penuh rahasia.


"Tapi, Tante ...," sergah Fisha.


"Tidak ada tapi-tapian, Fisha. Tante tidak menerima penolakan," tegas Nyonya Atmaja.


"Bukan begitu, Tante. Tuan Hengky kan juga belum tentu mau sama Fisha,"


BERSAMBUNG


❤❤❤


Lanjut? Like, vote dan rate 5 dulu.

__ADS_1


__ADS_2