METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Menjelang Transplantasi


__ADS_3

Ega membiarkan baju yang dia kenakan basah oleh air mata istrinya yang terus berderai tanpa bisa berhenti. Jika saja mereka tidak sedang berada di pesawat, mungkin tangis Meysie akan pecah tanpa bisa terkendali. Untung saja kini mereka sedang berada dalam sebuah penerbangan, hingga mau tidak mau Meysie harus bisa bersikap lebih tenang.


Ega terus mendekap Meysie dalam pelukannya. Tak ada satu kata pun yang dia ucapkan, bahkan dia sengaja membiarkan istrinya itu menumpahkan segala kesedihannya, untuk meringankan segala beban.


"Kenapa Papa harus ninggalin Meysie secepat ini, Bang?" ucap Meysie parau.


"Bersabarlah, Sayang. Ini adalah takdir yang sudah Allah gariskan. Allah lebih sayang pada Papa, hingga Dia memanggilnya untuk berada di sisi-Nya," sahut Ega sambil mengusap dan mengecup ujung kepala Meysie dengan penuh kehangatan.


"Berjuta cinta dan pengorbanannya bahkan belum sempat Meysie balas, Bang. Meski cara yang dia gunakan tak sepenuhnya benar, tapi sejak Meysie kecil, Papa selalu mengajarkan tentang kebaikan. Papa pun membesarkan kami dengan penuh cinta dan kasih sayang. Demi Allah, Papa orang baik, Bang. Pun ketika akhirnya harus berakhir seperti ini, semua karena kesalahan Meysie. Meysie yang telah membuat Papa terpaksa berbuat jahat kepada mereka, hingga akhirnya Papa di penjara, dan sekarang ..., hiks, hiks, hiks," Meysie tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Sssttt. Berhenti menyalahkan dirimu. Kita harus pandai-pandai mengambil hikmah dari setiap sesuatu, dan meyakini bahwa setiap ujian yang datang adalah bagian dari takdir yang telah Allah tuliskan," Ega terus berusaha menenangkan, walaupun Meysie terus terisak dengan air mata yang tak mampu tertahankan.


Hingga akhirnya, Meysie kelelahan dan tertidur di pelukan Ega, selama penerbangan berlangsung. Ya, mereka membutuhkan waktu setidaknya dua puluh dua jam hingga mereka bisa mendarat di Indonesia.


***


Johan mengambil posisi duduk tepat di depan ruang perawatan Daniel, selama tim dokter berada di dalam untuk memeriksa kondisi Daniel sebelum transplantasi kornea dilakukan.


Johan merogoh saku kanan celananya, dan begitu ada benda pipih di sana, dia segera meraih dan berselancar mencari nomor gadis yang dia cinta.


"Sayang," gadis cantiknya menyapa dengan begitu lemasnya. Johan tersenyum simpul, melihat Nina masih bersembunyi di dalam selimut, seperti waktu dia meninggalkannya sesaat tadi.


"Jangan bilang kau tak akan berpakaian seperti itu sampai aku pulang dan kembali memakanmu," goda Johan dengan terus menatap layar ponselnya. Pemandangan indah itu benar-benar tak Johan lewatkan begitu saja.


"Dasar mesum," Nina mengerucutkan bibirnya.


"Lalu bisa kau jelaskan tidak, kenapa kau tak juga berpakaian sampai sekarang? Bukankah kau sedang menungguku untuk datang?" Johan mengerling nakal.


"Mana ada? Aku juga tahu kalau kau video call begini, pasti kau tak akan pulang hingga pagi," lirih Nina.


"Sayang, kan sudah kita bicarakan," tutur Johan lembut.


"Memang apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Nina manja.

__ADS_1


"Tuanku sudah mendapatkan donor mata. Transplantasi akan dilakukan beberapa jam lagi," jelas Johan, berharap istrinya bisa mengerti.


"Kalau begitu aku susulin kamu ya, Sayang. Aku ikut," rengek Nina.


Johan hanya mengerutkan dahinya, mendapati istrinya yang kini selalu ingin berdekatan dengannya.


"Apakah memang selama ini aku yang tidak peka?" Johan bertanya-tanya dalam hati.


"Baiklah, bersihkan dirimu, sebentar lagi aku akan menjemputmu," ucap Johan dengan senyum termanis yang dia persembahkan.


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa naik taxy," sahut Nina penuh semangat.


"Tidak boleh," ucap Johan tegas.


"Kenapa?" kini Nina mengerutkan dahinya.


"Aku tak mau kau diantar sembarang pria," ketus Johan.


"Sembarang pria? Dia hanya seorang supir, Sayang," protes Nina mendapati suaminya yang menjadi posesif secara tiba-tiba.


"Baiklah, Sayang. Aku akan bersiap sekarang. Cepat jemput aku. Aku sudah merindukanmu," Nina memberi ciuman dari kejauhan dan langsung mengakhiri panggilan video Johan.


"Dasar gadis nakal," Johan terkekeh sambil memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya.


"Aku benar-benar bisa gila karenamu, Sayang," gumam Johan lirih.


***


Hengky, Nyonya Atmaja dan Fisha terlihat lebih tenang, walaupun tetap saja ekspresi cemas tidak bisa mereka sembunyikan saat menunggu proses enukleasi atau pengambilan kornea mata Tuan Atmaja yang sedang berlangsung di dalam ruang operasi.


"Tante yang sabar ya, Tan," Rani yang waktu itu berada di sebelah Nyonya Atmaja meraih tangan ibu dari pria yang pernah mencintainya itu, kemudian menggenggam erat tangannya.


Nyonya Atmaja hanya tersenyum tipis. Dia memandang wajah Rani dengan lekat, merasakan ketulusan dan kebaikan hati Rani yang bisa dia tangkap dari sikapnya sejak Meysie masih terbaring koma, hingga dengan relanya memaafkan suaminya yang telah menculik dan berusaha merebut Ryan dari hidupnya.

__ADS_1


Spontan, Nyonya Atmaja membalas genggaman tangan Rani dan mengecup kening gadis yang menjadi sumber dari segala kekacauan dalam rumahnya itu.


"Sekarang aku mengerti, kenapa Hengky sampai tak bisa berpaling darimu, dan Ryan lebih memilihmu dari pada anakku. Ternyata selain cantik dan pintar, kau juga sebaik ini," batin Nyonya Atmaja dalam hati.


Tanpa Nyonya Atmaja sadari, Ryan dan Fisha sedang memperhatikan mereka dengan perasaan aneh dan tak enak hati. Bagaimana tidak? Melihat Nyonya Atmaja begitu terkesima dengan seorang Arania Levana, membuat sedikit kekhawatiran di hati mereka muncul.


"Akankah Nyonya Atmaja berusaha mengambil Rani dan menyatukannya dengan Hengky?" Ryan dan Fisha bertanya-tanya dalam hati.


Hingga adegan itu akhirnya berakhir, saat tim dokter yang melakukan enukleasi pada kornea Tuan Atmaja keluar.


"Kami telah selesai melakukan pengambilan kornea pada mata Tuan Atmaja. Selanjutnya, kornea Tuan Atmaja akan direstorasi dalam media kultur dan antibiotik, dengan suhu sekitar 4 derajat C.  Setelah semua siap dan pemeriksaan kornea donor dinyatakan dalam kondisi layak, maka transplantasi bisa segera kami lakukan," jelas seorang dokter, yang disambut dengan perasaan lega dari semua orang yang sedang menunggu penjelasan terkait keberhasilan enukleasi yang baru saja dilakukan di dalam sana.


"Untuk jenazah papa saya, apakah sudah bisa kami bawa pulang untuk langsung dimakamkan, Dokter?" tanya Hengky begitu dokter itu selesai berbicara.


"Tentu, Tuan. Biar kami siapkan," sahut sang dokter sambil meninggalkan tempat itu.


***


Kini, tim dokter sudah berada di ruang perawatan Daniel dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Sebelum transplantasi mata dijalankan, tim dokter melakukan Informed consent, dengan memberikan penjelasan pada Daniel dan Naja secara singkat dan jelas mengenai prosedur transplantasi kornea yang akan dilakukannya. Setelah mereka mengerti gambaran umum prosedur, tujuan, resiko, juga alternatif terapi, Daniel didampingi istrinya menandatangani berkas informed consent itu, sebagai tanda bahwa prosedur transplantasi akan dilanjutkan pada proses selanjutnya.


Setelah semua berkas administrasi siap, tim dokter melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan pada tubuh Daniel, berupa pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan kesehatan mata, juga pemeriksaan penunjang lainnya yang dilakukan dengan pemeriksaan darah lengkap dan urinalisis, yang juga dibutuhkan terkait prosedur anestesi sebelum transplantasi kornea dilakukan.


Setelah Daniel dinyatakan siap dan kondisi layak, akhirnya perawat mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus untuk operasi.


"Apakah kau tegang, Sayang?" Naja mendekati suaminya dan mengelus kepala Daniel dengan sayang.


"Bagaimana jika transplantasinya gagal?" tanya Daniel sambil meraba sekitar tempat tidurnya, mencari tangan Naja. Gurat kecemasan benar-benar terlihat dari wajah Daniel saat itu.


Naja segera meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


"Maksimalkan ikhtiar dan kuatkan dengan do'a, Sayang. Berprasangka baiklah kepada Allah, karena Dia akan memberi sesuai dengan apa yang kita prasangkakan kepadaNya," tutur Naja menguatkan.


Beberapa saat kemudian, Aghata, Arsen, Arya, Lena, Johan juga Nina masuk ke dalam ruangan. Sementara Ryan dan Rani bersama Rudi yang akan menghadiri pemakaman Tuan Atmaja, akhirnya ikut gabung juga mengingat pemakaman akhirnya akan dilaksanakan keesokan paginya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2