METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Reaksi Felix


__ADS_3

Indra dan Zara menanggapi dengan biasa saja ketika melihat Sesil masuk ke dalam mobil Felix, karena hal ini sudah mereka prediksi sebelumnya.


"Kita tidak mengikuti mereka, Tuan?" Zara mengerutkan dahinya, menyadari bahwa mobil mereka semakin menjauh dari mobil yang ditumpangi Sesil dan Felix Adinata.


Indra tak menjawab pertanyaan Zara. Dia terus melajukan mobilnya, tanpa mau memberitahukan mereka akan kemana.


"Lalu kita mau kemana, Tuan?" tanya Zara lagi.


"Kita tak akan mengikuti mereka," akhirnya Indra membuka suara.


"Kenapa?" Zara masih saja bertanya.


"Kenapa kita harus mengikuti mereka? Bukankah sudah jelas siapa yang telah berkhianat dan membocorkan rahasia perusahaan? Bagi Tuan Ryan, itu sudah cukup," sahut Indra tanpa melihat ke arah Zara.


"Maksudnya?" Zara tak mengerti.


"Tidak ada hal yang sulit bagi Tuan Ryan untuk menghancurkan Felix dengan aksi balasan serupa, atau lebih dahsyat dari apa yang dia terima. Tapi terlalu beresiko jika pengkhianat itu masih berkeliaran dalam perusahaannya, walaupun Felix sudah Tuan hancurkan hingga sampai ke akar-akarnya. Karena itu, Tuan hanya ingin menemukan siapa orang yang telah mengkhianatinya saja. Setelah itu, dia hanya cukup mengangkat ponselnya, Felix akan langsung hancur seketika," jelas Indra kemudian.


Zara pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba mencerna apa yang dikatakan Indra kepadanya.


***


Sesil menghela nafas panjang, sambil menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang. Tepat di sebelahnya, Felix fokus menyetir tanpa banyak bertanya. Felix pikir, Sesil minta dijemput di tempat itu karena habis meeting menemani Arya, seperti yang disampaikan resepsionis Dewangga Group kepadanya beberapa jam yang lalu. Dia sama sekali tidak curiga, apalagi sampai mengira bahwa sesaat setelah mereka berdua melakukannya semalam, Indra dan Zara menyekapnya.


"Sayang, apa yang terjadi semalam?" Sesil membuka pembicaraan. Dia membenarkan posisi duduknya dan menatap Felix dengan penuh tanda tanya.


"Apa maksudmu?" Felix menoleh ke arah Sesil sambil mengerutkan dahinya, setelah itu kembali melihat ke arah jalan yang sedang dilaluinya.


"Maksudku, setelah kita selesai melakukannya dan aku tertidur, apa ada yang datang ke rumahku dan menyerangmu, mungkin?" tanya Sesil, tak tahu harus dengan cara bagaimana dia memperjelas pertanyaannya.


"Sayang, sebenarnya kamu ini sedang bicara apa? Setelah kau terlelap, aku langsung pulang karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kamu ini kenapa sih? Bingung aku dengan pertanyaan ngalor-ngidul dari mulutmu itu," Felix semakin tidak mengerti.


"Semalam saat tertidur, aku seperti susah bernafas lalu tak ingat apapun lagi. Ketika aku terbangun, aku sudah berada di sebuah kamar dengan posisi tangan dan kaki terikat, juga mulut tertutup rapat dengan lakban. Aku berusaha memberontak, tapi mereka membuat aku tak sadarkan diri kembali. Dan ketika aku terbangun tadi pagi ...," Sesil menggantungkan kalimatnya. Dia benar-benar takut kalau apa yang dikatakan Zara kepadanya benar, bahwa Felix akan membuangnya begitu Sesil tak bisa lagi memberikan apa yang dia mau dari dirinya.


"Tadi pagi kenapa, Sayang?" tanya Felix penasaran.


"Tadi pagi ..., itu, Sayang. Ketika aku terbangun, di depanku sudah ada Tuan Ryan dan Tuan Daniel beserta anak buahnya," akhirnya Sesil memberanikan diri untuk mengatakannya.


"Apa?" sontak Felix kaget dan menginjak pedal remnya dalam-dalam, membuat mobil itu tiba-tiba berhenti dan mendecit kencang. Tubuh mereka pun terdorong kedepan, untung saja tidak ada benturan atau hal lain yang membahayakan.

__ADS_1


"Kamu ketahuan?" Felix memperjelas pertanyaannya. Apa yang Sesil katakan benar-benar mengagetkan dan sudah menyulut emosinya.


"Hmmm," Sesil mengangguk kemudian menunduk dalam. Dia mulai menerka-nerka apa yang akan Felix lakukan saat mengetahui bahwa dirinya tak lagi berguna untuknya, karena sudah pasti akan dikeluarkan dari perusahaan.


"Bagaimana bisa?" Felix mulai dikuasai emosi.


"Ada yang membocorkan tentang pengkhianatan yang aku lakukan pada Ryan Dewangga," ucap Sesil.


"Siapa dia? Selama ini tak banyak orang yang tahu tentang pengkhianatan yang kamu lakukan," Felix terlihat berpikir keras.


"Tapi nyatanya ada, Tuan. Dan dia adalah Zara Delisha, orang kepercayaan Anda," tegas Sesil.


"Zara? Kamu jangan bercanda, Sayang," Felix melebarkan matanya.


"Yang aku temui pertama kali di kamar itu saat aku bangun dan tersadar bahwa aku sedang disekap adalah Indra dan Zara. Jadi sudah bisa dipastikan kalau mereka berdua bekerja untuk Ryan Dewangga," ujar Sesil sambil memandang lekat wajah kekasihnya yang matanya sudah memerah karena menahan marah itu.


"Zara? Kurang aj*r! Gadis tak tahu diuntung" teriak Felix sambil memukulkan tangannya ke setiran mobil dengan kencang.


Felix benar-benar tersadar, bahwa kehilangan Zara sama saja kehilangan separoh dari nyawa perusahaannya. Hal ini tidaklah berlebihan, mengingat selama ini Zaralah yang banyak membantu Felix untuk mengelabuhi lawan-lawannya, juga mendapatkan para investor dengan mudahnya, karena kerja-kerja Zahra yang selalu rapi dan tertutup rapat sama sekali. Dan kini, Zara mengkhianatinya?


Tiba-tiba Felix mengingat saat dia menemui Zara di apartemennya, sesaat setelah penusukan yang dilakukannya di area mega proyek Green Canyon itu.


"Sayang," Sesil begitu ketakutan menghadapi emosi Felix yang kini benar-benar sudah tak bisa dia kendalikan.


"Apa yang mereka katakan kepadamu?" tanya Felix dengan wajah yang kelihatan sudah tidak bersahabat sama sekali.


"Mereka memberi tawaran kepadaku," sahut Sesil sambil menyandarkan kepalanya lagi pada sandaran jok mobil yang sedang dia duduki.


"Apa tawaran mereka?" Felix menatap ke arah Sesil dengan tajam.


"Penjara, atau mengampuniku dengan syarat aku bersedia bekerja sama dengan mereka dan mengkhianatimu," cicit Sesil singkat.


"Lalu?" mata dan mulut Felix penuh selidik.


"Aku mengatakan akan bekerja sama dengan mereka dan berkhianat kepadamu, Sayang. Dan mereka percaya, lalu melepaskan aku begitu saja," Sesil tersenyum tipis, sambil menerka-nerka seperti apa reaksi Felix saat mengetahui keberhasilannya mengelabuhi Ryan dan anak buahnya.


"Kamu yakin mereka percaya begitu saja?" ekspresi Felix mulai bersemangat.


"Tentu saja, Sayang. Jika tidak, mereka tidak mungkin melepaskan aku dan meninggalkan aku di apartemen itu sendiri, tanpa penjagaan," ucap Sesil Ryan.

__ADS_1


"Meninggalkanmu sendirian? Jangan-jangan mereka mengintaimu dan mengikuti kita dari belakang," kecemasan Felix muncul kembali.


Bahkan kini dia terlihat memperhatikan ke belakang melalui kaca spion mobilnya, curiga kalau-kalau ada yang sedang mengintai dan membuntuti mereka. Tapi melihat semua normal, tanpa ada satu pergerakan pun yang mencurigakan, akhirnya Felix bisa tersenyum lega.


"Kau memang hebat, Sayang. Kelihatannya kau benar. Mereka bisa percaya begitu saja kepadamu. Dengan begitu, kau masih bisa mengelabuhi mereka dan mencarikan data yang aku minta dari perusahaannya," ujar Felix dengan semangat empat lima.


"Tentu saja," ucap Sesil dengan begitu mantapnya.


"Tapi ingat, jangan sampai ketahuan lagi," mengetahui bahwa Sesil masih bisa berguna untuknya, sikap Felix mulai berubah menjadi manis lagi.


"Aku akan lebih berhati-hati, Sayang," Sesil tersenyum semanis mungkin.


"Baiklah, kita pulang?" tawar Felix sambil tersenyum nakal.


Sesil pun memberikan persetujuan, hingga Felix langsung melajukan mobil itu kembali dengan kecepatan sedang.


Hanya sekitar dua puluh menit, mereka akhirnya sampai ke rumah Sesil, dan langsung mengunci gerbang begitu mobil Felix sudah masuk ke dalam.


Cukup lama mereka berada di dalam dan kembali melakukan hal terlarang yang sangat jauh dari moral. Mereka terus mengukir cerita dengan asyiknya, tanpa malu dan tanpa mau tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah perbuatan dosa. Yang mereka ingat hanya kenikmatan sesaat saja, tak peduli dengan akibat di dunia ataupun akhirat yang sudah Allah siapkan untuk memberi ganjaran setimpal atas perbuatan yang mereka lakukan hanya karena kenikmatan sesaat di dunia.


Sekitar tiga jam berada di dalam, akhirnya Felix keluar sambil menyibukkan diri dengan ponsel di tangannya. Dia sibuk menghubungi anak buahnya, dan memberi perintah untuk menangkap dan memberi pelajaran kepada Zara.


"Beri dia pelajaran. Hidup atau mati, hari ini juga kau harus menyeretnya ke hadapanku," perintah Felix pada seseorang yang berada di ujung teleponnya.


Setelah mengakhiri panggilannya, Felix pun meninggalkan rumah Sesil dan kembali menuju kantornya.


Beberapa menit setelah kepergian Felix dari rumah Sesil, dua buah mobil datang ke rumah itu tanpa Felix tahu. Beberapa orang berseragam aparat lengkap keluar, kemudian langsung masuk dan mengetuk pintu utama rumah kecil bergaya modern itu.


Tak berapa lama, Sesil keluar dengan membulatkan mata saat menyadari siapa yang sedang berada di hadapannya.


"Selamat sore, Nona," sapa pria berseragam itu.


"Selamat sore, Bapak-Bapak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Sesil terlihat berbasa-basi untuk menutupi kegugupannya. Bahkan hati dan tubuhnya kini bergetar, tapi dengan susah payah Sesil berhasil menyembunyikannya.


"Kami membawa surat perintah penangkapan Anda, atas pelanggaran yang Anda lakukan terhadap Pasal 13 Undang-undang Rahasia Dagang. Anda dinilai telah membocorkan rahasia dagang Dewangga Group kepada perusahaan lain," ucap seorang pria berseragam yang lain, sambil menunjukkan surat perintah penangkapan Sesil kepadanya.


"Tapi, Pak. Saya ...," Sesil berusaha mengelak.


"Silahkan ikut kami, dan jelaskan semuanya di kantor,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2