
Meysie terus memandang Ega dengan berjuta pertanyaan yang ada dalam benaknya. Pria itu terlihat sangat serius berkutat dengan laptop di pangkuannya. Sesekali dia menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa, sambil memijit pangkal hidungnya dengan memejamkan mata. Matanya terlihat sayu, wajahnya kusut seolah banyak beban yang sedang dipikulnya. Bagaimana tidak? Urusan perusahaan dan urusan percintaan harus dia kejar secara bersamaan, membuat pikirannya terforsir mengingat kisah cintanya belum bisa berjalan secara wajar.
"Terimalah dia dengan sepenuh jiwa, Sayang. Jangan sia-siakan pria sebaik dan sesempurna suamimu. Jalanilah hidupmu, dan tatalah masa depanmu. Jangan menoleh lagi ke belakang, dan jadikan dia satu-satunya orang yang berhak atas dirimu dengan segala kekurangan dan kelebihan," pesan Nyonya Atmaja yang sempat dia sampaikan sesaat sebelum Ega kembali ke kamar perawatannya itu, terus terngiang-ngiang.
"Bisakah aku mencintaimu dan melupakannya?" batin Meysie dalam hati.
Meysie pun menarik nafas panjang berkali-kali. Selama ini dia terus berharap, bahwa langit akan mengamini setiap do'a yang dia panjatkan, dan mengirim Ryan kepadanya seperti apa yang dia rindukan dengan sebuah kesetiaan. Namun, setiap hal yang Meysie lakukan dan do'akan seolah selalu di jawab dengan hal-hal yang selalu menjauhkan dirinya dari seorang Ryan. Inikah yang namanya suratan?
"Bang," panggil Meysie lirih.
Ega langsung memandang gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu. Ini adalah panggilan pertamanya, sejak obrolan mereka setelah Meysie tersadar beberapa saat yang lalu.
"Iya, Sayang. Apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit? Apa perlu Abang panggilkan dokter untukmu?" cecar Ega sambil memeriksa seluruh bagian tubuh istrinya.
Tak sadar, Meysie melelehkan bulir bening merasakan begitu baiknya Ega kepada dirinya. Dia benar-benar merasa bersalah karena sampai detik ini, rasa cinta itu belum juga ada dalam hatinya.
"Kenapa menangis? Bilang sama Abang bagian mana yang sakit, Sayang?" tanya Ega, masih dalam mode khawatirnya.
"Nggak ada, Bang. Nggak ada yang sakit," Meysie menggeleng pelan.
"Lalu kenapa menangis? Apa yang kamu rasakan? Bilang sama Abang," cecar Ega lagi.
"Tolong tinggalkan aku, Bang. Ceraikan aku," pinta Meysie secara tiba-tiba.
Ega membelalakkan matanya. Harapan untuk bisa membuat gadis di depannya itu bisa jatuh cinta kepadanya pun seolah pupus begitu saja.
"Jangan pernah meminta itu, karena aku tak akan pernah melakukannya. Kau pikir aku akan membiarkan gadis yang kucintai bertindak bodoh dengan terus mengejar laku-laki beristri hingga dia merendahkan dirinya sendiri?" Ega menatap Meysie dengan tatapan tajam. Ada emosi yang terpancar dari pandangan matanya, saat menyadari bahwa gadis yang kini ada di hadapannya itu sama sekali tak ada niatan untuk belajar dari apa yang sudah terjadi selama ini.
"Carilah gadis baik-baik yang mencintaimu dan kau cintai, Bang," Meysie membalas tatapan Ega dengan sendu.
"Tidak akan pernah, karena hanya kau satu-satunya gadis yang aku cinta," kekeh Ega.
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa," sahut Meysie.
"Aku akan menunggu, selama apapun kau butuh waktu untuk bisa mencintaiku," Ega terus memaksa.
"Tapi itu tidak adil buatmu, Bang. Sampai kapan kau akan menungguku? Kau punya masa depan, jangan kau buang waktumu hanya untuk menungguku," kata Meysie sambil mengusap kasar air mata yang membanjiri wajahnya.
"Masa depanku adalah kamu, Mey. Sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu," kini Ega meraih tangan Meysie, dan mencium punggung tangannya berkali-kali.
"Tapi aku tak bisa, Bang," Meysie menarik tangannya dengan kasar.
"Tapi kenapa? cobalah dulu, Mey. Lupakan pria itu dan belajarlah mencintaiku," Ega berusaha meraih tangan Meysie kembali dan menggenggamnya erat.
"Masalahnya bukan hanya itu, Bang," cicit Meysie pilu.
"Lalu?" tanya Ega tidak mengerti.
"Sampai kapan kau akan menungguku, Bang. Sementara aku sendiri tak tahu, selama apa aku akan menghabiskan masa hukumanku. Jangan buang waktumu, Bang. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku di balik jeruji besi seumur hidupku. Aku mohon, tinggalkan aku dan cari gadis lain yang bisa membahagiakanmu," kini Meysie tergugu.
Ega terkesiap mendengar alasan yang dikemukakan istrinya itu. Ada secercah cahaya yang tiba-tiba masuk memenuhi rongga hatinya, menyadari kemana arah pembicaraan gadis itu.
"Cuma kau bilang, Bang? Ini adalah masalah terbesarku sekarang," Meysie tidak mengerti dengan pertanyaan yang Ega ucapkan.
"Jika cuma itu alasanmu, maka jangan harap aku akan menceraikanmu," Ega tersenyum misterius.
"Tapi Bang," sebelum Meysie melanjutkan ucapannya, Ega sudah menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Sssttt," desis Ega.
"Aku sudah menyelesaikan semuanya," tutur Ega lembut.
"Maksud Abang?" Meysie semakin tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku sudah menemui sahabat sekaligus pria yang kau cintai itu. Aku memintanya untuk mengampunimu dan mencabut laporannya, dengan sebuah jaminan bahwa kau tak akan lagi mengusiknya," jelas Ega penuh semangat.
"Lalu?" tanya Meysie tak sabar.
"Awalnya dia menolaknya. Dia takut kau masih akan terus menyakiti istrinya," Ega menghela nafas panjang.
"Terus?"
"Istrinya yang meyakinkan dan membuat Ryan menyetujui permintaanku," jawab Ega, sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.
Meysie tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Dia sungguh tak menyangka bahwa yang dibilang semua orang tentang kebaikan Rani ternyata memang benar. Ada setitik penyesalan yang kini muncul menguasai hatinya, menyadari sebegitu lapangnya Rani memaafkan kesalahannya.
"Karena bujukan istrinya itulah akhirnya Ryan luluh, dan saat ini sudah mencabut gugatannya," Ega tersenyum penuh arti.
"Tapi para polisi itu melihat dengan mata dan kepalanya sendiri saat aku mengambil pistol dari pinggang salah seorang dari mereka dan mengarahkannya pada Rani, sebelum akhirnya mereka menembakkan sebuah peluru ke dalam tubuhku," Meysie menatap suaminya dengan berjuta pertanyaan yang berputar-putar di benaknya.
"Tak usah kita berpikir bagaimana cara Ryan dan anak buahnya mengkondisikan semua itu. Yang jelas, mereka sudah menyelesaikan semuanya sesuai permohonanku," tutur Ega dengan senyum termanisnya.
"Jadi?" Meysie belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Kau sudah terbebas dari jerat hukum yang mengancammu, Sayang. Para polisi yang terus berjaga di luar ruang ini pun sudah pergi beberapa jam yang lalu," oceh Ega dengan bangga.
"Terima kasih untuk semuanya," Meysie tersenyum canggung.
"Kau harus membayar dengan mahal untuk menunjukkan rasa terima kasihmu itu," Ega menyeringai nakal.
Meysie agak ngeri melihat Ega yang kini menatapnya penuh hasrat.
"Tak usah berpikir macam-macam! Kau cukup belajar mencintaiku, dan berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik untukku, juga melupakan pria itu selama-lamanya dari hidupmu. Itu semua sudah cukup membuatku bahagia," Ega mengacak rambut Meysie dengan asal.
Tak ada pilihan buat Meysie selain menuruti apa yang suaminya kehendaki. Biar bagaimanapun, tidak mungkin Meysie menyia-nyiakan pria baik yang telah membuatnya keluar dari sebuah masalah besar. Walaupun Meysie tak pernah tahu, kapan cinta itu akan tumbuh subur dalam hatinya, tapi Meysie akan mencoba untuk melakukan apa saja yang dia bisa untuk menjadi istri yang baik untuk Ega.
__ADS_1
"Akan aku coba, Bang. Tolong buat aku jatuh cinta,"
BERSAMBUNG