
“Sayang?” Prabu masuk ke dalam kamar dengan hati berdebar. Dilihatnya Titania sedang duduk di kepala ranjang, dengan posisi kedua kakinya ditekuk hingga bisa menyatu dengan kepalanya yang menunduk. Kedua tangannya pun terlihat memeluk kaki yang ditekuknya itu untuk menyangga tubuh yang terlihat berguncang kencang, menandakan pemiliknya sedang tergugu dalam tangisan.
“Sayang, maafkan aku! Aku bisa jelaskan semuanya,” Prabu kembali memanggil Titania yang tidak memberikan respon apapun akan kehadiran suaminya itu.
Kini Prabu berusaha mendekati istrinya dan merengkuh tubuh itu. Tapi di luar dugaan, Titania menghempaskan tangan Prabu begitu saja dengan kasar, hingga pria yang sedang gabut itu terperanjat. Jantungnya berolah raga dengan spontan melihat reaksi istri yang biasanya sangat anggun dan lembut itu tiba-tiba seperti orang kesetanan.
“Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh seorang pendusta seperti dirimu,” teriak Titania.
“Semua tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Aku terpaksa menikahinya karena waktu itu dia mencoba bunuh diri,” jelas Prabu sambil berusaha merengkuh tubuh Titania kembali namun gagal lagi. Titania terus saja menghempaskan tangan Prabu yang berusaha untuk menyentuh tubuh itu.
“Itu mau kamu saja, Mas. Menyelamatkannya tidak harus dengan menikahinya bukan?” tanya Titania penuh emosi.
“Waktu itu aku sudah gunakan segala cara untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya tapi tidak berhasil. Jadi aku...,” belum sempat Prabu melanjutkan kalimatnya, Titania sudah menyela.
“Jadi kamu bilang mau menikahinya kan? Tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku? Tanpa memikirkan bagaimana tercabik-cabiknya hatiku?” cicit Titania dengan nada cukup tinggi. Air matanya terus saja mengalir membasahi wajah cantik itu.
“Kita bisa bicarakan baik-baik, Sayang. Kumohon!” kini Prabu meraih dua tangan istrinya dengan lembut.
“Tapi kamu sudah janji, Mas. Kamu sudah janji hanya akan ada aku dalam rumah tangga kita,” Titania terus tergugu.
“Sayang, maafkan aku. Kumohon!” tutur Prabu lembut.
“Ahh,” Titania menghela nafas panjang, seolah ingin mengumpulkan energi kembali yang sempat hilang.
Sesaat, dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya, kemudian berkata, “Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa.”
Setelah mengucapkan kata itu, Titania langsung menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas dan langsung pergi meninggalkan suaminya begitu saja.
__ADS_1
“Sayang! Sayang! Kau mau kemana? Dengarkan aku dulu! Please!” seru Prabu sambil terus mengejar Titania yang kini berlari menuruni tangga dan menuju ke arah mobilnya.
Titania tak menghiraukan lagi apapun perkataan Prabu kepadanya. Dia terus berlari dan masuk ke dalam mobilnya begitu saja, serta memasang mode kunci untuk seluruh pintu hingga ketika Prabu berhasil mengejarnya, dia tak bisa membuka pintu mobil yang dianaiki Titania. Prabu bahkan menggedor-gedor kaca mobil itu dengan keras agar Titania bersedia membukanya dan memberi kesempatan kepada mereka untuk bicara, namun lagi-lagi Prabu gagal. Titania sama sekali tak terpengaruh. Dia justru menyalakan mobil itu dan segera melajukannya dengan membabi buta.
Prabu yang menyadari bahwa mungkin dia akan kehilangan istri yang sungguh sangat dicintainya itupun segera berlari kembali ke dalam kamarnya, untuk mengambil kunci mobil dan segera mengejar Titania. Namun sekali lagi, takdir sedang menunjukkan keberpihakannya. Karena terlalu terburu-buru ingin menemui istrinya saat pulang tadi, Prabu lupa menaruh kunci mobil itu dimana.
“Sial!” Prabu mengutuki dirinya sendiri.
Hampir sepuluh menit, Prabu terus mencari keberadaan kunci itu, namun gagal dan gagal lagi. Kunci itu seolah sedang ikut bermain dan membuat Prabu semakin mengutuki dirinya sendiri.
“Pak Mamad! Pak Mamad!” Prabu berlari menuruni tangga sambil memanggil supir pribadinya.
“Pak Mamad baru saja keluar untuk menjemput Den Ryan di sekolahnya, Tuan,” Bik Tum tiba-tiba muncul dan menjawab.
“Huhh,” kini Prabu hanya bisa mengacak-acak kepalanya dengan kasar.
“Bantu aku cari kunci mobilku, Bik,” perintah Prabu pasrah. Kini dia hanya bisa duduk dengan lunglai di atas sofa, berusaha menguatkan diri menghadapi apa yang akan terjadi nanti, diantara dia dan wanita yang sungguh sangat dia cintai.
Di jalanan, Titania sudah seperti orang kesetanan. Tangisnya dia biarkan keluar begitu saja untuk mengurangi rasa sakit dalam hatinya. Pikirannya linglung. Ditekannya pedal gas pada kaki kanannya kuat-kuat hingga mobil itu melaju dengan kencangnya. Banyaknya bunyi klakson yang melengking akibat terganggu dengan ulahnya pun tak dia hiraukan sama sekali. Yang dia pikirkan hanya satu, menjemput Ryan sebelum Pak Mamad berhasil mendapatkannya terlebih dahulu dan segera membawanya pergi.
“Aku harus segera menjemput Ryan dan membawanya pergi,” hanya itu yang ada dalam benaknya.
Ternyata Titania datang tepat pada waktunya. Begitu dia sampai di sekolah Ryan, Pak Mamad sudah bersama putranya itu dan hendak membawanya.
“Pak mamad!” panggil Titania dan segera berlari menghampiri mereka.
“Ya, Nyonya,” Pak Mamad yang cukup kaget karena majikannya datang hanya menjawab seperlunya.
__ADS_1
“Biarkan Ryan pulang bersamaku. Ayo, Sayang!” ucap Titania dengan lembut, hingga Ryan kecil dengan semangatnya menghampiri mamanya.
Meski merasa bingung karena tidak biasanya sang majikan menjemput putranya sendiri, namun Pak Mamad melepaskan Ryan kecil dengan begitu santainya.
Namun di saat dia melihat Titania sudah melajukan mobilnya dan berlalu begitu saja, tiba-tiba dering telephon dari saku Pak Mamad melengking mengagetkannya.
“Tuan Prabu? Tumben dia menelphonku,” gumam Pak Mamad melihat nama yang tertera pada benda pipih itu.
“Ya, Tuan,” sapa Pak Mamad seolah siap menerima tugas. Dia betul-betul tahu, bahwa majikannya tidak akan menelphonnya jika memang tidak ada tugas untuknya.
“Dimana Ryan?” pertanyaan Prabu di seberang sana lebih terdengar seperti bentakan.
“Den Ryan pulang bersama Nyonya, Tuan,” jawab Pak Mamad terbata. Jujur, dia benar-benar bingung dengan kedua majikannya yang sungguh tidak seperti biasanya itu.
“Sial! Kejar mereka, dan laporkan kepadaku kemana mereka pergi!” perintah Prabu, yang diiyakan begitu saja oleh Pak Mamad yang mulai mengerti bahwa antara dua majikannya itu sedang ada sesuatu.
Dengan sigab, Pak Mamad langsung masuk ke dalam mobilnya dan melaju mengejar kemana mobil Titania bergerak. Namun semakin Pak Mamad menambah kecepatannya, Titania semakin mempercepat laju mobil yang dikendarainya.
“Rupanya Anda tahu saya membuntuti Anda, Nyonya,” gumam Pak Mamad kesal. Dia pun segera menelphon Prabu dan mengabarkan ke arah mana Titania sekarang.
Namun entah apa yang terjadi, begitu Pak Mamad kembali fokus pada kemudi dan jalan yang dia lewati, di depan sana terlihat mobil Titania bertabrakan dengan sebuah mobil yang datang dari arah berlawanan.
“Nyonya!” seru Pak Mamad.
Sesampai di tempat terjadinya tabrakan, Pak Mamad langsung berlari dan menghampiri mobil majikannya itu. Dia mengintip melalui kaca, terlihat nyonya dan tuan mudanya sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang bersimbah penuh menutupi muka keduanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Pembaca setia, karena beberapa hal, mohon maaf episode 100 s.d. 104 ceritanya author ganti ya. Semoga tetap menarik dan bisa dinikmati. Terima kasih.