METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sehidup Sesurga Bersamamu


__ADS_3

Hanya butuh waktu tiga puluh menit, Rani dan Ryan telah sampai di kediaman Mama Davina, rumah di mana mereka akan tinggal untuk sementara.


Rumah itu memang tidak semegah kediaman keluarga Dewangga. Namun entah kenapa ketika mereka memasukinya, ada perasaan nyaman luar biasa yang begitu saja masuk dan merasuk dalam hati mereka.


Ingatan mereka pun kembali pada sebuah peristiwa bersejarah yang tak akan pernah mereka lupa, sebuah peristiwa dimana beberapa bulan lalu Ryan telah mengucap ikrar sehidup sesurga hingga mengantarkan mereka pada sketsa cinta yang terlukis dalam hati dan kedalaman jiwa.


Ya, di tempat itulah sunnah bersejarah itu diakadkan, menghimpun kebaikan serta melengkapi kekurangan di antara mereka hingga cinta itu mulai terajut dan tertoreh dalam legenda kehidupan mereka.


"Mama senang akhirnya kalian mau menemani mama di sini," tutur Mama Davina, saat menyambut mereka dan mengarahkan agar mereka duduk di ruang keluarga.


"Maaf sudah merepotkan, Ma," cicit Ryan sambil menundukkan kepalanya. Entah kenapa, saat itu Ryan benar-benar merasa kehilangan muka di depan mertuanya.


"Bagi orang tua, tak pernah ada kata repot jika itu untuk putra dan putrinya. Lagi pula rumah ini memang sudah menjadi milik kalian berdua, karena Mama sudah mengalihkan rumah dan perkebunan atas nama istrimu. Dan mulai sekarang terserah kamu Ryan, perkebunan itu mau kau apakan. Mama sudah tidak sanggup untuk mengurusnya. Sudah saatnya mama menikmati hari tua, sambil menimang cucu yang nanti akan hadir dari buah cinta kalian berdua," ujar Mama Davina, seraya menyerahkan beberapa berkas dari tangannya.


Dengan ragu, Ryan menerima beberapa berkas dari tangan mama mertuanya. Pelan tapi pasti, dia membuka satu per satu berkas itu, ternyata berisi beberapa sertifikat kepemilikan rumah dan puluhan hektar perkebunan kopi peninggalan papa mertuanya, yang sekarang sudah diatasnamakan istrinya.


"Tapi, Ma. Ini bukan hak Ryan untuk menerimanya. Ini semua milik Rani," Ryan menatap mama mertua dan istrinya secara bergantian, bingung apa yang harus dia lakukan dengan berkas yang diterimanya itu.


"Rani setuju dengan yang Mas Ryan katakan waktu itu. Uang Mas adalah uang Rani, namun uang Rani adalah punya Rani sendiri. Tapi tidak ada salahnya kan, Rani membantu? Tidak ada larangannya juga. Lagian hasil perkebunan kopi itu sangat kecil, hasilnya tidak ada seujung kuku jika dibanding dengan hasil dari Dewangga Group," Rani meyakinkan suaminya.


Ryan menghela nafas panjang. Tidak pernah terlintas sekalipun dibenaknya, bahwa dia harus berhadapan dengan situasi seperti ini. Namun demi istri dan masa depan mereka, apapun akan Ryan lakukan. Mungkin ini adalah skenario terindah yang Allah siapkan untuk dirinya dan keluarganya, agar dia belajar makna perjuangan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka pamit untuk membenahi barang-barang mereka. Ryan dan Rani segera beranjak menuju kamar mereka, begitu juga dengan Pak Rudi, Nina yang sekamar dengan Naja, dan Bik Tum bersama dengan suaminya.


***


Mata Ryan hanya mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Rani di kamar mereka. Istrinya itu sekarang sedang sibuk memindahkan barang-barang pribadi mereka, dari koper ke dalam lemari yang telah lama kosong setelah Rani pindah mengikuti suaminya.


"Biar Mas bantu, Sayang," Ryan menawarkan diri berkali-kali, tapi berkali-kali itu juga Rani menolaknya.


"Kalau Mas Ryan bantu beresin, yang ada besok-besok malah Rani bingung sendiri kalau butuh ambil sesuatu," tolak Rani, yang membuat Ryan mengangkat bahunya tanda setuju.


Memang selama menikah, Rani tidak pernah membiarkan suaminya menyiapkan keperluannya sendiri, kecuali jika Ryan sampai rumah terlebih dahulu, atau saat Rani bertugas di luar kota. Semua kebutuhan pribadi Ryan hampir selalu Rani siapkan, mulai dari menyiapkan baju kerja, handuk dan baju ganti setelah mandi, bahkan urusan kecil seperti sikat gigi yang digunakan Ryan, Rani selalu mengecek dan rutin menggantinya.


"Hanya urusan masak saja yang kamu kacau, Sayang," gumam Ryan dalam hati.


"Ha-ha-ha-ha," akhirnya tawa itu lepas juga dari mulut Ryan, membuat kening Rani mengerut.


"Apa yang lucu? Mas Ryan lagi ngetawain Rani ya?" Rani bersungut kesal merasa ditertawakan.


"Enggak, Sayang," sangkal Ryan, masih dengan tawanya yang menggelegar.


"Ihh, jahat. Ada yang aneh ya sama Rani?" Masih dengan mengerucutkan bibirnya, Rani menuju depan cermin dan melihat bayangan dirinya.

__ADS_1


"Tidak ada yang aneh. Atau jangan-jangan...," Rani membulatkan matanya.


"Jangan-jangan apa?" melihat tingkah istrinya itu, Ryan menghentikan tawanya dan menghampiri istrinya kemudian memeluk istrinya dari belakang. Kini mereka sama-sama memandangi bayangan mereka di depan cermin.


"Rani tambah gendut ya?" tanya Rani manja.


"Enggak. Tambah cantik kok sayangnya Mas Ryan," ucap Ryan sambil mencium kepala Rani berkali-kali dari belakang.


"Gombal. Terus kenapa Mas Ryan tertawa seperti itu?" Rani mulai memasang wajah kesal.


"Itu karena Mas bahagia mempunyai istri sekuat dan setegar kamu, bahkan di saat suamimu ini berada pada titik terendah. Apa tak ada sedikit rasa menyesal pun di hatimu menikah denganku?" tiba-tiba ekspresi Ryan berubah.


"Kenapa Mas Ryan bertanya seperti itu? Apapun yang terjadi, istrimu ini tak akan pernah ragu sedikitpun untuk selalu berada disisimu. Mas tahu sedekat apa jarak antara awan dan langit? Sedekat itu pula Mas Ryan menjadi lamunan terjauhku," Rani membalikkan tubuhnya hingga mereka berhadapan, kemudian melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya hingga mereka saling bertatapan.


"Takdir Allah tak pernah salah. Mas sungguh beruntung memiliki istri sehebat dirimu. Kau tahu Sayang? Bahkan kau selalu ada dalam setiap degupan jantungku, selalu hadir dalam setiap pikiranku, selalu muncul setiap kali kupejamkan mataku, bahkan Mas tak pernah butuh alasan untuk selalu merindukanmu. Kau tahu kenapa? Karena cinta itu adalah dirimu," tutur Ryan tulus, sambil mengusap-usap hidungnya pada hidung istri tercintanya.


Jadilah hari itu moment yang indah untuk mereka berdua. Walaupun kini Ryan tak memiliki apa-apa, namun rasa tenang itu justru muncul tiba-tiba. Sungguh, tidak perlu kisah sempurna untuk bisa hidup bahagia. Yang diperlukan hanyalah ketulusan cinta yang membuat mereka mampu bertahan diantara ketidaksempurnaan yang ada.


"I love you my dear husband. Cinta itu bukan hanya sekedar saling membahagiakan. Bukan hanya tentang saling mengisi kekurangan. Bukan juga hanya untuk bersama dalam kehidupan, tapi lebih dari itu. Rani mencintai Mas Ryan bukan hanya untuk sehidup semati, namun juga untuk sehidup sesurga, bersamamu." Paragraf-paragraf cinta itu akhirnya lolos dari mulut Rani, seiring dengan lolosnya butiran kristal bening dari ujung mata sepasang kekasih yang sedang berusaha untuk semakin menguatkan cinta yang tertanam dan tumbuh dalam cerita kehidupan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa tinggakan jejak dengan memberi vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5. Terima kasih.


__ADS_2