METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Produksi Bayi (Part 2)


__ADS_3

Perseteruan yang berujung pada kaburnya Rani, membuat rencana Daniel untuk mengurung Naja di kamar selama satu pekan penuh, menjadi gagal dan berantakan.


Naja yang selama ini selalu Ryan andalkan, memang tak mungkin mangkir dari tanggungjawab yang harus dia lakukan. Ya, jika terkait Rani dan Ryan, Naja akan melakukan apapun, termasuk jika nyawanya harus dipertaruhkan.


Dan hari ini, Daniel bisa bernafas lega. Walaupun perseteruan Rani dan Ryan menimbulkan tanda tanya besar karena sarat dengan rencana jahat seseorang, tapi setidaknya mereka berdua tidak berlarut-larut dalam kesalahpahaman. Minimal mereka sudah baikan, maka semua permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Itu artinya, rencana yang sudah dia susun untuk terus berduaan dengan Naja bisa kembali dilanjutkan.


Ceklek.


Daniel pura-pura tertidur begitu pintu kamar dibuka.


"Aku pulang ...," teriak Naja dengan riang. Maksud hati ingin mendapat sambutan, eh ternyata mata Daniel terpejam.


"Maaf, Sayang. Aku pura-pura tidur. Nanti setelah kau tidur di sampingku, baru aku akan memberi kejutan kepadamu," gumam Daniel dalam hati.


"Eh, tidur. Ya sudahlah, aku langsung mandi saja kalau begitu," gumam Naja lirih. Setelah mengelus kepala dan mengecup kening suaminya, Naja pun langsung masuk ke kamar mandi.


Daniel hanya tersenyum tertahan, dengan mata yang tetap terpejam. Dia membiarkan Naja masuk dan langsung membersihkan dirinya di kamar mandi.


Tapi akhirnya justru Daniel merasa gusar. Semakin lama rasa itu muncul, menyadari empat puluh lima menit sudah, Naja tak juga menyudahi aktifitasnya dan keluar.


"Kenapa lama sekali? Dia tidur, atau jangan-jangan ...," Daniel mulai menerka-nerka. Bagaimana tidak? Selama menikah dengan Naja, Daniel tak pernah menunggu istrinya mandi dalam waktu yang lama. Bahkan jika dimasukkan ke dalam Museum Rekor Indonesia, bisa jadi istrinya akan memecah rekor gadis dengan durasi mandi tercepat.


"Sayang!" panggil Daniel, semakin khawatir.


Tidak ada sahutan dari dalam. Hingga akhirnya, Daniel beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk melihat Naja.


"Untung tidak dikunci," cicit Daniel, begitu berhasil membuka pintu kamar mandi.


Sedetik kemudian, Daniel mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang.


"Sayang, kau ngapain aj .., ja ...," Daniel langsung tersenyum dan geleng-geleng kepala begitu pandangannya tertuju pada bathtub diĀ ujung kamar mandi.


"Bisa-bisanya kau tertidur di sini," celoteh Daniel sambil menghampiri Naja yang tengah tertidur pulas. Senyumnya kian mengembang begitu melihat pemandangan indah yang sangat jarang dia lihat itu.


"Kamu lebih seksi jika begini," gumam Daniel sambil menelan salivanya, saat melihat tubuh polos istrinya berendam dalam bathtub, dengan mata yang terpejam karena tertidur dengan pulasnya.


Daniel lantas mengambil dua buah handuk dan berjalan menuju ranjang. Setelah handuk itu digelar di atas tempat tidur, Daniel pun kembali masuk dan mengangkat tubuh Naja, kemudian membaringkannya di atas handuk tadi.


"Capek banget kah? Sampek dipindahin aja nggak kerasa," celoteh Daniel sambil mengeringkan tubuh Naja dengan begitu telatennya.

__ADS_1


"Nggemesin tahu nggak," Daniel mencium kening Naja lalu menutup tubuh polosnya dengan selimut hingga sebatas leher.


Begitu dirasa posisi Naja nyaman, Daniel pun mengganti pakaiannya yang ikut basah karena menggendong istrinya, kemudian berbaring di sebelah Naja, dan ikut terlelap.


***


Naja mengerjabkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawanya kembali setelah tidur lumayan panjang yang benar-benar tidak dia sengaja.


Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, artinya Naja terlelap sangat lama sekali. Bagaimana tidak? Waktu dia pulang tadi, seingatnya hari masih sore. Dan ini?


"Astaga," Naja tiba-tiba terduduk dan mencoba melihat dirinya, juga sekelilingnya.


"Kenapa aku bisa di sini? Bukannya tadi aku di kamar mandi ya?" gumam Naja lirih, sambil merapatkan selimutnya.


"Sayang, kamu yang pindahin aku ke sini?" Naja menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap.


"Hmmm," sahut Daniel sambil melingkarkan tangannya ke perut Naja.


Naja yang dalam posisi duduk pun mengusap kepala suaminya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dia gunakan untuk mempertahankan selimutnya agar tidak terjatuh dan menampakkan tubuh polosnya secara nyata.


Daniel yang merasakan sentuhan lembut di kepalanya, akhirnya memutuskan untuk bangun dan memposisikan kepalanya itu di pangkuan istrinya.


"Hmmm, kamu itu ya. Kalau sakit karena terlalu lama berendam gimana? Masih untung aku angkat dan pindahin kamu. Kalau tidak bisa sampai pagi," sahut Daniel sambil memiringkan tubuhnya, hingga mukanya bisa tepat berhadapan dengan perut Naja.


"Ha-ha-ha, maaf, Sayang. Aku ketiduran," Naja justru cekikikan.


"Lain kali kalau capek, jangan dipaksakan. Ryan pun tak keberatan kok jika tanggungjawab itu kau serahkan. Bahkan dia sudah berkali-kali bilang ingin membebaskanmu dari sumpah setiamu, tapi kamunya yang nggak mau," cibik Daniel, kali ini sambil telentang hingga bisa melihat dengan jelas wajah istrinya.


"Aku tak mau mengulangi kesalahanku kepadamu dulu, Sayang. Jadi biar bagaimanapun, aku tak akan menelan kembali sumpah yang telah kuucapkan kepada Tuan Ryan," tegas Naja.


"Kalau begitu jaga dirimu. Jangan terlalu kelelahan. Aku mau, di dalam rahimmu ini segera tumbuh benih yang kutanam. Jika kau terlalu lelah, sudah pasti itu akan berpengaruh terhadap kondisi tubuh dan rahimmu," ucap Daniel, kali ini terdengar sangat serius.


"Aku tak pernah kelelahan dalam menjalankan tugasku, Sayang. Apa kau tak ingat dengan sepak terjangku dulu ketika bekerja denganmu?"


"Kalau tidak kelelahan kenapa sampai bisa ketiduran begitu? Di kamar mandi lagi," protes Daniel.


"Sayang, kau ini amnesia atau gimana? Bukankah kau yang sudah membuatku kelelahan karena harus menerima seranganmu dari sore hingga lewat tengah malam?" Naja mengerucutkan bibirnya, sementara Daniel hanya terkekeh mendengar penuturan istrinya.


"Ihh, dasar. Malah ketawa lagi," Naja semakin kesal.

__ADS_1


"Habisnya kamu nggemesin sih, Sayang. Apalagi pas ketiduran tadi," oceh Daniel masih tergelak.


"Pasti kamu ambil kesempatan dalam kesempitan," Naja sudah mendaratkan sebuah cubitan kecil di pipi suaminya.


"Salah sendiri ketiduran. Lagian, kamu ini harusnya berterima kasih pada suami tampanmu ini. Coba kalau kamu tidur berendam sampai pagi. Bisa masuk angin tahu," Daniel melepaskan cubitan Naja kembali dan menggenggam erat tangan istrinya.


"Iya deh, iya," sahut Naja, mengalah.


"Mana rasa terima kasihmu?" Daniel menyeringai nakal.


"Terima kasih,"


"Cuma itu?"


"Ya ampun, Sayang. Memangnya bagaimana lagi aku harus berterima kasih padamu?" Naja mulai frustasi.


"Aku mau bayaranku," Daniel bangkit, kemudian duduk menghadap istrinya.


"Apa?" Naja mengerutkan dahinya.


"Aku mau bayaranku. Dan aku mau kau bayar lunas saat ini juga,"


"Ihh, perhitungan banget sih sama istri sendiri,"


Daniel tak lagi menanggapi ocehan Naja. Dia justru menarik kedua tangan Naja, hingga selimut yang sedari tadi dipertahankan istrinya menggunakan tangan kanannya agar tidak melorot dan menampakkan Maha Karya terindah Sang Maha Pencipta itu, akhirnya turun dan membuat separoh tubuh Naja terlihat dengan sempurna.


"Sayang," Daniel sudah tersenyum nakal. Bahkan tatapannya sudah menjurus ke area yang sudah sangat dia inginkan.


"Nggak mau," Naja berusaha menarik selimutnya lagi tapi gagal.


"Ayolah, Sayang. Ayolah! Aku mau produksi bayi lagi biar cepat jadi," bahkan tangan Daniel sudah menyingkap selimut yang masih tersisa hingga berserakan di lantai begitu saja .


"Ihh, Sayang. Aku capek," rengek Naja.


"Kau lunasi sekarang, atau besok kau harus bayar sepuluh kali lipat," ancam Daniel sambil menarik tubuh istrinya.


"Sayang," Naja masih berusaha protes, tapi Daniel semakin liar dan tak bisa berhenti menambatkan hasratnya.


Hingga yang seharusnya terjadi pun, terjadilah. Sampai keduanya lunglai tak berdaya, setelah olah raga panjang di penghujung malam mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2