
Menyerah. Sebuah kata yang hampir tak pernah singgah di hati Rani, kini tiba-tiba muncul begitu saja mematahkan segala asa dan harap yang selama ini dia jaga.
Ya, istri mana yang rela suaminya menikah lagi dan membagi cinta untuk dua hati? Rasanya tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang rela dimadu, apalagi diduakan di depan mata dan kepalanya sendiri.
Hanya membayangkan Ryan akan membagi segala bentuk cinta, perhatian, dan kebahagiaan dengan wanita lain saja, luka di hati Rani sudah menganga, apalagi jika benar-benar harus merasakannya?
Cemburu, pasti itu ada di hatinya. Ya, setidaknya itu adalah bukti nyata dari besarnya rasa cinta yang dimilikinya.
Dan sejak Atmaja dan Charles meninggalkannya bersama Nina dan keempat pria kekar itu, benak Rani hanya sibuk menerka-nerka.
"Apakah Hubby akan menerima tawaran Om Atmaja hanya demi menyelamatkanku? Jika iya, bagaimana aku harus bersikap?" gumam Rani dalam hati.
Sepanjang waktu, Rani larut dalam pemikiran yang panjang.
"Aku tak akan pernah bisa melihat Hubby bermesraan dengan perempuan lain," lirih Rani.
Hingga tak terasa, bulir bening dari ujung matanya pun berhasil lolos dan mengalir deras membasahi wajah yang masih terbalut mukena itu.
***
Daniel benar-benar tak sabar begitu Naja dan Rudi meyakinkan bahwa Rani dan Nina berada di ruang bawah tanah sebuah museum bersejarah di kota itu, hingga tanpa pikir panjang, Daniel ingin segera melakukan aksi penyelamatan pada kakak ipar dan adik sepupunya itu.
"Tunggu! Kita harus menunggu Johan membawa Om Arsen dan Tante Mira ke rumah ini, juga memastikan Arya, Mama Davina dan juga Lena kembali. Aku tak mau ambil resiko dan kecolongan lagi," cegah Ryan.
"Tapi jika tiba-tiba hujan, air di ruang bawah tanah itu akan semakin naik, Tuan. Mereka bisa tenggelam jika itu benar-benar terjadi," cicit Naja, yang lebih sepakat untuk pergi ke tempat itu sekarang juga.
"Tapi ..., huh. Ya sudahlah," Ryan beranjak dari duduknya diikuti Daniel, Rudi dan Naja.
Namun, saat mereka berjalan menuju mobil mereka, tiba-tiba beberapa mobil masuk dari arah luar pintu gerbang utama. Dalam waktu singkat pun Arsen dan Mira segera turun dan dibimbing masuk ke kamar mereka, begitu juga dengan Lena dan tim dokter yang ikut datang untuk merawatnya. Mereka semua diminta tetap berada di dalam rumah, dengan penjagaan ketat dan keamanan berlapis tentunya.
__ADS_1
"Apa semua sudah siap?" Ryan memandang satu per satu saudara dan sahabat, juga seluruh anah buahnya yang akan ikut menyelamatkan Rani dan Nina.
"Siap, Tuan," jawab mereka serentak.
Dan hanya dalam hitungan detik, mereka masuk ke dalam mobil masing-masing, yang dibagi menjadi empat tim. Betul, hanya empat tim saja yang mengikuti Ryan agar tidak menimbulkan banyak kecurigaan.
Dalam waktu enam puluh menit, akhirnya mereka sampai di sebuah area parkir sebuah museum bersejarah yang sangat terkenal di kota itu. Sebuah bangunan tua megah yang menghadirkan keindahan arsitektural bangunan yang unik, tiba-tiba terlihat jelas begitu mereka keluar dari mobil mereka.
Dilihat dari riwayatnya, museum itu merupakan sebuah bangunan peninggalan masa lampau yang mampu menyuguhkan sebuah pemandangan yang disukai banyak kalangan. Rancangan bangunan yang dibuat oleh dua orang Belanda yang bernama B.J. Quendag dan J.F. Klinkhamer itu, awalnya diperuntukkan sebagai kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij, yakni perusahaan kereta api milik kolonial Belanda.
Ya, mereka di buat takjup, saat menyaksikan kemegahan arsitektur klasik yang memiliki sensasi tersendiri. Apalagi melihat bahwa arsitekturnya menyertakan pintu dan jendela-jendela berukuran besar yang banyak jumlahnya, membuat bangunan itu berbeda dengan museum-museum pada umumnya.
"Cukup, terkesimanya. Lain kali kalian bisa pergi ke sini secara khusus jika ingin menikmati suasananya. Sekarang kita fokus ke Rani dan Nina," suara Ryan membuyarkan khayalan mereka yang bahkan kini sudah membulatkan mata dan mulutnya.
"Siap," seolah kata itu yang mereka ucap, seiring dengan sebuah anggukan yang mereka buat.
Mereka pun akhirnya berbagi tugas. Tiga tim diputuskan turun ke ruang bawah tanah, sementara satu tim berjaga di luar.
Dengan perlahan, mereka menuruni anak tangga demi anak tangga satu per satu, hingga akhirnya mereka sampai di anak tangga terakhir.
"Auw," seru Naja begitu dia menginjakkan kakinya di lantai dasar tangga itu.
"Sssttt," ucap para pria mengingatkan. Suara berisik akan membuat musuh tersadar dan menyiapkan pasukan.
"Maaf, Tuan. Habisnya saya kaget," ucap Naja sambil melihat ke arah kakinya yang terendam air hampir sampai setengah lututnya.
"Kita salah kostum, Naja. Harusnya kita pakai pakaian lapangan dan menyelipkan senjata," ucap Ryan datar.
"Iya, Tuan. Tahu begini, saya bawa sepatu boot tadi," timpal Naja sambil mengangkat celana yang dia kenakan.
__ADS_1
Melihat medan, rasanya cukup sulit bagi mereka untuk bisa berjalan mengendap dan menyembunyikan diri dari musuh. Oleh karena itu, begitu mereka semua turun, yang bisa mereka lakukan hanya menyusuri lorong bawah tanah yang gelap dan berair itu dengan waspada. Mereka terus berjalan mengikuti bentuk dari lorong yang tingginya tak lebih dari 2 meter itu dengan hati-hati, bahkan di beberapa celah malah terkadang mereka harus berjalan membungkuk karena pendeknya bangunan yang harus mereka lewati.
"Ada cahaya," bisik Ryan.
Sejenak, mereka menghentikan langkahnya, dan menempelkan tubuh mereka dengan dinding lorong sambil menyusun rencana.
"Terlalu berbahaya untuk Rani dan Nina jika mereka menyadari kedatangan kita. Mau tidak mau, kita harus mematikan seluruh cahaya dan berjalan dalam gelap agar mereka tidak menyadari kedatangan kita," cicit Arya yang dibenarkan oleh yang lain dengan sebuah anggukan.
Akhirnya, mereka semua mematikan lampu center yang mereka pasang di kepala mereka, kemudian berjalan kembali tanpa sedikitpun penerangan.
Johan dan seorang anak buahnya berjalan terlebih dahulu, diikuti Ryan, Arya dan Daniel, baru disusul Naja dan anak buahnya yang lain.
Hingga sebuah cahaya dari obor dan beberapa lampu senter pun terlihat.
"Mereka ada di sana. Bagaimana?" Daniel setengah berbisik.
"Pancing mereka kesini. Jangan ambil resiko!" titah Ryan.
Mereka semua pun kembali menghentikan langkahnya, dan kembali menempel ke dinding. Sementara Johan dan satu anak buahnya, melempar sesuatu hingga menimbulkan bunyi benda yang jatuh ke air.
"Siapa itu?" anak buah Atmaja yang menyadari ada seseorang yang datang langsung berseru dan mencari sumber suara.
Dari arah berlawanan, dua orang di antara mereka lantas menghampiri Johan dengan sebuah senjata laras pendek di tangannya. Pergerakan mereka yang cukup cepat, bisa terlihat dari bunyi yang timbul akibat gesekan kaki mereka dengan permukaan air.
Johan mempercepat langkahnya, maju ke depan dengan segala resiko yang akan dia dapatkan. Jika saja anak buah Atmaja melepaskan satu peluru ke arahnya, sudah pasti sebuah luka tembakan akan mengenai tubuhnya, mengingat tak ada satu spot pun yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi dan melindungi tubuhnya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa bagi jempol, vote dan rate 5 ya, guys. Terima kasih.