METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Di atas sana, kini berjuta bintang berkedip menawan. Gumpalan kapas hitam yang berarak pun tiba-tiba menghilang, padahal beberapa saat tadi masih turun hujan. Mungkin ini pertanda, bahwa alam sedang menunjukkan rasa bahagianya. Begitu juga dengan udara yang berhembus di antara burung-burung malam yang bernyanyi. Gerakannya yang sepoy perlahan, seolah memuji kebesaran Tuhan Yang Maha Menciptakan. Apalagi ketika rembulan akhirnya datang, satelit bumi itu


segera hadir menggantikan kegelapan, membuat pesonanya begitu menyejukkan. Seperti itu jugakah perasaan jiwa-jiwa yang kini justru sedang dilanda kecemasan?


"Ahh," Daniel mendesah sendu. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali perlahan.


"Bagaimana jika transplantasinya gagal?" tanya Daniel sambil meraba sekitar tempat tidurnya, mencari tangan Naja. Gurat kecemasan benar-benar terlihat dari wajah Daniel saat itu.


Naja segera meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


"Maksimalkan ikhtiar dan kuatkan dengan do'a, Sayang. Berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dia akan memberi sesuai dengan apa yang kita prasangkakan kepadaNya," tutur Naja menguatkan.


Beberapa saat kemudian, Aghata, Arsen, Arya, Lena, Johan juga Nina masuk ke dalam ruangan. Sementara Ryan dan Rani bersama Rudi yang akan menghadiri pemakaman Tuan Atmaja, akhirnya ikut bergabung juga mengingat pemakaman akhirnya akan dilaksanakan keesokan paginya.


“Pasrahkan sama Allah,” ucap Ryan sambil menepuk bahu Daniel dengan sayang.


"Iya, aku harus pasrahkan semua kepadaNya," Daniel terlihat memaksakan senyumnya, walau gurat kecemasan tetap tak mampu dia sembunyikan.


Sepuluh menit berselang, seorang perawat masuk dan mengabarkan bahwa Daniel harus segera bersiap-siap. Tak lama kemudian, dengan hati-hati perawat itu menyuntikkan tiga macam cairan ke dalam selang infus yang sudah terpasang sebelumnya di tangan kanan Daniel.

__ADS_1


Ya, hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Daniel akan menjalani operasi malam itu juga. Sebelum perawat itu membawa Daniel ke ruang operasi, seorang pria sepuh datang dan memimpin do’a. Daniel, Naja dan semua yang datang untuk menunggui Daniel menjalani transplantasi pun berkumpul dalam keheningan. Mereka semua menundukkan kepala, memejamkan mata dan mulai mengamini do’a demi do’a yang pria sepuh itu eja untuk meminta kepada Sang Maha Pencipta. Dan untuk yang pertama kalinya, Daniel merasa bahwa do’a itu mampu meruntuhkan kesombongan dan menusuk-nusuk kalbunya. Air mata pun tiba-tiba berderai, bukan hanya dari mata Daniel, tapi juga semua mata yang kini sudah larut dalam untaian do'a yang mereka minta.


Setelah do’a bersama selesai, dua orang perawat mendorong ranjang Daniel, diikuti seluruh keluarganya di belakang. Naja yang berusaha mengikuti langkah cepat perawat itupun tetap berjalan di samping Daniel terbaring, sambil terus memegangi tangan suaminya. Mereka melewati ruangan demi ruangan dan lorong-lorong panjang, sebelum akhirnya sampai di ruang operasi yang sudah menunggu-nunggunya.


“Mohon maaf, keluarga mohon menunggu di sini,” ucap seorang perawat sebelum membuka pintu ruang operasi.


“Sayang, kami tunggu di sini, ya. Kami semua berdo’a untukmu. Ingat, Allah akan memberikan sesuatu sesuai prasangka hambaNya. Semangat demi aku, oke? Aku mencintaimu,” ucap Naja sambil mengecup dan mengelus ujung kepala suaminya.


“Iya, Sayang. Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah cantik istriku lagi. Aku juga mencintaimu,” sahut Daniel sambil melepas genggaman tangan istrinya.


Detik demi detik pun berjalan. Naja terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, seolah dengan begitu waktu akan berputar lebih cepat dari biasanya.


“Tenanglah, Naja. Kita berdo’a sama-sama semoga semuanya berjalan sesuai rencana,” ucap Aghata, demi menenangkan menantunya.


“Huh,” Naja terlihat membuang nafas kasar, seolah dengan begitu rasa cemasnya akan hilang.


Hingga tak terasa, waktu dua jam pun terlewati begitu saja. Lampu di atas pintu ruang operasi padam, menandakan operasi telah selesai dilakukan. Dan benar, seorang dokter keluar dan menemui mereka dengan ekspresi yang berbinar.


“Bagaimana operasinya, Dok?” Ryan langsung beranjak dan menghampiri sang dokter dengan begitu penasarannya.

__ADS_1


“Alhamdulillah operasi berjalan dengan sangat lancar. Kami akan segera memindahkan Tuan Daniel ke ruang perawatan. Beliau harus tetap dirawat di rumah sakit ini sampai perbannya bisa dilepas dan kita mengetahui apakah penglihatan Tuan Daniel sudah berfungsi dengan normal,” jelas dokter itu dengan seulas senyum yang terus melengkung di bibirnya.


“Kira-kira berapa lama hingga perbannya bisa dibuka, Dok?” tanya Naja tak sabar.


“Setidaknya butuh waktu delapan hari, Nona,” jawabnya, kemudian kembali masuk ke dalam ruangan.


Tak berapa lama, pintu kamar operasi terbuka. Daniel dengan mata yang sudah dililit perban itu kini digiring oleh dua orang perawat menuju ruang rawat inap dimana Daniel dirawat pasca jatuh dari tangga.


Bagitu sampai dan perawat itu pamit keluar, suasana hening pun tak bisa terelakkan. Semua larut dengan pikiran masing-masing, saat menunggu Daniel tersadar dan efek dari obat biusnya hilang. Naja yang terus berada di samping ranjang Daniel tak henti-hentinya melafazkan do’a, sambil menggenggam erat tangan suaminya. Aghata yang memilih duduk di sofa, terus bersandar di bahu Arsen yang kini duduk di sebelahnya. Arya dan Lena yang sudah duduk di samping Aghata, juga hanya terdiam memandang Daniel yang masih juga belum tersadar. Begitu juga dengan Rani dan Ryan yang duduk di sofa lain yang terletak di depan mereka. Sambil terus mengelus perut istrinya, Ryan tak henti-hentinya mengecup kepala Rani yang selalu bermanja tanpa malu dimanapun saat itu mereka berada.


Berbeda dengan semua orang yang memilih di dalam ruangan, Johan dan Nina justru menunggui Daniel di balkon kamar perawatan. Nina yang berdiri sambil melihat pemandangan lampu malam di kota itu, dipeluk suaminya dari belakang. Ya, ini di luar kebiasaan Johan. Biasanya Johan hanya akan bersikap manis kepada Nina saat berada di dalam kamar, itu pun bisa dibilang sangat jarang. Tentu saja karena Johan selalu dingin dan sangat mementingkan pekerjaan. Tapi sejak Nina meluapkan emosinya sore itu, akhirnya Johan tersadar betapa dia takut kehilangan.


“Jangan pernah tinggalkan aku,” bisik Johan di telinga Nina.


“Tidak akan pernah, Sayang,” Nina melihat ke arah Johan, kemudian terus bersandar pada dada bidang suaminya yang kini semakin merapat, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka berdua.


Hingga sebuah suara dari arah dalam, mengagetkan semua orang.


“Sayang, kau sudah sadar?” cicit Naja.

__ADS_1


Mendengar Naja mengucapkan itu dengan begitu kerasnya, semua orang pun bergegas menghampiri Daniel dan mengambil posisi melingkar di sekitar ranjang, dimana dia terbaring dan berusaha mengembalikan kesadarannya secara pelan-pelan.


BERSAMBUNG


__ADS_2