METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Tapi Kenapa?


__ADS_3

"Zara! Bertahanlah, Zara! Bertahanlah!" Indra terus berteriak dalam hati, sebelum akhirnya semua benar-benar gelap dan Indra tak lagi bisa mengingat apa-apa.


Anak buah Felix pun dengan tak sabar mendekati tubuh Zara, yang kini terkulai lemas di atas tanah dengan begitu tak berdaya. Kecantikan dan pesona yang terpancar dalam diri Zara mampu menghipnotis mereka, walaupun kini tak terhitung lagi luka yang menganga dalam tubuhnya. Setidaknya, mereka tahu betul betapa cantiknya mantan agen bossnya itu, sehingga khayalan mereka sudah melayang kemana-mana.


"Kita gilir dia," seru salah seorang dari mereka, dengan begitu semangatnya.


Zara yang masih bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka pun berusaha bangkit, namun sia-sia. Matanya mencari-cari sosok Indra yang beberapa saat lalu mati-matian melindunginya, tapi lagi-lagi dia hanya semakin terluka ketika melihat pria itu kini sudah tumbang hanya karena dirinya.


"Bangun, Tuan! Bangun!" teriak Zara dalam hati.


Hingga dia merasakan tangan-tangan itu kini mulai mendekat dan menyentuh tubuhnya.


"Bunuh saja aku, tapi jangan ambil hal paling berharga dari diriku," sekuat tenaga Zara masih berusaha menyingkirkan tangan-tangan itu dari tubuhnya, namun dia tidak cukup punya kekuatan untuk menghalaunya.


Saat itu, yang ada dipikiran Zara hanya bagaimana caranya, dia tetap bisa mempertahankan kesuciannya, walaupun untuk melawan mereka semua jelas mustahil bagi dirinya. Hingga tiba-tiba, muncul ide gila di benak Zara. Dia berusaha menarik sebilah pisau di sampingnya, bermaksud menancapkannya pada dirinya sendiri untuk mengakhiri hidupnya.


"Jika aku mati, bukankah kalian tak menginginkan tubuhku lagi?" gumam Zara dalam hati.


Zara pun sudah mengangkat pisau ditangannya, bersiap menjalankan lintasan pikiran yang telah menguasai dirinya. Namun sebelum Zara melakukannya, tiba-tiba cahaya sangat terang dari atas mereka menyilaukan mata, seiring dengan deretan tembakan yang menghujani pria-pria tegap yang berada di sekeliling Zara. Setelah itu, mata Zara tiba-tiba menggelap, dan dia tak lagi ingat apa-apa.


***


Baik Zara maupun Indra, kini terkulai lemah di ranjang pesakitan sebuah rumah sakit ternama. Berbeda dengan Indra yang kini ditunggui oleh Naja, Zara terpaksa ditunggui Rani dan Lena, dengan penjagaan ketat yang tentu saja standby dua puluh empat jam oleh para pengawal yang berjaga di luar untuk menghindari incaran Felix dan anak buahnya.


"Untung saja mereka datang tepat pada waktunya. Jika tidak, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka berdua," ucap Rani, sambil memandang Zara dengan tatapan iba. Rani yang mudah sekali tersentuh hatinya, merasa sangat kasihan kepada Zara saat mengetahui bahwa gadis itu hanya hidup sebatang kara, setelah kecelakaan yang menimpa keluarganya.


"Dia gadis hebat. Dia masih bisa bertahan dengan luka sebanyak ini di tubuhnya," sahut Lena, sembari memperhatikan puluhan luka yang ada di tubuh Zara.


Rani menatap Zara dengan intens, membuat Lena yang sedari tadi memperhatikannya mengerutkan dahinya.


"Jangan bilang kalau kau mau menjodohkannya, seperti waktu itu kau menjodohkan aku dengan Kak Tama," tebak Lena. Dia sudah sangat hafal dengan sahabatnya itu. Ya, Rani memang seorang perempuan yang tak pernah tega melihat orang lain menderita, apalagi hidup sebatangkara. Seorang gadis, dengan dunianya yang super keras lagi.


"Sekarang, katakan kepadaku! Apakah kau pernah menyesal dengan keputusanku yang telah menjodohkan kalian berdua?" Rani menatap Lena dengan tatapan tajamnya.


"Tidak. Bahkan aku bersyukur karena kamu telah mempertemukanku dengan kekasih masa kecilku," sahut Lena dengan mantap.


"Lalu menurutmu, apakah Zara tidak akan bahagia jika aku juga melakukan hal yang sama kepadanya?" Rani terlihat berpikir keras.


"Kau mau menjodohkannya dengan siapa? Di dekatmu ada dua jomblowan yang siap menerima titahmu," tanya Lena polos.


"Apa kau tak melihat kalau Indra menaruh hati padanya? Dari pada Indra tak mampu menahan dan dia berbuat dosa, sepertinya menjodohkan mereka adalah pilihan yang paling bijak. Kecuali salah satu di antara mereka ada yang menolaknya. Tapi kan yang penting usaha," jawab Rani sambil meraih ponselnya, dan mulai berselancar dengan benda pipih canggih itu.


"Kau mau apa? Jangan bilang kau mau membisiki suamimu dengan idemu itu," Lena menebak-nebak.


"Ibu hamil mah bebas, mau minta apa aja. Ngidam nggak ngidam, suami kita akan menanggapi sama seriusnya. He-he-he," Rani justru terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Selama hamil, Ryan memang begitu memanjakannya. Apapun yang Rani minta, tak pernah Ryan tolak tanpa bertanya apakah itu sekedar lintasan pikiran, atau bagian dari ngidamnya. Rani yang merasa dimanjakan pun justru memanfaatkan kesempatan selama masa kehamilannya untuk meminta hal-hal yang biasanya Ryan tak mengizinkannya.


"Ihh, dasar," Lena memanyunkan bibirnya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan hal konyol yang akan dilakukan sahabatnya.

__ADS_1


"Ssstttt. Jangan berisik," rupanya Rani sudah berada dalam mode panggilannya.


"Assalamualaikum, Sayang. Apa ada yang mau kamu makan? Tunggu Hubby selesai meeting sebentar, si jagoan masih mau nunggu kan, Sayang?" cecar Ryan dari ujung telepon.


"Hubby, ada yang lagi Rani pengen. Tapi bukan makanan," Rani terlihat merengek. Padahal sebenarnya dia sedang mengerling nakal ke arah Lena.


Lena yang melihat kelakuan Rani pun hanya mengacungkan jempolnya.


"Tunggu Hubby ya, Sayang. Setelah meeting, Hubby langsung susulin kamu ke rumah sakit," sahut Ryan sebelum menutup teleponnya.


"Beres," seru Rani girang.


"Mulai hari ini, kau harus bahagia, Zara," Wajah Rani tiba-tiba berubah, melihat gadis belia yang terkulai lemas di atas ranjang kesakitan itu, masih saja memejamkan mata sejak kedatangannya. Dokter sengaja menyuntikkan obat tidur melalui selang infusnya, agar Zara bisa beristirahat total selama masa penyembuhannya.


Satu jam kemudian, Ryan masuk ke ruang perawatan Zara dengan tergesa-gesa. Pasalnya, selama hamil Rani lebih sering ngambek dari hari-hari biasa jika keinginannya tak segera dikabulkannya. Akhirnya, Ryan lebih memilih cara aman. Dia akan berusaha sebisa mungkin untuk menuruti keinginan istrinya, dari pada harus mendapati wajah wanitanya cemberut hingga berhari-hari lamanya.


"Sayang, kau sudah menungguku? Apa aku datang terlambat?" Ryan yang baru saja masuk langsung menghampiri Rani, diikuti Arya yang berjalan di belakangnya.


"Wa'alaikumsalam, Hubby," ledek Rani.


"Ehh, iya lupa. Assalamualaikum, kesayangan Hubby," Ryan mengucap salam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Wa'alaikumsalam, Hubby," sahut Rani dengan hangatnya.


"Bagaimana kondisi Zara?" Ryan mendekati istrinya dan mengecup keningnya, lalu melihat sekilas keadaan Zara yang hingga kini masih memejamkan mata. Sementara Arya, dia sudah memeluk istrinya terlebih dahulu dari arah belakang dan segera mengecup ujung kepalanya juga.


"Alhamdulillah hanya luka-luka luar, By. Tapi ya begitu. Lukanya hampir di sekujur tubuhnya," sahut Rani sambil bergidik ngeri.


"Semalam mereka memang jatuh pingsan, tapi tadi pagi sudah sempat siuman. Karena Zara merasa sangat kesakitan hingga tak lagi bisa mengistirahatkan dirinya, akhirnya dokter memutuskan untuk menyuntikkan obat tidur melalui selang infus yang terpasang di tangannya," sahut Arya, tanpa bergeming dari dekat Lena. Ryan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jadi, sekarang bilang sama Hubby. Kesayangan Hubby ini lagi pengen apa?" Ryan mengalihkan pandangannya, kembali menatap intens wajah cantik istrinya.


"Nanti Rani bilangin, By. Sekarang kita jenguk Indra dulu yuk, By," Rani menyeret suaminya ke luar ruangan itu begitu saja.


Merasa ada yang aneh dengan istrinya, sebelum ke luar ruangan, Ryan sempat memandang Lena dengan penuh tanda tanya. Lena yang dipandang, hanya mengangkat kedua bahunya seolah tak tahu apa-apa. Akhirnya Ryan hanya bisa pasrah sambil menerka-nerka.


"Hubby, ayo!" menyadari tarikan tangannya sedikit berat, Rani pun mulai merajuk pada suaminya.


"Iya, Sayang. Iya," Ryan segera kembali pada mode siap siaganya, dan mengikuti Rani kemanapun dia melangkahkan kakinya. Meski luka tusukan di bagian perutnya belum sembuh dengan sempurna, tapi Ryan sudah tak mau lagi mengistirahatkan diri di kamarnya, apalagi harus menggunakan kursi roda.


"Aku akan semakin sakit jika terus kalian perlakukan seperti orang pesakitan seperti ini," protes Ryan, yang akhirnya berhasil meyakinkan semua orang bahwa dia sudah sembuh benar.


Tak sampai satu menit, Rani dan Ryan pun sudah sampai di kamar perawatan Indra. Kilat? Tentu saja, karena ruang perawatan mereka memang bersebelahan, tanpa ada satu ruang pun yang menjadi penyekat di antara keduanya.


Naja yang sedang duduk bersantai dalam dekapan Daniel pun segera beranjak dari duduknya, menyadari tuan dan nonanya masuk ke ruang perawatan adiknya.


"Nona, Tuan," sudah menjadi kebiasaan Naja, selalu dalam posisi siap siaga saat Ryan dan Rani menghampirinya.


"Jangan sungkan, Naja," cegah Rani, langsung menuju sofa dan mendudukkan dirinya di samping Daniel, diikuti Ryan yang hanya mengekor saja.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi Indra?" Ryan mengedarkan pandangannya ke arah Indra yang masih memejamkan mata.


"Lebih dari separuh tubuhnya luka-luka. Untung tak ada yang mengenai organ dalamnya, sehingga dokter hanya perlu mengobati luka luarnya saja," sahut Naja dengan gurat khawatir yang belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.


"Pria sejati takkan pernah membiarkan wanitanya tersakiti meskipun dia harus mempertaruhkan nyawanya," Daniel ikut menimpali.


"Hmmm," Naja dan Rani mengangguk dengan kompak.


"Oya, apa yang tadi kamu inginkan, Sayang? Bilang sama Hubby. Selama Hubby bisa, Hubby tak akan pernah membuat istri dan anak Hubby kecewa," Ryan merapatkan duduknya dengan istrinya, lalu mengelus perut Rani yang kian membola.


"Hubby janji akan mengabulkan keinginan Rani?" tanya Rani memastikan.


"Tentu saja Hubby akan berusaha," dari perut, kini Ryan mengalihkan tangannya ke ujung kepala istrinya.


"Oke," sahut Rani dengan riang.


"Sudah mendekati kelahiran, masih ngidam juga memangnya ya?" Daniel mengerutkan kepala, melihat dua calon orang tua baru yang kini sedang duduk bersamanya.


"Terserah suami aku gimana mau menerjemahkannya," Rani menyahut dengan begitu santainya, sementara Ryan hanya memberikan isyarat mata agar Daniel tak banyak bertanya. Melihat isyarat yang diberikan Ryan kepadanya, Daniel pun tak melanjutkan pertanyaannya, meskipun dalam hatinya masih menduga-duga.


"Baiklah. Apa yang kesayangan Hubby minta?" Ryan mengajak istrinya kembali ke topik awal.


"Jodohkan Indra dengan Zara, By," ceplos Rani dengan santainya.


"Apa?" Ryan, Daniel dan Naja berseru secara bersamaan.


"Kenapa ekspresi kalian semua seperti itu? Memang ada yang salah dengan keinginanku?" Rani terlihat begitu kecewa, menyadari ekspresi aneh yang ditunjukkan Ryan, Daniel dan Naja kepadanya.


"Bukan begitu, Sayang. Tapi apa ini benar yang kamu inginkan? Tidak bisakah meminta yang lain?" Ryan berusaha mengubah mimik mukanya, demi menetralisir kekecewaan yang ditunjukkan ibu hamil di sampingnya.


"Rani hanya kasihan melihat Zara, By. Dia hidup sebatang kara, sama persis seperti Lena. Melihat kondisinya saat ini, dia butuh seseorang yang bisa menjaganya, By. Sehebat dan setangguh apapun Zara, dia tetaplah seorang wanita," keluh Rani dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana jika kita biarkan dia tinggal bersama kita. Dia sendiri aman, dan lagi bisa membantu Hubby menjaga istri Hubby yang cantik ini," Ryan mencoba bernegosiasi.


"Tapi akan berbeda dengan ketika mereka menjadi suami istri, By," paksa Rani.


"Sayang, menjodohkan seseorang itu tidak semudah yang kamu inginkan. Walaupun jika kamu yang meminta, baik Zara maupun Indra tak akan menolaknya, tapi mereka juga punya hak, untuk menentukan masa depan mereka sendiri," bujuk Ryan, mencoba membuat agar istrinya mengerti.


"Saya setuju dengan ide dari Nona, Tuan," Naja yang tak pernah menolak apapun keinginan Rani pun ikut menimpali.


"Aku tahu kau tak akan pernah menolak titah istriku, Naja. Tapi bukan berarti kau harus memaksa adikmu untuk mengikuti sikapmu itu," Ryan menanggapi serius ucapan Naja. Dia betul-betul tahu, bagaimana ketaatan Naja pada istrinya, apapun titah yang diberikan kepadanya.


"Saya setuju karena saya tahu betul perasaan adik saya, Tuan. Meski dia sendiri berusaha berbohong kepada dirinya sendiri, tapi saya tidak bisa dia bohongi. Dan saya setuju dengan ide Nona untuk menjodohkan mereka," jawab Naja sambil tertunduk sopan.


"Apa kalian tidak akan meminta pendapatku?" sebuah suara yang masih terdengar sedikit terbata-bata, tiba-tiba terdengar di telinga mereka.


"Indra, kamu sudah bangun?" reflek, Naja segera beranjak dan mendekati tempat tidur adiknya, diikuti Daniel, Ryan dan Rani.


"Tolong hukum saya, Nona. Apapun hukuman dari Anda akan saya terima. Tapi untuk satu hal itu, saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak bisa menikahi Zara," ucap Indra, membuat semua mata memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Bukankah kamu mencintainya?"


BERSAMBUNG


__ADS_2