METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Barter


__ADS_3

Sebuah cerita akan selalu terangkai untuk satu kata yang bernama cinta. Sebuah kata yang selalu terucap seiring dengan nafas kasih yang berhembus, meski terkadang angin mengguncang bagai ujian yang menerjang.


Begitulah cara Allah menguatkan ikatan cinta seseorang, dimana cinta akan semakin kuat ketika mampu menghadapi ujian dan cobaan. Seperti itu juga yang terjadi dalam kisah cinta Rani dan Ryan.


"Hallo, Tuan Dewangga. Apakah kau ingin mendengar suara istri Anda?" suara Charles di ujung telepon benar-benar memerahkan telinga Ryan.


"Dimana istriku? Jangan coba-coba kau sakiti dia!" sahut Ryan mulai geram.


"Hubby! Jangan turuti kemauan mereka, By. Rani tak rela," Rani bersuara, hingga membuat hati Ryan bergetar hebat ingin segera menemukannya.


"Apa kau sudah dengar, Tuan Dewangga?" Charles mengambil alih ponselnya lagi.


"Apa maumu? Katakan!" tanya Ryan tak sabar.


"Rupanya Anda sangat terburu-buru, Tuan. Tapi baiklah jika Anda memang sudah tidak sabar," sahut Charles berbelit-belit.


"Apa maumu? Katakan!" Ryan mengulang pertanyaannya sekali lagi.


"Ha-ha-ha-ha-ha. Dengarkan baik-baik perkataanku, Anak Muda," kini Atmaja mengambil alih ponsel Charles yang telah berpindah ke tangannya.


"Om Atmaja!" pekik Ryan.


"Wah. Wah. Wah. Rupanya suaraku bisa kau kenali dengan mudah," ucap Atmaja sinis.


"Apa yang Om lakukan, Om? Kenapa Om melakukan ini? Bahkan Om tega membuat Lena dan Arya kehilangan bayi mereka," tutur Ryan, masih tidak percaya bahwa Atmaja bekerja sama dengan Charles untuk menyekap istrinya.


"Jika kau ingin istrimu selamat, maka ikutilah permainanku!" Atmaja mulai mengarahkan pembicaraannya.


"Apa yang Om inginkan?" tanya Ryan to the point.


"Nikahi putriku, akan kulepaskan istrimu!" Atmaja membuat sebuah penawaran.


"Cih, dulu kau main menjodoh-jodohkan putrimu itu sampai-sampai dia meninggalkanku. Sekarang kau sampai menculik istriku agar aku bisa menikahinya," gerutu Ryan dalam hati.


"Bagaimana?" Atmaja kembali bertanya.


"Bukankah Om sudah tahu sendiri jawabannya? Saya tidak akan pernah menikahinya," sahut Ryan tanpa ragu.


"Bagaimana jika aku menyakiti istrimu?" Atmaja mulai membangun bergaining.


"Jika Anda berani melakukannya, saya tidak akan sungkan-sungkan untuk menyakiti Anda," Ryan masih bertahan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kau mendengar ini?" Atmaja diam sejenak, kemudian suara di balik telepon berubah menjadi suara teriakan yang memilukan.


"Aaaahhhg! Tolong jangan lakukan itu! Kumohon jangan lakukan itu! Hubby! Tolongin Rani, By!" teriakan Rani sayup-sayup terdengar di telinga Ryan.


"Sayang! Sayang! Ran! Rani! Kamu kenapa, Sayang?" Ryan mulai panik.


"Apa yang sudah kalian lakukan? Lepaskan dia!" Ryan berteriak-teriak, tidak dapat dikendalikan.


"Ha-ha-ha-ha-ha. Rupanya benar dugaanku, Anak Muda. Perempuan ini memang kelemahan terbesarmu," oceh Atmaja dengan tawanya yang menggelegar.


"Jangan sakiti dia, Om!" pinta Ryan.


"Kalau begitu kita barter. Kau nikahi Meysie, maka aku akan melepaskan istrimu," tawar Atmaja.


Ryan terlihat memandang Daniel dan Naja yang kini tepat berada di hadapannya. Dengan isyarat mata, seolah Ryan menuntut pertimbangan. Daniel terlihat mengangguk, Naja pun mengacungkan satu jempol kanannya, hingga akhirnya Ryan kembali membuka suara.


"Berikan aku waktu untuk memikirkannya, Om. Malam ini akan kuberi jawabannya. Tapi tolong jangan sakiti Rani dan Nina, Om. Kumohon!" Ryan memasang suara memelasnya.


"Baiklah, aku tunggu keputusanmu malam ini juga," sahut Atmaja, sambil menyeringai bahagia. Dia benar-benar yakin bahwa Ryan akan menerima penawarannya.


***


"Aaaahhhg! Tolong jangan lakukan itu! Kumohon jangan lakukan itu! Hubby! Tolongin Rani, By!" Rani menangis sesenggukan.


"Hentikan!" seru Atmaja begitu menyetujui permintaan Ryan.


Pria-pria berotot itu pun tak melanjutkan aksinya. Mereka menjalankan semua perintah Atmaja, sehingga hewan lintah yang hendak ditempelkan pada kaki Rani mereka letakkan kembali pada sebuah kotak yang mereka gunakan untuk menyimpannya.


"Ayo kita tinggalkan dia. Nanti malam suaminya akan memberi jawaban," perintah Atmaja.


Tak lama kemudian, dia meninggalkan tempat penyekapan bersama Charles, sementara empat orang pria bertubuh kekar itu tetap berada di sana untuk menjaga mereka.


Rani pun cukup bisa bernafas lega selepas Charles dan Atmaja meninggalkannya. Meskipun, Rani sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan menjadi keputusan akhir suaminya.


Setitik keraguan tiba-tiba menggelayuti suasana hatinya, karena satu kata saja keluar dari mulut suaminya, akan membuat takdir cintanya berubah seketika.


"Apa yang akan kau lakukan, Hubby?" kini air mata Rani lolos begitu saja dari ujung matanya, hingga akhirnya isakan tangis pun terdengar dengan begitu sendunya.


"Nona, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Nina khawatir, begitu tangis Rani terdengar di telinganya.


"Tak apa, Nina. Aku baik-baik saja. Maafkan aku hingga kau harus ikut terbawa alur cerita cintaku," tutur Rani masih dengan linangan air mata.

__ADS_1


"Saya tidak apa-apa, Nona. Setidaknya Anda tidak berada di tempat ini seorang diri karena ada saya yang menemani," jawab Nina lembut.


Rani pun mengulas senyumnya, mendapati ketulusan dan kesetiaan Nina.


***


"Berikan aku waktu untuk memikirkannya, Om. Malam ini akan kuberi jawabannya. Tapi tolong jangan sakiti Rani dan Nina, Om. Kumohon!" Ryan memasang suara memelasnya.


Setelah mendapat anggukan Naja sekali lagi, akhirnya Ryan memutuskan untuk mengakhiri panggilannya.


"Apa kau mendapatkannya, Naja?" tanya Ryan penasaran.


"Tunggu sebentar, Tuan," sahut Naja tanpa melihat ke arah Ryan Dewangga. Naja masih terus sibuk dengan laptopnya.


Satu menit kemudian.


"Yupz. Kita sudah mendapatkannya, Tuan," jawab Naja datar.


Rupanya telepon Atmaja itu sudah sangat ditunggu-tunggu Ryan, dengan harapan bahwa nomor handphone yang Atmaja pakai bisa Naja lacak keberadaannya, sehingga Rani dan Nina bisa kembali pulang tanpa Ryan harus menikahi putrinya.


"Dimana posisi pastinya?" tanya Ryan tak sabar.


"Dilihat dari posisinya, sepertinya mereka berada di sebuah museum, Tuan. Tapi mungkinkah mereka di sana? Itu kan tempat umum?" Naja terlihat ragu.


Ryan, Daniel, dan Rudi terlihat mencerna setiap kata demi kata yang Naja ucapkan. Hingga tiba-tiba, Rudi membulatkan matanya, mengingat sesuatu yang mungkin akan menjadi petunjuk berharga.


"Bukankah museum itu mempunyai ruang bawah tanah yang di tutup untuk umum? Bisa jadi mereka berada di sana," oceh Rudi meyakinkan.


"Benarkah?" timpal Daniel.


"Benar. Mungkin mereka memang berada di sana," sahut Naja membenarkan perkataan Rudi.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita serang mereka, dan bawa kembali kakak Ipar juga Nina," putus Daniel sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu! Kita harus menunggu Johan membawa Om Arsen dan Tante Mira ke rumah ini, juga memastikan Arya, Mama Davina dan juga Lena kembali. Aku tak mau ambil resiko dan kecolongan lagi," cegah Ryan.


"Tapi jika tiba-tiba hujan, air di ruang bawah tanah itu akan semakin naik, Tuan. Mereka bisa tenggelam jika itu benar-benar terjadi,"


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya guys. Terima kasih.


__ADS_2