METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Serangan Fajar


__ADS_3

Rani diam terpaku. Dia masih saja terduduk diantara cahaya bulan dan sinar lampu balkon kamar yang tak cukup terang.


Rani mendongak ke atas, disana ada ribuan cahaya temaram yang setia menghiasi cakrawala yang mulai menghitam. Sayangnya, keindahan langit di malam itu tak seindah hati Rani yang masih gelisah. Nuansa penuh misteri masih saja menyelimuti jiwanya, bahkan kini pikiran-pikiran buruk justru semakin gelap dan pekat.


"Ahhh," Rani mendesah pilu.


"Apa yang sudah suamiku lakukan kepada pria itu?" gumam Rani dengan gundah.


Berkali-kali Rani berjalan mondar-mandir sembari menyeberangi samudera pemikirannya tentang skenario takdir dalam hidupnya. Jarum jam dinding yang terus berputar hingga malam makin larut pun menambah kegelisahan hati yang semakin syahdu.


"Kenapa hingga selarut ini Mas Ryan belum pulang?" pekiknya berkali-kali, hingga akhirnya dia masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang. Dipandanginya langit-langit kamar yang semakin memudar di tengah lampu yang remang-remang, hingga tak sadar sinyal kesadarannya mulai menghilang. Ya. Akhirnya Rani terlelap sebelum Ryan datang.


***


Ryan berjalan perlahan mendekati pintu kamar, seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa begitu panas akibat puluhan pukulan yang dia layangkan pada tubuh Felix, pria yang telah berani mengusik istri tercintanya.


"Hari ini aku memohon ampun, Ya Allah. Aku telah mengingkari janjiku untuk tidak pernah mengotori tanganku lagi dengan darah," batin Ryan dalam hati.


Ini adalah kali pertama Ryan menyakiti orang lain secara fisik, setelah sekian lama dia tidak pernah melakukannya lagi. Sebuah peristiwa berdarah yang mengakibatkan salah satu sahabatnya meregang nyawa di waktu SMA, sebenarnya telah membuat Ryan tersadar bahwa perkelahian bukanlah solusi dari setiap permasalahannya. Namun entah kenapa, malam itu jiwa memangsa yang dulu selalu muncul setiap Ryan terlibat dalam perkelahian antar pelajar di usia muda, kembali memenuhi benaknya. Rasa tidak rela akan kepemilikannya yang terusik, membuat akal sehatnya hilang begitu saja.


"Apakah Rani akan menanyakan apa yang telah aku lakukan kepadanya? Huh, tentu saja. Dan aku harus siapkan jurus pamungkasku untuk menghindari ribuan pertanyaan yang selalu saja keluar dari mulut bawel gadisku itu," gumam Ryan lirih.


Tak berapa lama, Ryan membuka pintu kamar dengan hati-hati. Dia menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang yang terlihat menenangkan akibat bias lampu kuning yang sengaja dipasang dengan daya kecil, hingga selalu menyuguhkan kesan romantis saat dia dan gadisnya menghabiskan malam di tempat itu.

__ADS_1


Senyum Ryan pun merekah, saat pemandangan indah hadir di salah satu sudut ruang. Seorang gadis cantik dengan gaun tidur terbuka, terbaring manis di atas peraduan mereka dengan selimut yang menutup tubuh hingga di pinggangnya.


Ryan mendekati tubuh kecil itu. Entah kenapa hasratnya selalu menyala saat dirinya berdekatan dan memandang lekat wanitanya. Sesaat, tangannya tak bisa menahan untuk membelai wajah ayu yang kini tak terbalut hijab itu. Bahkan ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak ingin dia lampiaskan pada tubuh yang begitu menggoda di depannya, meski akhirnya akal sehatnya segera muncul dan membimbing langkahnya untuk mendinginkan hasrat yang menyala itu dengan guyuran air dingin dari syower kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Ryan keluar dan segera menghampiri istri yang telah dia rindukan seharian. Dia mengecup ujung kepalanya dengan sayang, sebelum akhirnya ikut menenggelamkan diri dalam balutan selimut yang istrinya kenakan.


Ryan memiringkan tubuhnya hingga kini mereka berhadapan. Tangan kanannya dia posisikan di bawah kepalanya sebagai bantal, sementara tangan kirinya dia posisikan melingkar di atas perut istrinya yang masih diam dalam lelap. Ryan pun berusaha memejamkan mata, namun selalu gagal karena sinyal dari otaknya terus mengusik hingga mata itu justru terus ingin memandang bidadari syurga yang telah menjadi separuh dari jiwanya.


Bahkan kini sinyal itu tak hanya berhenti memberi perintah kepada matanya, namun tangannya juga terus bergerak tanpa henti hingga mengusik tidur gadisnya.


"Mas sudah pulang?" panggil Rani dengan suara seraknya, begitu menyadari ada seseorang yang telah mengusik tidurnya.


"Iya, sayang. Tidurlah. Mas akan menjagamu," dengan lembut Ryan mengecup ujung kepala istrinya itu.


Rani justru terduduk. Dia memandangi suaminya dengan lekat. Diperiksanya wajah suaminya dengan teliti, dia tersenyum lega melihat wajah itu utuh tanpa luka.


"Kamu pikir apa yang akan pria itu lakukan kepadaku?" timpal Ryan sambil ikut duduk di samping istrinya.


"Rani pikir kalian akan berkelahi," jawab Rani jujur.


"Mana dia berani kepadaku, heh," Ryan tersenyum sambil membelai wajah cantik di depannya.


Rani meraih tangan itu dan mengecupnya begitu saja, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa tangan lelakinya memerah, tak seperti biasanya. Rani segera memberingsut ke samping tempat tidur, kemudian menekan saklar lampu yang ada disana. Dalam hitungan detik, lampu terang pun menyala. Matanya membelalak begitu melihat warna merah membekas begitu saja di jari-jari suaminya.

__ADS_1


"Mas Ryan memukulinya?" Rani tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Matanya mencoba mendalami kedalaman tatapan Ryan yang sedikit menghindari bertemu mata dengannya.


"Apa Mas Ryan menyembunyikan sesuatu?" cecarnya lagi.


"Ssttt, jangan di bahas lagi, Sayang. Mas hanya berbicara kepadanya sebagai sesama pria dewasa," sergah Ryan sambil menutup mulut Rani dengan ujung jarinya.


"Sebenarnya aku tidak hanya memukulinya, tapi juga telah membuatnya bangkrut hanya dalam waktu beberapa jam saja. Siapa suruh dia mengganggumu?" gumam Ryan dalam hati.


"Apa yang Mas Ryan lakukan pada Felix?" seperti biasa, mulut bawel Rani tidak bisa dibungkam begitu saja. Dia selalu tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.


"Mas tidak suka mendengar nama itu keluar dari mulutmu," rajuk Ryan sambil memalingkan muka. Dia melakukan itu agar istrinya tidak menanyakan banyak hal tentang kejadian di Cafe malam itu kepadanya.


"Tapi...," protes Rani, sambil mengarahkan tangannya pada kepala suaminya agar tidak berpaling dari tatapan matanya.


"I love you, Honey," justru kalimat itu yang keluar dari bibir Ryan Dewangga, sebagai jurus pamungkas untuk menutupi semuanya.


Setelah itu Rani tak berani bertanya lagi. Ryan justru mengajaknya bercengkrama lewat denyut nadi yang menyala. Degub jantung dan tarikan nafas yang semakin berat, kini bersatu dalam sebuah irama yang melebur bersama desahan tasbih berpahala.


Sebuah serangan fajar yang membuat nafas Ryan mulai memburu. Dia terus mengendap, mencari bulan di ujung telaga. Hingga sampailah dia di perbatasan yang menampakkan hutan, membuat nafasnya semakin kencang mengerang. Rani pun terus mengaduh, membimbing suaminya tuk kembali berlari menerobos hutan, menerjang lautan, mendaki puncak ke perbatasan hingga membawa mereka berada di puncak kenikmatan.


Akhirnya, serangan fajar yang Ryan lancarkan benar-benar menjadi jurus ampuh memabukkan, yang mampu menghilangkan segala gundah dan kerisauan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Bagi jempol dan vote-nya dong guys. Jangan lupa comment positif dan bintang 5 nya juga. Terima kasih


__ADS_2