METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sabotase


__ADS_3

Pagi itu, Arya terduduk diam pada sebuah sofa panjang yang terletak di depan meja kerja Ryan dengan wajah yang sedikit muram. Kaki kanannya terlihat bergerak-gerak tak beraturan, seolah mencerminkan gejolak hatinya yang sedang banyak beban. Sekilas, dia melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul delapan.


"Kenapa Ryan belum datang juga?" gumamnya dalam hati.


Kegundahannya bukan tanpa alasan. Ada hal yang pagi itu juga harus Arya sampaikan, karena ada sesuatu yang butuh segera diputuskan.


"Apakah kau sedang menungguku?" tiba-tiba terdengar suara Ryan dari arah pintu, kemudian segera menghampiri Arya dan ikut duduk di sampingnya.


"Target selanjutnya adalah Nina dan juga Lena," ucap Arya dengan muka sangat serius.


Tidak ada ekspresi berlebihan dari wajah Ryan mendengar informasi yang Arya berikan itu. Tentu karena Ryan sudah menduganya sejak awal, bahkan jauh sebelum Digo terbunuh dengan alibi henti jantung mendadak karena alergi makanan.


"Apakah anak buahmu yang kau minta untuk menjaga mereka benar-benar bisa kau andalkan?" tanya Ryan sambil menatap Arya dengan lekat.


"Selama ini hasil kerja mereka memuaskan," jawab Arya mantab.


"Apakah untuk kali ini kau yakin menyerahkan semuanya hanya kepada mereka?" tanya Ryan kemudian.


Arya tidak menjawab. Sebenarnya memang dalam hatinya sedikit ragu jika anak buahnya mampu menyelesaikan semua tanpa kehadirannya, karena dia sendiri belum tau secara detail hal-hal yang akan dilakukan pihak Charles untuk menggagalkan kesaksian Nina.


"Kapan persidangan Charles?" tanya Ryan dengan tenang, seolah mengerti semua hal yang sekarang sedang berkecamuk di hati Arya.


"Besok pagi. Target mereka, Nina tidak datang di persidangan dan tidak memberikan kesaksian," jawab Arya masih dengan ekspresi yang sangat serius.


"Baiklah. Kali ini kau sendiri yang harus membereskannya. Besok malam, aku ingin Nina sudah sampai di rumahku, bagaimana pun caranya," perintah Ryan sambil beranjak dari duduknya dan beralih duduk di meja kerjanya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


Sejak semalam, tubuh Nina terasa gemetar memikirkan jalan hidupnya yang penuh dengan bayangan hitam. Kisah kelamnya terus menyatu dalam pejam, menyisakan cerita yang begitu menyakitkan untuk dikenang.


Sebenarnya pagi itu Nina sangat takut. Dia terus mengingat nasib Digo yang harus meregang nyawa sebelum menjalani hukumannya. Nina benar-benar tahu bahwa jaringan Charles tidak akan menyerah begitu saja untuk membebaskannya dari balik jeruji penjara. Dan satu-satunya saksi yang akan memberatkannya adalah Nina. Jika seorang Digo saja bisa dengan mudahnya dia tumbangkan, apalagi seorang Nina yang bukan siapa-siapa.


"Apakah sekarang giliranku?" gumamnya dalam hati.


"Ayo Nina, kita tidak punya waktu lagi," tiba-tiba suara Lena membuyarkan lamunan Nina. Lena menarik tangannya begitu saja, menyambar kunci mobil dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sudah penuh dengan kendaraan yang terjebak oleh kemacetan.


"Kita harus segera sampai di tempat persidangan jika kita tidak ingin mati sia-sia," ucap Lena lirih, sambil melihat kaca spion mobilnya berkali-kali. Rupanya Lena sangat menyadari bahwa di belakang mereka sudah ada beberapa mobil yang mengikutinya.


Mendengar ucapan Lena, seketika kabut hitam menyeringai dalam benak Nina. Rasa takut kini menyelimuti seluruh hatinya tanpa menyisakan celah sedikitpun. Kini dia terus meremas tangannya, sambil berdo'a penuh harap agar keajaiban akan hadir dan menyelamatkan mereka.


"Nina, pegangan!" seru Lena dengan kencang. Dia terus menginjak pedal gas nya hingga mobil melaju dengan kencang. Mobilnya meliuk ke kanan dan ke kiri demi mendahului kendaraan di depannya.


"Aaa!" tiba-tiba Nina menjerit ketika mobil mereka bergetar dengan kencang. Sebuah mobil sengaja menabrak mereka dari belakang, sementara dua mobil lainnya menghimpit mereka di samping kanan dan samping kiri, ketika jalanan mulai lengang.


Sekarang, dua mobil lainnya pun ikut menabrak mobil Lena dari arah kanan dan kiri sekaligus, hingga Lena mulai frustasi. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan hanya menyeimbangkan setirnya agar mobil tidak oleng.


Namun selihai-lihainya Lena membawa mobilnya, masih kurang lihai jika dibandingkan dengan ketiga mobil yang mengikutinya. Akhirnya Lena menyerah, sesaat setelah satu mobil yang berada di samping kirinya menyelip dan memalangkan mobilnya di depan mobil Lena.


Dan seolah dunia telah berakhir, ketika puluhan pria bertubuh kekar dengan pakaian resminya keluar dari mobil mereka dan meminta Nina dan Lena turun dari mobilnya kemudian menarik mereka masuk ke dalam mobil asing yang entah akan membawa mereka kemana.


***


Sidang Perdana Charles David sudah di mulai. Setelah agenda mendengarkan surat dakwaan dan tidak ada eksepsi, maka agenda selanjutnya adalah mendengarkan keterangan dari terdakwa dan juga para saksi.

__ADS_1


Charles cukup puas dengan kinerja Johan dan anak buahnya, ketika Nina yang dijadwalkan memberikan keterangan sebagai saksi utama di persidangan itu tak kunjung tiba. Dia bernafas lega, karna dengan begitu kabar baik terkait kasusnya akan segera diperolehnya.


Berkali-kali Hakim Ketua mempersilahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menghadirkan saksi kunci dari pihaknya, namun JPU berkali-kali juga mempersilahkan saksi dari pihak yang meringankan untuk memberi kesaksian terlebih dahulu.


Hingga saksi terakhir dari pihak Charles selesai memberikan kesaksian, Nina belum juga hadir sehingga untuk yang terakhir kalinya Hakim Ketua menanyakan kesiapan JPU untuk menghadirkan saksinya.


Ada gurat kecewa juga sesal yang tak bisa disembunyikan, tetapi mau tidak mau JPU harus meminta persidangan ditunda untuk mendatangkan Nina pada sidang berikutnya.


Namun sebelum JPU sempat mengatakannya, tiba-tiba dari arah pintu Nina dan Lena masuk, yang membuat semua mata tertuju kepada mereka.


Nina pun berjalan dengan mantab tanpa merasa risih dengan tatapan membunuh dari Charles dan anak buahnya yang berada di ruangan itu. Setelah menghela nafas panjang, dia pun duduk di hadapan hakim dan siap memberi kesaksian, setelah mengucapkan sumpah yang di pandu oleh rohaniawan dalam persidangan.


"Bagaimana mungkin?" gumam Charles lirih. Bahkan, tadi Johan sempat menemuinya sebelum sidang dimulai dan memberi isyarat bahwa semua sudah berjalan sesuai dengan rencana.


"Apakah terjadi sesuatu?" batin Charles dalam hati.


Kini wajahnya berubah sendu. Bayangan hidup dalam jeruji besi segera menari-nari dalam benaknya. Dia mulai berpikir keras, mencari cara lain agar bisa keluar dari sanksi hukum yang sudah pasti akan menjeratnya.


"Pasti ada sesuatu yang tidak beres," batinnya lagi, sambil mengepalkan tangannya menahan amarah.


Tidak ada yang tahu tentang apa yang telah terjadi pada Nina dan Lena pasca mereka masuk dalam mobil asing itu, kecuali mereka berdua.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹


Jangan lupa like, vote, fav dan rate 5 ya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2