
Prabu Dewangga keluar dari ruang kerjanya, diikuti Naja yang terus mengekor di belakangnya. Hari itu memang Prabu sengaja meminta Naja untuk bersamanya seharian, mengingat kerja Naja tak pernah sekalipun mengecewakan. Apalagi orang yang akan mereka temui hari itu adalah mantan majikan Naja, sehingga sedikit banyak Naja tau bagaimana harus menghadapi Daniel jika hal buruk terpaksa harus terjadi.
Naja pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota X yang ramai dengan berbagai kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali dia melirik melalui kaca di depannya, dilihatnya majikan yang kini duduk di kursi penumpang itu menatap ke arah luar dengan tatapan yang begitu nanar.
"Kenapa kau lakukan hal seperti ini, Nak?" gumam Prabu dalam hati.
Sesungguhnya ada kerinduan yang membuncah dari hatinya yang terdalam, mengetahui bahwa Daniel adalah putra dari Aghata, seorang perempuan Jerman yang pernah hadir dalam hidupnya. Namun mengetahui bagaimana kerasnya usaha Daniel untuk menghancurkan dan mengambil alih perusahaannya, membuat Prabu berpikir keras tentang motif yang membuat Daniel melakukan semuanya. Murni persaingan antar pengusahakah? Atau berkaitan dengan masa lalu mereka?
"Huhhh," Prabu membuang nafasnya dengan kasar, mencoba menerka seperti apa reaksi Daniel saat bersitatap dengannya.
***
Daniel memasukkan lembaran foto yang dipegangnya, begitu Johan mengetuk pintu dan masuk menemuinya. Dengan langkah tegap dan wajah yang selalu terlihat datar seperti biasanya, Johan berjalan mendekati tuannya.
"Apa yang membuatmu berani masuk ke tempat ini, Jo? Bukankah sudah kukatakan, aku sedang ingin sendiri?" Daniel memperingatkan Johan dengan nada kesal.
"Maaf, Tuan. Tapi di bawah ada Prabu Dewangga. Dia memaksa ingin bertemu dengan Anda," ucap Johan ragu.
Daniel cukup terkejut mendengar siapa yang datang. Selama ini dia hanya melihat pria yang dibencinya itu dari sebuah foto, media online ataupun siaran TV yang memberitakannya. Dalam kesempatan apapun, belum pernah sekalipun Daniel bertemu secara langsung dengan seorang Prabu Dewangga, pria yang telah membuat Daniel tumbuh menjadi pria penuh obsesi demi membalas dendam atas semua penderitaan dan perjuangannya bersama ibunya selama ini.
"Ha-ha-ha. Panjang umur rupanya dia? Setakut itukah dia denganku sampai seorang Prabu Dewangga, pengusaha tersukses di negeri ini rela merendahkan dirinya hanya untuk menemuiku? Suruh dia masuk, Jo! Kita lihat apa yang akan dikatakannya," Daniel memberi perintah dengan segala rasa yang bergejolak dalam hatinya. Dia tidak pernah mengira bahwa akan secepat ini bisa bertemu dengannya.
__ADS_1
Tak lama setelah Daniel bersiap dan duduk di atas sofa panjang yang terletak di tengah-tengah ruangan, Johan masuk bersama seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan meski usianya tak lagi muda.
Prabu Dewangga berjalan dengan penuh wibawa, mengikuti kemana langkah Johan mengarahkannya. Dia meminta Naja untuk menunggu di luar dan berjaga, jika sewaktu-waktu Prabu membutuhkannya.
"Selamat datang, Tuan Prabu Dewangga. Sebuah kehormatan besar bagi saya, bisa menerima Anda di kantor saya yang tentu tak sebesar perusahaan Anda," Daniel berdiri seraya mengulurkan tangannya, sebelum akhirnya mempersilahkan Prabu untuk duduk pada sofa di depannya.
"Anda berlebihan, Tuan Daniel. Saya merasa tersanjung dengan pujian Anda," timpal Prabu, berusaha setenang mungkin menghadapi seorang anak yang sebenarnya sudah sangat dirindukannya itu.
Sesaat, mereka terdiam. Keduanya saling bertatapan, mencoba menyelami kedalaman mata pria dihadapannya dengan perasaan mereka masing-masing.
"Ada apakah gerangan sehingga Tuan Prabu sudi berkunjung ke kantor saya secara pribadi?" tanya Daniel berusaha menekan suaranya setenang mungkin.
"Saya hanya orang tua yang sedang menikmati masa pensiun, Tuan Daniel. Sebuah hal yang berharga bisa bertemu dan berbicara secara langsung dengan pengusaha sukses seperti Anda, bahkan di usia Anda yang masih sangat muda. Pasti kedua orang tua Anda sangat bangga mempunyai putra sehebat Anda," Prabu masih memperpanjang basa-basinya, mencoba menelisik reaksi demi reaksi yang ditunjukkan Daniel kepadanya. Prabu sengaja menyinggung masalah orang tua untuk memancing reaksi Daniel terhadap ucapannya.
"Jangan berbasa-basi dengan saya, Tuan. Saya tahu Anda sengaja menemui saya karena ada yang ingin Anda bicarakan," Daniel mengarahkan pandangannya ke segala arah, untuk menutupi kemarahannya yang sudah dia tahan sekian lama. Dia tak yakin kalau Prabu Dewangga sudah mengetahui bahwa dia adalah putra dari Aghata, sehingga dia memutuskan untuk membuka semuanya setelah Dewangga Group telah berada dalam genggamannya.
"Sungguh tidak ada hal penting, Tuan Daniel. Saya hanya ingin berkunjung dan bertemu langsung dengan orang yang telah berhasil memiliki 30 persen saham Dewangga Group dengan waktu yang begitu cepatnya. Saya sungguh kagum pada kehebatan Anda. Saya permisi," Prabu berdiri sambil mengulurkan tangannya dan segera keluar meninggalkan Daniel yang sudah semakin geram.
Setelah Prabu Dewangga keluar ruangan, Daniel tak lagi bisa menahan amarah yang sudah berkecamuk dalam dadanya. Dia melempar apa saja yang ada di hadapannya, demi menyalurkan emosi yang sudah ditahannya.
"Dasar orang tua tidak bertanggung jawab. Bahkan kau tidak mengenali anak yang telah kau buat menderita selama puluhan tahun, hah?" umpat Daniel masih dengan tangannya yang aktif membuat semua yang ada di atas meja terserak di lantai.
__ADS_1
"Lihat saja! Aku akan segera membalas dendamku. Akan ku buat kau menderita dan keluargamu menderita. Kau akan merasakan betapa sakitnya melihat anak kesayanganmu itu hancur dan tak punya apa-apa," kemarahan Daniel semakin menjadi.
***
Prabu Dewangga segera masuk ke dalam mobil begitu keluar dari kantor Daniel. Dia mulai bisa meraba apa yang menjadi motif dari segala hal yang telah diperbuat Daniel kepadanya selama ini.
"Lacak keberadaan perempuan bernama Aghata Adeline," perintah Prabu, kepada Naja yang saat ini sedang fokus melajukan mobilnya dari belakang kemudi.
"Baik, Tuan," Naja mengiyakan perintah tuannya tanpa bertanya apapun.
"Maafkan aku karena telah mengingkari janjiku padamu, Aghata. Tapi tak ada cara lain yang bisa kulakukan untuk mencegah hal gila yang akan dilakukan putramu, selain sebuah penjelasan akan peristiwa masa lalu yang pernah ada di antara kita. Sayangnya, satu-satunya orang yang bisa melakukannya hanya dirimu," gumam Prabu dalam hati.
Kenyataan yang tidak Daniel ketahui adalah, bahwa Prabu keluar dari kehidupan mereka bukan atas kehendaknya. Ibunyalah yang memutuskan untuk pergi meninggalkan Prabu yang waktu itu sudah mempunyai anak dan istri.
Sebenarnya sebuah hal yang mudah bagi seorang Prabu Dewangga untuk mencari Aghata Adeline dari dulu. Namun bukannya dia tidak mau. Permintaan Aghata sendirilah yang membuat dia berjanji untuk tidak mencari keberadaannya lagi. Dan keputusan itu Prabu hormati hingga saat ini.
Apa yang membuat Aghata memutuskan pergi?
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih.