METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tak Seperti Biasanya


__ADS_3

Setiap pagi datang, hati Rani selalu merasa damai. Tahu kenapa? Karena yang pertama kali dilihatnya adalah sosok suami yang selalu memanjakannya. Ya, hampir setiap pagi, ketika Rani membuka mata, selalu melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya. Suaminya itu memang tak pernah sedikitpun membuat jarak diantara keduanya, hingga setiap mereka bersama selalu mereka lewatkan dengan berpeluk dan bermanja.


Apalagi sejak Rani dinyatakan hamil, dia jadi lebih sering ingin mendapat perhatian suaminya. Bukan karena dia manja, tapi karena dari kondisi fisiknya sendiri, tidak sama sehatnya dengan kondisi fisiknya saat tidak hamil. Gampang capek, tiba-tiba kram di kaki juga kram di perut saat bangun tidur, punggung, pundak dan kaki terasa pegal-pegal setiap hari. Belum lagi, dia juga harus menanggung beratnya bayi di dalam kandungannya, sehingga sudah sepantasnya Ryan lebih menghargai dan menyayangi serta memberikan perhatian lebih kepada istrinya yang sedang mengandung benih yang ditanamnya.


Namun, satu pekan ini Ryan terlalu sibuk dengan segala pekerjaannya. Persiapan peresmian mega proyek Green Canyon membuat Ryan hampir selalu melewatkan sarapan dan makan malam di rumahnya. Seperti pagi itu, lagi-lagi dia sudah rapi pagi-pagi sekali. Bahkan kebiasaannya pergi ke kantor setelah memastikan istrinya sarapan pun, sepekan ini seolah menjadi tak berlaku lagi.


"By, Hubby temenin Rani sarapan dulu ya. Rani kangen sama Hubby," Rani memeluk Ryan yang sedang mengenakan dasinya dari belakang.


"Nggak bisa, Sayang. Hubby masih banyak pekerjaan sekarang. Kamu sarapan sendiri, ya. Kalau malas turun, minta Bik Tum untuk mengantar sarapanmu ke kamar," Ryan melepaskan pelukan istrinya, kemudian duduk di sofa dan mengenakan sepatunya.


Rani hanya mengerucutkan bibirnya, mendapati dirinya yang gagal mendapat perhatian dari suaminya. Sambil bersungut kesal, dia pun duduk di tepi ranjang, sambil menunggu cium tangan sebelum suaminya keluar.


Namun lagi-lagi, dia harus menelan kekecewaan. Begitu Ryan selesai memasang sepatunya, dia meraih tas dari atas meja kemudian langsung ke luar dari kamar mereka. Ya, Ryan berangkat bekerja tanpa mengecup kening Rani, tak juga mencium bibir bahkan membiarkan Rani tak mencium punggung tangannya sama sekali. Pulang pun di pastikan hampir dini hari, sehingga kebiasaan mengusap kepala Rani sebelum tidur dan pelukan mesra sampai pagi datang sudah sepekan lebih dia lewatkan.


Rani hanya memejamkan mata mendapatkan perlakuan suaminya yang tidak biasa. Dia berharap, dengan matanya yang terpejam itu, pelupuk matanya bisa menahan air mata yang begitu ingin menetes dari ujung matanya. Tapi nyatanya dia salah besar. Kristal bening itu tetap saja mengalir membasahi pipinya, hingga akhirnya dia menumpahkan semua kekecewaan dan kesedihannya dengan sebuah guling yang kini dia peluk erat sebagai teman di dalam kesedihannya.


Rani betul-betul terluka, mengingat sejak hari pernikahannya, ini adalah perlakuan terburuk Ryan sepanjang usia pernikahan mereka. Tak heran jika karena perlakuan itu, Rani menumpahkan air matanya hingga berjam-jam lamanya.


"Mungkin Daddy lagi sibuk ya, Sayang. Kamu jangan nakal di perut Mommy, ya," ucap Rani sambil mengusap perutnya yang sudah setengah membola.


Rani pun berkali-kali mengusap air matanya dengan kasar, sembari mengecek ponselnya, berharap suaminya menelpon atau mengirimkan sebuah pesan untuknya. Tapi lagi-lagi, dia harus menelan kecewa. Ryan tak lagi menanyakan kabarnya, ataupun mengecek tentang makan Rani seperti biasanya.


Merasa kesal, Rani pun beranjak dan segera membersihkan dirinya. Setelah berpakaian santai dan mengenakan hijabnya, dia menatap dirinya melalui cermin besar yang berada di seberang tempat tidurnya.

__ADS_1


"Apa karena sekarang Rani jelek, makanya Hubby tak mau lagi menganggap Rani ada? Ya benar. Sekarang Rani gendut dan tidak cantik lagi. Lihatlah, muka Rani yang sekarang Cubby membuat Rani tidak cantik lagi," gerutu Rani dalam hati.


Ditambah lagi matanya yang kini membengkak karena air mata yang terus mengalir dari ujung matanya, membuat dia semakin menduga-duga alasan akan perubahan sikap suaminya.


Di saat-saat seperti itu, Rani jadi teringat dan merindukan sosok papanya. Karena itulah tanpa pikir panjang, dia keluar kamar dan menyambar kunci mobil yang tergantung pada tempatnya.


Begitu sebuah kunci berada di tangannya, Rani langsung menuruni tangga dengan tergesa-gesa dan keluar melalui pintu utama. Dalam hitungan menit pun dia sudah berada di dalam mobilnya, dan langsung melajukan mobilnya tanpa mberitahu dan mengajak Naja untuk mengantarnya seperti biasa.


"Tolong buka pintunya, Pak," seru Rani, mendapati satpam rumahnya tak lekas membuka gerbang utama.


"Maaf, Non. Apa Non Rani pergi sendirian?" tanya Satpam itu Ragu. Dia benar-benar takut membuka pintu, karena sebelumnya pernah diperintahkan untuk tidak membiarkannya keluar tanpa Naja atau tim pengawal.


"Iya, Pak. Tolong buka pintunya!" sahut Rani kesal.


"Sudah jangan tapi-tapi. Tuanmu itu tidak akan memarahimu. Toh dia sudah tidak peduli lagi padaku," cicit Rani asal.


Satpam itu merasa lebih bingung lagi dengan ucapan nonanya.


"Ehh, malah bengong. Ya sudah biar kubuka sendiri saja. Kelamaan," melihat Satpam itu tak juga membukakan gerbang, Rani keluar dari mobilnya dan mencoba untuk membuka pintu gerbang utama dengan tangannya.


"Apa yang Nona lakukan? Biar saya saja," Satpam itu akhirnya membuka gerbang utama karena merasa tak enak dengan majikannya.


Begitu gerbang di buka, Rani pun segera menekan pedal gasnya dalam-dalam hingga mobilnya melaju dengan kencang.

__ADS_1


Merasa ada yang tidak beres, satpam itu berinisiatif untuk menghubungi Naja begitu Rani melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Dewangga. Selain karena Naja adalah satu-satunya orang yang ditunjuk untuk menjaga nonanya, hari itu Rudi dan Johan memang bersama Ryan menghandel perusahaan yang Daniel tinggalkan setelah dia mengalami kebutaan.


"Apa?" Naja berteriak kenang.


"Kenapa, Sayang?" Daniel yang mendengar teriakan istrinya terkejut.


"Kak Rani keluar sendirian," Naja mengecup kening suaminya dan langsung meninggalkan kamarnya.


Naja mencoba menelpon Ryan, tapi tak ada sahutan. Begitu juga dengan Rudi dan Johan. Semuanya tak ada yang mengangkat panggilannya.


Akhirnya dia betinisiatif untuk mengirimkan sebuah pesan, agar ketika mereka bertiga ada waktu, mereka bisa membuka pesannya.


Naja segera memberi perintah kepada beberapa pengawal agar mengikutinya. Karena itu, setelah mobil yang dikendarainya melaju, beberapa mobil anak buahnya mengikutinya dari belakang.


Sesekali, Naja melirik navigator yang ada di ponselnya.


"Untung saja aku memasang alat pelacak di seluruh mobil milik keluarga Dewangga. Jadi dengan mudah aku bisa mengejar dan menemukannya," gumam Naja dalam hati.


Hingga Naja pun terlihat mengerutkan dahinya, melihat mobil yang sedang dikejarnya telah berhenti tepat di depannya.


Melihat itu, Naja membulatkan matanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2