
"Mas Hengky? Meysie?" sapa Rani tanpa beban, walaupun dalam hati kecilnya dia merasa harus sangat waspada kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Apalagi sekarang mahkota paling berharga dalam dirinya sudah direnggut Ryan, tentu dia tidak akan pernah rela jika wanita itu akan mengusik kehidupannya dan suaminya.
"Hallo pengantin baru? Jadi kamu sudah mengenal kakakku? Apakah kalian pernah bertemu?" sahut Hengky sambil menutupi kegugupannya.
"Jadi Meysie kakaknya Mas Hengky? Kami bertemu saat pesta pernikahan kami beberapa waktu yang lalu," jawab Rani setengah kaget, kemudian duduk di samping Meysie tanpa meminta izin dan menunggu persetujuan.
Meysie yang masih terus mendapat tatapan bersahabat dari Rani pun tersenyum simpul, entah apa yang dia pikirkan.
Melihat hal yang dilakukan istrinya itu, Ryan hanya mendengus malas dan ikut duduk disebelah Rani. Tapi baru beberapa detik Ryan terduduk, staff kantor Rani datang memberi kabar bahwa rombongan sudah siap berangkat ke tempat kunjungan kerja. Saat itu rombongan hanya menunggu Rani dan Hengky.
Mendengar hal itu, Rani segera beranjak dan mencium punggung tangan suaminya dengan terburu-buru. Setelah Ryan mengecup kening dan bibirnya, Rani segera berlari keluar diikuti Hengky di belakangnya.
Tinggallah di meja itu Ryan bersama Meysie yang masih terpaku melihat Ryan mencium kening dan bibir Rani dihadapannya tanpa ada rasa malu.
"Kamu nemenin adikmu bekerja?" tanya Ryan dengan santai.
"Ehhh, enggak. Aku ada janji dengan klien papa siang nanti. Habis itu aku langsung pulang," jawab Meysie terbata, saking tidak bisa menyembunyikan kegugupannya di depan pria yang masih saja merajai hatinya.
"Ohh, suamimu gimana kabarnya? Apakah dia tidak pergi kesini bersamamu?" Ryan bertanya sekenanya.
Mendengar pertanyaan Ryan, wajah Meysie semakin sendu. Dia terus meratapi ketidakberuntungannya terkait masalah cinta.
__ADS_1
Ryan melihat Meysie lekat, tidak mengerti dengan perubahan ekspresi wajahnya tiba-tiba setelah pertanyaan itu muncul dari mulutnya.
"Aku belum menikah," tiba-tiba kalimat itu yang keluar dari mulut Meysie. Entah kekuatan dari mana yang membuatnya bertekad untuk mengatakan semuanya kepada Ryan, apapun resikonya.
"Ohh belum? Kalau begitu aku tunggu undangannya. Aku pasti akan datang di pesta pernikahanmu," jawab Ryan enteng, tidak mengetahui bahwa nasib gadis yang pernah mengisi hatinya itu sangat tragis terkait urusan cinta.
Mendengar ucapan Ryan, Meysie benar-benar tidak bisa menahan sesak di dadanya. Matanya sudah memanas, dan tidak butuh waktu lama segera saja kristal-kristal bening itu keluar dari ujung matanya, membasahi wajah cantik yang kini lebih sering terlihat sendu.
"Kenapa? Adakah yang salah dengan ucapanku? Maaf jika memang seperti itu," Ryan yang melihat Meysie tiba-tiba menangis terlihat semakin tidak mengerti.
"Aku membatalkan pernikahanku. Aku memergokinya tidur dengan wanita lain ketika aku datang ke apartemennya. Karena itu aku memutuskan untuk pulang demi....," Meysie tidak melanjutkan kalimatnya. Terlalu sakit jika kalimat itu harus keluar dari mulutnya.
Ryan sangat terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut Meysie. Dia mencoba menebak apa yang akan diucapkan gadis itu selanjutnya.
"Apakah Meysie pulang untukku?" pikir Ryan dalam hati, yang kemudian dia tepis sendiri dan hilangkan jauh-jauh dari benaknya.
"Aku memutuskan pulang demi cintaku kepada seseorang. Aku benar-benar bodoh berharap cinta dihatinya masih tersimpan rapat untukku. Bahkan ketika aku mendengar kabar pernikahannya, aku masih berharap bahwa dia menikah karna tak bisa mendapatkanku. Makanya aku datang, berharap jika aku pulang dan siap menyerahkan hidupku padanya, dia akan menerimaku kembali dengan dua tangannya yang terbuka. Bahkan saat itu aku berharap dia akan meninggalkan pengantinnya demi kembali bersamaku. Tapi ternyata aku salah. Ketika aku melihat tatapan itu, bahkan aku sangat tahu bahwa tidak ada lagi cinta di hatinya yang tersisa untukku," Meysie tergugu. Tak ada lagi rasa enggan dihatinya untuk mengungkapkan semua penderitaan yang dia alami kepada laki-laki tercinta yang kini ada dihadapannya.
Ryan benar-benar terpaku. Dia mencoba meraba hatinya dan bertanya kepada dirinya sendiri. "Apakah aku menyesal karena telah menikahi Rani, sementara gadis yang sangat aku cintai selama ini ternyata belum ada yang memiliki?"
Ryan terus menatap Meysie yang masih menangis sendu dihadapannya dengan ekspresi yang sangat sulit di artikan. Dia tidak tahu harus menguatkan gadis itu dengan cara apa dan sangat tidak tahan melihat sahabat sekaligus wanita yang pernah menjadi satu-satunya nama yang terpahat indah dalam hatinya, kini meratapi nasibnya yang buruk dalam urusan cinta.
__ADS_1
Dan entah kenapa, tiba-tiba Ryan ingin sekali menenangkan Meysie dengan cara apapun agar sahabatnya itu bisa tenang dan kembali bisa di ajak bicara. Hingga tak berapa lama, di raihnya tangan Meysie, dan digenggamnya penuh arti.
Meysie terperanjat. Dia menatap Ryan dan genggaman tangannya secara bergantian dengan penuh harap. Genggaman tangan itu benar-benar membawa setitik harapan, bahwa cinta Ryan untuknya masih ada.
Ryan pun menceritakan banyak hal tentang bagaimana hancurnya ketika harus meninggalkan Amerika dan melepas Meysie untuk menikah dengan tunangannya. Dia juga menceritakan bagaimana dia terpaksa menikahi seorang Rani hanya untuk memenuhi keinginan orang tuanya. Hingga tiba-tiba...
"Mohon maaf tuan, tadi ada seorang nona yang menitipkan pesan untuk Anda. Katanya, Hp nona itu tertinggal di meja dan Anda diminta untuk membawanya. Nona itu juga bilang, dia tidak mau mengambilnya sendiri karena tidak mau mengganggu Anda. Makanya dia mengurungkan niatnya untuk mengambilnya sendiri, tuan. Tadi nona hanya masuk sebentar kemudian langsung keluar meninggalkan Resto," kata seorang pelayan, yang menghampiri meja Ryan dan Meysie tiba-tiba.
"Apa?" mata Ryan terbelalak mendengar ucapan pelayan itu. Dia menyapu pandangannya ke meja di depan mereka, dan dia mendapati Hp Rani memang tertinggal disana.
Menyadari apa yang baru saja telah terjadi, Ryan mengusap wajahnya dengan kasar dan memukulkan tangannya pada meja yang ada di hadapannya.
"Sial, apa yang dia pikirkan?" gerutu Ryan penuh emosi.
Tak lama kemudian, dia meraih Hp Rani yang tertinggal dan langsung berlari meninggalkan Meysie tanpa berkata apa-apa.
Melihat Ryan yang begitu frustasi menyadari bahwa istrinya memergoki mereka, Meysie hanya terdiam dan melepaskan Ryan pergi sampai tubuh itu berlalu dari pandangannya.
BERSAMBUNG
Hai Readers
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment n favorit ya. jangan lupa juga kasih rate 5