
Kondisi Ryan yang semakin membaik, membuat Arya, Hengky dan Daniel memutuskan untuk kembali ke Kota X, mengingat banyaknya urusan perusahaan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan dalam waktu yang cukup panjang.
Hanya Rudi, Indra dan para pengawal saja yang tetap bertahan di Kota Y untuk menjaga Ryan, tak terkecuali Zara yang sudah mulai bergerak untuk menjalankan misinya bersama Indra.
Namun, Zara yang sudah lebih dari enam bulan dipasang Felix untuk melakukan spionase di Green Canyon, kini ditarik langsung ke perusahaan pusat keluarga Adinata, sehingga harus segera berpindah ke Kota X dan meninggalkan semua kenangannya, juga sosok pria yang telah mengisi hati juga membuatnya termotivasi untuk selalu menjaga diri.
Ya, ini adalah hari terakhir Zara di kotanya. Sebuah kota bersejarah yang telah membuat Zara meninggalkan jejak demi jejak dalam hidupnya yang hanya sebatang kara, kini harus dia tinggalkan demi untuk mempertahankan hidupnya.
"Bukankah tak ada bedanya, di sini ataupun di sana? Bukankah aku tetaplah Zara Delisha yang tak punya siapa-siapa? Lalu kenapa aku harus takut dan galau menghadapi semuanya?" Zara bermonolog sambil menyapukan pandangan ke seluruh sudut ruang apartemen yang telah ditinggalinya sekian lama.
"Huh," Zara menghela nafas panjang, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya sekarang. Angannya mengembara. Ingatannya kembali pada saat dia mulai hidup sendiri paska kedua orang tuanya kecelakaan dan akhirnya harus pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Sejak saat itulah Zara memutuskan untuk tak berkuliah dan justru menerima tawaran salah seorang teman untuk menjadi seorang agen mata-mata, hingga akhirnya bekerja untuk Felix Adinata di usianya yang masih terbilang muda.
"Ini adalah jalan yang kupilih. Apapun resikonya, aku tak bisa mundur lagi," gumam Zara lirih.
"Seciut itu nyalimu hingga urusan seremeh ini saja sampai segalau itu?" Indra yang tiba-tiba muncul dari balkon, sukses mengagetkan Zara.
"Kau tak bisa masuk ke rumah orang dengan cara baik-baik?" Zara bersungut kesal. Bahkan dia sampai mengelus dadanya karena kaget dengan kemunculan Indra yang tiba-tiba dari arah belakang.
"Jadi kau mau aku masuk setelah mengetuk pintu depan, dan setelah itu misi kita akan langsung hancur berantakan? Begitu, heh?" sahut Indra ketus.
Indra memang masuk ke apartemen Zara dari satu apartemen di bawahnya, untuk kehati-hatian. Bahkan dia rela menaiki seutas tali dari balkon apartemen bawah ke balkon Zara, agar kedatangannya tidak bisa diketahui oleh Felix dan anak buahnya.
"Ya, ya, ya. Lakukan semau Anda, Tuan Misterius," celoteh Zara tanpa mempedulikan keberadaan Indra. Dia justru meninggalkan Indra begitu saja dan menuju ke arah dapur tanpa mempersilahkan tamunya itu duduk, atau sekedar berbasa-basi menawarkan secangkir kopi.
"Kau tidak diajari sopan santun, hingga ada tamu datang ke rumahmu tak kau hiraukan sama sekali, heh?" seru Indra sambil mengikuti kemana Zara menggerakkan kakinya.
"Saya memang tak pernah diajari bersopan santun pada tamu yang datang tak diundang dan tanpa permisi seperti Anda, Tuan," sahut Zara dengan santainya. Dia membuka kulkas, meraih sekaleng minuman dingin kemudian membukanya.
__ADS_1
"Apa kau tak diajari menawarkan minuman juga kepada tamumu, Nona?" oceh Indra sambil merebut minuman itu dari tangan Zara, kemudian meneguknya.
"Apa Anda juga tidak diajari bagaimana caranya meminta minum dengan cara yang baik, Tuan?" jawab Zara dengan kesal, sambil membalikkan tubuhnya dan kembali membuka pintun kulkas sebelum akhirnya mengambil satu kaleng minuman lagi untuk dia sendiri.
"Terserah kau mau bilang apa. Yang jelas aku membawa perintah Tuan dan Nona untukmu," Indra meninggalkan Zara di dapur dan berjalan ke arah ruang tamu.
Mendengar majikan barunya disebut-sebut, Zara langsung memasang muka serius dan mengikuti langkah Indra, kemudian duduk di sofa ruang tamu sehingga posisi mereka berdua kini duduk saling berhadapan.
"Ini adalah nama-nama yang wajib kita curigai. Kita bagi tugas. Aku bekerja dari dalam perusahaan Tuan Ryan, Tuan Daniel dan Tuan Hengky, kau bekerja dari perusahaan keluarga Adinata. Ingat, sekecil apapun informasi yang kau dapat, kau harus memberitahu aku," Indra memperlihatkan sebuah file kepada Zara melalui ponselnya.
"Bagaimana aku memberi laporan kepadamu jika aku tak boleh menghubungimu terlebih dahulu?" sahut Zara tanpa memperhatikan Indra. Zara justru sibuk membaca file yang disodorkan Indra dan mengutak-atik file itu untuk dikirim ke emailnya.
"Apa yang kau lakukan? Dasar ceroboh," Indra merebut ponsel itu dari tangan Zara.
"Hey, saya belum selesai, Tuan," Zara membulatkan matanya.
Zara tak berusaha protes. Dia memang sudah harus membiasakan diri dengan cara kerja patner barunya itu, yang dia akui sangat unik, tapi punya banyak trik dan selalu bekerja dengan begitu rapi.
"Sebanyak ini?" tanya Zara menyadari ada sejumlah nama yang harus mereka bidik untuk satu misi ini. Setelah Zara hafal betul daftar nama yang dibacanya, dia pun menyerahkan kembali ponsel itu kepada Indra.
"Kita harus pastikan, karena aku yakin salah satu diantara mereka adalah pelakunya," Indra menerima ponsel dari tangan Zara dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.
"Hmmm," Zara hanya mengangguk pelan dan mulai membuka laptop yang berada di atas meja dengan tampang seriusnya. Rupanya Zara benar-benar tak sabar ingin membuka data dari nama-nama yang baru saja Indra sodorkan.
"Tak perlu buru-buru. Hari ini kau fokus saja pada urusan kepindahanmu. Aku sudah menyiapkan sebuah apartemen yang bisa kau tempati, kalau perlu hingga seumur hidupmu. Ada empat apartemen yang sudah kusiapkan. Satu untuk kau tempati, dan tiga unit lagi jika kau butuh melarikan diri atau butuh mengecoh musuh-musuhmu. Satu unit di samping kiri, satu unit di samping kanan, dan satu unit lagi terletak tepat di bawah apartemenmu," cicit Indra sambil menunjukkan beberapa formasi angka sandi pintu untuk keempat apartemen yang dimaksudnya.
Zara mengerutkan dahinya, dan mencoba menghafal empat formasi angka yang sudah pasti harus dia ingat di luar kepala.
__ADS_1
"Huh, kelihatannya mulai sekarang aku harus terbiasa menghafal banyak hal, jika aku bekerja dengan Tuan Misterius ini," gerutu Zara dalam hati.
"Ingat, kau tak boleh menghubungiku apalagi menyebut namaku apapun yang terjadi. Aku yang akan menghubungimu dan mengambil informasi darimu secara langsung, tidak melalui media apapun. Jadi mulai biasakan jika aku tiba-tiba muncul dari balkon apartemenmu," ucap Indra sambil beranjak dari tempat duduknya, menuju balkon hendak keluar dari tempat dia masuk sebelumnya.
Zara hanya mengangguk, sambil menatap punggung Indra yang sudah berlalu dari hadapannya.
"Huh," Zara terlihat bernafas lega.
"Oya, kau harus ingat dua hal," tiba-tiba Indra membalikkan tubuhnya dan berseru kepada Zara. Zara yang tadinya sudah merilekskan hati dan tubuhnya, tiba-tiba membenarkan posisi duduknya kembali.
"Akan saya hafalkan," lirih Zara.
"Bagus," Indra tersenyum tipis.
"Hal apakah itu Tuan?" Zara terlihat sudah terbiasa dengan hal misterius yang disuguhkan patner kerjanya itu.
"Yang pertama, kau harus ingat bahwa kau tak boleh menghubungiku terlebih dahulu, apapun alasannya. Kau mengerti?"
"Baik, Tuan," Zara menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan Indra.
"Yang kedua, kau tak boleh jatuh cinta kepadaku sebelum kau berhasil menyelesaikan misimu," oceh Indra langsung memunggungi Zara dan pergi begitu saja.
"Baik, Tuan. Eh, apa kau bilang?" Zara berteriak sambil berkacak pinggang, sayangnya Indra sudah terlanjur hilang dari pandangan.
"Dasar Tuan Misterius. Siapa yang mau jatuh cinta kepadamu?"
BERSAMBUNG
__ADS_1