
Kedua netra Rani basah begitu mendengar kabar yang disampaikan Ryan kepadanya melalui sebuah panggilan telepon. Hatinya membeku seketika, jantungnya berdegub tak beraturan, bahkan tulang-tulangnya seolah terlepas dari raga mengetahui cobaan demi cobaan belum juga pergi dari hidup mereka.
"Assalamu'alaikum, Hubby," sapa Rani kemudian terlihat sangat serius mendengarkan ucapan suaminya di seberang sana.
"Kenapa, By?" Rani mulai khawatir.
"Apa?" kini wajah Rani sudah memerah, sambil sesekali melihat Naja yang sejak awal keberangkatan mereka memang sudah terlihat gelisah.
"Apa ada masalah, Nona?" Naja yang melihat ekspresi wajah Rani penasaran.
Rani hanya mengangguk tak bersemangat, setelah menutup teleponnya.
"Kita ke rumah sakit," ajak Rani sambil berjalan menuju pintu keluar Gedung Dewan. Sementara Naja yang mendengar perkataan Rani hanya mengekor dari belakang, tanpa berani bertanya ada masalah apalagi sekarang.
***
Rani segera berlari masuk ke dalam, begitu mobil terparkir manis di pelataran parkir rumah sakit. Tidak sendiri, kali ini Rani menggandeng tangan Naja dan segera menyeretnya, hingga rasa tegang ikut menghampiri hati Naja yang belum juga mengerti kenapa mereka harus berada di tempat itu sekarang juga.
"Nona, jangan berlari. Anda sedang hamil," Naja mengingatkan.
Rani tak menggubris perkataan Naja. Dia terus berlari menyuri lorong-lorong panjang rumah sakit yang seolah tak ada ujungnya. Ingatan Rani terus saja tertuju saat-saat dia harus menyusuri lorong yang sama dalam waktu terakhir ini. Meninggalnya ayahnya, meninggalnya Mama Titania, meninggalnya Papa Prabu, Terlukanya Nina juga Lena, bahkan beberapa kali yang menimpa dirinya sendiri akibat musuh-musuhnya belum juga pergi dan masih setia meneror keluarganya.
"Nona, siapa yang sakit?" tanya Naja sembari terus berlari mengikuti kemana Rani menuju.
Rani belum juga merespon pertanyaan Naja. Dia terus menyusuri lorong panjang rumah sakit itu dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya. Hingga tiba-tiba langkahnya terhenti, melihat orang-orang yang mereka cintai kini telah berkumpul di depan sebuah ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit itu.
Di sana, mereka sudah menanti kehadiran Rani dan Naja dengan begitu gelisahnya. Terlihat Ryan yang mondar-mandir menunggu orang di dalam sana. Rudi yang hanya duduk sambil menyangga dagunya, Hengky yang sibuk dengan telepon genggam miliknya, juga Arya yang berdiri menyandar ke dinding dengan begitu lemasnya.
"Dimana Daniel dan Johan?" tanya Naja begitu menyadari bahwa hanya suaminya dan Johanlah yang tidak berada di ruang itu.
__ADS_1
"Yang sabar, Naja. Kita tunggu kabar dokter terkait kondisi Daniel juga Johan," Rani mengelus pundak Naja kemudian memeluknya.
"Tapi kenapa? Daniel kenapa?" Naja mulai tak bisa membendung air matanya. Ya, hari itu Naja menangis, tak sekuat dan setegar biasanya.
***
Flashback
Pagi itu langit begitu cerah. Tiada satu pun awan yang menutupi pemandangannya, menjadikan sinar mentari di ufuk timur kian merambat dan membulat menampakkan pesonanya yang luar biasa.
Dua buah mobil berjalan beriringan keluar dari gerbang utama keluarga Dewangga. Ya, siapa lagi kalau bukan Rudi, Ryan dan Arya, disusul Daniel dan Johan yang berjalan di belakangnya?
Seharusnya hari itu menjadi semangat baru bagi mereka, setelah masalah demi masalah yang mereka hadapi berlalu dan mereka memulai aktifitas seperti biasanya. Kendati pun Charles dan Tuan Atmaja masih berkeliaran bebas di luar sana, tapi mereka yakin bahwa aparat akan segera menemukannya.
Namun, mereka sungguh tidak menyadari jika Charles dan Tuan Atmaja sudah tepat berada di belakang dan membuntuti kemanapun arah mereka berjalan. Hingga ketika sebuah tembakan tepat mengenai ban mobil yang dikendarai Daniel dan Johan dilayangkan oleh Tuan Atmaja, mereka pun tak sadar siapa yang melakukannya.
Begitu satu ban depan mereka pecah, Johan hanya merasakan bahwa mobil yang dikemudikannya hilang kendali. Seketika itu juga, mobil yang dikemudikannya langsung menghantam median tengah jalan, sebelum akhirnya terbalik dan terguling hingga ke sisi jalan yang berlawanan, menabrak bahu jalan, kemudian terjun bebas hingga ke bawah jembatan.
"Sepertinya itu mengenai mobil Daniel dan Johan," sahut Ryan sambil menoleh ke belakang.
"Ayo kita lihat," Ryan dan kawan-kawan yang mendengar suara tembakan itu dan menyadari bahwa sebuah kecelakaan telah terjadi, akhirnya berhenti dan berputar balik menghampiri titik dimana kecelakaan itu terjadi.
End of flashback
***
Kini, semua yang berada di ruang itu hanya bisa berdo'a dan menunggu. Tak berapa lama, Nina, Aghata dan juga Davina pun datang begitu mendengar kabar itu.
Sungguh, ini adalah sebuah fase berat yang harus mereka lalui, dimana mereka harus rela berkawan dengan berbagai rintangan dan cobaan. Bagaimana tidak? Kejadian demi kejadian, juga cobaan demi cobaan terus datang silih berganti tanpa ada seorang pun yang bisa menghentikan.
__ADS_1
Ceklek.
Terdengar suara pintu di buka. Sedetik kemudian, seorang dokter paruh baya keluar, dan mengedarkan pandangan mencari seseorang untuk memberikan laporan kepada keluarga tentang hasil pemeriksaan dua orang yang berada di dalam sana.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ryan, sambil mendekati dokter itu.
"Ada dua kabar untuk dua pasien yang ada di dalam, Tuan," ucap Dokter itu datar. Ekspresi mukanya biasa saja, tidak terlihat cemas, tidak juga terlihat bahagia.
"Ya, Dok. Bagaimana dengan kondisi mereka?" Arya benar-benar tak sabar mendengar dokter itu untuk segera menjelaskan hasil pemeriksaannya.
"Begini, Tuan," tutur Dokter itu sesaat setelah menarik nafas panjang.
Semua yang berada di tempat itu hanya memperhatikan sang dokter, menantikan dua kabar apa yang akan dia sampaikan.
"Yang pertama, terkait kondisi pasien atas nama Tuan John Angelo. Ada luka dan benturan keras di kepalanya. Namun begitu, secara umum kondisinya baik-baik saja. Kami sudah mengobati luka luarnya, dan begitu dia tersadar dari pingsannya, tidak ada satu luka dalam pun yang dia derita. Alhamdulillah, setelah kami memasang perban di kepalanya, Tuan John langsung bisa istirahat di rumah," ucap dokter itu menjelaskan.
"Apakah dia tidak perlu dirawat, Dokter?" Ryan langsung menyahut begitu dokter itu menghentikan ucapannya.
"Tidak, Tuan. Tidak ada hal serius yang membuat dia harus dirawat. Hanya sedikit luka luar saja, itu pun sudah kami obati untuk semua bagian yang terluka," lanjut dokter itu dengan yakinnya.
"Alhamdulillah," gumam mereka secara bersamaan.
"Lalu bagaimana dengan pasien yang satunya, Dok? Bagaimana kondisi Daniel? Apakah dia baik-baik saja? Tidak ada yang serius kan, Dok? Dia tidak apa-apa kan?" cecar Ryan, begitu tidak sabar ingin segera mendengar dokter itu menjelaskan kondisi saudaranya.
Mendengar pertanyaan Ryan, dokter itu kembali menarik nafas panjang. Mukanya berubah, bahkan dia terlihat ragu dengan apa yang akan dia sampaikan kepada keluarga pasien itu.
"Terkait kondisi pasien atas nama Tuan Daniel Cullen, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, Tuan. Jadi begini ...,"
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Rate 5 ya guys. Like dan vote-nya juga.