
"Lain kali hati-hati. Jangan berlari-larian seperti itu kalau ke kamar mandi," Hengky memberi peringatan dengan tegas, yang langsung diiyakan istrinya melalui sebuah anggukan di kepalanya.
"Maaf," mata Fisha berkaca-kaca.
"Hey, kenapa menangis? Aku tidak sedang memarahimu, tapi sedang mengkhawatirkanmu," ucap Hengky sambil terus membopong tubuh istrinya menuju ke tempat tidur mereka.
"Mas, kita mau kemana?" Fisha memandang suaminya lekat.
"Tentu saja kembali ke tempat tidurmu. Kamu ini habis terjatuh. Aku harus memeriksa apakah ada bagian tubuhmu yang terluka atau tidak," Hengky terus berjalan, tanpa melihat istrinya yang sedang memperhatikan ekspresi mukanya.
"Fisha nggak apa-apa, Mas. Tidak ada yang sakit sedikitpun," Fisha mencoba meyakinkan.
"Lalu tadi kamu meringis itu kenapa kalau bukan karena kesakitan? Jangan coba-coba berbohong kepadaku, ya," Hengky menghentikan langkahnya, lalu memeriksa setiap inchi tubuh istrinya tanpa terlewat sedikitpun, setelah membaringkan tubuh polos itu di peraduan mereka.
"Tadi itu karena kepala Fisha terbentur dinding saja, jadi agak sedikit pusing. Sekarang sudah hilang pusingnya, Mas," cicit Fisha, sambil pasrah saja menerima semua perlakuan dari suaminya.
"Kita buktikan apakah kau sedang tidak berbohong," Hengky terus menyusuri tubuh polos istrinya, tanpa menghiraukan ocehan Fisha.
"Mas, apa yang Mas Hengky lakukan?" protes Fisha mendapati suaminya yang justru menciumi setiap lekuk tubuhnya tanpa ada satu bagian pun yang terlewat.
"Sudah kubilang, aku sedang memeriksa apakah ada yang terluka atau tidak," sahut Hengky sembari mengabsen satu per satu area favoritnya.
"Ini mah bukan memeriksa, Mas. Tapi ...," Fisha membekap mulutnya sendiri, menggantungkan kalimatnya dengan muka yang sudah merah merona.
"Tapi apa? Apa kamu berpikir kalau aku akan melakukannya lagi?" Hengky menghentikan aktifitasnya dan mengerling nakal tepat di atas muka istrinya.
"Bukan begitu maksud Fisha. Kita kan baru saja selesai melakukannya," Fisha membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Memangnya kenapa kalau kita baru selesai melakukannya?" tangan Hengky meraih dagu Fisha, dan membuat istri yang sedang menghindari tatapannya itu, kini membalas pandangan matanya.
"Ihh, Mas," wajah Fisha semakin memerah.
__ADS_1
"Hmmm, kalau kamu meringis kesakitan karena ciumanku, berarti ada luka yang harus segera kita obati. Kamu tidak boleh menolak dokter yang akan kupanggil untuk mengobatimu. Tapi jika kau meringis karena merasakan hal lain saat aku menciummu, berarti aku sendiri yang akan mengobatimu dengan caraku," Hengky kembali mengabsen satu per satu setiap inchi tubuh polos Fisha, hingga yang keluar dari mulut gadis itu bukan rintihan karena sakit tapi rintihan kenikmatan yang membuat Hengky semakin semangat melanjutkan atraksinya.
"Ternyata kau memang sengaja memilihku untuk mengobati lukamu bukan?" cicit Hengky di sela-sela nafasnya yang kian tersengal, akibat banyaknya tarikan yang dia lakukan.
Fisha tak lagi menyahut ocahan suaminya itu. Dia justru menceracau tak jelas sambil melingkarkan tangannya pada leher Hengky yang saat ini sedang mengungkung dan menggagahinya. Ya, mereka terus pada posisi itu hingga satu jam lamanya, sebelum akhirnya Hengky tumbang begitu saja di samping tubuh istrinya.
Fisha pun merapatkan selimutnya, dan tertidur di pelukan Hengky selama beberapa saat.
Lima belas menit kemudian, dengkuran kecil dari mulut suaminya membangunkan Fisha. Perlahan, dia menyingkirkan tangan suaminya yang masih melingkar dengan manis di perutnya, lalu menyibak selimut warna putih bersih yang menutupi tubuh polosnya dan segera beranjak hendak membersihkan dirinya.
"Mau kemana lagi? Kau benar-benar tak sopan pergi tanpa seizinku," Hengky menggerutu, sambil menarik tubuh Fisha kembali dalam pelukannya.
"Fisha hanya mau mandi, Mas. Bukannya pergi," Fisha mengerucutkan bibirnya.
"Jangan protes, atau kau kuhukum satu ronde lagi," ancam Hengky.
"Kita belum sholat dhuhur, Mas. Keburu waktunya habis," Fisha mulai bersungut kesal.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas," Fisha yang kaget tubuhnya melayang di udara secara tiba-tiba pun melingkarkan tangannya ke leher suaminya untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Tapi aku mau membopongmu. Aku tak mau kau terjatuh lagi. Atau jangan-jangan, kau sengaja ya? ingin jatuh lagi agar aku bisa mengobatimu lagi seperti tadi?" goda Hengky yang sukses membuat wajah cantik itu memerah lagi.
"Cih, mana ada," cebik Fisha, yang akhirnya pasrah dengan apapun yang dilakukan oleh suaminya.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit, hingga mereka sampai ke dalam kamar mandi. Hengky memilih untuk menurunkan tubuh Fisha di bawah shower, agar mereka bisa mandi lebih cepat dan segera melaksanakan sholat dhuhur berjamaah usai mereka mandi janabah.
Tak butuh waktu lama bagi mereka, hingga ritual mandi wajib itu selesai, dan mereka bisa sama-sama menggelar sajadah untuk bercinta dengan Rabb yang telah menciptakan mereka dengan segala kebahagiaan yang kini mereka punya.
Sebuah kecupan pun mendarat dengan mesra, usai Fisha mencium punggung tangan suaminya setelah salam kedua.
"Terima kasih," lirih Fisha.
__ADS_1
"Untuk?" Hengky mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
"Untuk semua yang telah Mas Hengky berikan kepada Fisha," sahut Fisha sambil menatap suaminya penuh cinta.
"Kemarilah, dan dengarkan aku," Hengky merentangkan kedua tangannya. Fisha yang paham dengan maksud Hengky itu pun memajukan tubuhnya dan langsung masuk dalam dekapan suaminya.
"Aku sungguh bersyukur, Tuhan telah mempertemukan kita, Sayang. Mungkin ada banyak cinta di dunia ini yang siap menyentuh hatiku dan hati siapa saja yang disapanya. Tapi yakinlah, hanya kau cahaya terindah yang kini menerangi ruang gelap dalam jiwaku," Hengky mencium kepala Fisha dengan ciuman bertubi-tubi.
"Eh, sejak kapan Mas Hengky jadi pintar menggombal begini?" Fisha mendongakkan kepalanya, demi bisa melihat wajah suaminya yang menjadi suka merayunya akhir-akhir ini.
"Apakah norak dan terdengar aneh?" Hengky memandang wajah cantik istrinya dan mencubit hidung mancung yang kini tanpa jarak dengannya itu dengan gemas.
"Sedikit," sebuah lengkungan di bibir Fisha membuat gadis itu semakin terlihat cantik.
"Kalau begitu, aku tak akan pernah lagi mengucapkannya," sahut Hengky sambil memajukan bibirnya.
"Tapi Fisha mau Mas Hengky terus melakukannya," Fisha mengerling nakal. Kini dia sudah mulai berani menggoda suaminya.
"Apa kau suka dengan gombalanku?" Hengky menaikkan kedua alisnya.
"Sedikit," jawab Fisha.
"Kalau begitu aku tak mau lagi melakukannya," cebik Hengky, pura-pura tak suka dengan jawaban istri yang sedang digodanya.
"Baiklah. Kalau begitu banyak deh. Fisha suka Mas Hengky gombalin Fisha, sebanyak yang Mas Hengky bisa melakukannya," Fisha mengeratkan pelukannya, dengan perasaan yang begitu membuncah di dalam dada.
"Kalau begitu aku akan menggombal setiap hari untukmu," oceh Hengky sambil kembali menghujani Fisha dengan ciuman bertubi-tubi.
Mereka pun terkekeh bersamaan. Seketika, kesedihan di hati mereka masing-masing hilang tanpa jejak. Ya, memang sudah seharusnya mereka bisa saling mengisi dalam setiap suka maupun duka yang mereka rasa.
BERSAMBUNG
__ADS_1