
Rani terkejut. Melodi kemarahannya aktif begitu saja saat mata cantik itu melebar dan melihat siapa yang sedang mendaratkan tangan itu di bahunya. Ada bayangan hitam yang tiba-tiba mengusik hatinya, terus mendesak benaknya untuk memutar kembali kenangan masa SMA yang sudah tertutup rapat dari pintu jiwa.
"Bagaimana bisa takdir sedemikian tidak berpihak kepadaku hingga harus mempertemukan aku kembali dengan orang ini?" gumam Rani dalam hati.
Melihat wajah tidak suka Rani ketika memandang pria yang tiba-tiba muncul dari belakangnya, Naja langsung menghempaskan kedua tangan yang menempel pada bahu sang nona.
"Maaf, Tuan. Bisakah Anda bersikap sopan terhadap nona saya?" tegur Naja dengan tatapan membunuh.
"Santai, Cantik. Jangan galak-galak seperti nonamu!" Pria itu meremehkan Naja. Bahkan tangannya membelai dagu Naja dengan mesumnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, tepat saat tangan sang pria menyentuh dagunya, Naja langsung meraih tangan itu dan menariknya hingga terplintir dan berubah posisi hingga di belakang pinggang sang pria.
"Auw," pria itu meringis kesakitan ketika tangannya mendarat dengan kilat menempel di pinggangnya.
Rani yang melihat aksi Naja hanya bisa memandang dengan takjub. Bahkan Rani sampai membulatkan mata dan bibirnya secara bersamaan, melihat Naja yang begitu cekatan membuat pria kekar itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baiklah aku menyerah, Nona. Mari kita bicara baik-baik," ucap pria itu. Setelah Naja melepaskan tangannya, dia langsung mengibas-ibaskan tangan itu untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Sial. Seharusnya hari ini Nona aman tanpa gangguan. Kenapa pria ini tak pernah aku perhitungkan sama sekali. Dia bisa menjadi kerikil kecil yang akan sangat mengganggu jika aku biarkan tetap berkeliaran di kota ini," gumam Naja dalam hati.
Namanya Felix Adinata. Dia adalah sosok yang paling dihindari seorang Arania Levana semasa SMA. Dia memang tampan, bahkan lebih tampan dari seorang Tede. Namun entah kenapa, Rani lebih memilih untuk mengibarkan bendera perang kepadanya.
__ADS_1
Berbeda dengan gadis lain yang suka mencari perhatian pada idola sekolah, waktu itu Rani justru merasa risih mendapat perhatian lebih dari sang idola. Bagaimana tidak? Saat itu Felix terlalu fulgar mengejar cinta Rani. Secara terang-terangan, bahkan dia menyatakan cinta melalui surat terbuka yang ditempel di mading sekolah. Bayangkan saja betapa malunya Rani ketika itu.
Parahnya, semakin Rani tidak merespon, Felix justru semakin semangat berjuang. Surat cinta menjadi sarapan sehari-hari Rani ketika itu. Belum lagi gangguan melalui telphon, sms, whatsapp messenger, kirim salam melalui radio sekolah, dan masih banyak lagi hal konyol yang membuat Rani harus memutar otak untuk mengakhiri semuanya.
Hingga suatu ketika, Rani memutuskan untuk mengambil keputusan yang super nekat demi menghentikan aksi Felix yang selalu memburunya. Rani menjadikan Felix sebagai kekasih satu harinya. Ya, kekasih satu hari. Sore cinta Felix Rani terima, pagi berikutnya pesan putus Rani layangkan kepadanya sebelum akhirnya semua akses sengaja Rani putuskan. Nomor dia blokir, akun media sosial dia tutup bahkan Rani sempat tidak menggunakan medsos sama sekali selama beberapa bulan.
Dan puncaknya adalah perkelahian Felix dengan Tede yang membuat Felix dikeluarkan dari sekolah. Sejak saat itulah Rani terbebas dari perburuan yang dilakukan Felix. Dan sekarang, takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.
"Apakah aku boleh duduk disini?" tanpa menunggu persetujuan, Felix langsung duduk di depan Rani. Sementara Naja, masih siaga dengan tatapan membunuhnya dan berdiri tegak di sebelah Rani.
"Maaf, kursi yang kau duduki itu sudah ada yang punya. Jika masih mau di tempat ini silahkan pindah ke lain meja," ucap Rani datar.
"Ha-ha-ha. Apa pemilik kursi ini adalah pengusaha kaya raya yang sering diberitakan bersamamu itu? Aku perlu mencobanya seperti aku berhasil membuat Tede mu itu babak belur ketika itu," Felix menyeringai, ekspresi wajahnya masih sama persis seperti dulu.
"Dengarkan aku, Felix. Katakan apa yang kau inginkan setelah itu pergilah dari sini!" pinta Rani, kali ini nada bicaranya lebih lembut.
"Aku menuntut pertanggungjawabanmu," ucap Felix dengan tatapannya yang tajam.
"Tentang?" Rani mengerutkan dahinya.
"Dulu kau menjadikan aku kekasih seharimu. Apa kau tak berniat menjadikan aku suami seharimu juga?" Felix mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Tangannya berusaha menarik tangan Rani dan hendak menggenggamnya.
__ADS_1
Rani yang kaget dengan perlakuan Felix segera menarik tangannya, kemudian berdiri dengan tatapan penuh amarah. Sementara Naja, langsung berdiri di depan Rani hingga nonanya itu bisa berlindung di belakangnya.
"Sudah saya peringatkan agar Anda bersikap sopan terhadap nona saya, Tuan!" setengah berteriak, Naja mencoba memperingatkan Felix sekali lagi.
"Sudah kubilang juga, kamu jangan galak-galak, Cantik. Jika kau mau, kau juga boleh jika ingin menjadi istri sehariku," Felix semakin menjadi. Ekspresinya membuat Rani dan Naja benar-benar geram. Bahkan kini, tangan Felix berusaha meraih dagu Naja kembali, persis seperti saat awal pertemuan mereka tadi.
Dengan sigap, Naja langsung menepis tangan itu dan bersiap menarik tangan Felix seperi yang dilakukannya tadi. Tapi sayang, kali ini Felix lebih siap dan mampu menangkis tangan Naja. Naja mengepalkan tangan kanannya dengan erat kemudian menghantamkan pukulannya ke arah dada, namun Felix lagi-lagi mampu menangkisnya. Bahkan baku hantampun akhirnya terjadi beberapa saat. Baik Felix maupun Naja saling serang dan saling tangkis, tak elak beberapa kali pukulan saling mendarat di bagian tubuh mereka masing-masing.
"Felix, Naja, hentikan!" teriak Rani berkali-kali, namun mereka tidak menghiraukan sama sekali.
Rani mencoba menghubungi Ryan, hasilnya nihil. Ryan sama sekali tidak merespon panggilannya. Begitu juga dengan Pak Rudi dan juga Arya. Semua yang Rani hubungi tidak mengangkat telphonnya sama sekali.
"Mas Ryan, kemarilah! Kemarilah! Cepatlah! Cepat!" ceracau Rani tidak jelas. Dia hanya berjalan mondar-mandir, sambil menyaksikan Felix dan Naja yang belum juga selesai dengan perhelatannya. Bahkan kini Rani melihat ada darah yang menetes dari sudut bibir Naja karena beberapa kali tidak bisa menghindari pukulan Felix. Hal yang sama juga terjadi pada Felix. Beberapa bagian mukanya bahkan terlihat memerah karena hantaman Naja yang mengenai mukanya.
"Felix, Naja, hentikan!" teriak Rani sekali lagi, kali ini dia berlari dan memposisikan dirinya di tengah-tengah mereka. Tak elak, satu pukulan Felix yang ditujukan untuk Naja justru mendarat dengan manis di muka Rani. Darah segar pun segera keluar dari lubang hidungnya.
"Rani! Apa yang kau lakukan? Maafkan aku. Maafkan aku," Felix terlihat sangat kacau begitu sadar bahwa pukulannya mengenai gadis yang sampai saat ini masih menjadi target perburuannya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Hai pembaca setia. Bagi jempol dan vote-nya dong. Jangan lupa juga bintang lima dan comment positifnya. Terima kasih