METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pedes Pakai Banget


__ADS_3

Setelah Ryan membantu Rani mencuci muka dan mengenakan hijabnya, Ryan pun segera menggendong istrinya ala bridal style keluar dan menuruni tangga. Namun, alangkah terkejutnya ketika mereka melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Heh, siapa yang ngizinin kalian makan cilok itu?" seru Ryan mendapati Danil dan Naja, juga Johan dan Nina sudah asyik menyantap cilok si abang.


"Orang abangnya sudah di sini, mubadzir tau kalau tidak dihabiskan," sahut Daniel sambil menyantap cilok dari plastik yang dipegangnya. Setelah sekian tahun tinggal di Indonesia, perut dan lidahnya memang sudah terbiasa dengan makanan nusantara, sehingga hampir semua makanan kini bisa dia habiskan.


"Itu cilok khusus buat ibu hamil super cantik ini. Kalian ini main makan aja," gerutu Ryan sambil mendudukkan Rani di atas kursi teras depan.


"Sebentar ya, Sayang. Biar disiapin sama abangnya. Kita makan di sini saja nggak papa kan? Nggak harus balik ke ujung jalan?" tutur Ryan lembut. Semua yang melihatnya hanya saling bertatap mata sambil mengulum senyumnya. Ya. Seorang Ryan Dewangga yang terkenal dingin, tidak mudah percaya kepada orang lain, juga tidak bisa ditawar jika menginginkan sesuatu, kini luluh dan menjadi budak cinta seorang Arania Levana.


"Bikinin buat istri saya saja, Bang. Saya nggak usah," Ryan menghampiri si abang.


"Baik, Den. Pedes nggak, Den?” tanya si abang.


"Pedes pakai banget, Bang," sebelum Ryan menjawab, Rani sudah berseru dari belakang. Ryan hanya geleng-geleng kepala saja menghadapi istri yang sedang manja-manjanya itu.


"Baik, Non," sahut si abang, kemudian dengan sigap langsung mengambil plastik, memasukkan beberapa butir cilok ke dalam plastik, menyiram dengan bumbu kacang, sambal, kecap dan saus.


"Tunggu, Bang. Tidak usah pakai saus!" cegah Ryan begitu finishing touch berupa saus sedang akan dia tuangkan.


"Pakai saus, Bang," seru Rani lagi dari belakang.


"Kamu ambil kesempatan banget ya, Sayang," Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menerima sebuah plastik berisi cilok pesanan istrinya.


"Ehhh, Bang. Ngga ada piring apa, Bang? Masa makannya pakai plastik gini?" Ryan menyerahkan plastik itu lagi.


"Saya tidak menyediakan piring, Den. Biasanya kalau saya jualan ya pakai plastik seperti ini," jelas si abang, dengan ekspresi bingung.


"Ya sudah, saya ambil piring dulu ke dalam," ucap Ryan sambil membalikkan badan.


"Hubby, Rani nggak mau, By. Mana seru makan cilok pakai piring. Rani maunya pakai plastik aja," rengek Rani seperti anak kecil.


"Ya Allah, Ran. Kamu ini, ya. Sudah pedes pakai banget, pakai saus nggak jelas, makan panas-panas bungkus plastik lagi," gerutu Ryan sambil meraih bungkusan cilok dari tangan si abang, lalu berjongkok di depan Rani yang wajahnya sudah berbunga-bunga itu.

__ADS_1


"Makasih, By. Rani cinta Hubby," Rani menerima cilok itu dengan suka cita.


"Sekarang bilang cinta, tadi bilang benci," gumam Ryan lirih. Dia masih saja mengingat ucapan Rani, bahkan kini dia mengingat kembali bahwa kamarnya super berantakan dan harus segera dia bereskan.


"Hehehe maafkan Rani ya, By. Dan ..., makasih, Hubby," Rani tersenyum ke arah Ryan dengan cantiknya.


"Sama-sama, Sayang. Ayo dimakan! Kasihan dedek bayinya tuh kalau Mommynya terus-terusan mogok makan," kini Ryan mengusap ujung kepala Rani dengan sayang.


Rani meraih tusuk sate yang digunakan untuk menusuk cilok itu, kemudian meraih satu cilok dan mengarahkannya ke mulut Ryan.


"Kamu aja, Sayang. Hubby nggak pernah makan yang begituan," Ryan menolak suapan Rani dengan pelan. Dia sungguh tidak ingin membangunkan macan betina yang sedang tidur. Jika sudah marah, bisa-bisa Ryan disuruh tidur di luar.


"Kalau begitu Rani nggak jadi makan," rajuk Rani.


"Mana bisa begitu? Ya sudah. Haa," lagi-lagi Ryan menuruti keinginan istrinya. Dia membuka mulutnya dan membiarkan makanan itu masuk dan harus dikunyahnya.


Satu suap, dua suap, tiga suap.


"Kamu yang ngidam sampai ngamuk-ngamuk, kenapa jadi aku yang suruh makan sih? Apa itu juga bagian tak terpisahkan dari ngidammu?" batin Ryan dalam hati.


Ryan pun menyuapi istrinya hingga cilok di tangannya habis.


"Mau lagi apa mau udahan?" tawar Ryan begitu cilok terakhir mendarat manis di mulut Rani.


"Udahan aja, By. Rani sudah kenyang," sahut Rani sambil mengelus perutnya yang masih datar.


"Apakah kalian mau lagi?" kini Ryan mengalihkan pandangannya pada Daniel, Naja, Johan dan juga Nina. Mereka pun menggelengkan kepala secara kompak, menandakan kondisi perut yang sudah sangat kenyang.


"Ya sudah. Ini, Bang. Apa segini cukup?" Ryan menghampiri si abang dan memberikan sejumlah uang.


Si abang terlihat membelalakkan mata melihat segepok uang berisi seratus lembar uang seratus ribuan diletakkan di tangannya.


"Maaf, Tuan. Ini kebanyakan," si abang menerima uang itu, tapi menyerahkan kembali kepada Ryan dengan tangan gemetar. Sungguh, ini adalah pertama kalinya si abang memegang uang sebanyak itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bang. Mohon bisa diterima, setidaknya untuk tambahan modal usaha. Kalau perlu abang membuka warung cilok yang bersih di ujung jalan sana," Ryan menyerahkan uang itu kepada si abang lagi.


"Terima kasih, Den," dengan ragu, si abang menerima uang itu.


"Sana-sama, Bang,"


Daniel, Johan, Naja dan Nina yang melihat betapa Ryan menuruti semua keinginan Rani itu pun hanya saling pandang dan menggelengkan kepala.


"Apa semua perempuan hamil akan minta yang aneh-aneh begitu?" bisik Daniel lirih.


"Katanya sih kebanyakan begitu. Jadi bersiaplah menghadapiku saat mengandung anakmu suatu saat nanti!" sahut Naja sambil mengerlingkan matanya.


"Baiklah, siapa takut," Daniel membalas kerlingan Naja dengan menaikkan kedua alisnya.


"Tunggu saja, kau dan kau juga akan merasakannya," sahut Ryan, sambil menunjuk ke arah Daniel dan Johan.


"Tentu saja kami akan merasakannya. Dan kami sungguh sangat siap," ucap Daniel dengan semangat empat lima.


"Tak semudah ucapanmu. Perempuan hamil itu unik. Apalagi ketika mereka marah," cicit Ryan.


"Emang kalau Rani marah seperti apa, By. Hubby lagi mau bilang kalau Rani galak begitu, By?" Rani sudah menekan nada tidak sukanya.


"Bukan begitu, Sayang. Maksud Hubby ...," kalimat Ryan kembali terpotong.


"Maksud Hubby apa? Rani pemarah begitu sekarang? Banyak maunya dan ngrepotin Hubby? Benar begitu, By?" kini mata Rani sudah berkaca-kaca..


"Bukan begitu, Sayang. Dihhh, bagaimana cara aku menjelaskan kepadamu sih? Huh ...," Ryan merasa serba salah, tangannya pun terlihat kembali mengusap wajahnya dengan kasar, dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


BERSAMBUNG


❤❤❤


***Like, vote* dan rate 5 nya jangan lupa**.

__ADS_1


__ADS_2