METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Gelagat Nyonya Atmaja


__ADS_3

Fisha memandang wanita paruh baya yang kini sedang duduk sebelahnya dengan hati di ujung bimbang. Sungguh, dia belum mampu menyatukan keraguan dan keyakinan itu dalam satu desahan nafas yang dia keluarkan. Bisakah jiwa bebasnya akan tertutup dengan sebuah sikap yang menunjukkan kedewasaan?


"Tidak ada tapi-tapian, Fisha. Tante tidak menerima penolakan," tegas Nyonya Atmaja saat itu.


"Bukan begitu, Tante. Tuan Hengky kan juga belum tentu mau sama Fisha. Lagian ...," Fisha menarik nafas panjang, ragu dengan sebuah kalimat yang akan dia keluarkan.


"Dari cerita Tante tadi, saya tahu bahwa nama Rani yang Tante sebutkan itu adalah Arania Levana, Anggota Dewan termuda kota ini yang dikenal sebagai Anggota Dewan perempuan pertama yang perjuangan untuk rakyatnya luar biasa, Tante. Dia juga terkenal karena kecerdasan dan kebaikannya kepada siapa saja, bahkan perjuangannya untuk pasien HIV AIDS dan penderita Thalasemia sampai mendapatkan penghargaan tingkat dunia. Jadi sudah jelas, Tante. Saya sangat memahami sekali kenapa Tuan Hengky belum bisa move on dari Rani, karena sangat sulit menemukan sosok pengganti yang minimal seperti dia, Tante. Jadi saya ...," oceh Fisha, yang langsung disela Nyonya Atmaja.


"Ssttt. Tidak bisa dibanding-bandingkan seperti itu, Fisha. Masing-masing orang punya kekurangan dan kelebihan. Dia memang wanita hebat, tapi bukan berarti dia tidak punya kekurangan. Begitu juga dengan kamu, Sayang. Kamu terus saja merendahkan dirimu, tapi bukan berarti tidak punya kelebihan bukan?" kini Nyonya Atmaja memandang Fisha dengan tatapan penuh harap. Walau baru pertama kali bertemu dengannya, tapi Feeling Nyonya Atmaja sebagai seorang ibu dan seorang wanita benar-benar kuat, bahwa Fisha adalah gadis yang bisa membuat Hengky menata kembali hati dan hidupnya hingga masa depannya yang penuh dengan kekecewaan pasca pernikahan Rani akan bisa terobati.


"Begini saja, Tante," Fisha terdiam sejenak, kemudian menarik nafas panjang. Dia benar-benar menyerah menghadapi Nyonya Atmaja yang tak mau menerima alasan apapun, sehingga tak ada pilihan selain memberikan harapan sebagai pengganti sebuah jawaban.


"Fisha janji tidak akan menolak jika Tuan Hengky menghendaki. Tapi Tante juga harus berjanji dengan Fisha satu hal," kini mereka saling beradu pandang.


"Apa itu, Sayang?" mata Nyonya Atmaja terlihat berbinar.


"Berjanjilah bahwa Tante tidak akan memaksakan kehendak Tante kepada Tuan Hengky. Jika memang kami berjodoh, tanpa Tante paksa pun insya Allah kami akan bertemu dalam sebuah ikatan, Tante," pinta Fisha tegas.


"Deal. Tante setuju," sahut Nyonya Atmaja dengan secepat kilat.


"Aku akan mengatur semuanya, Fisha. Kau lihat saja, aku akan membuat Hengky sendiri yang memintamu kepadaku," gumam Nyonya Atmaja dalan hati.


Kini mereka berdua berpelukan erat. Dengan perasaan masing-masing, keduanya justru telah menautkan hati dan saling terikat.


***


Senja mulai memudar, berganti dengan langit yang kini menghitam. Hening, tak ada tautan kecuali suara hati yang berisik, mungusik benak dan jiwa yang terus terbuai dengan angan-angan.


"Hmmmhhh," Fisha menarik nafas panjang. Di depan ruang ICU rumah sakit itu, kini Fisha sendirian.

__ADS_1


Dilihatnya langit malam yang kini telah bertabur bintang, di sana ada satu bintang yang Fisha suka. Orang bilang sih namanya bintang kejora. Tapi benarkah demikian? Bukankah bintang kejora itu adalah planet Venus, si bintang timur yang biasa kelihatan besar dan terang di sebelah timur pada dini hari?


Khayalan Fisha melayang, seolah ingin mengambil bagian dari celah malam yang kian mencekam. Apalagi semakin jarang orang yang berlalu lalang melewati tempat itu, mengingat semua pengunjung rumah sakit sudah tak bisa masuk untuk menjenguk. Hanya penunggu pasien saja yang sesekali lewat, untuk mencari angin, ataupun ada kebutuhan lain.


Ya, Fisha masih di ruang tunggu pasien khusus ICU, di sana memang disediakan sebuah ruang terpisah hingga semua penunggu bisa beristirahat di tempat itu. Sayangnya, saat itu penghuni ICU hanya ibunda Fisha. Sedangkan Meysie, dia berada di ruang ICU khusus, dimana si penunggu di sediakan ruang khusus VVIP.


"Fisha!" sebuah suara tiba-tiba menggetarkan hatinya. Suara itu membuat dia teringat pada permintaan Nyonya Atmaja siang itu.


"Tuan," Fisha yang awalnya duduk bersandar, seketika berdiri menyadari kehadiran Hengky. Tak berapa lama, mereka saling bertatapan. Hengky nampak biasa saja, tidak ada hal istimewa yang terasa di hatinya. Berbeda dengan Fisha yang justru merasakan jantungnya berdetak luar biasa, hingga dengan susah payah dia harus menguasai dirinya.


"Apa kau sendirian?" Hengky tiba-tiba duduk pada bangku panjang tempat Fisha menghabiskan malam sendirian.


"Iya, Tuan. Di dalam sana hanya ada ibu saya, jadi saya di sini juga sendirian. Tuan sendiri? Apa Tante sudah pulang?" tanya Fisha sedikit memaksakan. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Nyonya Atmaja sudah pulang, karena sebuah pesan WA tadi sempat dia layangkan. Tapi dari pada tidak ada pembicaraan, akhirnya kalimat itu yang Fisha ucapkan.


"Iya, Mama sudah pulang. Tadi kalian ngobrol seharian ya? Mama terlihat sangat senang hari ini. Terima kasih, Fisha. Telah membuat Mama merasa nyaman," sahut Hengky.


"Di sini kami sama-sama kesepian. Jadi kami bisa saling mengisi. Tante benar-benar baik, sama seperti Anda, Tuan," Fisha tersenyum manis ke arah Hengky.


"Tidurlah di ruang tunggu kakakku, biar malam ini aku yang di sini menunggui ibumu," cicit Hengky tiba-tiba.


"Tidak bisa begitu, Tuan," protes Fisha.


"Kenapa tidak bisa?" Hengky mengerutkan dahinya.


"Saya tidak boleh egois. Anda sudah banyak membantu saya. Masa untuk hal seperti ini saja saya masih harus merepotkan Anda, Tuan," Fisha keberatan.


"Aku senang melakukannya," Hengky merapatkan jaketnya, kemudian menyandarkan kepalanya pada tembok di belakang bangku itu.


"Tapi saya ingin selalu dekat dengan ibu saya, Tuan," ucap Fisha lirih.

__ADS_1


"Kalau begitu kita akan di sini berdua semalaman," Hengky memutuskan.


"Hah?" kini Fisha membulatkan matanya.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanpa Hengky sadari, ada rasa kecewa mendengar penolakan Fisha. Hengky pun tidak tahu kenapa, malam itu dia benar-benar merasa ingin menjaganya.


"Ya ..., eh tidak, Tuan," jawab Fisha dengan terbata.


"Tidak apa?" Hengky menelisik.


"Tidak keberatan jika kita berdua di sini semalaman, Tuan," setelah mengucapkan itu, Fisha menutup mulutnya.


"Hahaha. Kau sungguh lucu, Fisha. Duduk dan istirahatlah!" titah Hengky sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Fisha menurut saja dengan apa yang diminta Hengky kepadanya. Secara tidak sadar, dirinya sungguh merasa nyaman juga aman berada di dekat pria yang malan ini menemaninya menunggui si ibunda.


"Fisha,"


"Ya,"


"Apakah tadi Mama bercerita banyak tentangku?"


"Hmmm,"


"Tapi dia tidak berniat menjodohkan aku denganmu kan? Gelagat Mama sungguh aneh hari ini,"


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Lagi? Vote dulu ahhh


__ADS_2