
Segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati, sementara harta, tahta, dan segala hal yang kita punya di dunia tak kan mampu menghindarkan kita dari takdir Sang Penguasa Alam Raya.
Sendiri, hakikat kita diciptakan akan kembali setelah kita pergi. Seperti saat seorang janin dalam kandungan seorang ibu yang hidup seorang diri, begitu pula ketika kita mati suatu saat nanti. Kita akan kembali sendiri tanpa seorang pun yang menemani.
Sudah sadarkah kita bahwa hidup di dunia ini hanya untuk sementara? Namun, apa yang telah menyatu di dalam kalbu sering membuat setiap jiwa teramat berat tuk bisa dipisahkan darinya.
Lantas, apakah simfoni indah itu juga benar-benar akan hilang dari langit kehidupan Ryan Dewangga? Sayangnya semua itu masih menjadi rahasia Tuhan, seiring dengan segala kesedihan yang kini mereka rasakan.
"Kau boleh ambil nyawaku, Ya Allah. Tapi kumohon, jangan lagi kau ambil satu-satunya harta yang kumiliki, setelah Azzura, Papa dan mamaku pergi," Ryan begitu larut dalam kesedihannya yang begitu mendalam. Merasa sangat trauma dengan kepergian adik dan kedua orang tuanya, membuat dia benar-benar tak ingin kehilangan lagi untuk yang ke sekian kalinya.
"Rani ..., kuatlah demi Hubby, Sayang. Jangan kau ingkari janji kita hanya sampai di sini," gumam Ryan berkali-kali.
Semua menangis, tidak hanya karena mengetahui kondisi Rani saat ini, tapi karena melihat kondisi Ryan yang seolah tak hidup tak mati.
"Rani ...," kondisi Ryan sangat kacau. Dia tergugu sambil terus memanggil nama istrinya lagi dan lagi.
"Nak, bersabarlah, Sayang. Kita do'akan agar mereka berdua selamat, dan istrimu bisa bersama dengan kita semua lagi," ucap Aghata sambil mengusap punggung Ryan sambil meneteskan air mata.
"Aku tak bisa hidup tanpa dia, Mom. Aku sungguh tak bisa. Bagaimana aku bisa membesarkan putra kami jika aku tanpa dia, Mom. Raniiii, Hubby mohon. Kuatlah untuk Hubby dan anak kita nanti. Jangan tinggalkan Hubby, Ran. Raniiiii ...," Ryan berteriak-teriak tanpa bisa dikendalikan lagi. Bahkan tangannya memukuli dinding rumah sakit itu, hingga ruas-ruas jarinya memerah dan terluka. Aghata yang melihat Ryan begitu rapuh dan takut lagi-lagi akan kehilangan pun berusaha menghentikan aksinya menyakiti diri dan memeluknya, namun Ryan sudah tak bisa mengendalikan diri dan bersikap tenang lagi.
"Dia tidak akan pergi dariku kan, Mom? Dad, dia tidak akan meninggalkanku kan? Iya kan Ma? Arya? Daniel? Katakan! Dia tidak akan membiarkanku sendiri di dunia ini kan?" Ryan bertanya kepada semua orang yang sedang menemaninya dan menunggu Rani yang sedang berjuang di meja operasi.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Ryan saat itu. Mereka hanya bisa menganggukkan kepala penuh ragu sambil ikut tergugu. Biar bagaimanapun, mereka memang tak ingin kehilangan Rani. Tapi mendengar ucapan dokter itu sesaat tadi, membuat mereka merasa tak ada harapan lagi.
Hingga tiba-tiba, salah seorang dokter yang menangani Rani ke luar dari ruang operasi. Ryan dan semua orang yang ada di sana pun langsung berdiri dan menghampiri dokter itu dengan segala pertanyaan dan perasaan yang sudah tidak bisa ditebak lagi.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dokter?" Ryan langsung bertanya dengan lantunan do'a yang tak putus dalam hatinya.
"Alhamdulillah, operasi berjalan dengan lancar. Putra Anda lahir dengan sehat, walaupun tetap perlu perawatan intensif mengingat dia lahir satu bulan sebelum hari perkiraan lahir yang sudah ditentukan," sahut dokter itu sambil menatap wajah Ryan, Aghata, Davina, dan semua yang ada di tempat itu satu per satu.
"Lalu bagaimana dengan istri saya, Dok?" wajah Ryan yang sempat terlihat lega mendengar kondisi putranya, tiba-tiba berubah muram, menunggu berita tentang kondisi istri tercintanya.
"Untuk istri Anda, kami sudah berusaha secara maksimal, Tuan. Tapi ...," dokter itu menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa, Dokter? Bicara yang jelas!" Ryan berteriak penuh emosi.
"Tapi dengan berat hati harus saya katakan, bahwa kondisi istri Anda terus menurun. Detak jantung dan denyut nadinya juga semakin melemah. Meski berbagai upaya sudah kami lakukan, tapi kondisinya semakin memburuk, Tuan. Saat ini dia masih bertahan karena alat yang kami pasang. Jika alat itu kami lepas, maka ...," sekali lagi dokter itu tak melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Jangan lepas alat itu, Dok. Aku yakin dia tidak akan pergi meninggalkanku seorang diri," Ryan terus histeris.
"Tapi, Tuan ...," dokter itu mulai frustasi menghadapi Ryan.
Hingga akhirnya, Daniel dan Arya mendekati sang dokter dan meminta agar alat itu tetap terpasang walau untuk sementara. Jika dengan alat itu Rani memang tidak bisa bertahan, maka alat itu baru dilepaskan. Karena dengan alat itu, setidaknya mereka punya harapan untuk sebuah keajaiban.
"Baiklah," ucap dokter itu sambil mempersilahkan mereka untuk masuk dan melihat kondisi Rani.
Mereka semua akhirnya diizinkan masuk ke ruang ICU, atas negosiasi yang dilakukan oleh Arya dan Daniel sesaat tadi. Lagi pula, ruang ICU yang ditempati Rani adalah ruang ICU VVIP, sehingga tidak ada pasien lain selain Rani sendiri.
Di dalam ruang itu, mereka melihat Rani sudah seperti seonggok robot. Di seluruh tubuhnya dipenuhi dengan kabel-kabel yang berseliweran. Kabel infus dipasang di tangan kanannya, alat ventilator dimasukkan melalui hidung untuk membantu pernafasannya, kabel rekam jantung dan entah kabel-kabel apa lagi yang terpasang disana.
Di samping tempat tidur pesakitan itu, terdapat layar yang memperlihatkan kondisi detak jantung, tekanan darah, hingga kadar oksigen dalam darahnya. Di layar tersebut juga terlihat garis-garis yang menunjukkan grafik detak jantung Rani, dengan suara syahdu yang mengeluarkan nada sesuai irama detakan jantung, yang semakin menambah gurat cemas pada wajah Ryan dan semua yang berada di ruang itu.
"Kau sudah berjanji untuk selalu bersama Hubby kan, Sayang? Bukalah matamu, kita akan lihat putra kita bersama-sama, dan membesarkannya dengan penuh cinta," Ryan duduk di sebelah ranjang Rani dan berbicara tepat di telinganya. Dia mencium tangan pucat Rani berkali-kali, sebelum akhirnya mengecup kening, mata dan seluruh wajah Rani tanpa henti. Air matanya pun terus mengalir, tanpa bisa tertahankan lagi.
Sementara yang lain, hanya berdiri mengelilingi sepasang kekasih itu dalam diam, sambil larut dalam do'a masing-masing. Mereka terus menangis, melihat kondisi Rani juga Ryan yang sudah tidak bisa dikondisikan saat ini.
"Bangunlah, Sayang! Bangun Hubby bilang, bangun!" tangis semua orang di tempat itu tumpah. Sementara Davina sudah terduduk lemas di kursinya, sambil memandangi putri semata wayangnya yang kini terbaring lemah tak berdaya.
"Serahkan semua pada Yang Maha Kuasa, Nak. Apapun yang terjadi, itu sudah atas kehendak dan garis takdir yang sudah ditasbihkanNya. Kamu harus ikhlas, Nak. Relakan jika memang Allah sudah menghendaki istrimu untuk kembali menghadapNya," Arsen mendekati Ryan dan mengelus bahunya.
Rani terlihat memberikan beberapa reaksi saat Ryan mengucapkan itu berkali-kali di telinganya. Namun dalam hitungan menit, tiba-tiba terdengar bunyi cukup keras dan panjang dari layar yang berada di dekat Rani. Grafik detak jantung itu pun kini hanya berupa garis-garis lurus yang tidak beranjak naik dan turun seperti sebelumnya.
"Dokter! Dia kenapa, Dok? Kenapa garisnya lurus? Tolong dia, Dokter!" Ryan berteriak-teriak seperti orang kesetanan, menyadari belahan jiwanya benar-benar akan pergi meninggalkannya.
Dokter dan perawat yang menyadari hal itu pun, segera mengambil tindakan. Tak lama, di tangan dokter sudah ada Defibrilator, alat stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan detak jantung Rani kembali. Bahkan dokter menempelkan dua alat yang terlihat seperti setrika itu pada tubuh Rani berkali-kali, berusaha agar detak jantungnya bisa kembali lagi.
"Mommy, aku harus gimana, Mom? Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Aku harus gimana, Mom? Hiks ..., hiks ..., hiks ...," Ryan terus meraung-raung dalam dekapan Aghata. Sementara Davina, langsung pingsan begitu saja.
"Ikhlaskan, Sayang. Ikhlaskan," ucap Aghata lembut, seiring dengan air mata yang tak mampu di tahannya. Bahkan semua yang melihat kondisi Ryan saat ini pun tak ada yang tega, hingga ikut menangis menyaksikan anak manusia yang tak bisa terpisahkan dari cinta sejatinya.
"Tapi dia sudah berjanji akan sehidup sesurga bersamaku, Mom. Dia tidak boleh mengingkari janji itu. Dia tidak boleh pergi, Mom. Karena tanpa dia aku akan mati. Rani ..., Rani ..., jangan pergi, Sayang. Aku nggak bisaaaa ..., aku nggak bisaaa ," Ryan tersungkur ke lantai bersama Aghata dan menangis sejadi-jadinya.
"Kamu nggak bisa ninggalin Hubby begitu saja, Sayang. Bagaimana aku bisa membesarkannya tanpa dirimu," Ryan terus menceracau, bulir-bulir bening dari ujung matanya pun terus mengalir membasahi wajahnya tanpa henti.
Sementara itu, tim dokter masih menempelkan dua alat yang terlihat seperti setrika itu pada tubuh Rani berkali-kali, berusaha agar detak jantungnya bisa kembali lagi. Saat alat itu di tempelkan, tubuh Rani terangkat kemudian turun lagi. Begitu mereka lihat berkali-kali, membuat mereka betul-betul tak tega melihat Rani dengan perjuangan beratnya untuk bisa hidup sekali lagi.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba, terdengar bunyi cukup keras dari alat yang berada di samping tempat tidur Rani, menandakan bahwa detak jantung Rani kembali lagi. Garis yang awalnya lurus pun kini terlihat naik menjulang tinggi, kemudian turun lagi. Naik sedikit lagi, lalu turun rendah sekali.
Semua kaget mendengar suara itu, termasuk dokter dan perawat yang sedang melakukan upaya penyelamatan dengan Defibrilator itu. Ryan yang juga mendengarnya, langsung melihat layar dengan garis datar yang kembali bergerak naik turun itu dan beranjak dari tempatnya.
"Lihat itu, Dokter! Istriku masih hidup kan? Katakan, Dok. Dia tidak pergi meninggalkanku kan?" Ryan mengusap mukanya dengan kasar, melihat ada di depannya kini muncul sebuah harapan.
Tim dokter yang menyadari itu pun meminta Ryan dan keluarganya untuk keluar, agar mereka bisa lebih tenang melakukan penanganan. Sebenarnya saat upaya penyelamatan dengan Defibrilator tadi, seharusnya mereka berada di luar. Tapi karena mereka tak mau di salahkan oleh Ryan jika benar-benar nyawa Rani tidak bisa di selamatkan, akhirnya tim dokter membiarkan Ryan untuk tetap berada di dalam, menyaksikan betapa tim dokter sudah menjalankan SOP dengan benar.
"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih, Sayang. Berjuanglah untuk Hubby dan anak kita. Temani Hubby hingga kita menua bersama, Sayang. Berjuanglah untuk kami semua," Ryan terus bergumam lirih.
Dia ditemani Aghata, Arsen, Daniel dan juga Arya, menunggu sambil duduk di kursi panjang yang terletak di depan ruangan, dengan wajah sangat tegang, tapi seolah punya secercah harapan.
Sementara Lena dan Nina, mereka menemani Davina yang langsung di bawa ke ruang IGD, setelah pingsan karena tak kuat melihat kondisi putri satu-satunya, yang awalnya benar-benar sudah tak ada harapan.
Hingga setelah kurang lebih empat puluh lima menit mereka diminta menunggu di luar, salah satu dokter yang menangani Rani pun keluar.
"Bagaimana, Dok? Istri saya selamat kan, Dokter?" tanya Ryan penuh harap.
"Amazing. Ini semua sungguh keajaiban yang sedang Allah tunjukkan. Detak jantung dan denyut nadi istri Anda kembali lagi, dan kondisinya saat ini semakin membaik dan harapan kami akan segera normal kembali," senyum dokter itu mengembang.
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih, Sayang," Ryan langsung memeluk dokter itu dengan penuh keharuan. Sang dokter yang dipeluk pun menyambut pelukan Ryan dengan ekspresi sangat bahagia yang tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata. Ya, bagi seorang dokter, bisa menyelamatkan nyawa adalah kebanggaan luar biasa yang paling didambakannya.
"Selamat, Tuan. Perjuangan Anda dan istri Anda hari ini sungguh sangat menakjubkan," ucap dokter itu sambil menepuk-nepuk bahu Ryan.
"Terima kasih, Dok. Perjuangan Anda dan seluruh tim medis yang telah menyelamatkan istri saya, sungguh-sungguh luar biasa," Ryan melepaskan pelukannya dan mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipinya.
Semua yang berada di tempat itu pun tersenyum dan kembali meneteskan air mata penuh haru. Termasuk Davina yang kini sudah sadar dari pingsannya, langsung bersujud syukur di ruang IGD begitu mendengar kabar gembira yang disampaikan kepadanya.
"Selamat, Sayang," Aghata memeluk Ryan, disusul Arsen, Daniel dan juga Arya.
Zara yang tidak mau beranjak pergi dari rumah sakit itu sebelum memastikan kondisi Rani pun kini tersenyum bahagia, melihat semua akhirnya baik-baik saja. Sambil menyeka bulir bening di wajahnya, dia menghampiri Ryan dengan begitu hormatnya.
"Selamat, Tuan. Saya ikut bahagia mendengar Nona sudah baik-baik saja, juga menyambut bahagia kelahiran penerus tahta keluarga Dewangga. Jika diizinkan dan sudah tidak dibutuhkan di tempat ini, saya mohon undur diri. Saya harus segera bergabung dengan yang lainnya untuk membantu pencarian Tuan Indra," Zara berusaha tetap tersenyum, walaupun hatinya sungguh tak tenang. Masih hiduplah kekasih hatinya?
"Terima kasih, Zara. Pergilah, dan segera temukan Indra,"
Zara yang sudah mendapatkan lampu hijau pun langsung berlari sekencang-kencangnya, mencoba mencari kekasih hati yang tak tahu kini berada dimana.
__ADS_1
"Berjuanglah untuk tetap hidup demi cinta kita, Tuan. Seperti Nona yang berjuang untuk tetap hidup demi Tuan Ryan dan cinta mereka,"
BERSAMBUNG