
Rani memejamkan matanya sesaat, sekedar mendinginkan mesin di tubuhnya dan menghilangkan penat setelah beberapa jam berkutat dengan segala permasalahan rakyat yang seolah tak akan pernah habis meski masa berganti dengan masa yang berbeda. Rasa nyaman yang hampir selalu Rani dapatkan saat matanya terpejam pun berhasil membawanya ke alam mimpi.
"Kita sudah sampai, Nona. Maaf mengganggu istirahat Anda," tutur Naja lembut, bersamaan dengan suara pintu mobil yang dibukanya.
Rani segera terbangun dari tidurnya. Sedikit bingung, matanya mengedarkan pandangan ke samping kanan dan samping kiri mobil.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku akan makan siang di sini? Bukankah aku belum memberitahumu tadi?" Rani kaget saat menyadari bahwa dirinya sudah berada pada sebuah cafe, tempat favorit Rani pada jam makan siang. Hampir setiap hari, Rani selalu makan di tempat itu.
"Anda sudah memberi tahu saya, Nona," jawab Naja berbohong. Dia tidak mungkin memberi tahu bahwa sebenarnya dia sudah sangat hafal dengan hal rutin yang setiap hari dilakukan oleh nonanya.
"Gitu ya? Masa sih? Ahh sudahlah, ayo kita masuk! Perutku sudah berdemo minta dikasih makan," Rani segera turun dan melenggang begitu saja ke dalam cafe, tidak mau ambil pusing apalagi berdebat dengan gadis kutub es itu.
Cafe itu cukup digemari, karena tempatnya yang cukup asyik untuk sekedar nongkrong atau melepas lelah. Ruangannya yang tampak luas dengan atap yang tinggi, membuat siapapun yang datang serasa masuk hanggar. Meja dan kursinya ditata dengan gaya seni yang tinggi makin membuat cafe itu semakin unik. Selain indoor, di sini juga ada lokasi outdoor dengan kebun hijau dan asri, hal ini yang membuat Rani tak mau barang sehari pun makan siang di tempat lain.
Setelah seorang pelayan menunjukkan meja yang kosong, Rani berjalan mengikuti pelayan itu kemudian duduk sebelum akhirnya menerima buku menu. Naja hanya mengekor kemana kaki nonanya melangkah. Setelah memastikan bahwa Rani telah mendapatkan mejanya dan mengambil posisi duduk, Naja mencari meja lain di belakang Rani dan mengambil posisi duduk sendiri di sana.
"Apa-apaan kamu, Naja. Kenapa kamu duduk di situ?" geram Rani. Dia semakin tidak mengerti dengan hal-hal aneh yang dilakukan supir barunya itu.
"Saya makan di sini saja, Nona," Naja menjawab dengan gaya khas kutub es nya.
"Kalau begitu aku akan telphon Papa Prabu. Akan aku bilang bahwa kau selalu membangkang perintahku," Rani semakin kesal dengan sikap berlebihan Naja itu.
"Tidak berani, Nona. Apa yang Anda inginkan?" Naja sadar bahwa Rani tak pernah main-main dengan ucapannya, apalagi ketika dia sudah marah.
"Duduklah di sini dan temani aku makan!"
"Baik, Nona," akhirnya Naja menurut.
__ADS_1
Lagi-lagi, Rani tersenyum puas penuh kemenangan. Melihat Naja yang bekerja dengan sangat prosedural seperti sudah ada protokol yang ditetapkannya sendiri, entah kenapa membuat Rani justru merasa risih. Meskipun hari ini tidak ada drama ketika Rani berpamitan kepada suaminya untuk mulai masuk kerja setelah mengambil cuti sekitar dua pekan, namun lepas dari Ryan kemudian masuk ke dalam perangkap Naja seolah semuanya menjadi tidak ada bedanya. Stress, yang Rani rasakan di hari pertama Naja bekerja untuknya.
"Nah, gitu baru benar," ucap Rani merasa puas, melihat Naja menuruti perkataannya. Kini Naja berpindah dari mejanya dan duduk berhadapan dengan Rani.
"Kamu mau makan apa?" lanjut Rani sambil terus sibuk membolak-balikkan buku menu yang ada di tangannya.
"Terserah Nona saja. Saya bisa makan semuanya," jawab Naja singkat. Dia justru asyik memainkan matanya menyapu ke sekeliling cafe, seolah sedang mencari sesuatu, bahkan mungkin sedang mengawasi kalau-kalau ada hal yang akan membahayakan nonanya.
"Ayolah, Naja. Tidak akan terjadi apa-apa denganku. Santai dikit. Ok?" seperti mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Naja, Rani melancarkan protesnya.
"Baik, Nona," menuruti semua perkataan nonanya. Hanya itu yang menjadi satu-satunya pilihan untuk Naja.
"Saya akan menuruti semua kemauan Anda, Nona. Dari pada Anda berbuat yang tidak-tidak hanya untuk mengerjai saya dan justru menambah pekerjaan saya," batin Naja.
Rani pun tersenyum penuh arti melihat Naja yang menuruti kemauannya. Sambil menunggu makanan datang, Rani lebih memilih untuk bermain dengan benda pipih canggih miliknya dan mengecek semua akun media sosial yang dimilikinya. Sebenarnya dia tidak tahan jika harus diam sementara ada orang lain di hadapannya. Karena lidahnya selalu terasa sangat gatal untuk mengajak ngobrol siapapun yang sedang ada di dekatnya. Namun mendengar jawaban Naja saat pagi tadi dia menanyakan beberapa hal kepadanya, membuat Rani menahan hasrat ingin bicaranya.
"Paling dia bilang hanya Papa Prabu yang berhak menjawabnya jika aku ajak bicara. Huh, menyebalkan," gumam Rani dalam hati.
Di saat Rani dan Naja sibuk dengan aktivitas masing-masing, tiba-tiba seorang pelayan datang dengan membawa seluruh pesanan mereka.
"Silahkan, Nona. Selamat menikmati," ucap pelayan itu setelah seluruh menu yang di pesan Rani sudah terhidang di atas meja.
"Terima kasih," jawab Rani ramah, kemudian langsung meraih sendok dan garpu hendak langsung menyantap makanannya.
"Tunggu sebentar, Nona," cegah Naja, agar Rani tidak langsung makan begitu saja.
"Kenapa?" Rani mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Naja.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan tatapan aneh dari sang nona, Naja segera meraih sendok kecil yang ada di dekatnya, kemudian mengambil sedikit jus mangga dari gelas Rani dan memasukkan ke mulutnya. Setelah dirasa aman, dia mengambil sendok lain yang bersih dan mengarahkan pada tenderloin steak dari hot plate milik Rani kemudian mencicipinya. Setelah dia yakin bahwa tidak ada hal aneh pada makanan nonanya, kemudian dia mengangguk.
"Silahkan, Nona. Anda sudah bisa memakan makanan Anda sekarang," tutur Naja tidak menghiraukan Rani yang hanya mlongo melihat kelakuan supir cantiknya itu.
"Najaaa! Kamu pikir cafe ini akan meracuniku? Huh. Sungguh menyebalkan. Aku sudah lapar tau?" gerutu Rani, begitu kesal menyadari apa yang baru saja Naja lakukan.
"Apakah Anda sungguh tidak tahu bahwa Anda mempunyai banyak musuh, Nona? Anda terlalu berprasangka baik. Padahal saat ini banyak sekali orang yang sedang ingin menghancurkan Anda," gumam Naja dalam hati.
BERSAMBUNG
❤❤❤
**Hallo pembaca setia, selain cerita ini, author juga ingin merekomendasikan karya author lain yang supir keren nih.
Nama pena : AliceLin
Judul : My Fate Is You
Genre : Romance, comedy**
Sinopsis :
Terkadang takdir hanya memberikan kesempatan untuk mengenalnya, bukan untuk memilikinya. Takdir selalu memiliki jalannya, entah itu berderai air mata atau berderai air mata.
Amira Lin, seorang gadis belia putri pengusaha Lin Corp bertemu dengan Vincent Zhang, seorang Presdir perusahaan Royal Group karena ikatan takdir yang mereka miliki. Mereka berusaha menjalani takdir mereka masing-masing. Di saat mereka memutuskan bersama, ada sebuah misteri besar yang mengguncang kisah cinta mereka berdua.
__ADS_1
Sanggupkah mereka berdua menghadapinya? Apakah mereka memang ditakdirkan bersama atau malah sebaliknya?
"Bertemu denganmu adalah nasib, tetapi tak bisa bersamamu adalah takdir yang ingin kuhindari."a