METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kau Dimana?


__ADS_3

Ryan langsung menghubungi Daniel, Arya, Johan, Rudi dan Naja begitu keluar dan tak menemukan Rani di tempat parkir. Dari kejauhan, justru Ega yang menghampirinya, melihat wajah Ryan dan Meysie yang terlihat sama tegangnya.


"Ada apa?" tanya Ega pada keduanya. Ega sempat melihat Rani datang, dan beberapa menit kemudian dia melihat Rani sudah berlari keluar. Ega tak tahu apa yang sudah terjadi di dalam, tapi dia cukup mengerti situasi hingga sampai membuat Rani pergi dalam kondisi kalut seperti itu.


Ryan tak mendengar pertanyaan Ega karena terlalu fokus dengan mode panggilannya. Hanya Meysie yang langsung menghambur ke dalam pelukan Ega, karena tak mampu menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.


"Istrinya salah paham lagi, Bang. Padahal Meysie hanya ...," Meysie tak mampu melanjutkan kalimatnya. Hanya air mata yang kini mengalir deras membasahi pipinya. Dia benar-benar tertekan. Bahkan di saat dia ingin berubah dan pergi meninggalkan masa lalunya, keberadaannya masih saja menimbulkan masalah untuk Ryan dan keluarganya.


"Tenanglah, Sayang. Kita jelaskan sama-sama. Ini bukan salahmu," ucap Ega sambil memeluk Meysie dengan erat.


Sementara Ryan, langsung melajukan mobilnya tanpa pikir panjang. Dia meninggalkan Meysie dan Ega begitu saja, tanpa berpamitan ataupun mengucapkan kata-kata perpisahan.


"Kamu kemana, Sayang?" gumam Ryan sambil terus melajukan mobilnya. Bayangan Rani yang menyetir sendirian malam-malam seperti itu, membuat perasaan Ryan semakin tak menentu.


Setelah menelepon Daniel, Arya, Rudi, Johan juga Naja dan mereka semua bilang Rani tak pulang ke rumahnya ataupun menghubungi mereka, Ryan pun menuju rumah yang pernah mereka tempati dulu dengan tergesa-gesa. Merasa hal yang dia lakukan sia-sia, Ryan mencoba menghubungi penjaga rumah yang pernah di tempati Mama Davina, juga kediaman Daniel, tapi hasilnya nihil.


Kecemasan semakin memenuhi benak Ryan sekarang. Ingatannya kembali pada masa dimana Rani pernah keguguran dulu. Waktu itu, dia menyetir sendirian dalam jarak cukup jauh, dan akhirnya tak bisa mempertahankan janin yang sedang dikandungnya.


Malam pun semakin larut, Daniel dan Naja yang awalnya tak akan keluar kamar selama sepekan itu ikut kalut. Begitu juga dengan Johan dan Nina, juga Arya dan Lena. Semua rencana yang sudah di susun mereka untuk bisa berduaan dengan pasangan mereka masing-masing gagal seketika. Apalagi Naja tak memasang satu alat pelacak pun dalam diri Rani, membuat mereka sulit menemukan gadis cantik yang kini sedang mereka cari.

__ADS_1


Seluruh anak buah Ryan dan Daniel sudah di kerahkan, tapi Rani tak juga ditemukan. Tangisan sendu dari mulut Mama Davina pun semakin membuat suasana di rumah itu semakin tegang.


"Kenapa kau temui wanita itu lagi? Jika terjadi sesuatu pada Rani, Mama tak akan pernah memaafkanmu," teriak Mama Davina, sambil tergugu. Ryan yang mendengar mertuanya begitu murka terhadap kesalahannya, hanya mampu mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kau dimana, Sayang? Maafkan Hubby! Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan," gumam Ryan lirih.


"Jagoan Daddy jangan nakal ya, kasihan Mommy," gumamnya lagi dengan muka yang sudah sangat frustasi.


***


Di sinilah Rani berada sekarang. Di sebuah tempat dimana kehadirannya selalu di harap-harapkan. Sebuah tempat dimana semua orang menyayangi dan mencintainya, juga menempatkannya pada prioritas utama karena perjuangannya yang begitu luar biasa.


Ya, sekarang Rani ada di Thalassemia Center, tempat dimana dia dan teman-temannya berjuang untuk para penderita thalasemia. Dan Ryan sama sekali tak memperhitungkan kalau tempat itu menjadi pilihan Rani untuk menenangkan diri. Ryan hanya mencari dari satu hotel ke hotel yang lain, juga dari satu rumah ke rumahnya yang lain, tanpa berpikir jika tempat yang Rani tuju justru adalah tempat itu.


Melihat Rani datang dengan kondisi kacau, mereka pun tak banyak bertanya. Mereka hanya mengantar Rani untuk beristirahat di kamarnya, hingga pagi datang menyapa.


"Tidurlah, kau bisa cerita semuanya besok," ucap Dokter Dina, salah seorang sahabat Rani yang menjadi pengelola tempat itu.


"Aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri, dia memeluk wanita itu sangat erat. Dan dia adalah wanita yang pernah dia cintai sekian lama," Rani tergugu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Rani yang begitu sendu, Dokter Dina langsung mendekati Rani dan memeluknya erat. Dia betul-betul tahu, sahabatnya itu sedang butuh perhatian lebih di masa-masa kehamilan pada trimester terakhirnya sebelum dia melahirkan. Meski dia hanya seorang dokter umum, tapi sebagai seorang dokter, dia sangat paham bahwa saat-saat hamil tua bukanlah saat yang mudah untuk dilalui semua wanita. Apalagi untuk Rani yang tidak boleh stress, dengan riwayat pernah keguguran dan beberapa kali pendarahan, membuat dia benar-benar butuh perhatian ekstra.


Dokter Dina terus menemani Rani hingga dia terlelap di kamarnya. Sebenarnya dia ingin sekali menghubungi Ryan atau keluarganya. Tapi karena penghuni Thalasemia Center yang lain melarangnya dengan alasan itu adalah hak prerogatif Rani, maka mereka membiarkan Rani mengambil keputusannya sendiri.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, tak ada yang tidur di kediaman keluarga Dewangga. Hati mereka semua sangat tidak tenang, memikirkan Rani yang pergi dalam kondisi marah dan hamil besar. Johan, Rudi dan seluruh anak buahnya sibuk mencari Rani di seluruh sudut kota. Sementara Naja sibuk memeriksa rekaman CCTV di sepanjang kota yang bisa diaksesnya.


"Ini bukannya mobil Nona, Tuan?" seru Naja membuat Ryan dan Daniel mendekati Naja secara bersamaan.


"Benar. Itu dia," sahut Ryan, begitu Naja memperlihatkan beberapa rekaman CCTV di beberapa lampu merah.


Naja mencoba menghubungkan titik-titik koordinat dari beberapa lampu merah yang merekam mobil Rani sempat berhenti, hingga tiba-tiba dia membulatkan mata ketika satu lintasan pikiran berseliweran di benaknya.


"Thalasemia Center, Tuan. Mungkin Nona ada di sana. Titik-titik lampu merah ini adalah sepanjang jalan menuju ke sana," seru Naja dengan wajah sumringahnya.


"Kenapa kita sama sekali tak berpikir kalau dia di sana?" Ryan mengepalkan tangannya dan meninju telapak tangannya yang lain.


"Hubungi Johan untuk mengecek tempat itu! Ingat, diam-diam jangan sampai ada yang tahu. Aku tak mau Rani pergi lagi dari tempat itu dan kita akan kesulitan lagi melacak keberadaannya," titah Ryan yang dijawab anggukan oleh Naja.


Beberapa menit kemudian, Johan mengabarkan jika mobil Rani benar terparkir di sana. Perasaan Lega dirasakan Ryan seketika.

__ADS_1


Ryan pun meminta Rudi dan anak buahnya untuk tetap berjaga di sana, hingga pagi tiba.


BERSAMBUNG


__ADS_2