
Kini, kegundahan menerjang segala rasa bimbang dalam hati Nina. Resah yang ikut menerpa, membuat batas antara cinta dan keselamatan hidupnya seolah tak terlihat sekatnya.
Semua masih memandang Nina dengan tatapan penuh makna. Mereka semua menunggu gadis tujuh belas tahun itu membuka mulutnya dan memberikan jawaban apa yang akan dia berikan atas keputusan Daniel terhadap hal yang begitu berarti dan akan menentukan satu babak baru pada salah satu fase dalam kehidupannya.
"Sa ... saya anu ... eh itu ... saya ...," jawab Nina terbata, tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan semua orang yang tertuju kepadanya.
"Huh, aku harus menjawab apa? Salahkah jika aku menimbang keraguan dalam hatiku? Sungguh, menikah di usia muda sangat jauh dari apa yang bergejolak dalam hatiku. Tapi ..., ahh ..., bagaimana bisa secepat ini?" gumam Nina dalam hati.
Nina memandang wajah orang-orang yang ada di depan satu per satu. Bibirnya bergetar, begitu juga dengan hatinya yang bergemuruh tidak beraturan. Matanya sudah berkaca-kaca, namun dia tetap berusaha agar air itu tidak jatuh dan tetap menggenang di sana. Hingga tiba-tiba, hal mengejutkan Johan lakukan.
Johan beranjak dari sisi Daniel kemudian mendekati Nina yang saat itu duduk persis di tengah-tengah Arsen dan ibunya yang berada di kursi roda. Johan duduk tanpa alas di atas lantai tanah bewarna hitam pekat tanpa peduli semua itu akan mengotori pakaiannya. Dia menatap Nina lekat, kemudian memberanikan diri membuka mulutnya.
"Menikahlah dengan saya, Nona Nina! Saya berjanji tidak hanya akan menjaga Nona seumur hidup saya, tapi saya juga akan mencintai Nona sepenuh hati saya dan menjadi suami yang baik untuk Nona," tidak tahu mendapatkan kekuatan dari mana, Johan betul-betul terdorong untuk melamar Nina langsung dari mulutnya.
Usia mereka memang terpaut jauh, hampir 6 tahun. Tapi rasa iba yang awalnya muncul saat Johan membawa dan menemani Nina di rumah sakit sudah berubah menjadi rasa cinta di hati Johan. Sejak kapan? Tidak ada yang tahu dari kapan rasa cinta itu tumbuh subur dan bersemi di dalam hatinya, yang jelas rasa itu benar-benar telah ada.
Nina dan semua yang berada di tempat itu sungguh tidak menduga kalau kata-kata itu akan keluar dari mulut Johan. Pikir mereka, Johan hanya akan melakukan apa yang Daniel perintahkan saja, dan tidak akan berinisiatif untuk melamar gadis itu tanpa perintah tuannya. Tapi yang Johan lakukan ini, betul-betul tak seperti apa yang mereka kira.
"Jangan kaget gitu, Sayang. Sejak kita di rumah sakit waktu itu, aku sudah tahu kalau Johan menaruh hati padanya," Daniel berbisik di telinga istrinya, ketika melihat Naja sampai membulatkan mulutnya karena heran dengan apa yang sedang dilihatnya.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu, Sayang?" sahut Naja ikut berbisik.
"Perhatian yang Johan berikan saat di rumah sakit itu sungguh bukan perhatian biasa. Dia benar-benar tulus merawat dan menunggui Nina walau awalnya aku yang memerintahkannya. Dari cara dia memperlakukan Nina, tidak seperti saat dia memperlakukan wanita manapun yang pernah ditemuinya," jawab Daniel lirih.
"Ooo," mulut Naja semakin membulat.
Sementara Nina yang tidak siap dengan pertanyaan yang Johan lontarkan secara langsung kepadanya masih juga tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia hanya menatap ibu dan pamannya secara bergantian, seolah ingin meminta pertimbangan.
Melihat gelagat Nina, Johan mengambil inisiatif lagi untuk meminta restu kepada paman dan ibu Nina.
"Tuan, Ibu, apakah kalian menerima lamaran saya? Saya memang hidup sebatang kara, karena mereka meninggalkan saya di dunia yang kejam ini sejak saya usia remaja. Hanya Tuan Daniel satu-satunya orang yang saya punya. Tapi percayalah bahwa saya mencintai Nina dan akan menjaganya juga kalian dengan seluruh jiwa raga dan kekuatan yang saya punya," tanpa ada keraguan sedikit pun, Johan kembali melamar Nina kepada orang tuanya.
"Aku suka dengan gayamu, Anak Muda. Tak diragukan lagi kenapa putraku memilihmu untuk menjadi pengikutnya yang setia. Nikahilah Nina dan setelah kalian menikah, tanggung jawab atas keselamatan Nina dan ibunya berada di bahumu," semua tersenyum lega mendengar jawaban Arsen yang cukup bijaksana. Hanya Nina saja yang masih juga ragu menghadapi pernikahannya di usia muda, karena semua hadir begitu saja tanpa pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
Mendengar jawaban Arsen, rasanya jawaban Nina sudah menjadi tidak penting lagi. Seperti apapun perasaan yang berkecamuk dalam benaknya, dia hanya bisa pasrah menerima semuanya. Bahkan hanya sekedar untuk menatap gambaran diri calon suaminya, Nina pun benar-benar tak kuasa. Bukan karena pria itu tak tampan, karena pada kenyataannya ketampanan Johan sudah sangat jauh di atas rata-rata. Semua kagalauan dalam hatinya itu justru hadir karena dia masih tidak percaya dengan apa yang seolah datang begitu tiba-tiba.
"Baiklah, kita pulang sekarang juga. Tidak perlu berkemas dan membawa barang kalian, karena pelayan sudah menyiapkan semuanya," titah Daniel yang disambut dengan anggukan kebahagiaan dari seluruh telinga yang mendengarnya.
***
__ADS_1
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, hingga tibalah mereka pada hari yang ditunggu-tunggu.
Dua hari adalah waktu yang bisa dibilang sangat singkat untuk persiapan sebuah acara pernikahan. Sebenarnya bagi Johan, membuat acara hanya dalam waktu sekejab adalah hal yang biasa, karena Daniel selalu mengucapkan titahnya semaunya. Namun, kali ini Johan sama sekali tidak dibiarkan mengurusnya. Karena ini adalah acara miliknya, maka Arya dan Rudi sengaja mempersiapkan semuanya tanpa campur tangannya.
Dan ya, hari yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nina Irana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai." Setelah sebelumnya Johan melafazkan dua kalimat syahadat, dengan lancar dia melafazkan ijab kabul yang diselenggarakan di kediaman Daniel itu.
Ya. Acara memang sengaja dilaksanakan disana, karena rumah itu yang akan menjadi tempat tinggal Johan, Nina, Arsen dan juga Mira untuk selamanya, karena Daniel, Naja dan juga Aghata tak Ryan biarkan untuk keluar dari rumahnya.
Dalam waktu sekejab pun Johan telah resmi menjadi suami Nina, seiring dengan kata sah yang terdengar memekik di semua telinga yang mendengarnya.
Begitulah cara Allah menunjukkan kepada semua hambaNya, bahwa Dialah penulis skenario kehidupan terindah yang jika Dia berkata, "Jadi," maka jadilah. Begitulah manusia mengarungi nada-nada kehidupan, mereka hanya sekedar berputar mengikuti naskah drama yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya.
BERSAMBUNG
💖💖💖
Like, vote dan rate 5 nya dong...
__ADS_1