METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Percepatlah Sedikit


__ADS_3

Sekelumit ragu tiba-tiba muncul dalam hati Rani, melihat betapa kacaunya Ryan saat menyadari bahwa Meysie terluka.


Hatinya tiba-tiba menggelap, tak sedikit pun cahaya yang mampu menerobos lorong-lorong kosong dalam relung jiwanya, hingga pertanyaan demi pertanyaan pun terbungkus, menyelimuti puing-puing cinta yang tumbuh bersemi dalam bejana asmara yang telah menyatukan mereka berdua.


"Ahh, benarkah cinta itu masih ada di hatinya? Jika tidak, kenapa suamiku sampai sebegitu sedihnya melihat Meysie terluka?" tanya Rani dalam hati. Melihat bagaimana rasa cemas yang terlihat dari sorot mata suaminya, Rani benar-benar yakin bahwa rasa untuk Meysie sungguh masih ada.


“Pergilah, Hubby!” lirih Rani. Air matanya tumpah.


“Apa?” Ryan tidak mengerti.


“Pergilah dan susul dia ke rumah sakit, Hubby! Sebelum Hubby menyesal,” Rani memperjelas kalimatnya.


"Apa maksudmu, Sayang? Mana mungkin Hubby akan meninggalkanmu dan menyusul perempuan itu,” tutur Ryan lembut. Dia benar-benar mengerti akan apa yang sedang di rasakan Rani saat ini.


“Perempuan itu membutuhkan Hubby. Bukankah Hubby begitu mengkhawatirkannya? Rani bisa lihat dari bagaimana Hubby menangisinya tadi. Jika terjadi sesuatu dengan dia bagaimana? Apa Hubby tidak akan menyesal seumur hidup Hubby?” Rani mengucapkan kalimat itu dengan hati sangat terluka. Sebenarnya dia tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia hanya ingin tahu saja, sejauh mana Ryan mencintai dan memprioritaskan dirinya, juga seberapa besar rasa cinta yang masih tersisa untuk seorang perempuan yang pernah mengisi hati dalam kehidupan masa lalunya itu.


“Sayang, Hubby ...,” Ryan menggantungkan kalimatnya, bingung harus berkata apa untuk menggambarkan bagaimana kondisi hatinya saat ini. Ryan memang tidak lagi mencintai Meysie. Namun pikirnya, bukan berarti dia harus saling benci dan saling menyakiti bukan?


“Kenapa, Hubby? Apakah semua yang Rani katakan benar? Jawab saja! Rani tidak akan marah jika memang seperti itu yang Hubby rasakan,” kini Rani menoleh ke arah Ryan dan menatapnya dengan tajam. Dia mencoba melihat mata suaminya dengan dalam, kemudian menyelami samudera kejujuran yang suaminya tampakkan.


“Bukan begitu, Sayang. Hubby hanya ingin kamu percaya kepada Hubby,” lirih Ryan. Dia merasa harus berhati-hati berbicara dengan Rani jika itu terkait Meysie.


“Maksudnya apa, Hubby? Apa Hubby masih ...,” Rani tidak kuasa melanjutkan kalimatnya. Melihat bagaimana hancurnya hati Ryan ketika mendapati Meysie berlumuran darah sesaat tadi, membuat segala pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya.


“Apakah kau masih mencintainya, Hubby?" batin Rani.


"Dengarkan Hubby. Coba kau pikir! Jika kau berada dalam posisi Hubby, apa yang kira-kira akan kau rasakan ketika melihat sahabat yang tidak sebentar telah bersama, yang telah sekian lama berbagi suka maupun duka, kini sekarat di depan mata? Tidakkah kau akan merasakan sakit dan hancur seperti yang Hubby rasa? Hubby memang mencemaskannya. Hubby merasa terluka dan begitu hancur melihat dia terluka dengan cara yang tidak semestinya. Tapi bukan berarti karena Hubby mencintainya. Jadi buang jauh-jauh apa yang ada dipikiranmu itu, Sayang," Ryan mencoba membuat Rani mengerti.

__ADS_1


"Tapi dia seperti itu karena ingin mencelakai istrimu, Hubby. Jika bukan dia yang terluka, berarti aku yang terluka," geram Rani dalam hati.


"Jika bukan dia yang terluka, Hubby tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa. Bahkan Hubby lebih rela menerima peluru itu bersarang di tubuh Hubby, dari pada harus melihatmu terluka," seolah bisa membaca isi hati Rani, Ryan mencoba meyakinkan.


"Pergilah jika memang Hubby mengkhawatirkannya. Rani tidak mau raga Hubby di sini tapi hati Hubby bersama perempuan itu," Rani membuang muka ke sembarang arah.


"Kau pikir Hubby akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini? Hubby memang sedih melihat kondisinya. Tapi Hubby lebih mengkhawatirkan istri Hubby yang cantik, apalagi kalau sedang cemburu seperti ini," Ryan mengembangkan senyumnya, sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas, mencoba mencairkan suasana.


"Siapa yang cemburu?" Rani mengerucutkan bibirnya.


Ryan tidak menjawab. Dia justru menangkap bibir yang sedang manyun itu dengan bibirnya, kemudian menggendong tubuh istrinya begitu saja hingga masuk ke dalam kamarnya. Selama ini, cara seperti itu selalu ampuh mengatasi kemarahan istri kecilnya, sebesar apapun masalah yang ada di antara mereka.


"Hubby benar-benar tidak ingin menemuinya?" tanya Rani.


Ryan yang ditanya tidak menjawab. Dia justru menggelar tubuh Rani begitu saja di atas ranjang begitu mereka sampai ke kamar mereka.


"Hubby tidak takut terjadi apa-apa padanya? Kalau Hubby menyesal bagaimana?" Rani masih sibuk dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Hubby kenapa diam saja? Hubby ...,"


"Ssstt, jangan bawel," Ryan masih melanjutkan aktifitasnya.


"Hubby, kita harus ke rumah sakit. Setidaknya kita harus melihat Nina," oceh Rani, lagi dan lagi.


"Hubby? Ihhhh ...,"


***

__ADS_1


Sementara di jalanan, Johan dan Rudi sama-sama masih memasang tampang tegang. Pasalnya, mereka belum sampai juga di rumah sakit, walaupun jalanan sudah tidak ramai lagi dengan lalu lalang kendaraan. Hanya beberapa mobil saja yang berpapasan, mengingat hari juga sudah lumayan malam.


"Se ... sebelum saya ma ... mati, sa ... saya ingin bertemu de ... dengan kedua orang tu ... tua saya, Tuan," pinta Nina dengan terbata, sambil menatap lekat pria yang masih memangkunya.


"Gadis bodoh. Kau tidak akan mati dan bisa bertemu dengan mereka sebanyak yang kau mau," sahut Johan dengan datar. Sebenarnya dalam hati Johan, dia juga tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan. Tapi demi memberi rasa tenang pada gadis kecil yang kini sedang dipangkunya itu, Johan tidak menunjukkan rasa khawatirnya.


Mendengar ucapan Johan, Nina pun tersenyum sekilas kemudian memejamkan mata.


"Cepatlah sedikit, dia sudah diam saja!" seru Johan kepada Rudi.


"Dia pingsan atau ...?" sahut Rudi.


"Mana aku tahu," Johan setengah berteriak.


"Periksa nadinya atau nafasnya!" geram Rudi.


Johan menurut saja dengan apa yang diucapkan Rudi kepadanya, sambil sibuk mengutuki diri kenapa hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya.


"Nafas dan denyut nadinya masih ada. Percepat lajumu," seru Johan kembali.


"Ini sudah sangat cepat. Apa kau ingin kita bertiga berakhir di rumah sakit? Yang ada bukan hanya gadis itu saja yang akan mati. Kita berdua juga," oceh Rudi, sebal dengan Johan yang memberi titah seenaknya.


"Cih, alasan saja kau ini. Ini belum apa-apa. Injak pedal gasmu lebih dalam lagi. Sebelum kita menyesal kalau gadis ini benar-benar mati!" sergah Johan tidak mau kalah. Dia benar-benar merasa kalau mobil itu terlalu lambat.


"Huh, bersiaplah. Jangan salahkan aku kalau kita berakhir sebelum sampai ke tempat yang kita tuju," gerutu Rudi sambil menginjak pedal gas mobil itu lebih dalam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Rate 5 dong🙏🏻😊


__ADS_2