METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Cidera


__ADS_3

Ada banyak kecemasan yang tersirat pada wajah-wajah itu, menunggu pria yang mengenakan jas putih itu mengeja aksara demi aksara dari bibir yang sesaat terlihat begitu ragu. Mereka semua menegang dalam diam, hanya suara tarikan nafas yang kini mereka dengar.


"Lalu bagaimana dengan pasien yang satunya, Dok? Bagaimana kondisi Daniel? Apakah dia baik-baik saja? Tidak ada yang serius kan, Dok? Dia tidak apa-apa kan?" cecar Ryan, begitu tidak sabar ingin segera mendengar dokter itu menjelaskan kondisi saudaranya yang masih berada di dalam.


Mendengar pertanyaan Ryan, dokter itu kembali menarik nafas panjang. Mukanya berubah, bahkan dia terlihat ragu dengan apa yang akan dia sampaikan kepada keluarga pasien itu.


"Terkait kondisi pasien atas nama Tuan Daniel Cullen, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, Tuan. Jadi begini. Sampai saat ini, Tuan Daniel belum sadarkan diri. Saya khawatir, benturan keras di kepala Tuan Daniel, akan membuat cidera parah pada bagian kornea matanya sehingga penglihatannya terganggu, dan kemungkinan besar akan berakibat pada kebutaan," jelas dokter itu, dengan tidak bersemangat.


Semua yang mendengar penjelasan dokter itu tercengang.


"Apa, Dok? Buta? Tidak mungkin, Dok. Tidak mungkin anak saya buta, Dok. Tidak mungkin. Katakan bahwa Anda berbohong!" air mata Aghata tumpah. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi Daniel saat tahu bahwa dirinya tak dapat lagi melihat dunia. Apalagi usianya yang masih terbilang sangat muda, perusahaannya juga sedang berjaya, juga usia pernikahannya yang bisa terbilang baru saja, membuat Aghata tidak bisa percaya dengan semua yang Daniel alami secara tiba-tiba


"Mohon maaf, itu adalah hal terburuk yang bisa dialami Tuan Daniel. Saya juga berharap, bahwa dugaan saya salah. Namun, kita lihat perkembangannya setelah pasien sadar nanti," sahut dokter itu berusaha menghalau kekhawatiran Aghata.


"Apakah kami bisa melihatnya, Dokter?" tanya Naja berusaha tetap tenang.


Namun sebelum dokter itu menanggapi pertanyaan Naja, seorang suster terlihat keluar dari dalam ruangan dengan tergesa-gesa.


"Dokter, Tuan Daniel sudah sadarkan diri," suster itu berseru.


"Baiklah, saya tinggal sebentar. Mohon bantu kami dengan do'a, semoga Tuan Daniel baik-baik saja," pamit dokter itu, kemudian kembali masuk untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.


Setelah beberapa saat dokter itu masuk, seorang suster kembali keluar dan meminta keluarga untuk masuk ke dalam.


Aghata dan Naja pun segera masuk, ditemani Rani dan Ryan. Sementara Nina sudah terlebih dahulu masuk untuk menemui Johan, sedangkan Rudi, Davina juga Arya tetap menunggu di luar.


Setelah Aghata, Naja, Rani dan Ryan sampai ke dalam, terlihat Daniel masih terbaring lemah di pembaringan, sementara dokter itu terlihat sedang memeriksa bagian mata Daniel, dimulai dari mata kanan, kemudian beralih ke mata kiri. Dilihat dari ekspresi muka sang dokter setelah meneliti mata Daniel, terlihat jelas bahwa apa yang menjadi kekhawatirannya agaknya benar.

__ADS_1


"Bagaimana, Dok?" tanya Aghata, sementara Naja segera mendekati Daniel dan mengecup keningnya.


"Sayang, ini aku," bisik Naja lirih.


"Sayang! Mommy! Kalian sudah datang? Kenapa gelap sekali? Apakah lampunya tidak dinyalakan?" cecar Daniel lirih.


"Dok?" Aghata menatap dokter itu menuntut jawaban.


"Mohon maaf, Nyonya. Apa yang saya khawatirkan ternyata benar. Benturan keras di kepala Tuan Daniel, agaknya membuat cidera parah pada bagian kornea matanya, sehingga penglihatannya terganggu. Hal inilah yang membuat Tuan Daniel akan mengalami kebutaan," jelas dokter itu secara gamblang.


"Apa, Dok? Aku buta? Tidak mungkin. Anda pasti berbohong. Katakan kalau Anda sedang bercanda, Dokter. Katakan kalau Anda tidak bersungguh-sungguh dengan ucapan Anda. Mom, bilang kalau ini semua tidak benar! Sayang, ini semua hanya mimpi kan? Katakan!" Daniel terus menceracau. Emosinya sungguh-sungguh tidak bisa dikendalikan.


"Yang sabar ya, Nak. Yang sabar. Kita hadapi sama-sama. Tuhan pasti akan menunjukkan jalannya," Aghata mengelus kaki Daniel, sementara Naja tak bisa lagi menahan air mata, dan terus memeluk tubuh suaminya berharap dengan begitu bisa menenangkannya.


"Apa tidak ada solusi lain agar adik saya bisa melihat lagi, Dokter?" tanya Ryan dengan nada cemas.


"Kecuali apa, Dok?" cecar Ryan. Dia menatap dokter itu dan Daniel secara bergantian.


"Kecuali ada yang bersedia mendonorkan kornea matanya untuk Tuan Daniel, sehingga kami bisa melakukan tindakan transplantasi kornea," tutur dokter itu sesaat setelah menarik nafas panjang.


"Kalau begitu lakukan yang terbaik, Dok. Lakukan transplantasi kornea itu secepat mungkin, Dok," pinta Ryan tak sabar.


Rani, Aghata, Naja, juga Daniel yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya, dengan tatapan mata menuntut yang mereka tujukan kepada dokter yang kini berada di hadapan mereka itu.


"Tidak semudah itu, Tuan dan Nyonya. Di Indonesia, jumlah pendonor lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah orang yang membutuhkan transplantasi kornea. Apalagi ada kebijakan dari Bank Mata Indonesia, bahwa donor mata atau donor kornea hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah meninggal, dan tidak diperbolehkan bagi orang yang masih hidup untuk mendonorkan korneanya," dokter itu kembali menjelaskan.


Mendengar penjelasan dokter itu, semua yang awalnya sudah tersenyum lega karena merasa masih ada harapan, kembali meredup.

__ADS_1


"Tapi jangan khawatir, Tuan dan Nyonya. Kami akan segera menghubungi Bank Mata Indonesia agar nama Tuan Daniel dimasukkan dalam daftar salah satu penerima donor, sehingga sewaktu-waktu kornea yang kita butuhkan untuk menyembuhkan matanya sudah tersedia, kami bisa menghubungi Anda dan kita akan segera lakukan operasinya," lanjut dokter itu, memberi harapan.


"Baiklah, Dokter. Terima kasih," ucap Ryan kemudian.


Setelah di rasa cukup, dokter itupun pamit keluar, meninggalkan Daniel yang masih sangat terlihat shock meratapi suratan takdir yang seolah begitu tidak bersahabat dengan dirinya.


Ya. Kini Daniel tidak bisa melihat dunia. Semua berubah menjadi gelap, hingga berjuta image kini memenuhi benaknya. Bayangan masa depannya yang akan hancur, orang-orang yang dicintainya akan pergi, juga bayangan akan perusahaannya yang harus dia tinggalkan benar-benar mengaduk pertahanannya.


"Sabar, Sayang. Kita akan melaluinya sama-sama," bisik Naja sambil membelai lembut punggung Daniel, sebelum akhirnya mendekapnya erat dalam pelukannya.


"Apa kau tidak akan pergi meninggalkanku?" lirih Daniel.


"Tentu saja aku akan meninggalkanmu," ketus Naja sambil merenggangkan pelukannya.


Daniel terlihat kecewa dengan perkataan Naja, wajahnya bertambah gelap seketika.


"Aku akan langsung meninggalkanmu jika sekali lagi kau tanyakan hal itu," lanjut Naja serius.


"Maksudmu? Kau akan tetap ...," sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya, Naja sudah menyela.


"Apa kau pikir cintaku padamu sedangkal itu, heh? Aku mencintaimu bukan hanya karna mata dan wajahmu yang tampan, tapi aku mencintaimu dari hati yang terdalam, seperti apapun kondisimu dan seperti apapun suratan takdir yang Allah tetapkan. Kau tahu apa yang aku takutkan, Sayang? Satu hal yang paling aku takutkan adalah ketika aku kehilanganmu dan kau meninggalkan aku," tutur Naja lembut, yang langsung dijawab dengan sebuah pelukan hangat dari Daniel.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Pembaca bijak, selalu meninggalkan jejak. Dukung terus author dengan memberikan vote, like, dan rate 5. Thank you.

__ADS_1


__ADS_2