
Indra terus menekan pedal gas mobilnya semakin dalam. Rupanya sesuatu yang terlihat melalui spion kanan dan kirinya justru menantang gairah seorang pembalap dalam dirinya semakin tak tertahan. Dengan asyiknya, Indra membalap setiap mobil yang berada di depannya dari kiri banting kanan, atau sebaliknya, selib kanan banting kiri. Sesekali pula, lampu merah pun Indra terobos, membuat bunyi klakson terdengar bersahutan.
"Anda sudah bosan hidup, Tuan? Kalau sudah mau mati, mati saja sendiri. Jangan ajak-ajak saya," Zara menggerutu kesal.
Sebenarnya Zara juga suka balapan. Segala trik untuk mendahului lawan pun sudah pernah dia lakukan. Namun kali ini, kenekatan Indra benar-benar sudah kelewatan.
"Kau sungguh tak setia kawan, Zara. Mana ada seorang kawan menyuruh kawannya mati sendirian. Kawan setia itu harusnya sehidup semati," Indra justru semakin menekan pedal gasnya, membuat laju mobil mereka semakin kencang.
"Kalau matinya harus dengan cara seperti ini, bukan setia kawan namanya, Tuan. Tapi mati konyol. Hentikan, Tuan. Please!" wajah Zara benar-benar tegang. Predikat pembalap yang disematkan oleh teman-teman Zara pun kini lewat, melihat kepiawaian Indra dalam melajukan mobilnya.
"Ha-ha-ha. Ayo kita bersenang-senang, Zara," semakin Zara merengek, Indra justru semakin menggila. Bahkan kini, tak terhitung berapa saja mobil yang sudah berhasil didahuluinya.
"Berhenti, Tuan. Kita mau kemana?" Zara terus bertanya.
Sementara Indra, kini sama sekali tak menghiraukan pertanyaan ataupun rajukan Zara. Dia terus mengencangkan laju mobilnya sambil sesekali melihat ke arah spion kanan, kiri dan depannya, seperti melihat sesuatu dari arah belakang. Tak banyak berkata-kata, Indra pun justru mengarahkan mobil mereka ke jalan bebas hambatan, sehingga aksi balapnya bisa dia mainkan secara leluasa.
"Anda sudah gila, Tuan. Pelankan laju mobil Anda. Dan ini ..., mau kemana kita, Tuan? Kenapa kita masuk ke jalur bebas hambatan?" teriak Zara.
Indra masih tak bergeming.
"Hentikan, Tuan! Saya masih ingin hidup dan menikah dengan pria yang saya cintai, Tuan," Zara mengoceh tak jelas.
"Kau bilang apa? Tadi kau menyuruhku mati sendirian dan sekarang kau bilang masih ingin hidup dan menikah dengan pria yang kau cintai? Tak semudah itu, Zara. Kau bisa keluar dari mobil ini dengan selamat pun kau sudah sangat beruntung," sahut Indra kesal.
"Maksud Anda, Tuan? Anda benar-benar ingin mengajak saya bunuh diri dengan cara kebut-kebutan seperti ini?" Zara melebarkan matanya.
"Kau ini agen atau penulis novel, Zara? Kau jangan kebanyakan halu saat sedang bersamaku," ketus Indra, masih dengan aksi gilanya.
"Kalau begitu pelankan mobil Anda, Tuan. Atau saya benar-benar akan kehilangan kewarasan saya," cicit Zara sambil mengeratkan pegangannya pada sebuah handel yang terletak di samping kiri atasnya.
"Kau memilih kehilangan kewarasanmu atau nyawamu? Kau tak lihat di belakang kita ada siapa?" sahut Indra sambil memperhatikan deretan mobil yang sedang mengejar mereka dari arah belakang.
"Hah?" Zara belum juga mengerti. Tapi setelah sedikit membalikkan tubuhnya ke belakang, Zara seketika melebarkan matanya.
"Aku yakin, mereka adalah anak buah Felix yang sengaja diperintah untuk memburumu, dan membawamu padanya, hidup atau mati," kata Indra, yang sukses membuat Zara dalam ketegangan yang nyata.
"Kalau begitu apa yang Anda rencanakan, Tuan? Kenapa Anda justru masuk ke jalur bebas hambatan? Jika kita lewat jalur biasa, mereka tak akan leluasa melakukan apapun kepada kita karena banyaknya orang awam yang berlalu lalang," protes Zara.
"Aku harus mengulur waktu sampai bantuan datang, Zara. Karena kita tak mungkin melawan musuh sebanyak itu hanya berdua saja. Dan ingat, yang mereka kejar dirimu, bukan aku. Jadi bagaimana dengan yang kubilang tadi?" tanya Indra datar.
"Yang mana, Tuan?" Zara tak mengerti.
"Menjadi setia kawan, yang rela sehidup semati dengan kawan setianya," celetuk Indra sambil terus melancarkan aksi zig-zag di jalan yang sedang dilaluinya.
"Apa?" sekali lagi Zara membulatkan matanya. Meski untuk kesekian kalinya Indra justru membicarakan hal-hal tidak penting di saat yang tidak tepat, tapi masih saja Zara terheran-heran dengan perkataan patner kerjanya itu.
"Apa? Di saat-saat genting kayak gini, masih saja dia ngomong nggak jelas. Kelihatannya mulai hari ini aku harus menyebutnya dengan panggilan Tuan Gaje juga. Dasar pria nggak jelas," batin Zara dalam hati.
"Gimana?" Indra menaikkan kedua alisnya.
"Apanya?" Zara pura-pura tak mengerti. Rasanya malas meladeni pria gila di sebelahnya.
"Kawan setia?" tanya Indra.
"Iya, Tuan. Terserah Anda. Mau kawan setia kek, mau setia kawan kek, terserah. Yang penting Anda harus bantu saya untuk lepas dari mereka," akhirnya Zara menyerah.
__ADS_1
"Kita lawan mereka, Zara. Jangan kabur," Indra jadi bersemangat dengan jawaban Zara.
Indra terus menekan pedal gas mobilnya semakin dalam membuat laju mereka semakin kencang. Beberapa detik kemudian, Indra membawa mobilnya keluar dari jalan bebas hambatan ke jalanan kota, dan sejak saat itulah mereka sedang memulai permainan yang sebenarnya.
"Siapkan senjatamu, Zara!" titah Indra, yang langsung disambut baik oleh Zara.
Dengan semangat empat lima, Zara pun memindahkan sebuah senjata api yang dia sembunyikan di sekitar perutnya ke tangan kanannya.
"Akan kupelankan mobilnya, kau arahkan senjatamu pada ban mobil yang berada tepat di belakang kita. Mengerti?" perintah Indra lagi.
Zara hanya menganggukkan kepalanya perlahan, kemudian mulai membuka kaca. Setelah kaca terbuka, Zara menaikkan lututnya ke atas jok, lalu melongokkan setengah badannya ke luar melalui jendela.
Dor. Dor. Dor.
Tiga peluru dari senjata Zara berhasil mengenai roda mobil bagian depan mobil di belakangnya. Mobil itu pun oleng seketika, hingga akhirnya menabrak bahu jalan karena setir mobil tak bisa dikendalikan sepenuhnya. Dalam hitungan menit, satu mobil tumbang, membuat beberapa mobil di belakangnya terhalang, meski beberapa mobil lainnya tetap bisa melanjutkan pengejaran.
"Mereka terus mengejar. Apa kau tak meminta bala bantuan?" Zara menutup kaca mobil itu kembali lalu duduk sambil terus mengawasi pergerakan mobil di belakangnya.
"Mereka akan menyusul kita di depan. Tapi sebelum mereka datang, kita harus bertahan," ujar Indra tetap tenang.
"Jumlah mereka banyak. Jika mereka tak datang tepat waktu, bisa jadi dengan mudah mereka akan mendapatkan aku," ucap Zara, menyadari bahwa hujan peluru mulai mengarah ke mobil mereka.
"Itu tak akan terjadi selama masih ada aku bersamamu," yang bisa Indra lakukan saat ini hanya melaju sekencang-kencangnya, mengingat tak banyak persediaan senjata yang mereka bawa, sementara jumlah anak buah Felix yang kini mengejar mereka begitu banyak jumlahnya, padahal bala bantuan masih berada di depan sana.
Hingga tiba-tiba, dari arah depan muncul beberapa mobil, seiring dengan beberapa mobil dari arah belakang yang siap menyusul mereka juga.
"Ini akhir hidup kita, Tuan. Kita turun, dan lawan mereka. Jangan sampai kita mati dengan predikat pengecut melekat pada diri kita!" seru Zara tanpa gentar.
"Aku tak mau mati konyol, Zara," melihat posisi mobil mereka yang kini berada di tengah-tengah musuh, Indra membelokkan mobil itu secara tiba-tiba ke arah kiri.
"Kau tak lihat jika di depan sana kita juga sudah buntu? Posisi tadi itu, kita maju kena mundur kena," Indra ikut berteriak, mencoba mengimbangi Zara.
"Tapi di depan sana kita juga pasti terkejar, Tuan. Bukankah tidak ada jalan keluar?" cicit Zara lagi, sambil melihat ke arah belakang.
"Mereka mengejar dan semakin mendekat, Tuan. Kita berhenti dan hadapi mereka saja, apapun resikonya," ujar Zara lagi, dengan ide super nekat yang nyeletuk dari mulutnya.
"Kau mau mati sia-sia? Kita hanya berdua dengan senjata sangat minim, Zara," sanggah Indra, tak setuju dengan apa yang diucapkan Zara.
"Terus kita harus bagaimana? Di ujung jalan sana kita juga tidak akan bisa menghindari serangan mereka," Zara mulai geram dengan sanggahan Indra.
"Aku hanya minta, kamu percaya padaku. Lakukan apapun yang aku instruksikan padamu. Oke?" Indra menatap Zara dengan tajam, sambil sesekali melirik ke arah jalan.
Meski tidak mengerti dengan rencana pria di sampingnya itu, tapi Zara tetap mengangguk tanpa ragu.
"Ingat, lakukan apapun yang aku instruksikan," ulang Indra, yang disusul dengan anggukan kembali oleh Zara.
"Sabuk pengamanmu sudah terpasang?" Indra mengecek kesiapan Zara.
"Sudah, Tuan," jawab Zara mantap.
"Oke. Bersiap-siaplah, Zara!" setelah Indra mengatakan itu, terdengar suara kunci seluruh pintu mobil terbuka, dan sedetik kemudian, Zara merasakan bahwa mobil mereka terbang mengangkasa, sebelum akhirnya terjun bebas dan mendarat pada sebuah danau yang berada sekitar sepuluh meter di bawah jalan buntu yang mereka lewati.
Deretan mobil anak buah Felix yang mengejar mereka pun mendadak menekan pedal remnya, sehingga bunyi mendecit yang bersahutan tiba-tiba terdengar menukik telinga.
"Apakah mereka bisa selamat?" tanya salah seorang anak buah Felix.
__ADS_1
"Kelihatannya tidak ada tanda-tanda mereka bisa keluar dari mobil itu, apalagi berenang ke tepi danau. Ayo kita pergi dari sini. Kita laporkan kejadian ini pada Boss," sahut anak buah Felix yang lain, kemudian pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.
***
Tiba-tiba kediaman keluarga Dewangga ramai. Pasalnya, seluruh anak buah yang ditugaskan untuk membantu Indra dan Zara pulang, dengan sebuah laporan bahwa mobil yang mereka kendarai tenggelam. Hal ini sontak membuat semua anak buah yang tersisa berkumpul di rumah Ryan, sementara sebagian yang lain bersama tim selam yang mereka punya sedang sibuk melakukan pencarian hingga ke danau bagian dasar.
Naja yang biasa mempunyai pembawaan tenang pun saat ini terlihat sangat gusar. Semua bukan tanpa alasan. Karena boleh dibilang, pengorbanan yang selama ini Naja lakukan hanya untuk Indra dan sang Ibu tercinta. Jadi jika sampai Indra kenapa-kenapa, berarti apa yang Naja korbankan demi hidup Indra dan ibunya akan sia-sia.
"Kamu tidak selemah itu kan dhek?" gumam Naja dalam hati.
"Tenanglah, Sayang. Kita semua tidak akan menyerah sampai Indra dan Zara ditemukan," Daniel yang saat itu melihat istrinya berjalan mondar-mandir di depan semua orang yang kini sedang duduk menunggu hasil pencarian pun akhirnya beranjak dan menghampiri Naja.
"Mereka terlalu lamban, Sayang. Biarkan aku ikut terjun ke lapangan," pinta Naja penuh harap.
"Percayakan kepada mereka. Mereka sudah terlatih sepertimu dan bisa dipercaya," sahut Daniel, tak mengizinkan istrinya turun tangan.
"Tapi, Sayang ...," Naja menatap Daniel dengan tatapan memohon yang teramat dalam.
"Sekali tidak tetap tidak, Sayang. Aku tak akan mengizinkanmu. Titik," tegas Daniel tidak bisa ditawar.
"Duduklah, Naja," Rani yang saat itu bisa melihat kegelisahan Naja menepuk sofa kosong di sebelahnya, seolah meminta Naja untuk duduk di sana.
Mendengar ucapan Rany, tak pernah ada alasan bagi Naja untuk menolaknya. tidak ada satu kata Rani pun yang pernah disanggah ataupun ditolak oleh Naja, sekecil apapun itu. Karena itulah saat Rani memintanya untuk duduk di sofa yang berada di sebelahnya, Naja langsung terduduk di sana dan menunggu Rani melanjutkan ucapannya.
"Aku yakin, kau tak akan menilai bahwa adikmu selemah itu kan?" ucap Rani menenangkan.
Naja hanya mengangguk pelan.
"Karena itu, biarkan mereka yang mencarinya dan kau tetap tinggal di sini, bantu dengan do'a," nasihat bijak Rani, yang tidak dibantah sedikit pun oleh Naja.
"Saya hanya ..., hiks, hiks, hiks. Saya hanya takut kehilangan dia. Indra dan ibu saya adalah satu-satunya alasan hingga saya bisa tetap bertahan. Apapun sudah saya lakukan agar mereka tetap bisa makan dan Indra bisa melanjutkan pendidikan. Dan sekarang ...," kali ini Naja menangis. Ya, bulir bening itu benar-benar keluar dari ujung matanya, hal yang sangat jarang dia lakukan di hadapan semua orang.
"Sayang, jangan berpikir macam-macam. Semua akan baik-baik saja, dan kau harus yakin bahwa pengorbanan yang kamu lakukan untuk mereka tak akan pernah sia-sia," Daniel mendekat kemudian menarik Naja dalam dekapannya.
Hingga tiba-tiba, ponsel Daniel berbunyi. Sebuah nomor tanpa nama terlihat pada layar benda pipih itu tanda ada panggilan suara.
"Hallo," sapa Daniel.
"Nihil, Boss. Kami menemukan mobil mereka di dasar Danau, tapi baik Indra maupun Zara tidak ada di sana," suara di ujung telepon melaporkan.
"Mungkinkah mereka keluar dari mobil itu kemudian berenang ke tepi danau?" Daniel memastikan.
"Mustahil, Boss. Mereka tidak mungkin kuat berenang ke tepi atau menyelam tanpa lengkapnya peralatan," sanggah orang itu dengan nada pesimis yang dia tunjukkan.
"Aku tak mau tahu. Bagaimanapun caranya, kau tak boleh menghentikan pencarian sampai mereka ditemukan," titah Daniel tidak bisa ditawar.
"Siap, Boss," sahut orang di ujung telepon itu sebelum memutus panggilan suaranya.
"Bagaimana, Sayang?" Naja memastikan dengan tak sabar.
"Belum ada kabar. Mereka hanya menemukan mobil Indra, tapi Indra dan Zara tak ada di dalamnya," jawab Daniel sedikit ragu. Dia benar-benar tak ingin membuat Naja khawatir dan pikirannya terganggu.
"Apa kau tak memasang alat pelacak atau semacamnya di tubuh Indra atau Zara, Naja?" Ryan yang sedari tadi hanya melihat dan mendengar nada kekhawatiran dari semua laporan yang masuk pun, bertanya kepada Naja hanya untuk sekedar memastikan.
"Alat pelacak?"
__ADS_1
BERSAMBUNG