
Daniel mencoba mengabaikan kecemasan demi kecemasan yang ada di dalam hatinya, walaupun sesaat, Daniel memilih diam dalam detak jantungnya sendiri, yang semakin lama semakin membara, kemudian meluap hingga mampu mengguncang getaran rasa di dalam dadanya.
Ya, satu jawaban akan do'a dan taubatnya akan kesalahan di masa lalu akan dia dapatkan hari ini. Akankah Tuhan mengasihani? Atau membiarkan dirinya menanggung karma akan dosa yang dia yakini?
Batin Daniel terus menari, kegelisahan dan kegalauan kini terbang bersama seberkas cahaya yang tlah lama hilang dari pandangan. Dan kini, akankah Tuhan mendengar kesungguhan rasa yang selalu terlantun dalam untaian do'a Daniel dan Naja? Apapun itu, pasti skenarioNya lebih indah dari pada sekedar harapan umat manusia.
"Baiklah, Tuan Daniel. Apakah Anda sudah siap?" tanya dokter itu, memastikan kesiapan Daniel sebelum perban yang membalut matanya dilepaskan.
"Iya, Dok. Saya sudah siap. Apa kamu benar-benar siap, Sayang?" Daniel justru melempar pertanyaan dokter itu kepada Naja, sambil menggenggam erat tangannya.
"Kami siap, Dokter," sahut Naja dengan keyakinan penuh di hatinya.
"Baik. Silahkan duduk, Tuan," ucap seorang dokter dengan sopan.
Setelah Daniel mengambil posisi duduk, seorang dokter pun mendekati Daniel, dan mulai membuka plester yang merekatkan satu bagian kasa ke kasa lain yang membalut mata hingga mengitari bagian kepalanya. Begitu plester itu di lepas, dengan telaten sang dokter membuka perban yang melingkar di kepala Daniel dengan gerakan memutar.
Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, wajah semua yang hadir semakin menegang. Empat putaran, lima putaran, Daniel mengeratkan genggaman tangan, begitu juga dengan Aghata dan yang lainnya. Bahkan kini Rani menutup matanya dan memeluk Ryan dengan erat, begitu juga dengan Lena. Dia membalikkan badannya dan bersembunyi di balik dada bidang suaminya, karena begitu tegang menyaksikan detik-detik yang menentukan nasib hidup saudaranya. Enam putaran, tujuh putaran, delapan putaran, hingga putaran ke sembilan yang merupakan akhir dari ujung perban pun berhasil dilepaskan.
"Baik, Tuan Daniel. Tinggal dua buah kasa yang menutup mata Anda. Dengarkan baik-baik perkataan saya! Apapun yang Anda lihat nanti, tetap tenanglah, karena tidak semua keberhasilan dalam sebuah operasi mata langsung normal seperti sedia kala. Ada yang penglihatannya langsung kembali seperti semula, ada juga yang kembali perlahan secara bertahap. Jadi ingat, apapun yang Anda lihat nanti, Anda harus tetap tenang. Oke?" mendengar perkataan dokter itu, jantung mereka semakin berdegup kencang.
"Baik, Dokter," dengan suara gemetar, Daniel mengiyakan perkataan dokter itu.
"By, kok Rani jadi deg-degan banget, By. Rani takut," bisik Rani lirih, sambil mengeratkan pelukannya dalam dekapan suaminya.
"Bantu do'a, Sayang. Hubby yakin, do'a-do'a kita yang Daniel butuhkan sekarang," sahut Ryan setengah berbisik.
__ADS_1
"Oke. Tetap pejamkan mata Anda, Tuan Daniel. Jangan dibuka sebelum saya meminta Anda dan memberikan aba-aba," kata dokter itu sekali lagi.
"Baiklah, Dok," jawab Daniel, sambil menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya lagi secara perlahan.
Dengan pelan, sang dokter mulai membuka satu kasa mulai dari bagian mata kanan Daniel, kemudian beralih mengambil kasa yang menutupi mata kirinya. Setelah menyerahkan sisa kasa, perban dan alat lain pada seorang perawat, dokter itu mulai menghela nafas panjang. Ya, dokter itu juga merasa tegang, mengingat berhasil dan tidaknya setiap tindakan yang dia lakukan, menentukan layak atau tidaknya profesi itu dia jalankan.
"Oke, sekarang dengarkan saya lagi, Tuan. Anda boleh membuka mata Anda dengan perlahan. Ingat, pelan-pelan, Tuan," titah sang dokter yang sukses membuat semua orang semakin gemetaran.
Dengan degup jantung yang berdetak sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya, Daniel pun membuka matanya secara perlahan. Sedetik kemudian, dia mengerjapkan matanya, dan yang terlihat bukan warna hitam yang gelap lagi, tapi sinar abu-abu. Dia mengerjapkan matanya sekali lagi, warna putih terang yang menyilaukan kini masuk, membuat dengan terpaksa dia memejamkan matanya kembali.
"Ada apa, Tuan? Apa yang Anda rasakan?" tanya dokter itu sambil mengerutkan dahinya.
Naja, Aghata dan semua yang ada di sana mulai tegang dan menduga-duga. Bahkan kini air mata Naja meleleh begitu saja, tak bisa membayangkan jika operasi itu benar-benar gagal seperti yang dikhawatirkannya.
"Berilah pertolonganmu, Ya Rabb. Kembalikanlah pengelihatan suamiku. Hamba mohon, Ya Rabb. Hamba mohon," do'a Naja dalam hati.
"Sssttt. Masih dalam proses, Sayang. Mata Daniel masih dalam masa penyesuaian. Butuh waktu untuk bisa normal kembali seperti dulu," jawab Arsen lirih.
"Anda melihat semua hitam? Atau ada warna lain yang Anda tangkap, Tuan?" dokter itu bertanya sekali lagi.
"Bukan hitam, Dokter. Pertama kali saya membuka mata, seperti kabut tebal berwarna abu-abu. Ketika saya mengedipkan mata kembali, cahaya putih tiba-tiba masuk, dan mata saya tidak kuat menangkap sinar itu, Dok. Sinar putih itu benar-benar menyilaukan," jawab Daniel tenang.
"Baik, sekarang mari kita coba sekali lagi! Apakah Anda siap, Tuan? Buka secara perlahan. Oke?" ucap sang dokter penasaran.
Kali ini Daniel membuka mata lebih pelan dari sebelumnya. Bahkan saking pelannya, dia menyipitkan matanya dulu, khawatir kalau sinar putih itu kembali masuk dan tak mampu dia terima seperti beberapa menit yang lalu. Pelan-pelan, Daniel melebarkan matanya dan berkedip-kedip selama beberapa saat. Bayangan kabut tebal kembali datang, kali ini disertai dengan bayangan hitam. Dia pun kembali mengedipkan matanya, lama kelamaan kabut itu memudar, memudar, dan terus memudar, hingga bayangan beberapa orang di depannya mampu dia tangkap dengan sempurna.
__ADS_1
"Bagaimana, Tuan?" dokter itu semakin penasaran.
"Dok, aku bisa lihat semuanya, Dok. Aku benar-benar bisa melihat kalian semua. Mom, Dad, Sayang, semuanya, aku bisa melihat kalian lagi," Daniel berseru girang. Aghata pun langsung menghambur dan memeluknya, begitu juga dengan Arsen ayahnya. Naja yang berada di samping Daniel hanya bisa menangis bahagia sambil membekap mulutnya, begitu juga dengan yang lainnya. Rani memeluk Ryan dengan senangnya, begitu juga dengan Lena dan Arya. Nina dan Davina yang menyaksikan moment mengharukan itu dari balkon kamar pun saling berpelukan penuh suka cita. Bahkan Johan dan Rudi yang terkenal dingin dan datar, waktu itu tak malu mengeluarkan bulir bening itu dari ujung matanya.
"Sayang," begitu Aghata dan Arsen melepaskan pelukannya, Daniel begitu tak sabar ingin melihat wajah cantik Naja yang sudah sangat dirindukannya.
"Mendekatlah!" Daniel mengulurkan tangannya, menyadari Naja hanya terus menangis di tempatnya. Naja pun membalas uluran tangan suaminya dan duduk di sampingnya.
"Apa kau tahu, apa yang ingin kulihat pertama kali jika Tuhan mengembalikan penglihatanku?" Naja menggeleng pelan. Bulir bening dari matanya masih mengalir deras tanpa bisa tertahankan.
"Aku ingin melihat gadis cantik yang berkali-kali meyakinkan aku, bahwa dia akan menjadi mata untukku dan menjadikan duniaku penuh dengan warna. Aku ingin sekali melihat istri setiaku yang bahkan bersedia menjadi kaki dan tangan buatku, yang akan membuatku merasa memiliki dunia. Dan aku benar-benar ingin melihat wanitaku yang mengatakan bahwa cinta itu ada di dalam hatiku dan hatimu. Cinta tidak hanya tumbuh di mataku dan matamu, juga lahirku dan lahirmu. Cinta adalah bahasa jiwa yang tak mampu tergantikan oleh jutaan kata di dunia, bahkan kesempurnaan fisik yang menyilaukan mata. Kau tahu siapa gadis itu? Dia adalah kamu," Daniel tak mampu membendung air matanya. Dia pun langsung menarik tubuh Naja dan mendekapnya erat, seolah tak rela jika dia harus melepasnya.
Semua yang menyaksikan drama itupun ikut tergugu. Dada mereka begitu sesak penuh haru, menyaksikan dua cinta yang tetap menjadi satu seperti apapun cobaan yang mengganggu.
"Kami ikut bahagia, Tuan. Tapi Anda tetap harus mengontrol mata Anda secara rutin, agar jika ada masalah, kami bisa mengambil tindakan secepat mungkin," kata dokter itu dengan senyum bahagia.
"Baik, Dok," jawab Daniel sambil melepaskan pelukannya.
"Satu lagi, Tuan. Masih ada beberapa obat dan antibiotik yang harus kami berikan, karena itu, besok pagi Anda baru diperbolehkan pulang," kata dokter itu lagi.
"Baik, Dokter. Terima kasih atas bantuannya," sahut Daniel dengan senyum termanisnya.
Dokter itupun pamit dan keluar meninggalkan mereka semua.
"Terima kasih, Dok," semua yang berada di ruangan Daniel berterima kasih secara bersamaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG