METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Batin Ryan Meronta


__ADS_3

"Sayang, kamu menangis?" Ryan yang sudah memeluk Rani akhirnya beranjak dan menyalakan lampu kamar.


Tak ada sahutan. Mendengar pertanyaan dari suaminya itu, tubuh Rani justru semakin bergetar.


"Sayang, kamu kenapa? Apa masih mual? Atau ada yang sakit?" cecar Ryan bingung karena tidak mendapatkan jawaban.


Rani tak berniat menjawab pertanyaan suaminya. Semakin ditanya, dia justru semakin tergugu.


"Sayang, ayolah bilang sama Hubby. Kenapa kamu menangis? Jika ada yang sakit kita ke dokter saja ya. Atau masih mual? Kamu mau Hubby bikinkan teh manis panas biar mualnya berkurang? Atau mau diolesi minyak angin mungkin?" Ryan semakin kebingungan.


Rani hanya menggeleng pelan.


"Rani nggak kenapa-kenapa, Hubby," akhirnya Rani membuka suaranya.


"Nggak kenapa-kenapa kok nangis?" Ryan kembali membaringkan tubuhnya dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya.


"Ayo bilang sama Hubby! Apa yang membuatmu menangis? Apa Hubby berbuat kesalahan?" kini Ryan mengusap kepala istrinya dengan sayang.


"Bukan, By. Hubby nggak salah apa-apa," sahut Rani.


"Terus kenapa sayangnya Hubby sampai menangis sesedih ini?" dengan sabar Ryan meladeni istrinya yang akhir-akhir ini memang selalu bersikap manja itu.


"Rani cuma capek, By," keluh Rani dengan rengekan manjanya.


"Mau Hubby pijitin? Bagian mana yang mau dipijit?" Ryan langsung memijit pundak dan tangan istrinya.


"Bukan itu, By. Rani hanya lelah menghadapi semua ini. Sampai kapan Rani akan merasakan mual dan muntah terus seperti ini? Sudah berapa minggu Rani tak bisa makan apapun karena semuanya harus berakhir di wastafel kamar mandi? Sedangkan Hubby bisa makan apa saja tanpa peduli sama Rani," Rani merenggangkan pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar.

__ADS_1


"Sayang, maafkan Hubby ya. Demi mengandung anak kita kamu harus menderita seperti ini. Jika saja Hubby bisa menggantikanmu merasakan apa yang kamu rasa, Hubby akan dengan senang hati menerima semuanya. Tapi apa yang bisa Hubby lakukan sekarang? Hubby bahkan tidak bisa melakukan apa-apa selain melihatmu harus menanggung semuanya," tutur Ryan lembut. Dia meraih tisu dari atas nakas samping tempat tidurnya dan mengusap pipi dan mata istrinya yang masih basah karena air mata yang terus tumpah.


"Rani nggak butuh perkataan seperti itu, Hubby," Rani merebut tisu dari tangan suaminya dan mengusap sisa air matanya sendiri.


"Habisnya Hubby bisa berkata apa? Hubby juga bingung bagaimana caranya membuatmu keluar dari ketidaknyamanan seperti ini," Ryan mulai frustasi menghadapi ibu hamil yang sedang merajuk seperti ini.


"Apa ini yang dimaksud dokter ketika itu? Dia bilang salah satu faktor yang bisa membuat Rani mengalami bad mood selama masa kehamilan adalah perubahan hormon. Di saat hamil, hormon estrogen dan progesteron di tubuhnya akan mengalami peningkatan secara signifikan. Hal inilah yang mempengaruhi neurotransmitter (zat kimia di otak) yang mengatur suasana hati. Terus apa yang harus aku lakukan?" gumam Ryan dalam hati.


"Kata dokter, yang bisa membuat moodnya kembali baik adalah dengan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya merasa senang seperti mengajaknya jalan-jalan, liburan, nonton film di bioskop, makan malam di restoran romantis, atau mengajaknya melakukan hal lain yang dia suka. Dengan begitu bisa membuatnya terlepas dari stres juga. Baiklah-baiklah. Sekarang aku harus memikirkan apa yang harus aku lakukan agar dia kembali bersemangat menjalani kehamilannya," batin Ryan lagi dalam hati.


"Hubby," rengek Rani yang mendapati suaminya hanya terdiam saja tak menanggapi Rani yang sebenarnya sedang mencari perhatiannya.


"Iya, Sayang. Besok kita ke dokter saja ya," alamak. Justru kata-kata itu yang keluar dari mulut Ryan.


"Nggak mau. Paling dokter cuma ngasih vitamin aja. Dan itu sama sekali tidak mengurangi ketidaknyamanan yang Rani rasakan," tolak Rani.


Mendengar perkataan suaminya, dan mendapat perlakuan seperti itu, tiba-tiba mata Rani berbinar.


"Benar juga ya, By. Rani mau, By. Besok kita ke rumah sakit," ucap Rani bersemangat.


"Baiklah. Besok pagi sebelum kita ke kantor, kita ke rumah sakit dulu. Kita ke kantor agak siang nggak papa kan?" Ryan mencubit hidung istrinya dengan gemas.


"Iya, By," Rani cepat-cepat menganggukkan kepalanya.


"Oke. Kalau begitu, sekarang Tuan Putri bobok dulu. Hubby usep-usep kepalanya biar Sayangnya Hubby ngantuk dan nyaman tidurnya," Ryan membenarkan posisi istrinya dan mulai mengusap ujung kepala Rani dengan pelan. Ini adalah kebiasaan mereka setelah mereka menikah. Ryan akan selalu mengusap kepala Rani, sampai dia pulas tertidur. Jika Rani sudah terlelap, baru Ryan melepas tangannya. Dan itu selalu dia lakukan hingga satu tahun lebih usia pernikahannya.


"Tapi Rani belum mau tidur, By," Rani mengambil tangan Ryan dari kepalanya dan justru menautkan jari jemari mereka.

__ADS_1


"Terus sayangnya Hubby mau apa?" Ryan masih bersabar menunggu istrinya mengatakan apa yang sedang dia inginkan.


"Rani laper, By. Semua isi perut Rani tadi keluar," rajuk Rani masih dengan nadanya yang manja.


"Baiklah. Istri tercinta Hubby ini mau makan apa? Biar Hubby ambilkan," senyum termanis berusaha Ryan sunggingkan. Merengut sedikit, ibu hamil di depannya itu bisa salah paham.


"Rani maunya beli di luar," Rani terus merengek.


"Tidak masalah. Hubby akan belikan sekarang. Kamu mau dibelikan apa?" Ryan masih siap menjadi suami siaga.


"Rani maunya ikut. Makanannya tidak boleh dibungkus plastik atau kertas, By. Rani maunya makan di sana," lagi-lagi, titah sang permaisuri membuat Ryan tak bisa berkutik lagi.


"Siap, Tuan Putri. Akan Pangeran antar kemanapun Tuan Putri pergi. Hubby ambilkan hijabmu dulu ya," Ryan beranjak menuju lemari dan mengambil hijab serta sebuah jaket untuk istrinya.


Karena tidak ada tanda-tanda istrinya mau menerima hijab dan jaket itu dari tangannya, akhirnya Ryan pun berinisiatif memakaikan hijab dan jaket itu ke tubuh Rani. Begitu juga setelah dia memakaikan hijab dan jaket itu, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Rani akan segera beranjak dari tempatnya, sehingga Ryan langsung tanggap dengan kemauan istrinya dan langsung menggendongnya.


"Kita mau cari makananmu kemana?" tanya Ryan begitu mereka telah berada di dalam mobilnya.


"Jalan dulu saja, By," titah sang tuan putri.


"Iya, tapi jalan kemana? Belok kanan apa belok kiri? Ke arah mana? Ahh, bodo amat. Yang penting jalan kan?" gumam Ryan dalam hati.


"Baiklah. Kamu maunya makan apa? Biar Hubby tahu kita harus carinya kemana?" setelah mereka berputar-putar sekitar tiga puluh menit tapi belum ada satu makanan pun yang disebutkan istrinya, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Ryan.


"Jalan lagi aja, Hubby. Rani juga belum tahu pengen makan apa," sahut Rani dengan entengnya.


"What? Alamak," batin Ryan meronta.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2