METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

Ryan menghela nafas panjang, begitu sebait kata dalam sebuah pesan masuk dalam deretan pesan lain di WhatsApp miliknya. Dan tentu saja, jemari lentiknya selalu handal jika semua sudah menyangkut tentang istri juga calon bayinya. Hingga Ryan segera membalas pesan dari istrinya itu untuk menenangkan hati, dan melupakan segala pikiran buruk yang akan mengganggu kesehatannya, juga janin yang sedang dikandungnya.


Ya, itu adalah sebuah pesan yang dikirim oleh istrinya, berisi screenshot pesan demi pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal, yang belakangan ini kemudian diketahui bahwa pesan itu dikirim oleh Felix Adinata, mantan pacar sehari Rani saat mereka masih di bangku SMA.


"Apa yang sebenarnya kau cari, Felix? Kehancuran perusahaanku untuk mengobati hasrat dendammu kepadaku, atau kau masih menginginkan istriku?" gumam Ryan dalam hati.


Bahkan kini Ryan terlihat begitu lelah, mengetahui perkembangan mega proyek Green Canyon miliknya yang begitu banyak mengalami kendala, juga mengingat cobaan demi cobaan yang harus mereka terima secara bertubi-tubi dalam kisah cintanya.


"Beri waktu pada saya sehari saja untuk menyelesaikan misi ini, Tuan," yakin Indra beberapa saat yang lalu, cukup membuat optimisme Ryan kembali menggebu.


Tapi jika mengingat kembali bahwa musuh yang dihadapinya kini terlihat begitu besar, hanya kekhawatiran akan keselamatan keluarganya yang Ryan pikirkan. Hingga tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar benar-benar mengejutkan Ryan.


"Masuk!" teriak Ryan.


Sedetik kemudian, Arya kembali masuk dan duduk tepat di hadapan Ryan.


"Ada apa?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.


"Kita harus segera ke Kota Y, karena ada masalah besar di Green Canyon yang harus secepatnya kita selesaikan," ucap Arya ragu.


"Gila kau ya. Istriku tak lama lagi akan melahirkan, kau suruh aku meninggalkannya ke luar kota? Kamu saja yang selesaikan," gerutu Ryan kesal.


"Ini serius. Kita semua harus segera sampai di sana, termasuk Daniel dan Hengky sebagai pemilik saham," jelas Arya kemudian.


"Tak bisakah kita selesaikan dari sini saja?" Ryan terlihat gelisah, apalagi melihat gelengan kepala Arya.


"Jangan salahkan aku kalau Daniel akan murka karena rencananya untuk berduaan dengan Naja kembali terganggu," cicit Ryan sambil berlalu.


"Kau pikir kalian saja yang terganggu? Aku juga begitu tahu. Lagi manis-manisnya sama Deeba juga," gerutu Arya sambil mengikuti langkah Ryan keluar dari ruang kerjanya.


***


Rani sedang asyik dengan novel di tangannya, begitu Ryan membuka pintu dan menghampiri istri cantiknya itu. Kini dia duduk bersandar di kepala ranjang, dengan potongan buah di meja samping kanannya, juga sebuah handphone yang berada di pangkuannya.

__ADS_1


Sesekali, dia terlihat memasukkan potongan buah ke mulutnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang masih setia dibacanya.


"Hmm. Hmm," merasa bahwa Rani tidak menyadari kehadirannya, Ryan pun berdehem untuk mengalihkan perhatian istrinya.


"Hubby?" Rani mengerutkan dahinya.


"Emang nggak dingin? Pakai pakaian begituan, suhu AC kecil banget lagi," Ryan langsung mendekati Rani dan mengecup keningnya.


"Rani panas banget, By," sahut Rani enteng.


"Kamu pakai baju seseksi itu dengan AC sedingin ini masih bilang panas?" Ryan memperhatikan istrinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Rani yang hanya mengenakan rok tipis tanpa lengan dengan panjang di atas lutut, kemudian rambut yang di kucir di atas, seharusnya merasa kedinginan.


"Nggak tahu nih, By. Sejak perut Rani membesar, hawanya jadi panas terus," jawab Rani sambil mengelus perutnya yang membola.


"Ya sudah, tapi tetap nggak boleh terlalu dingin AC-nya. Hubby takut kamu masuk angin. Ok?" Ryan duduk di depan Rani dan ikut mengelus perutnya.


"Kamu mau Hubby ambilkan buahnya lagi?" tanya Ryan sekenanya. Dia benar-benar bingung harus menggunakan bahasa apa untuk bilang bahwa dirinya harus berangkat ke luar kota.


"Pasti ada apa-apanya ini Hubby," Rani memandang lekat suaminya.


"Hubby mau bilang apa sebenarnya? Ayo katakan saja, By! Lagian masih pagi-pagi gini Hubby tumben banget sudah pulang?" cicit Rani penuh selidik.


"Hubby kangen banget sama kamu," Ryan mendekati istrinya, kemudian mengambil novel di tangan Rani dan meletakkannya di atas meja.


Sedetik kemudian, Ryan sudah menghujani wajah Rani dengan ciuman bertubi-tubi. Mulai dari kening, mata kiri, mata kanan, pipi kiri, pipi kanan, dan terakhir berupa sebuah ******* di bibir.


Lama sekali dia berhenti di area itu, bahkan kini tangannya sudah bergerak kemana-mana. Pakaian mereka pun sudah terhempas begitu saja, sebelum akhirnya mereka mengerang dengan begitu dahsyatnya, akibat nikmatnya penyatuan cinta mereka.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di kening Rani, sebelum Ryan tumbang di sampingnya.


"Terima kasih, Sayang. Sini!" ucap Ryan sambil menarik istrinya untuk mendekap dan memeluknya.

__ADS_1


"By, Hubby lagi kenapa sih, By?" tanya Rani lagi sambil menarik selimutnya dan membenamkan diri ke dalam dada bidang suaminya.


"Kenapa tanya begitu?" Ryan sedikit menunduk demi bisa memandang ekspresi Rani yang seolah tahu akan ditinggal pergi.


"Rani ngerasa ada sesuatu aja yang ngganjel di hati, By. Ada yang mau Hubby bilang ke Rani kan, By?" Rani mendongak sehingga kini mereka saling bertatapan.


"Peka banget sih kamu, Sayang?" batin Ryan.


"By?" panggil Rani lagi dengan nada manjanya.


"Huh," Ryan menghela nafas panjang.


"Ada masalah yang harus Hubby selesaikan di Green Canyon. Hubby, Arya, Daniel dan Hengky siang ini juga sudah harus berangkat ke sana," sahut Ryan dengan hati yang begitu berat.


"Terus Rani gimana, By?" suara Rani sudah terdengar parau, bahkan kini genangan air sudah terlihat dengan jelas di matanya.


"Ada Naja dan Rudi yang akan menjagamu," jawab Ryan sambil mengusap air mata istrinya yang mulai bercucuran.


"Tapi Rani maunya sama Hubby. Rani ikut ya?" rengek Rani manja.


"Perjalanan jauh tak baik buat jagoan Hubby yang berada di dalam sini," Ryan menempelkan tangannya dan tangan istrinya ke arah perut Rani yang sudah membola.


"Tapi, By," Rani terus merajuk.


"Hubby janji, begitu semuanya beres, Hubby langsung kembali," tutur Ryan lembut.


"Ya sudah aku suapin bajunya dulu," Rani mengerucutkan bibirnya dan hendak beranjak dari tidurnya.


Ryan tahu betul kalau istrinya itu pasti marah, bukan hanya terlihat dari mukanya yang cemberut, tapi bisa dipastikan dari bagaimana dia memanggil dirinya dengan sebutan aku, bukan Rani. Ya, kalau panggilan aku dan kamunya sudah muncul, bukan Rani dan Hubby, berarti dia sedang tidak enak hati.


"Tidak perlu, Sayang. Hubby sudah minta Bik Tum untuk siapkan. Kamu cukup peluk Hubby aja di sini, sebelum Hubby pergi," mendengar perkataan suaminya, Rani hanya mendengus kesal sambil merapatkan kembali pelukannya.


"Tapi kenapa perasaanku nggak enak gini ya, By? Kalau tiba-tiba Rani melahirkan pas Hubby pergi gimana?" celoteh Rani dengan segala kekhawatirannya.

__ADS_1


"Itu perasaanmu saja, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Ryan berusaha tenang, walaupun dalam hatinya penuh dengan kegalauan.


BERSAMBUNG


__ADS_2