METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Good Night


__ADS_3

Tidak dapat Indra pungkiri, memang klausul yang menyebutkan bahwa Zara tidak boleh menghubungi Ryan secara langsung tidak pernah Indra sebutkan kepada Zara, bahkan benar-benar sama sekali tak terpikirkan dalam benaknya, sehingga Indra pun tak bisa menyanggah setiap ucapan Zara kepadanya.


"Ada dua alasan, Tuan," ucap Zara saat Indra menanyakan kenapa dia menghubungi tuannya secara langsung tanpa berkomunikasi melalui Indra.


"Apa?" Indra mendengarkan alasan Zara dengan seksama. Waktu itu dia yakin, bahwa Zara hanya akan memberikan sebuah alasan yang mengada-ada.


"Yang pertama, karena peraturan pertama saya tidak boleh menghubungi Anda terlebih dahulu, sebelum Anda menghubungi atau menemui saya. Yang kedua, Anda tidak membuat peraturan bahwa saya tidak boleh menghubungi langsung Tuan Ryan Dewangga. Jadi karena situasi malam tadi begitu sangat mendesak, terpaksa yang saya hubungi adalah Tuan Anda, yang sekarang juga menjadi tuan saya," jelas Zara dengan begitu yakinnya.


Ucapan Zara yang terakhir itu merupakan pukulan telak untuk Indra. Dan kali ini, Indra sudah benar-benar kalah dari Zara, dan tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Bodoh. Bodoh. Bodoh. Kenapa aku tak memikirkan hal itu?" gerutu Indra dalam hati.


"Baiklah, Zara. Ini memang bukan salahmu. Tidurlah, istirahatkan tubuhmu. Besok kita akan bekerja keras untuk menemukan siapa sebenarnya kedua orang itu," Indra memelankan suaranya.


"Tumben suaranya enak di dengar. Biasanya dia selalu ingin menang," batin Zara dalam hati.


"Terima kasih, Tuan," sahut Zara sambil mengangguk pelan.


Mendengar jawaban Zara, Indra pun beranjak hendak pulang ke apartemennya. Tapi sebelum dia melangkahkan kakinya, entah dorongan dari mana, tangannya seolah tak bisa ditahan untuk tidak mengelus kepala Zara. Ya, ini benar-benar ajaib dan aneh baik menurut Zara maupun Indra, karena tiba-tiba Indra mengusap kepala Zara sebelum dia meninggalkan Zara dan pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya juga.


Dan untuk pertama kalinya, malam itu mereka berpisah dengan nuansa syahdu. Tanpa pertengkaran, tanpa kemarahan, dan tanpa adanya cacian.


"Good night, Zara,"

__ADS_1


"Good night,"


***


Malam ini, Indra benar-benar terganggu dengan ucapan Naja saat di kamar tuannya itu.


"Aku sama sekali tidak melihat keraguan di mata Indra, tapi aku melihat di sana justru ada cinta," ucapan kakak kandungnya beberapa saat yang lalu terus berputar-putar di benaknya.


"Cih. Kenapa aku jadi buang-buang waktu memikirkan sesuatu yang sama sekali tak penting begini sih?" Indra berusaha menghalau lintasan-lintasan pikiran yang secara sekilas berkelebat dan begitu mengganggu hati dan jiwanya.


Sedetik kemudian, Indra memejamkan mata agar semua lintasan pikiran itu segera hilang dan berlalu, tapi justru di benaknya kini berkelebat ingatan demi ingatan saat dia bersama Zara. Mulai saat pertemuan pertama yang begitu menegangkan, hingga kejadian sesaat tadi dimana Indra mencium Zara dengan paksa, kini bermunculan bagai slide dan berputar-putar dalam ingatan.


"Apakah ini cinta?" gumam Indra lirih.


"Huh, tak mungkin. Ini sungguh-sungguh mustahil dan tak akan pernah terjadi," Indra terus bermonolog tanpa peduli bahwa kini dia sedang di apartemennya seorang diri.


"Apakah kau sudah tidur, Zara?" tak terasa kata itu yang keluar dari mulutnya.


Bahkan kini, Indra menatap ke atas, seolah tatapan itu bisa mengantarkannya pada gadis yang beberapa hari ini telah membuat sibuk hatinya.


"No. No. No. Lupakan dan hempaskan. Kenapa dengan diriku ini? Kenapa aku terus saja memikirkan gadis itu sih?" Indra dibuat kesal dengan hatinya sendiri.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Zara sudah masuk ke dalam selimutnya, setelah menanggalkan handuk yang sempat melilit tubuhnya dan menggantinya dengan gaun tidur nyaman yang akan menemaninya tidur hingga pagi datang.


Namun malam itu, sungguh ada sesuatu yang terasa berbeda di hati Zara. Tiba-tiba hatinya terasa sepi, kesendiriannya pun menyeruak dan kian meronta. Kendati pun dia sudah sangat terbiasa hidup seorang diri selama beberapa tahun terakhir ini, tapi rasa rindu kepada orang-orang yang telah mendahuluinya pergi dan meninggalkan Zara seorang sendiri, seketika muncul tanpa bisa dihalau lagi.


"Aku rindu kalian. Jika saja masih ada kalian yang menemaniku di sini, mungkin cerita hidupku takkan pernah serumit ini," tak terasa, bulir bening itu menetes dari ujung mata Zara, membuat bantal warna putih yang dia gunakan untuk menyangga kepalanya menjadi basah karena linangan air mata.


Zara pun kembali duduk dan menyalakan lampu yang berada di samping tempat tidurnya. Sedetik kemudian, dia membuka sebuah laci yang berada di samping kanan kasur empuk yang ditempatinya, kemudian meraih sebuah foto yang terparkir cantik di sana.


Zara memandangi foto itu dengan segala kerinduan yang ada di hatinya. Dilihatnya satu per satu foto orang-orang yang dia cinta, yang telah pergi meninggalkan Zara berjuang seorang diri di dunia ini.


Dari foto kedua orang tuanya, pandangan Zara beralih pada satu foto lagi yang sedang dipegangnya. Seorang pria yang entah saat ini berada dimana, seolah kini sedang memandang Zara dengan lekat dari tempatnya.


"I love you," lirih Zara sambil mengecup dua foto yang berada di tangannya, kemudian meletakkan foto itu lagi ke tempat semula.


Kini, Zara justru asyik memandangi langit-langit kamarnya dengan segala rasa aneh yang kini dia rasa. Dia mencoba memejamkan matanya, namun perlakuan Indra sesaat tadi tiba-tiba terngiang begitu saja dan selalu muncul di depan matanya.


"Bahkan dalam tidurku pun kau masih saja mengganggu, Tuan," Zara bergumam-gumam kecil.


"Ho-ho-ho, tapi kau telah berhasil mencuri ciuman pertamaku. Bagaimana nantinya aku mempertanggungjawabkan semuanya kepada suamiku?" gerutunya lagi berkali-kali. Maklum saja, Zara memang gadis masa kini, tapi untuk urusan yang satu ini, dia benar-benar belum terjamah sama sekali.


"Tapi kenapa dia berubah jadi lembut ya?" Zara kembali bermonolog dengan dirinya sendiri, mengingat Indra yang terlihat begitu tulus mengusap kepala Zara sebelum akhirnya pulang menuju apartemennya.


"Ihhh, kenapa sih aku ini? Kenapa bayangan Tuan Misterius itu terus menggangguku?" teriak Zara dengan kesal, sambil menutupkan selimut itu hingga kepalanya masuk dan terbenam bersama, di tempat tidur besar miliknya.

__ADS_1


Dan ya, baik Zara maupun Indra malam itu sama-sama tak bisa memejamkan matanya. Bukan karena di hati mereka sudah tumbuh bunga-bunga cinta, tapi karena bayangan kejadian di antara mereka berdua di malam itu sangat mengganggu dan tak bisa hilang dari pelupuk mata.


BERSAMBUNG


__ADS_2