METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Darah


__ADS_3

Malam kian terbenam, gumpalan kapas putih pun kini berganti menjadi langit yang menghitam. Ryan mencoba mendongak ke atas, di sana keindahan alam begitu terlihat mempesona. Berjuta bintang bertaburan, bulan pun terpancar sempurna menerangi jagat raya.


Ryan mengedarkan pandangan ke arah kursi penumpang di sebelahnya. Dipandangnya gadis cantiknya sedang tidur dengan lelapnya, tanpa sadar mereka sekarang berada dimana.


Ya, akhirnya Ryan menepikan mobilnya di pinggir taman kota. Sudah lebih dari dua jam dia berputar-putar mencari makanan yang Rani inginkan, tapi yang menarik dan menggugah selera istrinya tak kunjung mereka temukan. Ketika akhirnya Ryan mendapati istrinya sudah tertidur nyaman, mau tak mau mobil pun harus Ryan pinggirkan.


"Apa yang mau dicari jika Tuan Putri saja tidur pulas seperti ini," ucap Ryan sambil mengelus puncak kepala istrinya dengan sabar.


Setelah menyetel jok mobilnya agar Rani bisa tertidur lebih nyaman, akhirnya Ryan pun merebahkan joknya dan ikut tidur di bawah cahaya bulan yang temaram.


Satu jam kemudian, Rani terbangun. Dengan ekspresi bingung, dia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Didapatinya Ryan telah tertidur pulas di atas jok pengemudi. Diliriknya jam digital yang terletak di atas tombol AC, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


"By! Hubby!" panggil Rani sambil menggoyang bahu Ryan dengan pelan.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Ryan yang mendengar panggilan Rani langsung terperanjat dan membenarkan posisi duduknya. Dia tidak mau istri yang telah mengandung anaknya itu ngambek lagi jika tahu bahwa dirinya ikut tertidur.


"Hmm," jawab Rani sambil melihat ke sekelilingnya.


"Maaf Hubby berhenti di taman kota. Habisnya sholehahnya Hubby ini tertidur, jadi Hubby tidak tahu kita harus berkeliling kemana lagi," sebelum Rani protes, Ryan berinisiatif untuk menjelaskan terlebih dahulu.


"Kenapa Hubby malah berhenti di sini? Kenapa tidak pulang saja tadi?" Rani mengernyitkan dahinya.


"Hubby takut kamu marah. Kamu kan pengen cari makan tadi," jelas Ryan dengan wajah memelasnya.


"Ya Allah, Hubby. Maafin Rani," di luar dugaan, Rani langsung menghambur ke arah Ryan dengan tergugu.


"Loh. Kok nangis lagi? Udah dong. Ayo kita cari makanan untukmu lagi," tutur Ryan lembut. Tangannya sibuk mengusap punggung istrinya penuh kehangatan.


"Maafin Rani, By. Rani selalu menyusahkan Hubby," Rani semakin mengeratkan pelukannya dan kembali tersedu.


"Hubby tidak merasa disusahkan. Selama Hubby masih bisa memberikannya, apapun akan Hubby kasih buat istri tercinta Hubby," Ryan mengendurkan pelukannya, meraih wajah istrinya kemudian mencium keningnya dengan penuh cinta.


"Sekarang, kamu mau kita kemana lagi? Anaknya Daddy yang di dalam sini lagi pengen apa, Sayang?" Ryan mengelus perut Rani dan menciumnya berkali-kali.


"Rani sudah nggak pengen, By. Kita pulang aja Hubby nggak papa kan?" rajuk Rani.


"Iya, Sayang. Yakin kita pulang?" Ryan memastikan sekali lagi.

__ADS_1


"Iya, By. Kita pulang," jawab Rani mantap.


Sedetik kemudian, Ryan sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang sudah sangat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang, karena hari sudah larut malam.


Dalam waktu lima belas menit, mereka telah sampai ke rumah. Seolah malas beranjak, Rani pun menuju ke kamarnya dengan di gendong suaminya. Para penjaga malam yang bertugas pun hanya mampu menelan salivanya, melihat kemesraan mereka berdua.


Dengan susah payah, akhirnya Ryan berhasil membuka pintu kamar dan membaringkan Rani di atas tempat tidurnya.


"Kita tidur, besok pagi-pagi kita harus ke rumah sakit. Ingat kan, besok kita mau lihat janin kita?" kata Ryan, sesaat setelah mengecup kening istrinya dengan lembut.


Ryan pun beranjak, hendak mengganti pakaiannya dan ikut beristirahat dengan nyaman. Namun, sebelum Ryan turun dari ranjang, Rani bangkit, menarik tangannya dan segera memeluknya seolah tak mau dilepaskan.


"Jangan kemana-mana," rengek Rani.


"Hubby tidak kemana-mana, Sayang. Hubby hanya mau mengambil baju ganti sebentar," sahut Ryan dengan senyum mengembang.


"Di sini aja, By. Rani tidak mau ditinggal," Rani terus merajuk. Bahkan kini dia semakin merapatkan tubuhnya, dan membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.


Mendapatkan perlakuan manja dari istrinya itu, hasrat Ryan menjadi menggebu. Merasa terpancing, langsung di raihnya wajah cantik itu, kemudian dinikmatinya setiap inchi rongga mulut yang kini sudah saling terpaut.


Rani menceracau. Setiap perlakuan suaminya dia nikmati karena malam itu bukan hanya menjadi hasrat suaminya, tapi hasratnya juga sudah kian menyala.


"Hubby juga menginginkanmu, Sayang. Sangat menginginkanmu," sahut Ryan dengan aksi yang terus dia lancarkan.


"Ehmmm, By," reaksi Rani sudah semakin tak terkendali.


Dari mulut mereka sudah keluar suara-suara erotis yang tak mampu di halau lagi. Helaian demi helaian benang pun sudah tak ada satu pun yang terpasang, membuat surga dunia benar-benar mereka rasakan.


"Apa tidak sakit?" tanya Ryan begitu akhir ronde hampir mereka selesaikan.


Rani hanya nenggeleng, sambil mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Mereka pun segera membuat irama dalam setiap tarikan dan desahan yang mengiringinya.


"Sebentar lagi, Sayang," tutur Ryan sambil menatap istrinya penuh kenikmatan.


"By, percepat sedikit," rengek Rani. Wajah yang tadinya terlihat sangat menikmati, kini berubah tegang dan meringis kesakitan.


"Bentar lagi, Sayang," Ryan tak memperhatikan ekspresi Rani.

__ADS_1


"Sudah belum, By?" rengek Rani.


"Sebentar," Ryan tak mau berhenti.


Baru setelah sepuluh menit kemudian, Ryan mendapatkan apa yang dia inginkan.


Cup.


Seperti biasa, sebuah kecupan terima kasih Ryan daratkan setelah selesai melakukan ibadahnya.


"Terima kasih, Sayang," tutur Ryan lembut.


Rani hanya mengangguk pelan. Di ujung matanya ada setitik air yang menggenang.


"Kamu kenapa?" tanya Ryan heran.


"Perut dan pinggang Rani sakit, By,"


"Hah? Sakit? Coba Hubby periksa," Ryan langsung mengelus perut istrinya, kemudian memiringkan tubuh Rani agar dengan mudah bisa mengelus bagian belakangnya.


Namun alangkah terkejutnya, saat Ryan mendapati bercak darah mengotori sprey di bawah tempat tidur istrinya.


"Darah," seru Ryan spontan.


"Darah, By? Jangan bilang Rani berdarah, By. Rani tidak mau keguguran lagi, By. Rani tidak mau," tiba-tiba Rani histeris.


"Kita ke rumah sakit," Ryan mengenakan seluruh pakaiannya dan memakaian baju untuk istrinya.


Namun ketika Ryan mencoba mengangkat tubuh Rani, Rani berteriak kesakitan.


"Jangan angkat tubuh Rani, By. Sakit," rengek Rani.


"Terus apa yang harus kita lakukan?" Ryan mengacak rambutnya dengan kasar.


Ryan pun terlihat mondar-mandir sebentar. Tak lama kemudian, dia sudah menempelkan ponselnya dan mencoba berbicara dengan seseorang.


"Hallo, Dok. Tolong datang ke rumah sekarang. Istriku mengalami pendarahan. Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit, karena bergerak sedikit pun dia sudah merasa kesakitan," ucap Ryan kepada dokter kandungan Rani melalui panggilan telepon.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2