
Pada akhirnya, semua bertindak atas nama cinta. Saat logika tak lagi ada di benak kita, saat hati seolah mati rasa hanya karena sebuah nama, atau saat rasa itu membuat mata dan hati kita menjadi buta, semua bermuara pada satu kata, cinta.
Ya, pada akhirnya logika tak lagi melakukan kewajibannya. Manusia menjadi buta dalam memaknai kesejatian cinta, dan menyalahgunakannya demi memenuhi nafsu dan keegoaan belaka. Bahkan dengan mengatasnamakan cinta, seseorang rela melakukan segala cara yang tidak sesuai dengan norma dan etika. Semua itu karena hatinya telah buta, hingga tak sadar bahwa dirinya justru telah kehilangan cinta. Ya, cinta yang seharusnya menjadi sumber keindahan, kedamaian, dan kebahagiaan, kini hanya menjadi sebuah omong kosong yang menyakitkan.
"Sadarlah, Felix. Ini semua tak benar. Kau jangan gila!" cicit Rani yang dibiarkan berlalu begitu saja.
"Kau benar, Sayang. Aku memang sudah gila, dan semua kegilaanku itu karna kamu," sahut Felix sambil menyeringai nakal.
"Felix, kumohon. Ini semua tidak benar. Sadarlah sebelum kau melakukan kesalahan besar," Rani mulai terisak. Rasa takut dan marah, kini bercampur baur menjadi satu.
"Mari kita mulai, Pak," ucap Felix tanpa menghiraukan ekspresi perempuan yang sangat dicintainya itu.
"Felix, kumohon. Dimana letak cintamu jika tak pernah ada kasih sayang itu di hatimu? Jangan biarkan cinta itu membutakan hatimu, Felix. Karna cinta bukanlah sepenggal dusta. Cinta bukanlah pengkhianat rasa. Cinta bukanlah sebuah kebohongan yang meluluskan kemunafikan kita. Cinta itu indah, Felix. Maka jangan biarkan air mata menjadi salah satu pewarnanya. Karna itu, sadarlah Felix. Dan kembalikan cinta pada makna yang sesungguhnya," cicit Rani dengan air mata yang terus berderai.
"Menyerahlah, Sayang. Karena aku tak akan pernah melepasmu lagi untuk yang ke sekian kali. Terlalu banyak waktu yang sudah kubuang hanya untuk memeluk bayang semu. Terlalu lama kubiarkan kau tertawa di atas segala derita yang kurasa. Harus kuulang berapa kali lagi agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu, Arania Levana. Dan mulai hari ini tak akan kubiarkan ada pria lain yang memilikimu selain aku," Felix menatap Rani dengan tatapan penuh tuntutan.
"Kau berhak bahagia, Felix Adinata. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Kau berhak merasakan cinta dari seorang gadis yang benar-benar tulus mencintaimu dan kau cintai. Dan kau bisa mendapatkan itu jika kau mau. Ayolah, Felix. Bukalah hatimu, dan relakan aku," Rani masih terus berharap.
__ADS_1
"Melepasmu? Kau jangan bermimpi, Sayang. Jangan coba-coba membuatku kalah untuk kesekian kalinya. Kau tak tahu betapa sakitnya hatiku harus menyerah pada Tede waktu itu. Kau sungguh tak tahu bagaimana terinjak-injaknya harga diriku saat aku kembali harus menyerah pada Ryan suamimu itu. Dan sekarang, kau bilang aku harus merelakanmu? Buang omong kosongmu, karena aku tak akan pernah melakukan itu," Felix berkata sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mendudukkan Rani di sebelahnya.
"Bukan salahmu jika cinta itu ada. Tapi jangan salahkan takdir yang membuat jarak itu tercipta di antara kita. Cinta tak harus memiliki, Felix. Cintamu padaku akan hilang dengan sendirinya jika kau tak terus memelihara dan mempertahankannya," Rani tak menyerah. Baginya, apapun akan terus dia lakukan, jika itu bisa membuat laki-laki yang sudah gila karena dirinya itu tersadarkan.
"Cukup, Ran. Aku tak mau dengar lagi bualanmu. Mulai malam ini dan untuk selamanya, kau akan menjadi milikku. Hanya milikku. Tunggu apalagi! Seret dia untuk duduk bersamaku, kita akan segera mulai pernikahan ini," titah Felix tidak bisa di tawar lagi.
Beberapa anak buahnya pun akhirnya mendekati Rani dan memaksanya untuk duduk di sebelah Felix.
"Kalian semua sudah benar-benar gila," teriak Rani, sambil terus meronta.
"Kita mulai sekarang, Pak!" perintah Felix pada penghulu gadungan itu, tanpa mempedulikan teriakan gadis tercinta yang kini sudah duduk di sebelahnya.
"Aku tidak keberatan menjadikan anakmu itu sebagai anakku, asal kau menjadi milikku," Felix tetap kekeh dengan kegilaannya.
"Dan aku tak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan kegilaanmu itu," oceh Rani, sambil mencoba mengedarkan pandangannya, mencari-cari sesuatu yang barangkali bisa membuat dirinya lepas dari pria itu.
"Apa yang bisa kau lakukan, heh? Jangan harap aku akan trenyuh hanya dengan air matamu itu. Aku bersumpah, akan mengubah air matamu dengan kebahagiaan tak terkira sepanjang hidupmu, Arania Levana," Felix menyeringai, kemudian memberi isyarat kepada sang penghulu gadungan yang kini sudah duduk berhadapan dengannya itu untuk segera melakukan apa yang sudah dia perintahkan.
__ADS_1
Rani belum menyerah juga, dia masih mencoba mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk menyelamatkan kesetiaan dan kehormatannya. Walau dia benar-benar sadar bahwa dirinya tak akan pernah bisa mengalahkan Felix dan melarikan diri dari cengkeramannya, tapi dalam hatinya masih yakin bahwa ada satu cara yang bisa dia gunakan untuk menggagalkan aksi gila pria yang tak pernah jengah memburunya sejak sekian lama.
Ya, adegan tokoh Aisha di film Ayat-ayat Cinta 2 ketika menjadi tahanan tentara Israel pada saat serangan militer di jalur Gaza, yang memilih untuk merusak wajahnya dan vaginanya agar tidak diperkosa karena tidak ingin kehormatannya direnggut begitu saja, kembali menari-nari di benaknya. Dan baginya, lebih baik mengorbankan kecantikan wajah dan mahkotanya, dari pada menyerahkannya pada seorang pria gila.
Hingga ketika Rani menangkap ada sebilah pisau yang tertancap di kaki salah seorang penjaga yang saat itu sedang berdiri tepat di sampingnya, tanpa berpikir panjang Rani mengambilnya dan langsung berdiri menjauhi Felix dan penghulu gadungan yang akan memulai drama pernikahannya.
"Apa yang akan kau lakukan, Sayang?" Felix langsung beranjak dan membulatkan mata, melihat Rani mengarahkan sebilah pisau ke mukanya.
"Kau mencintaiku karena kecantikanku bukan? Jika iya, akan kurusak mukaku agar kau tak lagi cinta kepadaku. Atau kau mencintaiku karena kau bernafsu saat melihatku? Jika menang benar, aku akan membuat kau tak pernah bisa memuaskan nafsumu terhadap diriku, karena aku akan merusak mahkotaku sendiri sebelum kau merenggut kehormatan yang sudah sepenuhnya menjadi milik suamiku," Rani tiba-tiba berubah menjadi garang. Dari ucapan dan sorot matanya, Felix tahu bahwa wanita yang teramat sangat dicintainya itu sedang tak main-main dengan ucapannya.
"Sayang, jangan seperti ini. Berikan pisau itu kepadaku. Sedikit saja pisau itu menggores wajahmu, rasanya akan sakit sekali, Sayang. Kau tak akan tahan jika harus merasakannya," Felix mencoba menakut-nakuti, berharap dengan begitu, Rani akan terpengaruh dan membuang pisau itu kembali.
"Jangan kau kira aku akan menyerah hanya karena kau ucapankan kata-kata seperti itu, Felix. Aku bukan anak kecil yang bisa kau takut-takuti. Kau tahu? Bahkan aku rela menanggung kesakitan lebih dari ini, demi rasa setiaku pada cinta dan suamiku," Rani semakin mendekatkan pisau itu ke wajahnya.
"Hentikan, Sayang!" Felix mencoba maju ke depan, mendekatkan dirinya agar bisa mengambil pisau itu dari tangan Rani.
"Jangan coba-coba mendekat,"
__ADS_1
BERSAMBUNG