
Di sinilah Indra sekarang. Di balkon kamar sebuah ruang perawatan rumah sakit, yang dari sana, dia bisa melihat dengan jelas garis batas cakrawala. Dia berdiri bersandar pada pagar pembatas balkon, dengan botol infus yang dia gantungkan di sebuah tongkat besi yang bisa leluasa dia bawa pergi dari area ranjang pesakitan yang dia tiduri dua hari ini.
Sesekali, Indra terlihat meringis menahan perih, akibat puluhan luka yang masih basah di sebagian besar anggota tubuhnya, meski rasa sakit itu sama sekali tak sepadan jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
Indra menarik nafas panjang berkali-kali, menyadari bahwa hanya dengan satu helaan nafas saja, penat yang bergelayut dalam hatinya belum mampu terlewati. Ya, ternyata satu rasa yang seharusnya bermain indah dalam jiwanya pun hanya bisa dia kabarkan pada angin yang berhembus, sambil membayangkan sepotong senyum Zara yang masih terbayang jelas dalam netranya.
"Aku rela meski tak bisa dekat denganmu lagi. Walau rindu di hatiku kan terus bernyawa, tapi aku ridho tak bisa mendengar ocehanmu lagi dan lagi," gumam Indra dalam hati.
Sesuai permintaannya, Indra tahu bahwa hari ini adalah hari bahagia Zara bersama laki-laki pujaan hatinya. Sakit? Tentu saja sakit itu kian terasa. Bahkan kini, cinta tak terbilang itu menguat begitu saja tanpa bisa terkejar kemanapun arah dia pergi.
"Jadilah seperti apa yang kamu inginkan, Zara. Kan kubiarkan jiwaku berputar melintasi hidupku sendiri tanpa senandung cintamu. Aku mencintaimu, karena itu aku memahami kemana kau labuhkan hatimu itu," batin Indra lagi.
Indra sudah memikirkannya betul-betul dan meyakinkan hatinya untuk bisa tegar, walau rindu itu kini menusuk-nusuk bagai belati. Ya, saat takdirnya tidak sesuai dengan apa yang didambakan, maka Indra benar-benar tak ada pilihan selain berlapang dada saat pelangi di hatinya pergi dengan pujaan hatinya.
Tapi tiba-tiba, Indra merasakan ada seseorang yang menyentuh punggungnya, sebelum akhirnya melingkarkan tangannya begitu saja di pinggangnya, kemudian memeluknya dari belakang dengan begitu eratnya.
"Apa Anda benar-benar ingin melepaskan saya, Tuan?" suara yang begitu Indra kenal, terdengar begitu jelas di telinganya.
"Zara!" Indra langsung membalikkan tubuhnya.
"Kenapa kau kemari? Ayo kembali ke kamarmu! Kau harus banyak istirahat, untuk memulihkan kondisimu, Zara. Dan ini, apa ini? Kau melepas secara paksa jarum infus dari tanganmu? Dasar gadis keras kepala," omel Indra sambil menatap Zara penuh makna.
"Tolong jangan lepaskan saya, Tuan. Saya mencintai Anda," Zara tak menghiraukan Indra yang mencecarnya dengan banyaknya pertanyaan dan omelan. Zara justru kembali memeluk Indra dengan begitu eratnya, sambil terus terisak dalam tangisnya.
Indra yang belum bisa mencerna apa yang dilakukan oleh gadisnya itupun justru berusaha melepaskan pelukan Zara.
"Dengarkan aku, Zara. Kau berhak bahagia dengan laki-laki pilihanmu. Aku sudah bilang kepada Tuan dan Nona, bahwa aku menolak perjodohan itu karena telah ada nama pria lain di dalam hatimu. Jadi kau tak perlu takut akan melanggar janji setiamu, karena majikan kita sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku dan mempertemukanmu dengan pria pujaan hatimu," walau sakit, Indra berusaha setenang mungkin meyakinkan Zara bahwa semua akan tetap baik-baik saja meski Zara menolak perjodohan mereka.
__ADS_1
"Perjodohan? Maksud, Tuan? Saya tidak mengerti," sahut Zara bingung.
Indra mengerutkan dahinya.
"Jika Zara tak tahu menahu soal perjodohan itu, kenapa dia bilang mencintaiku dan melarang ku untuk melepasnya?" Indra bertanya-tanya dalam hati.
"Saya tidak tahu menahu soal perjodohan itu, Tuan. Yang saya tahu, hari ini Anda sengaja mempertemukan saya dengannya. Tapi saya sungguh tidak bisa menerima maksud baik Anda, Tuan. Karena hati saya bukan lagi untuknya, tapi untuk Anda," jawab Zara dengan begitu beraninya.
***
Flashback
"Kembalilah kepadaku, dan mari kita bangun istana cinta kita seperti dulu," tak segan, pria itu mengucapnya sambil mencium punggung tangan Zara.
"Kak, aku ...," Zara hampir tak bisa berkata-kata. Kini semua rasa justru saling berkecamuk di dalam hatinya.
"Ikutlah denganku dan hiduplah bersamaku seumur hidupmu, Zara," kata pria itu lagi dengan tatapan penuh pinta.
"Tapi kenapa? Apa ada pria lain dalam hatimu? Kau sungguh telah mengingkari janjimu untuk setia hanya kepadaku, Zara,"
"Aku tak pernah mengingkari janjiku, Kak. Bahkan sampai hari ini, aku masih menjaga semua yang kupunya hanya untukmu. Tapi sekarang, aku benar-benar tak bisa," tegas Zara, masih dengan bulir bening yang terus mengalir di pipinya.
Hingga akhirnya, Zara menceritakan semuanya, termasuk bagaimana Indra menunjukkan cintanya kepada Zara, sampai-sampai rela mengorbankan dirinya. Berat memang, tapi pria itu cukup sadar diri, bahwa kini hati Zara sudah ada yang memiliki.
Flashback off
***
__ADS_1
Indra mengerutkan dahinya mendengar Zara menceritakan bagaimana akhir dari pertemuannya dengan seorang pria yang pernah merajai jiwanya. Entah kapan perasaan itu mulai ada, tapi yang jelas, Indra telah masuk dan tak bisa terhapus kan lagi dari hatinya.
"Sejak kapan kau mencintaiku?" dari panjang kali lebarnya Zara bercerita, hanya satu yang di tangkap oleh Indra, bahwa Zara mencintainya.
"Sejak Anda mencintai saya," sahut Zara asal.
"Memangnya sejak kapan aku mencintaimu?" tanya Indra, sambil memandang lekat gadis yang kini berada tepat di hadapannya itu.
"Saya tidak tahu sejak kapan cinta itu ada di hati Tuan, seperti saya yang juga tidak tahu kapan cinta itu tumbuh di hati saya. Yang saya tahu, Anda mencintai saya, dan saya pun sama," cicit Zara, sembari membalas tatapan Indra kepadanya.
"Dasar gadis nakal. cepat kembali ke kamarmu. Para perawat itu pasti akan bingung jika ada satu pasien mereka yang kabur entah kemana," Indra mengacak rambut Zara dengan sayang.
"Tidak mau. Saya mau di sini saja bersama Tuan," tolak Zara, kini berani menampakkan nada manjanya kepada pria dingin dan misterius yang selama ini begitu menyebalkan untuknya.
"Kamu itu terluka, Zara. Biar kuantar ke kamarmu, agar mereka memberikan pengobatan maksimal untuk luka-lukamu. Setelah kau benar-benar sembuh, aku akan mengajakmu menemui ibuku," titah Indra tak bisa di tawar.
Mendengar Indra mengatakan bahwa dia akan memperkenalkannya pada sang ibunda, Zara pun terlihat berbinar dan mengembangkan senyumnya.
"Apa Anda tidak berbohong?" tanya Zara meyakinkan.
"Tentu saja aku tidak berbohong. Tapi kau harus sembuh dulu,"
Zara pun menurut, hingga ketika salah seorang penjaga yang di telepon Indra akhirnya masuk dan mengajak Zara untuk kembali ke ruang perawatannya, Zara hanya bisa menurut saja.
Namun begitu Zara ke luar dari kamar Indra, tiba-tiba dia membulatkan mata.
"Tunggu!" ucap Zara pada seorang penjaga yang hendak mengantar Zara ke kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa?"
BERSAMBUNG