
Lena memang perempuan yang sangat kuat, mengingat pahitnya hidup sebatang kara yang telah berhasil dia lalui di sepanjang hidupnya. Dia juga menjadi perempuan yang sangat dewasa, bahkan jauh lebih dewasa jika dibandingkan dengan usianya. Cara dia menyikapi setiap permasalahan dalam hidupnya pun, kadang sama sekali tak terpikirkan oleh perempuan lain pada umumnya. Dan hal inilah yang membuat Lena tetap bertahan hidup walaupun harus hidup sebatang kara sekian lama, sejak dia lahir ke dunia sampai Mama Davina mengambil alih tanggung jawab panti asuhan untuk menyekolahkannya, hingga dia bisa menjadi seorang pengacara.
Namun kini, Lena tetaplah seorang ibu walau anaknya tak bisa hidup di dunia. Sekuat apapun seorang Lena, mampukah dia mendengar kabar yang akan Arya sampaikan kepadanya?
"Mana bayi kita? Aku ingin melihatnya." Pertanyaan itu bagai aliran listrik yang tiba-tiba menyengat tubuh Arya.
"Kak Tama, bagaimana dengan bayi kita? Dia baik-baik saja kan? Dimana dia?" cecar Lena, mendapati suaminya tak sedikitpun menjawab pertanyaan pertamanya.
"Ahh, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepadanya?" guman Arya dalam hati.
"Kak Tama?" Lena semakin tak sabar.
Arya mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian menggenggam erat tangan Lena dengan kedua tangannya. Sesekali, dia mengangkat tangan Lena ke atas agar dia bisa menciumnya, sebelum akhirnya dia menarik nafas panjang dan mengatur kata-kata.
"Sayang," kata pertama yang Arya ucapkan.
"Kak, jangan katakan kalau dia ...," Lena mulai menerka-nerka, menyadari ekspresi suaminya yang seolah ragu menjawab semua pertanyaannya. Air matanya pun akhirnya tumpah begitu saja, tanpa bisa lagi dibendungnya.
"Sssstt. Dengarkan aku dulu," Arya beranjak dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Lena, hingga kini kening mereka menyatu.
"Katakan apa yang terjadi pada anak kita, Kak. Katakan!" Lena semakin histeris, dia sudah tidak peduli lagi dengan kondisi tubuhnya.
"Sayang, sayang, sayang. Ssstttt. Dengerin dulu. Please, dengerin dulu," Arya terus mencoba menenangkan, tapi emosi Lena benar-benar tak bisa dikendalikan. Semakin Arya berusaha mengeluarkan kata-kata, semakin Lena histeris dan memukul-mukulkan tangannya pada dada bidang suaminya.
__ADS_1
“Jadi benar, Kak?" kini Lena menangis sejadi-jadinya.
Tidak ada pilihan lain. Sesaat, Arya hanya membiarkan istrinya menangis, menumpahkan segala luka yang yang menghanyutkan jiwa dan raganya.
"Apa dosa yang kita lakukan hingga Allah menghukum kita seperti ini, Kak?" keluh Lena.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kita harus tetap berbaik sangka pada takdir yang telah Allah gariskan. Kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Sebab Apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan di mata Allah. Tak dapat dipungkiri, bahwa terkadang keinginan kita sangatlah banyak dan tidak ada batasnya, sedangkan apa yang kita butuhkan sebenarnya hanya Allah sajalah yang tahu. Jika Allah belum mempercayakan seorang anak kepada kita, barangkali memang karena Allah melihat bahwa kita belum dilihat butuh dengan itu, atau mungkin juga karena kita belum pantas menurutNya. Semua telah diatur oleh-Nya. Kita cukup berusaha sebaik-baiknya, Sayang. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya, karena takdir kita seperti apa, itu menjadi hak prerogatif Allah sepenuhnya," jelas Arya panjang lebar, begitu Lena memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara. Sebuah nasihat yang terucap bukan hanya untuk Lena yang mendengarnya, tapi juga untuk Arya yang mengucapkannya. Karena pada dasarnya, bukan hanya Lena yang hancur atas kepergian buah cinta mereka, Arya pun sama hancurnya.
Tangis Lena pun berangsur-angsur mereda mendengar nasihat itu keluar dari mulut suaminya. Setidaknya dia sudah tidak histeris lagi. Hanya air mata saja yang terus menetes di pipinya tanpa bisa dibendung, dan Arya membiarkannya.
"Dimana dia sekarang, Kak? Apa aku boleh melihatnya sekali saja?" lirih Lena.
"Dia langsung dimakamkan, Sayang. Kasihan dia jika terlalu lama harus menunggumu siuman. Ikhlaskan dia ya, Sayang. Insya Allah dia yang akan menjadi penerang untuk kita di hari pembalasan kelak, hingga kita bisa dipertemukan lagi dengannya di surga," Arya memaksakan senyumnya, demi menenangkan Lena yang kini sudah tenggelam dalam pelukan eratnya.
***
Hari itu, semua memutuskan untuk menemani Arya dan Lena di rumah sakit, agar mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan. Hingga tiba-tiba, pertanyaan Ryan membukakan mata semua orang, bahwa ada sesuatu yang mereka lupakan.
"Bagaimana waktu itu kau bisa terjatuh, Lena?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya, menandakan bahwa pikirannya sedang menerawang tentang beberapa kemungkinan.
Lena pun menceritakan kejadian dari awal Arya berangkat ke kantornya, hingga akhirnya dia terjatuh dengan penuh kengerian, sampai-sampai rasa takut pun menjalar tiba-tiba, dan menggetarkan seluruh bagian tubuhnya.
"Charles?" pekik mereka semua bersamaan.
__ADS_1
"Iya, Charles. Bahkan dia bisa menyebutkan secara detail pakaian yang kukenakan dan dimana posisiku waktu itu tanpa ada satupun kesalahan. Karena itulah aku melihat ke semua arah di sekelilingku, karena kupikir dia ada di sekitarku waktu itu. Jika waktu itu dia tidak sedang melihatku, bagaimana mungkin dia bisa menyebutkan posisiku secara detail? Di saat itulah tubuhku oleng dan akhirnya terpeleset hingga ke lantai dasar," Lena menitikkan air mata lagi mengingat seluruh kejadian yang menimpanya hingga membuat mereka kehilangan bayi mereka sebelum sempat merawatnya.
"Bereskan dia, Jo!" perintah Daniel kepada Johan.
Daniel merasa harus bertanggung jawab atas semua yang Charles lakukan, mengingat awal mula dari permasalahan Charles adalah karena Nina dan Cafe yang menjadi usahanya. Walaupun Charles adalah putra dari sepupu Aghata, tapi melihat apa yang sudah dilakukan Charles sangat keterlaluan, membuat Daniel tak bisa membiarkannya berkeliaran.
"Baik, Tuan," jawab Johan sambil merogoh sebuah ponsel dari saku celananya.
Setelah benda pipih itu berada dalam genggaman tangannya, Johan terlihat berselancar sebentar, kemudian menempelkan benda itu pada telinga bagian kanannya. Setelah tersambung dengan orang yang hendak dihubunginya, Johan pun keluar dan mulai berbicara dengan seseorang tanpa seorang pun mendengar apa yang mereka bicarakan.
Hingga tiba-tiba, seorang perawat masuk dengan sebuah karangan bunga yang berada di tangannya.
"Mohon maaf, Nona. Ada kiriman bunga untuk Anda," tutur perawat itu sopan.
Arya yang kini merasa harus berhati-hati pun segera mengambil bunga itu dan mencari tahu siapa pengirimnya. Diambilnya sebuah kartu yang terselip di antara karangan bunga itu, dan begitu mengetahui sebuah nama yang tertera disana, wajah Arya langsung berubah seketika.
"Dari siapa?" Ryan dan Daniel bertanya serentak.
BERSAMBUNG
💖💖💖
Kira-kira dari siapa ya, bunga itu? Mau tahu? Kencengin vote nya dulu dong. Like dan rate 5 nya juga jangan lupa. Terima kasih
__ADS_1