
Di bawah naungan cakrawala yang membentang, Hengky terduduk diantara cahaya bulan dan lampu taman rumah sakit yang temaram.
Hengky terus menatap langit itu, berharap ada satu bintang jatuh agar satu permohonan bisa dia ucapkan. Dan jika waktu itu datang, dia ingin sekali ucapkan satu permintaan, agar Allah memberi keajaiban dan membuang melodi sendu dari hatinya yang terdalam.
Semilir angin malam pun menyapu mesra wajahnya, membuat mata indah pria itu sesekali terpejam karna hembusan yang menerjang.
"Ahhh," hati Hengky menjerit syahdu. Apa yang dia lihat saat di ruang perawatan Rani tadi benar-benar membakar asanya, dan menancapkan sepotong lara yang terus menusuk dan mencabik-cabik jiwa dan segala rasa yang selama ini telah merajai hatinya.
"Apakah mereka bersalah?" batin Hengky.
Namun, seketika Hengky menemukan jawabannya sendiri, bahwa tidak ada seorang pun yang bersalah dari semua yang terjadi. Semua adalah bagian dari takdir yang telah digariskan. Bukankah urusan hidup, mati dan jodoh seseorang itu telah dituliskan? Jawabannya, Ya. Dan Hengky tersenyum penuh kelegaan, belajar menerima skenario Sang Pencipta yang masih penuh rahasia.
Dan kini, Hengky harus mulai menata diri. Dia harus terlepas dari belenggu di hatinya yang telah membuat dirinya tak bisa lagi membuka diri dan berpikir dengan logika. Bukankah saat ini ada ibu dan kakaknya yang harus benar-benar dia jaga selepas larinya Atmaja?
"Ahhh," Hengky mendesah kasar sekali lagi.
Ingatannya kembali pada pembicaraannya bersama Ryan sesaat tadi.
"Kau tidak berniat memutuskan kerja sama kita kan?" satu pertanyaan yang Hengky lontarkan pada Ryan tiba-tiba muncul lagi dalam ingatan.
"Kita berjuang bersama, Brother. Kunantikan kehebatanmu sebagai Presdir Atmaja Group yang baru," Hengky tersenyum getir, sekaligus bersyukur Ryan tidak membuat perusahaannya hancur seperti perusahaan Felix Adinata yang hancur lebur dalam waktu semalam, setelah dia mengusik istrinya.
Malam pun semakin larut, Hengky mengakhiri khayalannya yang sedari tadi terus mengembara. Dia melirik jam yang bertengger manis di tangannya, waktu menunjukkan jam delapan malam.
"Aku harus segera kembali ke ruang ICU untuk menemani Kak Meysie. Sudah saatnya Mama pulang untuk beristirahat," lirih Hengky, sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan taman yang terletak tak jauh dari area parkir rumah sakit.
__ADS_1
Dengan perasaan lega juga sedikit tenang karena keluarganya tidak perlu kehilangan Atmaja group paska Meysie dan sang ayah melakukan hal gila, Hengky berjalan memasuki lobby utama rumah sakit.
Ya, dia harus melewati lobby utama, IGD, dan ruang operasi sebelum sampai ke ruang ICU. Dia juga harus melewati ratusan orang yang berlalu lalang, atau sekedar duduk menunggu antrian pendaftaran, mengantri pemeriksaan dokter di poli rawat jalan, atau ada juga yang berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi.
Hengky yang pada dasarnya merupakan orang yang sangat peduli terhadap orang lain sama persis seperti Rani pun terlihat antusias melihat dengan seksama orang-orang yang dilaluinya.
Namun kini, ada satu titik yang menjadi fokus dari pandangannya. Di hadapannya, ada seorang ibu paruh baya yang terlihat sangat kesakitan, tapi dia memaksakan diri untuk keluar.
Wanita paruh baya itu duduk di atas kursi roda, dengan seorang gadis yang mendorongnya dari belakang.
"Mau dibawa kemana ibu Anda, Nona?" jiwa keingintahuan Hengky yang tinggi, membuatnya tergerak untuk segera menghampiri seorang gadis dan ibu paruh baya itu.
"Pulang," jawab gadis itu penuh penekanan. Dilihat dari ekspresi wajah dan matanya yang sembab, kelihatannya mereka sedang dalam masalah.
"Pulang? Apa ibu Anda hanya berobat secara rawat jalan saja? Kondisi ibu Anda sepertinya sangat lemah," cecar Hengky penasaran. Dia bahkan sudah mendekati ibu itu dan melihat kondisinya.
"Kenapa?" tanya Hengky lagi.
"Sudahlah, Tuan. Kami harus segera keluar, atau kami akan ketinggalan angkutan," gadis itu sedikit memundurkan kursi roda ibunya kemudian mendorongnya lagi melewati Hengky yang masih terlihat mencerna perkataannya.
"Nona, tunggu!" Hengky mengejar gadis itu.
Gadis itu berhenti dengan kesal.
"Mau apa lagi ini orang?" batin sang gadis.
__ADS_1
"Ceritakan kesulitanmu! Siapa tahu saya bisa bantu," paksa Hengky.
"Kami orang miskin, Tuan. Untuk bisa berobat di rumah sakit, hanya bantuan pemerintah yang kami andalkan. Awalnya kami merasa tenang, karena negara memberikan asuransi kesehatan. Tapi hari ini, saya merasakan sendiri betapa masyarakat miskin seperti saya masih tetap harus menderita, Tuan. Bahkan untuk mendapatkan hak kami agar bisa berobat saja kami tidak bisa. Di saat ibu saya sakit seperti ini, ternyata asuransi kesehatan ibu saya di non aktifkan secara sepihak oleh pemerintah, sehingga tidak ada pilihan lain selain pulang, Tuan. Karena tanpa asuransi kesehatan itu kami tidak bisa bayar," cerita gadis itu sendu.
Hengky hanya menarik nafas panjang mendengar cerita gadis itu. Ini bukan untuk pertama kalinya Hengky mendengar cerita yang sama. Selama ini memang banyak orang miskin yang tidak bisa mendapatkan hak dari negara karena carut marutnya data dan dipertanyakannya kinerja.
"Biar saya bantu, Nona," tutur Hengky sambil meraih pegangan kursi roda itu.
"Tapi, Tuan. Saya ...," gadis itu ragu.
"Sudah, biar saya yang urus semuanya. Yang penting ibu Anda bisa ditangani dulu," ucap Hengky sambil mendorong sang ibu ke arah IGD.
Setelah memastikan bahwa ibu itu bisa dirawat dengan segala biaya menjadi tanggungannya, Hengky pamit pergi dan segera menuju ruang ICU untuk menggantikan ibunya.
"Huh, di saat banyak orang di luar sana yang hidupnya menderita dengan segala permasalahan kompleks yang harus dilaluinya, keluargaku yang hidup dengan bergelimangan harta malah hancur hanya gara-gara urusan cinta. Sungguh merugi hidup Papa dan Kak Meysie harus membayar semahal ini hanya untuk mendapatkan suami Rani. Sementara aku? Aku sama bodohnya," batin Hengky dalam hati.
Hengky terus berjalan dari IGD menuju ruang ICU dengan senyum mengembang di bibirnya. Ya, dia sedang menertawakan nasibnya dan dirinya yang begitu bodoh memaknai cinta dengan begitu sempitnya.
Dan pertemuannya dengan gadis itu juga ibunya malam ini, benar-benar bisa membuka hati dan pikirannya, bahwa ternyata masalah yang dia hadapi belumlah seberapa.
"Aku harus selesaikan satu per satu masalah keluargaku, dan mulai membuka hatiku untuk mencari sosok pengganti Rani yang bisa mengobati patah hati dan mengisi ruang-ruang kosong dalam hatiku," gumam Hengky dalam hati.
Malam itu, Hengky mencoba mengumpulkan serpihan-serpihan kekuatan yang akan dibawanya untuk menoreh cerita hidup di masa yang akan datang. Demi ibunya, demi ayahnya, demi kakaknya, dan demi kehidupannya ke depan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Like, vote dan rate 5 nya author tunggu ya guys.