
Johan hanya berdiri mematung, menatap dua anak manusia yang masih saja dimabuk asmara di usia pernikahannya yang bisa dibilang sudah cukup lama. Jiwa jomblonya kembali berteriak, melihat pemandangan yang sungguh membuat rasa iri di hatinya meronta-ronta ingin dapat merasakan hal yang sama dalam hidupnya.
“Panggil Ryan dan Rani kemari!” perintah Daniel saat Johan meninggalkan ruang perawatan Nina pun kembali menyadarkan khayalannya.
“Tapi bagaimana caranya aku mengakhiri pertunjukan mesra mereka ini?” batin Johan dalam hati.
Cukup lama Johan berpikir dan berdiam diri di tempat itu, berharap pertunjukan sepasang kekasih itu segera berakhir. Hingga tiba-tiba ...,
Kriiinggggg ....
Ponsel dari kantong celana Johan berbunyi.
“Siap, Tuan,” Johan segera menjawab panggilan itu begitu tahu bahwa yang sedang menelponnya adalah Daniel.
“Kemana saja kamu, Jo? Kenapa lama sekali? Apakan Ryan dan Rani sudah pergi?” Daniel memberondong Johan dengan banyak pertanyaan.
“Tidak, Tuan. Mereka masih berada di taman. Saya mau memanggil mereka tapi ...,” sebelum Johan melanjutkan kalimatnya, sudah terdengar suara seseorang.
“Ada apa, Jo?” ternyata karena dering handphone Johan berbunyi, Ryan menyadari bahwa Johan sudah berada di sana untuk menemui dirinya dan Rani.
“Kami segera ke sana, Tuan,” ucap Johan sambil menutup sambungan teleponnya.
“Ada apa?” Ryan mengulangi pertanyaannya.
“Keluarga Anda sudah menunggu di ruang perawatan Nina, Tuan,” sahut Johan sambil sedikit membungkukkan badannya.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai pada sebuah ruang bernomor 1725, yang menunjukkan bahwa kamar itu berada di lantai tujuh belas, kamar nomor dua puluh lima, dimana Nina dirawat di dalam sana. Berbeda dengan warna yang dipakai oleh kebanyakan rumah sakit pada umumnya, ruang itu di cat dengan warna hijau muda sehingga terasa sejuk bagi siapapun yang berada di sana.
__ADS_1
Ketika pintu di buka, segera saja terlihat seorang gadis cantik berusia tujuh belas tahun yang Rani selamatkan dari praktik perdagangan manusia, kini terbaring lemah akibat racun dan luka tusukan yang menciderainya karena ingin menyelamatkan orang yang telah berjasa kepadanya.
“Nona,” lirih Nina begitu menyadari bahwa Rani telah memasuki ruangannya. Ya, setelah empat hari Nina berjuang untuk tetap hidup, Rani memang baru kali ini menjenguknya. Bukan karena Rani tidak perhatian, tapi mengingat kondisi Rani pasca percobaan pembunuhannya oleh Meysie cukup membuat jiwanya terguncang, sehingga semua keluarga memintanya untuk menenangkan diri untuk sementara. Lagipula ada Aghata dan Davina yang menjaga Nina ketika siang, dan ada Johan yang tetap berjaga dua puluh empat jam, sehingga Nina dapat dirawat dengan nyaman dan aman.
“Sayang, apakah kau baik-baik saja? Maafkan aku karena telah mencelakaimu,” Rani langsung menghambur pada tubuh Nina dan menangis tersedu-sedu. Dia sungguh tidak bisa membayangkan, bagaimana dia akan menebus rasa bersalahnya jika sampai terjadi sesuatu pada gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya itu.
“Saya baik-baik saja, Nona. Tapi ...,” Nina menggantungkan kalimatnya.
“Tapi apa?” telisik Rani.
“Bolehkan saya pulang dan bertemu dengan kedua orang tua saya di kampung halaman, Nona? Saya benar-benar merindukan mereka. Ketika kemarin saya merasa bahwa nyawa saya akan hilang begitu saja, saya sungguh takut tidak ada waktu lagi buat saya untuk bertemu dengan mereka, Nona,” pinta Nina, sambil mengusap bulir bening yang berhasil lolos dari ujung matanya.
Semua saling bertatapan. Sungguh haru biru yang kini mereka rasakan. Selama ini Rani tidak mengizinkan Nani pulang bukannya tanpa alasan. Ada Charles di luar sana yang masih menjadi buronan, sehingga tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin kalau dia tidak akan datang untuk membalas dendam. Tapi menolak permintaan gadis itu setelah semua yang terjadi padanya, mereka benar-benar tidak tega.
“Begitu dokter mengizinkan, kita semua akan mengantarkanmu pulang ke kampung halaman,” Ryan memberi jawaban.
Tak terasa satu pekan telah berlalu, Nina sudah diperbolehkan pulang sementara Meysie masih koma dan di rawat di ruang ICU rumah sakit itu.
Sesuai janji Ryan, hari itu mereka memutuskan untuk mengantarkan Nina pulang. Tidak hanya Rani dan Ryan, Daniel, Arya, Naja, Lena juga Davina dan Aghata pun ikut serta. Mereka pergi menggunakan dua Mobil Alphard dengan Johan dan Pak Rudi yang menjadi pengemudinya. Mobil pertama diisi Ryan, Rani, Daniel, Naja juga Johan dan Nina, sementara mobil kedua diisi Arya, Lena, Davina, Aghata dan Rudi sebagai pengemudinya.
Jalanan yang ramai lancar, membuat mereka hanya butuh waktu tiga jam untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Rasa lelah yang sempat menerpa, seketika pun hilang ketika mereka sampai di kampung halaman Nina. Pesona alam pedesaan yang jelita dan begitu menakjubkan, dinginnya semilir angin yang bergoyang, membuat irama merdu dari pohon bambu pun sayup-sayup terdengar seolah sedang bercengkrama dan berbicara saling bersahutan.
“Hmmmm,” mereka terlihat memejamkan mata dan menghirup udara segar dan menyejukkan itu dalam-dalam.
Dan ketika mereka membuka mata, sebuah pemandangan nan hijau tersuguh sejauh mata mereka memandang.
“Nina, yang mana rumahmu?” Davina bertanya tak sabar.
__ADS_1
“Mari ikut saya, Nyonya, Tuan,” Nina mempersilahkan.
Semua yang berada di tempat itu pun mengganggukkan kepalanya, memberikan persetujuan, kemudian mengikuti kemana kaki Nina melangkah. Ya, untuk sampai ke rumah Nina, mereka harus melalui gang kecil, sehingga mobil pun terpaksa mereka parkir di lapangan. Jalan pedesaan itupun cukup sempit hingga mobil tak bisa mereka parkirkan di pinggir jalan.
“Tuan, Nyonya, dan Nona, kita sudah sampai di rumah saya,” mendengar ucapan Nina, semua yang ada di sana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Sebuah rumah kecil sangat sederhana, menjadi pemandangan pertama yang meredupkan mata, menggambarkan betapa keluarga yang tinggal di tempat itu jauh dari kata mapan, apalagi keluarga kaya. Sebuah bangunan reot yang lebih tepat disebut gubug itu terbuat dari anyaman bambu yang dipakai sebagai dinding rumah, dengan genting warna hitam yang sudah ditempeli lumut dimana-mana karena telah dimakan usia. Lantainya pun masih terbuat dari tanah, membuat kesan lembab bagi siapapun yang masuk dan menginjaknya.
“By ...,” Rani menyenggol suaminya hendak mengatakan sesuatu.
“Ini bukan saat yang tepat, Sayang. Pasti kita akan membantunya untuk memperbaiki rumahnya seperti kebiasaan kamu,” jawab Ryan setengah berbisik. Ryan sungguh tahu apa yang sedang berkecamuk dalam hati istrinya.
“Kok Hubby bisa tahu?” timpal Rani lagi.
“Hubby sudah hafal,” Ryan mengerlingkan matanya.
Tak berapa lama kemudian, mereka sama-sama terdiam begitu terdengar suara pintu di buka.
“Assalamu’alaikum,” sapa mereka bersamaan, begitu seorang pria setengah baya keluar dan menyambut mereka.
Namun, berbeda dengan ekspresi semua orang yang kini menyapa pria setengah baya yang tak lain adalah ayah Nina, aghata justru mundur beberapa langkah dan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Arsen?”
BERSAMBUNG
💖💖💖
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan rate 5. Ditunggu juga comment positifnya. Terima kasih.