
Ega tersenyum bahagia, melihat Meysie yang sudah berkutat dengan aktivitas pribadinya di depan cermin, begitu Ega membuka mata.
Tanpa pikir panjang, dia langsung turun dari ranjang dan menghampiri istri cantiknya, lalu memeluknya dari arah belakang.
"Abang sudah bangun?" tanya Meysie dengan senyum termanis yang dia tunjukkan. Hari ini memang Meysie terlihat sangat jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Ega pun mulai berbunga-bunga melihat perubahan sikap istrinya. Dia terus menciumi pundak istrinya, sambil membiarkan gadisnya itu melanjutkan aktivitasnya.
Dengan muka sumringah, Meysie mengoleskan bedak ke mukanya. Tak lupa juga eyeshadow warna soft dia sapukan ke bagian kelopak mata, serta lipstick warna natural ke bibirnya.
Ya, gadis itu tak ingin tampil biasa saja di hadapan mertuanya, sehingga sebuah dress selutut bewarna navy pun dia kenakan, menambah kecantikannya terpancar dengan penuh kesempurnaan.
"Istri Abang kok pagi-pagi sudah cantik begini sih?" kini mereka saling memandang melalui cermin.
"Ayo Abang mandi, buruan. Meysie sudah tak sabar ke rumah mama dan papa sekarang," rajuk Meysie manja. Bahkan kini dia memanggil dirinya sendiri dengan namanya, membuat Ega merasa Meysie sedang bermanja kepadanya.
"Siap, Tuan Putri," Ega melepas pelukannya dan masuk kamar mandi dengan semangat empat lima.
"Aku tahu kamu berusaha sangat keras untuk menerimaku, Mey. Dan aku akan menunggu sampai cinta itu tumbuh di dalam hatimu," gumam Ega dalam hati.
Ega pun bersenandung lirih sambil membersihkan dirinya. Hatinya benar-benar membuncah, melihat perubahan Meysie begitu dia membuka matanya pagi ini.
Setelah Meysie sempurna dengan riasannya, dia mengambilkan baju ganti dari dalam koper suaminya. Barang-barang mereka memang sengaja tidak dikeluarkan dan ditata dalam lemari pakaiannya, mengingat mereka tinggal di hotel itu hanya untuk beberapa hari saja.
Ceklek.
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan Meysie selesai menyiapkan baju ganti Ega. Ega yang keluar hanya dengan menggunakan selembar handuk yang melilit tubuhnya pun bergerak menghampirinya dan segera memeluknya
Deg.
Jantung Meysie berdegup kencang. Dia yakin itu bukan karena dia sedang jatuh cinta, tapi lebih pada ketakutan yang luar biasa kalau-kalau Ega akan meminta hal berharga itu saat ini juga
"Bang, pakai bajunya dulu. Meysie sudah siapkan buat Abang," Meysie berusaha melepaskan tangan Ega yang sudah melingkar di perutnya.
"Buat apa pakai baju sekarang, kalau nanti juga akan Abang lepaskan," Ega menarik tubuh istrinya lagi hingga tubuh mereka menempel tanpa ada jarak seinchi pun yang memisahkan.
Bahkan kini, mereka saling pandang. Ega pun mendekatkan wajahnya dan mulai menikmati bibir ranum milik istrinya. Berbeda dengan respon Meysie semalam, kali ini Meysie membalas ciuman suaminya dengan penuh kenikmatan. Hal ini membuat Ega semakin bersemangat berselancar di setiap sudut ruang dalam rongga mulut istrinya. Bahkan kini Ega menarik tengkuk Meysie dengan tangan kanannya, kemudian memperdalam ciumannya. Tangan kirinya juga sudah bergerilya ke beberapa area milih istrinya, sehingga beberapa desahan keluar dari bibir ranum istrinya.
"Ahhh, Bang ...," Meysie mendesah pelan.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu kira aku akan memintanya sekarang?" Ega memandang wajah istrinya dengan tersenyum nakal.
Wajah Meysie merah merona menyadari suaminya menggantungkan hasratnya. Jujur, sesungguhnya pagi itu Meysie sudah mempersiapkan hati dan juga menginginkannya. Terlepas dari sudah ada rasa cinta atau belum di dalam hatinya, tapi Meysie sudah memutuskan untuk menerima suratan nasib yang sudah menjadi takdirnya.
"Gantilah baju dulu, Abang. Setelah itu kita sarapan," Meysie memalingkan muka, menyembunyikan rasa malunya. Setelah dia berhasil melepaskan pelukan suaminya, Meysie pun meraih baju ganti di atas ranjang yang sudah dia siapkan sebelum Ega menyelesaikan mandinya.
"Kenapa wajahmu jadi merah seperti kepiting rebus seperti itu? Apakah kamu malu?" goda Ega.
Ya, semua yang Ega lakukan adalah bagian dari trik yang dia rencanakan, agar cinta itu lama-lama akan tumbuh di dalam hati istrinya. Ega benar-benar yakin, kalau cinta itu lama-lama akan ada, seiring dengan mereka yang selalu bersama, juga sejalan dengan kelembutan dan kasih sayang yang selalu dia persembahkan untuk gadisnya.
"Ihh, Abang. Mana ada," Meysie mengambil tangan Ega, dan meletakkan baju gantinya tepat ditangan yang telah berhasil diraihnya. Setelah Ega menerimanya, Meysie segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.
__ADS_1
"Abang yakin, sebentar lagi kamu akan jatuh cinta, Sayang," batin Ega dengan senyum yang mengembang.
Ega pun segera meraih baju ganti yang disiapkan istrinya. Seulas senyum kembali merekah, bukan hanya karena Meysie telah menyiapkan baju ganti untuknya seperti layaknya seorang istri kepada suaminya, tapi karena menyadari bahwa Meysie menyiapkan baju ganti dengan warna senada dengan dress yang dikenakannya. Ya, Meysie memang sengaja memilih dress dan kemeja couple untuk dikenakan mereka berdua.
Selesai mengenakan pakaiannya, Ega kembali menghampiri Meysie yang kini sedang berdiri bersandar di pembatas balkon kamar mereka. Gadis itu selalu menjadi candu yang membuat Ega selalu ingin berdekatan dan menempel terus tanpa ada pembatas di antara mereka.
Meysie pun kini sudah mulai terbiasa, hingga kecanggungan yang beberapa waktu terakhir selalu muncul saat dia sedang bersama Ega, lama-lama pudar, hingga Meysie mulai bisa menikmati kebersamaan mereka, walaupun tanpa cinta.
"Apa kau benar-benar ingin pergi ke rumah mereka sekarang juga?" bisik Ega tepat di telinga istrinya, sementara kedua tangannya sudah melingkar manja di perut ramping yang membuat Ega selalu berhasrat kepadanya.
Setengah kaget, Meysie langsung menoleh ke belakang, hingga secara tidak sengaja, hidungnya menempel pada pipi suaminya. Kesempatan pun seolah-olah selalu datang, membuat Ega tak mau sedetikpun menyia-nyiakannya. Dengan sigap, Ega membalikkan tubuh istrinya hingga kini tubuh mereka saling berhadapan.
"Kau memilih pergi ke rumah Mama Papa atau kita akan menghabiskan waktu kita hanya di dalam kamar, Sayang? Abang lihat kau sudah menginginkannya sekarang," Ega mengerling nakal.
"Abang, ayo. Meysie sudah kangen sama Mama Papa," Meysie berusaha melepaskan pelukan suaminya.
Ega tak mau melepaskan tangannya. Di luar dugaan, Ega justru mengeratkan pelukannya dan mendekap Meysie dengan begitu eratnya.
Meysie masih mencoba melepas pelukannya, takut kalau suaminya akan melakukan lebih dari apa yang menjadi bayangannya.
"Tolong diamlah sebentar. Biarkan tetap seperti ini dulu sekarang. Abang benar-benar merindukanmu setelah sekian lama kau lepas dariku," ucapnya parau.
Ega memejamkan mata, menikmati moment kebersamaan mereka yang sudah ditunggu-tunggu sejak sekian lama. Meysie pun membiarkan Ega terus larut dengan perasaan yang membuncah di dadanya. Hatinya damai, jiwanya tenang, meski dalam hatinya belum ada cinta.
BERSAMBUNG
__ADS_1