
Ponsel Rani tiba-tiba bergetar, bersamaan dengan sebuah pesan whatsApp yang datang. Diraihnya benda pipih canggih yang masih berada di dalam tas itu, dan segera saja jari jemarinya secara otomatis berselancar di layar datar yang selalu jadi pusat perhatiannya di waktu-waktu senggang.
Rani mengerutkan dahinya, mendapati sebuah nama muncul di chatt teratasnya.
"Mas Hengky? Untuk apa dia menyuruhku datang ke rumah sakit lagi?" gumam Rani lirih, setelah membaca pesan yang dikirimkan Hengky.
Tanpa membalas pesan itu, Rani meletakkan ponselnya di atas nakas dan menoleh ke arah kamar mandi. Suara air gemericik masih terdengar di telinganya, menandakan suaminya masih asyik dengan ritual mandinya.
Sejak makan rujak gobet dan pulang ke rumah beberapa menit yang lalu, Ryan memang sudah mengeluh badannya sudah lengket dan bau, sehingga meminta giliran mandi terlebih dahulu. Tak heran jika yang dia butuhkan di dalam sana butuh waktu yang cukup lama.
"By, masih lama nggak?" teriak Rani sambil mengetuk-ngetuk pintu.
Tak ada sahutan. Bahkan melihat air yang terus gemericik dari arah dalam, membuat Rani terus mengerucutkan bibirnya karena tak ada tanda-tanda bahwa suaminya akan segera keluar.
"Hubby masih lama?" Rani mengulangi pertanyaannya, sambil sedikit membuka pintu dan memasukkan kepalanya.
"Apa?" suara gemericik air membuat Ryan tak bisa mendengar pertanyaan istrinya.
Ryan pun mendekatkan dirinya ke arah pintu, dengan tubuh polosnya yang masih penuh dengan busa itu. Begitu jarak mereka semakin dekat, Ryan justru melebarkan pintu itu dan menarik tubuh istrinya hingga sedetik kemudian, tubuh Rani kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan suaminya.
"Hubby, apa yang Hubby lakukan?" teriak Rani sembari membersihkan busa-busa itu dari tubuhnya.
"Ayo kita mandi bersama," bisik Ryan tepat di telinga istrinya. Sesaat kemudian, Ryan membantu Rani menanggalkan semua pakaiannya.
"Hubby, jangan pandangi Rani kayak gitu. Rani kan malu," wajah Rani selalu merona, disaat suaminya memandang lekat tubuh polosnya.
"Sudah berapa ratus kali Hubby menikmatinya, dan kau masih saja malu ketika Hubby melihatnya?" Ryan terkekeh sambil menyabuni tubuh istrinya dengan lembut.
"Ihhh, Hubby," Rani ikut tergelak.
__ADS_1
Mereka pun saling menyabuni dan memandikan, seperti romantisme Rasulullah SAW bersama dengan Aisyah dulu.
Ya, sebagian besar pasangan memang sering sekali melupakan suatu kebiasaan yang merupakan sunnah bagi ummat Islam, yakni mandi bersama pasangan. Bahkan tidak hanya sunnah, mandi bersama pasangan juga memberikan banyak manfaat, seperti membantu dalam menambah kasih sayang antara suami istri dan menghidupkan rumah tangga hingga semakin romantis.
***
Setelah mandi plus-plus yang berakhir dengan mandi besar akibat aktifitas lain yang sudah pasti tak tertahankan, kini Ryan dengan telaten sedang mengeringkan rambut basah istrinya yang panjang.
Hingga tiba-tiba, notifikasi panggilan masuk pun berbunyi dari ponsel Rani.
"Biar Hubby saja, Sayang," Ryan meletakkan hair dryer di atas meja rias tempat Rani sedang berkaca dan mempercantik dirinya.
"Siapa, By?" Rani mengernyitkan dahinya, melihat suaminya yang hanya memandangi benda pipih canggih yang kini sudah berada di tangannya.
"Penggemarmu," jawab Ryan ketus.
"Memang ada berapa lusin penggemarmu, Nona? Nih dari Hengky," Ryan menyodorkan ponsel itu kepada istrinya.
"No, By. Hubby saja yang jawab. Tadi dia sudah kirim pesan lewat whatsapp, meminta kita ke rumah sakit untuk menemuinya. Hubby tanyakan langsung ke dia coba! Ada apa?" sejak beberapa kali suaminya cemburu kepada Hengky, Rani selalu berhati-hati jika Hengky memanggil atau mengirimkan pesan kepadanya. Rani akan menunjukkan setiap pesan untuknya, bahkan tak jarang meminta Ryan untuk mengangkat panggilannya, hanya agar Ryan tak salah paham dan berpikir macam-macam.
Ryan termenung sebentar, sesaat setelah menerima telepon itu dan kembali menutupnya.
"Gimana, By? Kenapa dia meminta kita kembali ke rumah sakit lagi? Apa ada yang ketinggalan? Atau terjadi sesuatu dengan Daniel pasca mereka kita tinggalkan?" cecar Rani, tak sabar menunggu Ryan menceritakan apa yang di sampaikan Hengky melalui panggilan telepon itu.
"Bukan Daniel, tapi ...,"
"Tapi siapa, By?" sela Rani tak sabar.
"Om Atmaja ingin bertemu dengan kita," jawab Ryan sambil meletakkan ponsel Rani kembali ke tempat semula.
__ADS_1
"Ayo cepat, kita keringkan rambutmu, setelah itu kita bersiap-siap ke rumah sakit," titah Ryan, kemudian kembali mengambil hair dryer itu, dan dengan lincah mengeringkan rambut istrinya.
"Rumah sakit atau penjara, By? Bukankah Om Atmaja masih menjalani hukumannya?" tanya Rani lagi.
"Hengky meminta kita datang ke rumah sakit. Bukan penjara," Ryan terus menyisir rambut istrinya, dan menggerakkan hair dryer itu naik turun agar rambut Rani kering merata.
"Tapi kenapa, By? Apakah dia sakit?" lagi-lagi sebuah pertanyaan lolos dengan manis dari mulut Rani.
"Hubby juga belum tahu, Bawel. Kita akan segera tahu begitu kita sampai di sana," Ryan mengacak rambut Rani dengan begitu gemasnya.
"Apa Rani harus ikut, By?" suara Rani melemah.
Ada sedikit keraguan di hati Rani saat mendengar nama Atmaja, apalagi jika harus menemuinya. Rani cukup trauma jika harus menemui pria tengah baya itu, mengingat kenangannya bersama Atmaja adalah kenangan terburuk sepanjang hidupnya. Tiba-tiba bayangan ruang bawah tanah yang sangat gelap dan pengap hadir begitu saja di pelupuk matanya. Bayangan sebuah ruang yang sama sekali tidak ada pencahayaan, kecuali sebuah obor yang terletak sangat jauh dari tempat mereka diikat, sehingga tidak mampu menerangi seluruh ruang yang berada di sana, bahkan hanya sedikit biasan saja yang mampu ditangkap oleh retinanya. Apa yang terjadi jika saja waktu itu Ryan tak bisa menemukannya? Tiba-tiba Rani bergidik ngeri.
"Jika kau tak mau ikut, Hubby akan pergi sendiri," Ryan meletakkan hair dryer dari tangannya, melepas kabel dari colokannya, kemudian mencium ujung kepala Rani dari arah belakang.
Ryan benar-benar tahu, apa yang sedang dipikirkan istrinya sekarang. Atmaja adalah orang yang telah menyekapnya di ruang mengerikan, sekaligus orang yang sama yang ingin membuat Ryan menduakannya dan menikahi Meysie, putri keluarga Atmaja satu-satunya.
"Rani ikut saja, By," Rani sedikit memaksakan senyumnya.
"Apa kau yakin tak apa-apa, Sayang? Kau tak perlu memaksakan diri jika kau tak sanggup menemuinya," cicit Ryan meyakinkan.
"Rani betul-betul tak papa, By," Rani tersenyum sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya. sesaat kemudian, dia langsung memeluk pinggang suaminya yang masih berdiri tepat di belakangnya.
"Kok jadi bermanja begini? Hengky sudah menunggu kita," kata Ryan sambil mengelus kepala istrinya.
Rani pun melepaskan pelukannya, kemudian langsung beranjak dan mengganti pakaiannya. Setelah mengenakan hijab untuk menutupi rambut indahnya, dia pun segera menghampiri suaminya yang sudah terlebih dahulu siap dan sudah menunggunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1