
Ega memang sudah menyusun siasat sedemikian rapi, demi merebut hati Meysie dan membuat gadisnya itu jatuh hati.
Selain perhatian sedemikian besar yang dia berikan, Ega memang dengan sengaja ingin membuat Meysie penasaran. Hal ini beberapa kali Ega lakukan, saat Meysie sudah mulai tergoda dengan hasratnya, tapi Ega tahan, hingga keinginan untuk merasakan ingin lebih dari itu akan muncul pada diri Meysie, dan jika saatnya telah tiba, mereka benar-benar akan melakukannya karena keinginan keduanya.
Dan ternyata benar. Beberapa hari saja mereka bersama setelah Meysie terbangun dari komanya, Ega sudah berhasil merebut sebagian hati istrinya. Sebagian saja? Jawabannya, Ya. Ega baru mendapatkan separoh hati Meysie saja, sampai Meysie menyadari bahwa cinta itu sudah mulai tumbuh untuk Ega.
Sampai hari itu, Meysie memang baru merasa nyaman dan tenang, juga senang saja saat bersama dengan suaminya. Dia belum menyadari kalau perasaan senang, tenang, nyaman, dan selalu ingin diperhatikan yang muncul dalam dirinya itu adalah perasaan cinta.
Bahkan dia pun tidak juga mengerti kenapa saat Ega menghukumnya pagi itu, justru yang muncul adalah perasaan suka ketika Meysie melakukannya.
Dan kini, tiba saatnya Ega memberikan kejutan selanjutnya. Seperti rencana yang telah disusunnya, siang ini Ega akan mengajak Meysie pergi ke suatu tempat yang sangat Meysie sukai.
"Pakai ini, Sayang," titah Ega, begitu Meysie selesai dari mandinya.
"Ini? Memangnya kita mau kemana, Bang?" tanya Meysie sambil mengerutkan dahinya.
"Abang hanya mau melihatmu pakai pakaian lebih tertutup seperti ini saat kamu di luar. Cukup dengan Abang saja kamu boleh mengenakan pakaian seksi," ucap Ega sambil memberikan celana jeans warna hitam, berikut dengan T-shirt panjang warna senada.
"Tidak masalah," sahut Meysie sembari mengambil pakaian itu dari tangan Ega. Selama ini memang Meysie lebih sering mengenakan dress selutut dibandingkan dengan pakaian model lain. Tapi dia tipikal perempuan yang tidak begitu ribet urusan pakaian, sehingga bisa dengan mudahnya memakai pakaian yang diingini suaminya.
Sesaat kemudian, Meysie sudah siap dengan celana jeans dan T-Shirt warna hitamnya, sama persis dengan pakaian yang dikenakan Ega. Ya, beberapa hari ini memang mereka terlihat selalu kompak dengan baju couple yang dikenakannya.
"Kita kemana, Bang?" tanya Meysie penasaran.
"Ke tempat yang kamu suka," sahut Ega, masih dengan berjuta misteri yang disembunyikannya.
"Tapi Meysie lapar," Meysie merengek seperti seorang adik yang minta jajan kepada kakaknya.
"Baiklah, kita makan dulu. Biar Abang telepon bagian resto untuk membawakan makanan ke kamar," ucap Ega sambil meraih gagang telepon yang terletak di sebuah meja kecil samping tempat tidurnya.
"Bawa barang yang kau butuhkan, Sayang. Karena mulai malam ini, kita tidak akan menginap di tempat ini lagi," cicit Ega setelah menutup teleponnya.
__ADS_1
Meysie hanya mengangguk pelan. Dia sama sekali tak berniat bertanya lagi akan kemana mereka setelah ini, karena bisa dipastikan Ega tak akan menjawab dengan benar semua pertanyaan Meysie.
Setelah makanan datang, mereka pun segera melahap semua hidangan yang pelayan sajikan. Sesekali, Ega menyuapi Meysie dengan sendok miliknya, begitu juga sebaliknya. Kini Meysie tak canggung lagi mengimbangi perhatian yang diberikan suaminya.
Setelah moment suap menyuapi selesai, Ega pun menggandeng tangan Meysie hingga mereka sampai ke dalam mobil yang mereka tumpangi.
Perjalanan kali ini cukup jauh dan memakan waktu cukup lama, walaupun Ega sudah mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.
"Pelan-pelan saja, Bang. Jangan ngebut seperti ini. Meysie takut," rengek Meysie dengan nada manjanya.
"Nikmati saja, Sayang," sahut Ega sambil menyolek dagu istri tercintanya. Bahkan kini, Ega justru semakin menggila. Dia terus saja menekan pedal gas mobilnya, hingga mobil mereka melaju dengan kencangnya. Diselibnya satu kendaraan, kemudian berganti menyelip kendaraan yang lainnya, dan begitu seterusnya hingga mobil itu berjalan zikzak menyesuaikan dengan pergerakan mobil lain yang ingin di dahuluinya.
"Jangan ngebut, Bang. Meysie takut," seru Meysie semakin ketakutan.
"Apa yang kamu takutkan, Sayang. Tenanglah, saat ini kamu sedang bersama Abang," jawab Ega dengan tenang.
"Huuuu ..., Haaaa," teriak Ega sambil mengendalikan setirnya dengan lincah, saat mendahului beberapa mobil yang melaju di depannya.
Ega tersenyum senang mendengar ocehan istrinya yang asal, tapi justru terdengar dari hati yang terdalam.
"Mewisuda? Maksudnya membelah punyamu? Wkwkwk," batin Ega penuh suka cita.
"Sssttt. Kita sudah sampai, Sayang," bisik Ega setelah menghentikan mobilnya. Bahkan kini dia mencium istrinya begitu hangat, pada wajah cantik Meysie yang kini terlihat sangat pucat.
"Huhhh," Meysie menjauh dari wajah Ega dan bersandar di kursi penumpang sambil menarik nafas lega. Ega tersenyum saja di buatnya.
"Kamu tahu kita sekarang berada dimana?" Ega mengelus kepala istrinya.
Meysie yang ditanya tak mengatakan apa-apa. Dia justru sibuk menyapukan pandangannya kemana-mana. Bahkan karena tidak percaya kalau suaminya telah membawanya ke tempat yang sangat diidamkannya, Meysie sampai mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa matanya tak salah mengenali.
"Bang, ini? The Rockies?" Meysie menatap suaminya tidak percaya.
__ADS_1
Ega hanya mengangguk pelan. Dan sedetik kemudian, sebuah pelukan manis mendarat begitu saja pada tubuhnya. Ya, Meysie memeluk tubuh Ega karena begitu senangnya.
"Semua akan Abang lakukan demi senyummu dan demi pelukan ini, Sayang," batin Ega dalam hati.
"Ayo kita naik, Bang!" tak sabar, Meysie langsung keluar dari mobil dan berlari ke area wisata yang sudah tak sabar dia nikmati.
"Sayang, tunggu. Kita taruh barang dulu ke kamar sebentar," seru Ega sambil buru-buru turun dari mobilnya.
"Suruh saja petugas hotel untuk membawanya ke dalam, Bang," sahut Meysie tak mau menunda keinginannya lagi.
"Baiklah, tunggu Abang sebentar," Ega meminta seorang pelayan hotel untuk membawa semua barang mereka ke dalam kamar.
"Ayo, Bang," rengek Meysie tak sabar.
"Pakai ini dulu sebentar," Ega mendekati Meysie, kemudian memakaikan sebuah jaket tebal, lengkap dengan skybo dan slayer untuk Meysie kenakan.
Meysie tersenyum haru mendapatkan perhatian dari suaminya yang sedemikian besar.
Cup.
Tanpa pikir panjang, sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Ega.
"Terima kasih," ucap Meysie dengan senyum termanisnya.
Ega tak bisa berkata-kata mendapatkan satu ciuman dari istrinya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama Meysie nerinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu, jadi wajar jika hanya senyum bahagia yang mampu Ega tunjukkan.
"Aku tak akan mencucinya," bisik Ega sambil memegangi pipi bekas ciuman istrinya.
"Apa?" sahut Meysie, dan tiba-tiba mukanya berubah menjadi merah padam seketika, saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan kepada suaminya.
BERSAMBUNG
__ADS_1